Berbulan-bulan Berkubang di Zona Oranye, Meski Tingkat Kesembuhan 83 Persen

  • Whatsapp
Petugas kesehatan melakukan rapid tes kepada masyarakat sebagai upaya deteksi dini menekan laju penularan Covid-19 di Kota Batu
banner 468x60

KOTA BATU – Tingkat kesembuhan COVID-19 di Kota Batu mencapai 83 persen. Per 24 Oktober kemarin, terkonfirmasi COVID-19 berjumlah 551 orang. 460 orang diantaranya dinyatakan sembuh dan kasus aktif berjumlah 42 orang.

Walikota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan, hingga saat ini Dinkes Kota Batu memetakan dengan melakukan tracing dalam penanganan COVID-19.

Baca Juga

Serta upaya penegakan disiplin protokol kesehatan yang melibatkan Satpol PP dibantu TNI/Polri. Penegakan protokol ini bagian dari menjalankan amanat yang dituangkan dalsm Perwali 78 tahun 2020 tentang sanksi pelanggar prokes.

BACA JUGA: Polresta Makota Kejar Pelaku Pemukulan Ibu Tua yang Sempat Viral

“Dinas Kesehatan memetakan potensi orang-orang yang berisiko terkena korona. Tenaga kesehatan dan pekerja kantoran menjadi orang paling rentan dibandingkan dengan lainnya,” ujar Dewanti.

Selain kesehatan, pihaknya juga tegah menyiapkan pemulihan ekonomi. Terutama di tiga OPD yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Seperti Diskumdag fokus pada pelaku UMKM, Dispertan pada sektor pertanian dan Dinsos fokus pemberdayaan bagi disabilitas dan lansia,” ujar Dewanti.

Meski tingkat kesembuhan relatif tinggi, namun selama beberapa bulan Kota Batu masih berkubang di zona oranye atau dinyatakan tingkat penularan beresiko sedang.

Penentuan zona didasarkan15 indikator kategori zona warna yang meliputi indikator kesehatan masyarakat, yang terbagi menjadi 11 indikator epidemiologi, dua indikator surveilans kesehatan masyarakat dan dua indikator pelayanan kesehatan.

Setiap indikator memiliki bobot penilaian dan penjumlahan. Hasil penilaian dibagi dalam beberapa klasifikasi untuk menentukan warna zona yang terbagi menjadi empat, yakni merah (resiko tinggi), oranye (sedang), kuning (rendah), hijau (tidak terdampak).

Zona kuning

Kota Batu yang selama berbulan-bulan berkubang di zona kuning memantik sorotan dari kalangan DPRD Kota Batu khususnya dari Komisi C. Legislatif menilai penanganan COVID-19 terkesan lamban dan stagnanm

Anggota Komisi C DPRD Kota Batu Sujono Djonet menuturkan perlu upaya yang progresif. Sehingga penanganan tak berlarut-larut dan dihadapkan pada jalan berliku dalam menangani COVID-19.

BACA JUGA: Gubernur Khofifah Resmikan Wisata Edukasi Berkuda dan Panahan Kalidawir Sidoarjo

“Bagaimana agar didorong optimisme yang meyakinkan bahwa usaha tak mengingkari hasil. Ketika kita bersama-sama bekerja keras pasti ada hasil,” kata Ketua Fraksi Nasdem DPRD Kota Batu itu.

Menurutnya Pemkot perlu memperkuat sinergi dengan pemerintah desa/kelurahan. Dengan begitu angka penularan dapat ditekan sehingga Kota Batu bisa beranjak, paling tidak ke zona kuning mendekati hijau.

“Syukur-syukur kalau menembus zona hijau,” imbuh Djonet.

Djonet berpendapat lambannya penanganan COVID-19 di Kota Batu karena instansi-instansi yang berwenang masih belum seirama. Menurutnya, OPD yang tergabung dalam Satgas, harus melakukan langkah konkrit. Sehingga masyarakat diberi optimisme bahwa pemerintah betul-betul berupaya melandaikan kurva penularan.

“Agar kehadiran pemerintah betul-betul terasa oleh masyarakat dalam menangani COVID-19. Jangan terkesan tarik ulur yang membuat masyarakat makin jengah,” tukas dia.

Apalagi zona suatu wilayah sangat berkaitan erat dengan aktivitas perekonomian di masa pandemi. Terlebih pemulihan ekonomi menjadi tujuan program nasional yang dirumuskan pemerintah pusat pada 2021 nanti. Ketika prevalensi ini tak bisa diatasi maka akan sulit menggerakan roda perekonomian.

“Data juga harus dapat dipertanggungjawabkan agar bisa merumuskan kebijakan secara tepat,” imbuh Djonet. (wok/kal)

Post Terkait

banner 468x60