10 Ekor Lutung Jawa Penghuni Baru JLC-TAFIP Jalani Pemeriksaan Kesehatan

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAILY.COM-KOTA BATU- Javan Langur Center – The Aspinal Foundation (JLC – TAFIP) melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 10 ekor lutung Jawa. Kesepuluh ekor primata endemik Indonesia itu baru saja masuk ke balai rehabilitasi tersebut yang berada di Coban Talun, Desa Tulungrejo, Kota Batu.

Project Manager JLC -TAF IP, Iwan Kurniawan mengatakan, satwa-satwa yang dilindungi itu diterima pada awal Januari 2021 lalu. Dalam screening kesehatan lutung ini juga dilakukan swab tes Covid-19 bagi hewan primata. Dilakukannya tes swab ini juga memiliki tujuan untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.

Kata Iwan, pemeriksaan kesehatan ini dilakukan untuk melihat kesehatan di setiap individu lutung jawa. Karena, setelah ini lutung-lutung itu akan mengalami proses rehabilitasi. Dengan catatan terbebas dari penyakit berbahaya menular. Seperti contohnya TBC, hepatitis, dan sebagainya.

“Setidaknya ada 10 ekor lutung yang masuk. Berasal dari trans lokasi BKSDA Yogyakarta, penyerahan oleh masyarakat Pasuruan dan Probolinggo, juga titipan dari BKSDA Jawa Timur yang ada di Surabaya. Sehingga total keseluruhan lutung yang masuk ada 10 ekor,” terang Iwan.

Satu dari sepuluh ekor lutung Jawa, mengalami luka tembak pada bagian kaki kiri. Tim medis melakukan pembedahan untuk mengambil proyektil yang bersarang di kaki lutung Jawa yang dijuluki si Joni ini.

“Untungnya peluru itu posisinya masih berada di seputan atau kulit luar. Beruntung lutung tersebut juga dalam keadaan baik. Jika posisi peluru ada di bagian dalam. Cerita sudah berbeda lagi,” ujar Iwan.

Lutung yang mengalami luka tembak itu didapat dari BKSDA Pasuruan

Lutung yang mengalami luka tembak itu didapat dari BKSDA Pasuruan yang menyerahkan ke JLC-TAVIP. Pihak BKSDA sendiri, mendapatkan satu ekor lutung tadi dari hasil penyerahan masyarakat.

Iwan memperkirakan, jika lutung tersebut sebelumnya dipelihara warga lalu terlepas dan mengganggu warga. Sehingga warga melepaskan tembakan. Jika dilihat, peluru yang bersarang juga masih relatif baru.

“Oleh sebab itu, ada sedikit catatan yang harus diperbaiki oleh rekan-rekan BKSDA agar lebih preventif lagi menghadapi hal seperti itu,” jelas Iwan.

Setelah melakukan pemeriksaan kesehatan pada hari ini. Tiga bulan lagi lutung-lutung itu akan dilakukan pemeriksaan kesehatan tahap keduanya. Namanya pemeriksaan kesehatan pasca karantina. Setelah tiga bulan itu, nantinya lutung-lutung tersebut akan dilakukan pengelompokan. Dengan menggabungkan setiap individu lutung menjadi satu kelompok. Dalam pengelompokan itu dilanjutkan dengan latihan seperti memanjat, melompat di kandang yang lebih besar.

“Setelah beberapa bulan, kami akan melakukan evaluasi dan observasi. Dari hasil observasi itu, ketika sudah solid untuk menjadi kelompok. Maka kita akan ajukan untuk dilakukan pelepasliaran. Namun sebelum dilakukan pelepasliaran akan terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kesehatan. Jadi dari lutung pertama kali masuk hingga pelepasliaran ada tiga kali pemeriksaan kesehatan,” urainya.

Sejak tahun 2012 lalu, pihaknya telah melepaskan 102 ekor lutung jawa yang terbagi dalam 19 kali pelepasliaran. Tersebar di hutan Coban Talun sebanyak 41 ekor dan hutan lindung Malang Selatan sebanyak 61 ekor lutung jawa.

Selain melakukan pemeriksaan kesehatan bagi 10 ekor lutung yang baru saja diterima. Pihaknya juga akan melakukan pemeriksaan bagi 7 ekor lutung yang akan dilepasliarkan pada bulan Maret mendatang, bersama dengan BKSDA Jawa Timur. Karena bagaimanapun juga, jika banyak lutung yang masuk juga harus dibarengi dengan lutung yang keluar.

“Selama ini memang kendalanya mengenai tempat-tempat pelepasan. Karena situasi memang seperti kejar-kejaran antara yang masuk dengan yang keluar. Itu berarti, masih banyak sekali yang melakukan jual beli lutung,” ungkap dia. (wok/aka)