Pulang ke Rumah

Menerjemahkan bahasa rasa dalam tulisan di atas kereta Matarmaja Malang - Madiun adalah pilihan membunuh jenuh. Seperti lagu Frankie and Jane, romantisme masa kecil terasa begitu mengharukan. Ikatan batin akan “rumah” ini benar-benar mengikat saya. Tidak ada makna rumah kecuali rumah masa kecil, di mana keluarga kecil dengan kakek-nenek saling berbagi.

Pulang ke Rumah
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi, S.S., M.A.

Menerjemahkan bahasa rasa dalam tulisan di atas kereta Matarmaja Malang - Madiun adalah pilihan membunuh jenuh. Seperti lagu Frankie and Jane, romantisme masa kecil terasa begitu mengharukan. Ikatan batin akan “rumah” ini benar-benar mengikat saya. Tidak ada makna rumah kecuali rumah masa kecil, di mana keluarga kecil dengan kakek-nenek saling berbagi.

Kemarin, saya memutuskan “pulang” melepas tugas karena kondisi saya dropped. Keputusan itu saya ambil begitu saja tanpa pikir panjang ketika pikiran saya sudah panik. Panik khawatir saya “jatuh” di hadapan kontingen universitas yang diantar. Khawatir merepotkan dan menjadi obyek yang dilayani. Saya ibarat EO dalam sebuah acara. Itulah tanggung jawab saya. Kalau saya jatuh, keadaan menjadi terbalik. Ini tidak boleh terjadi. Saya harus segera memisahkan diri, pulang ke rumah.

Bukan kebiasaaan saya untuk mudah menyerahkan tugas, kecuali urgent. Maka, urgensi segera menjauh dari tim mendesak untuk diambil. Saya sudah kritis menahan kondisi tubuh yang sudah sampai ambang roboh.

Terkirim kabar lewat gawai saya minta disusul ke lokasi. Adik saya datang dengan motor membawa obat-obatan yang dapat dijangkau cepat. Tidak lama, adik saya yang lainnya menyusul dengan mobil. Bersiap mengangkut barang bawaan saya dan badan saya yang layu. Tetapi saya tetap menahan supaya mereka semua tidak terlalu khawatir dengan kondisi saya.

Perjalanan yang seharusnya hanya 30 menit, menjadi 2 jam. UB wisuda, adik saya menjelaskan. Ah, pantas. Inilah kota masa kecil saya sekarang. Hhhhh…

Ibu tergopoh-gopoh menyambut saya turun dari mobil. Bapak juga beraut muka tegang. Ponakan berlarian mendekat untuk salim. Ipar saya segera menjerang air panas, menyeduh mie instan. Sementara itu, teh panas sudah tersedia di meja.

“Ayo, cepet diminum. Biar badan anget”, perintah Ibu. “Ini mie panas, cepet di maem biar perut nggak kosong”, adik saya menambahkan. Beberapa saat kemudian, “Sini, Ibu keroki”. Tidak lama, “Wis, sampean murep, tak pijeti. Lek loro kondho o” (“Udah, Mbak tidur telungkup, aku pijiti. Kalau terasa sakit, bilang, ya”). Kesibukan kecil itu terjadi seketika. Tidak tegang. Orang di sekitar masih dengan cerita-cerita konyol dan obrolan seru. Antara obrolan dan omelan silih berganti. Berkerumun menyebelahi saya yang tergeletak lemas. Itulah bahasa khas rumah kecil saya. Mereka bergerak spontan dan sat set tanpa lebay. Rumah masa kecil saya memang ngangeni. Hmmm..

Saya merasa nyaman di sekeliling mereka. Saya merasa aman di tengah mereka. Saya percaya saya akan segera pulih bersama mereka. Mereka adalah obat yang sebenarnya. Di rumah kuno itu, saya kembali sebagai anak dan kakak. Anak mbarep yang dididik keras dan harus jadi panutan adik-adiknya. Aneh.. saat itu yang saya lihat adalah kelembutan. Kelembutan mengalir halus dalam kata-kata dan sikap tegas mereka. Sorot mata mereka berusaha menciptakan ketenangan bahwa every little thing gonna be OK.

Setiap individu ingin menyatakan mereka siap melakukan apa saja untuk saya. Saya tahu Ibu menengoki kamar tidur, meyakinkan saya tertidur pulas. Saya tahu juga beberapa kali Ibu membetulkan selimut saya di malam itu. Di separuh malam itu, Ibu selalu terjaga untuk saya. Hanya Ibu. Saya menjadi paham, Ibu saya yang keras itu adalah sosok yang paling dilanda khawatir.

Pulang. Saya kembali dihadapkan pada suasana masa lalu. Ya, saat sekarang saya adalah seorang ibu dari tiga junior perjaka. Saya mempunyai kehidupan sendiri, mempunyai penghasilan sendiri. Saya sedang menciptakan tempat pulang bagi anak-anak saya. Jujur, sesekali saya ingin pulang. Saya ingin menjadi anak lagi sekedar melepas “lelahnya” seorang ibu dan istri. Hanya pulang, itu kebutuhan saya.

Rumah. Bangunan dengan arsitektur tahun 70-an, mempunyai banyak ruang dan halaman di kanan-kiri-depan-belakang. Pepohonan berkayu seusia saya dan barang-barang rumah tangga peninggalan kakek-nenek tetap terjaga utuh. Meskipun sudah ada sentuhan modern seperti WiFi dan mesin cuci, rumah tua itu masih terbilang belum banyak berubah. Rumah masa kecil itu ikut menyimpan memori bersama waktu. Rumah masa kecil itu menjadi tempat healing paling mujarab. Bagaimana tidak? Penghuninya mempunyai perhatian yang tulus. Cinta mereka tidak ternilai harganya.

Saya menjadi banyak bertanya dalam hati apakah anak-anak saya menjadikan tempat tinggalnya yang sekarang sebagai rumah. Apakah anak-anak saya sudah merasakan strong connection. Entahlah … Setiap ibu mempunyai cara menyempurnakan gelar ibunya. Setiap ibu mempunyai booster menyempurnakan idealnya. Tempat bernama rumah untuk pulang, ala saya.

 

Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi, S.S., M.A adalah dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Madiun dan Pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).

Naskah disunting oleh Dr. Aris Wuryantoro, M.Hum, Dewan Pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).