Putin Disambut Peluk Hangat Kim Jong Un Setiba di Korut

Sebelum berpelukan, kedua pemimpin saling berjabat tangan panjang. Setelah itu, Putin diberikan sebuket bunga oleh gadis yang mengenakan pakaian nasional hanbok.

Jun 19, 2024 - 07:21
Putin Disambut Peluk Hangat Kim Jong Un Setiba di Korut

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Korea Utara untuk melakukan pertemuan dengan pemimpin tertinggi Kim Jong Un. Putin tiba di ibu kota Pyongyang pada Rabu (19/6) pukul 3 pagi waktu setempat.

Dilansir kantor berita Rusia TASS, setibanya di bandara Putin disambut pelukan hangat Kim Jong Un. Pemimpin Korut itu langsung menyapa Putin, setelah ia turun dari pesawat dan menapakkan kaki di karpet merah landasan pacu.

Sebelum berpelukan, kedua pemimpin saling berjabat tangan panjang. Setelah itu, Putin diberikan sebuket bunga oleh gadis yang mengenakan pakaian nasional hanbok.

Ini menjadi kunjungan pertama bagi presiden Rusia dalam 24 tahun terakhir, yang menandakan makna penting di tengah situasi geopolitik yang tengah memanas.

Kantor berita Korut KCNA menyebut pertemuan antara kedua pemimpin ini menunjukkan "keabadian dan kelanggengan" persahabatan dan persatuan antara Korut dengan Rusia.

Sebelumnya Putin pernah mengunjungi Pyongyang yaitu pada Juli 2000. Saat itu, pemimpin Rusia itu bertemu dengan ayah Kim Jong Un, Kim Jong Il, dan membahas isu-isu bilateral serta internasional.

Sementara itu Kim Jong Il pernah mengunjungi Rusia sebanyak tiga kali yaitu pada tahun 2001, 2002, dan 2011.

Kim Jong Un sebelumnya mengunjungi Rusia pada April 2019. Usai pandemi Covid-19, pada September 2023 Kim melakukan kunjungan ke tiga wilayah sekaligus di Rusia yakni Moskow, Amur dan Khabarovsk, serta Primorye.

Pada kunjungan Putin kali ini, Rusia-Korut disebut bakal menghasilkan dokumen bersama. Ajudan Presiden Rusia, Yury Ushakov, mengatakan salah satu dokumen yang akan ditandatangani berupa perjanjian baru soal Kemitraan Strategis Komprehensif Korut-Rusia.

"Dokumen tersebut akan menguraikan prospek kerja sama lebih lanjut, dan akan ditandatangani, tentu saja dengan mempertimbangkan apa yang terjadi di antara kedua negara dalam beberapa tahun terakhir di bidang politik internasional, ekonomi, maupun keamanan," ujar Ushakov, dikutip TASS.(han)