90 Persen Wali Murid Kota Batu Ingin PTM

  • Whatsapp
Rekomendasi pembelajaran tatap muka diberikan Disdik Jatim Cabang Malang-Batu kepada salah satu sekolah, yakni SMKN 2 Kota Batu.
Rekomendasi pembelajaran tatap muka diberikan Disdik Jatim Cabang Malang-Batu kepada salah satu sekolah, yakni SMKN 2 Kota Batu.
banner 468x60

NUSADAILY.COM -KOTA BATU-Peta sebaran Covid-19 Jawa Timur menunjukkan Kota Batu dinyatakan sebagai zona kuning. Kota Batu satu-satunya daerah di Jawa Timur yang masuk kategori penularan rendah. Zona kuning lantas tak membuat pelajaran tatap muka (PTM) digelar. 

Syarat pelaksanaan PTM bisa dilakukan ketika suatu daerah dinyatakan, minimal zona kuning. Di samping itu, syarat lainnya yakni kesiapan satuan penyelenggara pendidikan melakukan PTM serta persetujuan dari wali murid. Metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi solusi alternatif selama PTM belum dimulai. 

Baca Juga

Dinas Pendidikan Kota Batu sebetulnya telah menyiapkan Perwalikota Batu mengatur SOP pelaksanaan PTM di masa pandemi. Payung hukum yang telah disusun sejak Desember 2020 lalu, kini masih dalam tahap kajian legal formal di Bagian Pemerintahan Kota Batu.

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Disdik Kota Batu, Daud Andoko mengatakan, semula dijadwalkan PTM akan dimulai pada 4 Januari lalu. Kebijakan ini akan terlebih dulu dimulai dari tingkat tertinggi di jenjang menengah pertama. Dan jika pelaksanaan dirasa cukup aman, maka secara bertahap akan diteruskan ke tingkatan kelas di bawahnya.

“Namun karena PPKM kebijakan itu ditunda. Sehingga kajian perwalinya juga ditunda. Kami akan mengikuti kebijakan dari pemerintah pusat. Apalagi ada kabar kalau PPKM akan diperpanjang,” papar dia dilansir Nusadaily.com.

Pihaknya mengaku, jika ingin segera dimulai pelaksanaan PTM. Namun karena muncul wacana perpanjangan PPKM, maka kegiatan belajar mengajar tatap muka akan mengikuti petunjuk dari pusat.

“Apapun itu kami tunduk pada regulasi yang dikeluarkan oleh Kemendikbud. Jika ada pengecualian, maka dilakukan PTM sesuai dengan Perwali yang sedang kami siapkan,” ungkap Daud.

Pihaknya tak memungkiri, selama ini banyak orang tua yang kewalahan saat mendampingi buah hatinya melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring. Belum lagi, tak semua peserta didik memiliki fasilitas penunjang yang memadai.

Berbagai faktor menyebabkan para wali murid melontarkan keluhan selama pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dari faktor keterbatasan waktu karena kesibukan wali murid. Sehingga orang tua khawatir, anaknya tak belajar secara sungguh-sungguh. Faktor lainnya ialah keterbatasan kapasitas orang tua dalam menjangkau materi pelajaran yang diberikan kepada anak.

“Sehingga hasilnya tidak seoptimal ketika didampingi guru,” ucap dia.

Masing-masing satuan pendidikan tingkat dasar  juga telah melakukan survei mengukur keinginan orang tua dalam pelaksanaan PTM. Hasil survei menunjukkan jika para wali murid mayoritas ingin buah hatinya kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Daud mengatakan, survei itu telah dilakukan di seluruh SD negeri/swasta di Kota Batu yang totalnya ada 79 SD. 

“Antusias wali murid dikisaran 90 persen ingin PTM. Jika ada yang ingin PJJ juga akan tetap kami layani. Meski begitu melihat pula kesiapan sekolah dan mengacu pada SKB 4 Menteri,” tegas dia.

Pihaknya juga telah memantau kesiapan satuan penyelenggara pendidikan yang akan memulai kegiatan belajar mengajar tatap muka. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Antara lain kelengkapan fasilitas penunjang protokol kesehatan dan harus ada Satgas Covid-19 di tiap sekolah. Satgas tersebut dibentuk melalui SK kepala sekolah. 

“Sejauh mana penyediaan prokes, semisal tempat cuci tangan yang harus memadai jumlahnya dan jaraknya diatur,” terang dia.

Diakuinya, metode pembelajaran daring memiliki keterbatasan. Hasilnya pun akan berbeda dibandingkan ketika mengikuti pembelajaran secara tatap muka. Karena kehadiran seorang tenaga pendidik sangat penting, terutama di tingkat SD hingga SMP dalam mencapai tujuan pembelajaran.

“Pencapaian tujuan belajar, angka kompetensi dasar anak itu ada standarnya. Maka sulit terpenuhi. Bagaimanapun juga, PJJ masih belum siap diterapkan pada murid SD maupun SMP,” urai dia. (wok/wan)