Atasi Kelangkaan, Petani di Malang Belajar Produksi Pupuk Organik

  • Whatsapp
pupuk organik
Cecep Tri Prasetiyo, petani karangploso. (istimewa)
banner 468x60

MALANG – Sejumlah petani di wilayah Kabupaten Malang dilatih membuat pupuk organik secara mandiri. Hal itu menjawab keluhan petani di wilayah Kabupaten Malang terkait kelangkaan pupuk bersubsidi yang terjadi sejak 1,5 bulan lalu hingga kini.

Pembuatan pupuk organik itu dilakukan di desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso. Pelatihan dilaksanakan sejak Selasa (13/10/2020) lalu. Mereka memproduksi sendiri pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa sisa tanaman, hewan dan manusia. Harapannya, pupuk organik itu bisa memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.

Baca Juga

BACA JUGA: Blusukan Warung Kopi, Ipong Sampaikan Ada Tambahan Pupuk Subsidi

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur terlihat hadir dalam memberikan pelatihan pupuk organik bagi masyarakat petani di Karangploso.

“Pihak penyuluh dan BPTP Jatim mengatasi keluhan petani atas kelangkaan pupuk kimia subsidi itu, kami diberikan pelatihan pembuatan pupuk organik ini,” ungkap anggota Kelompok Tani Saribumi I, Petani Karangploso, Cecep Tri Prasetiyo, Minggu (24/10).

Sejumlah bahan bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan pupuk organik itu seperti bekatul, kapur dan tetes tebu, serta beberapa bahan kain untuk dilakukan fermentasi guna menjadi pupuk organik padat.

Kendati demikian, Cecep menjelaskan, butuh waktu dan proses bagi para petani untuk meningalkan pupuk kimia. Saat ini, kata dia, merupakan masa transisi bagi petani beralih menggunakan pupuk organik di tengah pupuk bersubsidi langka di pasaran.

BACA JUGA: Pandemi, Petani Kabupaten Malang Kesulitan Pupuk

“Dulu pembelian pupuk subsidi cukup datang ke kios sudah bisa mendapat pupuk yang diinginkan,” terangnya.

Namun, sekarang dengan program Pemerintah, pembeli pupuk bersubsidi harus memiliki Kartu Tani Indonesia (KTI), dinilai bagus agar distribusi pupuk subsidi sesuai target dan tepat sasaran. Sayangnya, barangnya menghilang di pasaran, dan menjadi langka.

Ia berharap, penanganan kelangkaan pupuk bersubsidi ini dipercepat agar petani bisa mendapatkan pupuk dan berproduksi. Apakah produksi pupuk organik itu bisa diterima oleh petani atau tidak, menurut Cecep masih memerlukan waktu dan proses panjang.

“Dilihat nanti hasil tanamannya bagaimana, kalau bagus bisa saja kami (petani) menggunakan pupuk organik ini,”tutupnya.(aje/lna)

Post Terkait

banner 468x60