Biadab, Pria di Banyuwangi Gagahi Anak Tirinya Sejak Kelas 1 SD

  • Whatsapp
Tersangka S (nomor 94) dan Tersangka DA (nomor 74) saat dimintai keterangan Kapolresta Banyuwangi
banner 468x60

NUSADAILY.COM – BANYUWANGI – Sungguh biadab apa yang dilakukan S (47) warga Kecamatan Wongsorejo ini. Dia tega menggagahi anak tirinya yang masih di bawah umur sejak korban duduk di kelas satu sekolah dasar (SD).

Aksi pencabulan ini bermula pada Tahun 2011 silam ketika korban berusia 7 tahun. Saat itu, pelaku memasukkan tangannya ke celana dalam korban dan meraba-raba kemaluan korban selama dua menit. Usai melancarkan aksinya, pelaku mengancam korban agar tidak memberitahu aksi tersebut kepada siapapun termasuk ibu korban. 

“Pelaku mengancam dengan kata-kata awas ngomong ke mama,” ungkap Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Arman Asmara Syarifuddin kepada wartawan.

Aksi cabul ini kembali terulang pada Tahun 2016 saat korban berusia 12 Tahun. Tak hanya meraba kemaluan korban, pelaku juga memaksa korban melakukan persetubuhan layaknya suami isteri.

“Saat itu korban tengah bermain Hp. Tiba-tiba pelaku mengajak korban masuk ke dalam kamar dan memaksanya bersetubuh. Pelaku mengancam akan merampas Hp korban jika menolak melayani syahwatnya,” kata Kapolresta.

Persetubuhan terlarang ini terus berulang hingga korban berusia 16 tahun. Hingga akhirnya, pada Bulan November 2020, isteri pelaku sekaligus ibu kandung korban memergoki aksi biadab suaminya tersebut.

“Pelapor (ibu korban), saat itu langsung mengusir pelaku dari rumahnya. Kemudian pelaku dilaporkan ke polisi, hingga akhirnya berhasil kita tangkap,” ujar Arman.

Pihaknya juga berhasil mengamankan barang bukti berupa daster warna tosca, celana dalam warna merah, BH warna pink, dan hasil VER/Visum ET REVE-RTUM.

Pria di Banyuwangi Perkosa Adik Sepupu Isterinya

Kasus persetubuhan anak di bawah umur juga terjadi di Kecamatan Kalipuro. Pelakunya ialah DA (26) yang tega memperkosa adik sepupu isterinya saat menginap di rumahnya.

Awalnya, pada tanggal 29 Desember 2020, korban berkunjung ke rumah kakak sepupunya dan menginap di sana. Namun, subuh keesokan harinya, pelaku tiba-tiba masuk ke kamar korban dan memaksanya bersetubuh. 

“Saat itu kondisi rumah sepi, karena isteri pelaku keluar rumah untuk mencuci di sungai. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan aksi bejatnya,” ungkap Arman.

Korban sempat berteriak meminta tolong kepada kakak sepupunya. Namun korban dibentak oleh pelaku, sehingga ia tak kuasa kesuciannya direnggut. 

Saat pulang ke rumah, korban langsung menceritakan kejadian pahit tersebut kepada orang tuanya. Orang tua korban tidak terima dan langsung melaporkan peristiwa tersebut kepada polisi. 

“Kita berhasil menangkap pelaku dan mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya, baju lengan panjang warna putih, celana jeans warna biru, BH warna hitam, celana dalam warna putih, celana pendek ungu, dan kaos kotang warna hitam,” sebutnya.

Kini baik S maupun DA harus merasakan dinginnya sel tahanan Polresta Banyuwangi. Keduanya dijerat pasal 71 ayat (1) Jo pasal 76D UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi Undang-Undang. 

“Kedua tersangka terancam hukuman kurungan penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun,” tutup Kapolresta Banyuwangi. (ozi/kal)