38 Pemuda Tulungagung Terjaring Razia Masker

  • Whatsapp
Petugas melakukan razia masker kepada sejumlah pemuda di Tulungagung. (foto: nusadaily.com)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – TULUNGAGUNG – Puluhan pemuda yang sedang menikmati malam minggu di beberapa lokasi seperti pusat kuliner dadakan Pasar Wage, dan pusat kuliner Pinggir Kali (Pinka) hingga lokasi tongkrongan di Jembatan Ngujang 2 Tulungagung dibuat terkejut dengan kedatangan petugas gabungan.

Mereka sempat akan kabur meninggalkan lokasi. Namun sesuai arahan dari petugas, mereka akhirnya menurut dan mengikuti razia kepatuhan penggunaan masker oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Tulungagung, Sabtu, 4 Juli 2020.

Baca Juga

Dari sejumlah tempat yang dirazia, didapati 38 pemuda-pemudi yang tidak menggunakan masker. Mereka yang terjaring dalam razia kali ini langsung mendapatkan peringatan dari petugas. Mereka pun harus menjalani sanksi untuk melakukan kerja sosial membersihkan fasilitas umum. Mulai dari taman kota, masjid dan pemakaman umum.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Tulungagung, Maryoto Birowo mengatakan, sidak yang dilakukan kali ini dilakukan untuk melihat langsung penerapan edukasi protokol kesehatan yang selama ini disampaikan gugus tugas kepada masyarakat.

Edukasi seperti jaga jarak saat di kerumunan, penggunaan masker saat beraktivitas dan penyediaan tempat cuci tangan serta hand sanitizer untuk pengunjung warung dan tempat umum lainnya.

“Kegiatan ini merupakan sidak. Kita adakan sidak terhadap edukasi yang kita berikan, edukasi selama ini khurusnya protokol keseahatan sudah dilaksanakan atau belum,” ujar Maryoto.

Banyak yang Abai Menggunakan Masker

Menurut Maryoto sudah banyak warga yang menggunakan masker namun ada juga ditemukan warga yang masih abai.

“Kenyataannya memang banyak yang bermasker tapi ada juga yang tidak bermasker,” ucap Maryoto.

Sementara itu, Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia mengatakan sanksi bagi masyarakat yang terjaring razia masker kali ini adalah menjalani kerja sosial seperti yang diberikan kepada pelanggar jam malam.

“Sanksinya kita perintahkan untuk melakukan kerja sosial seperti pelanggar jam malam,” jelasnya.

Pihaknya juga mengingatkan pengelola warung kopi agar menerapkan physical distancing dengan memberikan batas pada tempat duduknya. Sehingga pengunjung tidak saling berdekatan.

Pandia menegaskan, kedisiplinan masyarakat di masa pandemi ini adalah hal utama. Seperti arahan Kapolda Jawa Timur yang menyebut disiplin adalah vaksin.

Kendati angka kesembuhan sudah tinggi, namun jika masyarakat abai maka potensi lonjakan kasus bisa saja terjadi kembali.

“Jangan sampai tingginya kesembuhan membuat masyarakat abai dan tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan,” ungkapnya.

Pandia menegaskan, penerapan jam malam sampai saat ini belum akan dicabut. Sebab hal itu akan semakin menguntungkan masyarakat.

“Jam malam tetap kita berlakukan, lagian kalau sudah jam 10 malam tidak ada kegiatan kan lebih baik di rumah daripada nongkrong di luar rumah. Tapi jika masih ada kegiatan ya kita tolerir lah,” pungkasnya. (fim/aka/lna)

Post Terkait

banner 468x60