Bangunan Objek Diduga Cagar Budaya di Kayutangan Heritage Direvitalisasi

  • Whatsapp
kayutangan heritage
DIBENAHI: Sebuah bangunan Objek Diduga Cagar Budaya di Kayutangan Heritage sedang direvitalisasi, Senin (1/3/2021).(Amanda/nusadaily.com)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MALANG – Sebuah bangunan yang termasuk dalam Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) di kawasan Kayutangan Heritage sempat viral di beberapa media sosial. Sebab, bangunan yang terletak di kawasan Kayutangan Heritage tersebut sedang dilakukan pembangunan, sehingga sempat menghebohkan publik.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, Agung H. Buana mengungkapkan, pembangunan tersebut sempat menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Sebab, bangunan tersrbut diduga cagar budaya.

Baca Juga

BACA JUGA: Kayutangan Heritage Bakal Jadi Kawasan Wisata Khusus

“Memang sempat terjadi pro dan kontra di masyarakat terkait pembangunan disini. Sebab, bangunan di kawasan Rajabally ini, di sisi sebelah selatan, sudah masuk bagian cagar budaya,” terang dia kepada NusaDaily.com, Senin (1/3/2021).

Sementara, pada bangunan sisi utara, yang saat ini sedang dibangun, masih masuk dalam ‘waiting list’ bangunan cagar budaya.

“Saat ini, bangunan tersebut masuk dalam Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Setelah kami amati pembangunannya, tidak ada penghancuran, hanya revitalisasi bangunan,” jelas dia.

Menurut Agung, tidak ada aktivitas yang berarti saat ada pergantian pemilik. Sehingga, pemilik baru mencoba melakukan revitalisasi atau alih fungdi menjadi restoran atau rumah makan bernuansa heritage. Namun, dalam pembangunan, tidak mengubah bentuk bangunan.

“Nantinya, rumah makan ini akan menyatu dengan nuansa Kayutangan Heritage. Namun, tidak mengubah struktur bangunan. Ubin dan struktur bangunan masih asli,” papar dia.

Bahkan, ada beberapa ruangan yang ditemukan. Seperti ruangan menara udara, ruang sirkulasi udara dan lainnya.

“Tadi juga ada brankas emas, sekitar tahun 1920-1930. Kami menemukan empat buah. Tiga diantaranya sudah diambil pemiliknya, yang satu masih tetap disana,” papar dia.

Sebab, lanjut Agung, jika bangunan lama tidak ada perubahan fungsi, bisa rusak, terbengkalai dan tidak memberi nilai manfaat.

“Oleh sebab itu, dilakukan revitalisasi ini yang mendukung konsep Malang Heritage. Mudah-mudahan memberikan manfaat, termasuk dalam pembangunan. Hal ini mudah-mudahan bisa memberikan stimulus bagi para pemilik bangunan cagar budaya untuk melakukan perawatan,” kata dia.

Gapura Penghubung Malang Barat dan Timur

Agung menjelaskan, dalam catatan sejarah, bangunan tersebut bagian dari Bow plan Kota Malang saat zaman penjajahan Belanda.

“Dalam bow plan satu sampai delapan, selalu ditandai bangunan ikonik. Salah satunya, ya ini,” kata dia.

Bangunan tersebut merupakan salah satu simbol gapura yang menghubungkan antara kawasan Malang Lama dan Malang Baru, dari arah timur ke barat.

BACA JUGA: Teliti Kampung Kayutangan, Prof Lalu Terbitkan Buku

“Kawasan Malang Baru jaman dulu dilihat dari adanya pembangunan gedung olahraga, perumahan. Sebelum ada ini, kota berkembang ke arah timur. Namun, setelah ada pengalihan fokus pengembangan kota, akhirnya ikon ini dibangun,” tandas dia.(nda/lna)