Budidaya Lobster Red Claw Kota Mojokerto Menggeliat Saat Pandemi

  • Whatsapp
Lobster air tawar capit merah atau red claw yang dibudidayakan. (din)

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Budidaya lobster air tawar capit merah atau red claw di lahan terbatas meningkat tiga kali lipat di masa pandemi. Omset capai Rp 250 juta dalam satu bulan.

R.R Ayu Nandita warga Jalan Anjasmoro, Lingkungan Wates, Kota Mojokerto adalah salah satu yang membudidayakan lobster tersebut. Berkat ketekunan selama lima tahun, ia berhasil mengembangkan usaha budidaya hewan air yang memiliki nama latin Cherax quadricarinatus di Kota yang terkecil di Indonesia ini.

Bacaan Lainnya

“Sekarang omzetnya malah jadi tiga kali lipat, dulu perbulan mencapai 100 juta. Sekarang malah naik jadi 200 sampai 250 juta per bulan selama COVID-19,” ucapnya, Senin, 23 November 2020.

Remaja lulusan SMA Tamansiswa Kota Mojokerto ini, menyebutkan hal tersebut terjadi lantaran adanya pemutusan kerja terhadap karyawan-karyawan dibeberapa perusahaan maupun perkantoran. Akhirnya dia memilih budidaya lobster air tawar.

Bahkan, adanya pembatasan tatap muka seperti Work From Home (WFH) beberapa bulan lalu semakin membuat banyak orang memilih menjadi mitra budidaya lobster air tawarnya.

1.300 mitra

“Ada 1.300 orang yang sudah jadi mitra saya sampai saat ini, bahkan makin meningkat saat pandemi ini. Apalagi yang WFH jadi lebih fokus merekanya, dan berhasil membudidayakan,” paparnya.

Dirinya mengaku, awal usaha budidaya lobster berwarna biru kehijauan serta pada kedua capitnya terdapat garis berwarna merah tersebut, dikarenakan sempat mengalami frustasi. Lantaran tak berhasil masuk fakultas kedokteran seperti yang diinginkannya sejak lulus SMA.

“Awal dulu karena frustasi gagal daftar kedokteran. Terus coba-coba budidaya lobster, sempat gagal dua kali karena tidak paham ilmunya. Tapi terus belajar caranya yang benar dan berhasil pembibitan pada percobaan ketiga,” paparnya yang menghabiskan modal awal sebanyak Rp 5 juta untuk 500 bibit lobster tersebut.

Anak dari pasangan Almarhum R. Edi Prastowo dan Yulita Hari Listyowati ini, menyebutkan jika proses budidaya sejak pembibitan hingga siap konsumsi bisa dibilang sulit-sulit gampang.

Sebab, hewan yang bisa ditemukan di sungai, rawa, maupun danau yang terletak di Queensland, Australia ini membutuhkan oksigen yang cukup. Lalu menjaga stabilnya kedamalan air kolam dan pemberian waktu makan yang tepat agar tak menjadi kanibalisme.

“Sebenarnya dengan lahan terbatas sudah bisa melakukan budidaya, seperti ukuran lahan 1 meter x 1 meter semua bisa budidaya lobster ini, cuman memang harus fokus. Oksigen, dan waktu makan sangat diperhatikan biar tidak mati,” bebernya. (din/kal)