Puisi-Puisi Muhammad Yusuf Siswijayanto

Puisi-Puisi Muhammad Yusuf Siswijayanto
Ilustrasi: Freepic/julia_moskalenko

Kemungkinan

Mungkin kita harus lebih berusaha mengerti.

Tata laksana.

Sebab akibat.

Hakikat dan manfaat.

Agar kita tidak salah dalam memutuskan apa saja yang dapat dilakukan,

apa saja yang tidak dapat dilakukan.

Mungkin kita akan merasa puas dan bahagia,

untuk sementara.

Bila tindakan tanpa ada dasar dan pertimbangannya.

Kita sepertinya harus sadar,

untuk siapa kita melakukannya,

bagaimanakah keberterimaan orang lain terhadap tindakan kita.

Hati-hati.

 

Piranti

Perekam, mikrofon, kamera,

piranti untuk menangkap fakta dan data.

Sedikit contohnya.

Semua mungkin akan terbuka pada saatnya.

Sabar,

sadar bahwa sebagian kecil dapat digunakan sebagai penanda.

Maupun petanda.

Tidak ada jeruji yang pasti di luar sana.

Tidak ada pengawas, maupun petugas tanpa penata.

Bertanggung jawablah terhadap apa yang menjadi kewajibanmu.

Tata laksana, deret kata,

sebagai jaminan kebebasan untuk menuntut hakmu.

Sudahkah?

Kerjakan dengan sebaik yang engkau mampu.

 

 

Ada

Jejak jemari,

selaput jala mata,

maupun air muka.

Sepertinya tidak dapat tergantikan.

Mereka akan tetap tinggal.

Ditemui bila yang dilakukan menuai tangisan.

Kesankan yang baik,

indah, dan bermakna.

Berikan senyum dan kebahagiaan.

Cinta, kasih sayang,

kepedulian,

dan usaha untuk mencari penyelesaian,

yang merujuk pada kebenaran bersama.

Apakah cinta?

Tidak dapat didefinisikan.

Tidak akan kau temukan, walau dalam peti perasaan.

Adjektiva itu lenyap dalam cerita-cerita yang dulu.

Klasik.

Adjektiva itu lebur dalam iring doamu,

dalam segala upayamu,

untuk masa yang akan datang,

nan terang benderang.

 

Baik?

Tujuan harus benar.

Iktikad dan niat harus baik.

Penyampaian, cara menyelesaikan, putusan yang diambil,

pun hendaknya baik dan benar.

Berdasar, berasio.

Senantiasa ingat akan akibat,

dan tanggung jawab.

Tidak tergesa-gesa, seakan benar seluruhnya.

Semoga tenang, mereka di sana.

Maaf,

akan buas dan beringas.

Semua begitu cepat.

 

Yang lain

Semoga tidak ada halangan dan rintangan.

Semoga tidak terulang di hari kemudian.

Tangisan, pekikan.

Tanda tidak hadirnya kemanusiaan.

Mungkin ada cara lain.

Alternatif untuk membanggakan.

Apresiasi, nan positif.

Tidak dengan yang sudah ada dan terjadi.

Kita bisa.

Masih banyak jalan maupun cara lain,

yang tidak menyentuh, menekan, maupun menyakiti,

yang lain.

 

Cukupkah?

Kita hendaknya datang dengan sadar.

Tanpa tuba, penuh sabar,

dan kesiapan untuk menerima,

lalu mengetahui segala ketetapan yang tercipta.

Akan dengan lapang dan jadikan tertempa.

Lagi, ulangi.

Menjadi yang lebih siap di kemudian hari.

Teriak, memekakkan telinga.

Hingga tidak tampak takut nan dalam di balik mata.

Semena-mena,

tanpa ada tanda.

Buas bengis,

Memberingas terberangus,

segala yang dulunya ada.

Lenyap manusia.

Khilaf menjadi tameng baja.

Cukupkah?

 

Sebenarnya?

Mereka adalah bagian kecil dari sesuatu yang besar.

Berupaya menggapai-gapai,

cita-cita.

Cita yang diyakini, dipercayai, luhur.

Benarkah untuk yang akan datang?

Seberapa diketahui?

Kompetensi,

Komprehensi,

Mungkin lebur dalam langkah diri.

 

 

Sejati

Apakah seimbang?

Bertameng baja, berbaju besi,

Sedangkan yang lain hanya berangkat tanpa nasi.

Berbekal cinta, kasih sayang,

dan ilusi, akan nanti yang menyinari.

Mungkin hendaknya satu tidak menjadikan sangsi.

Untuk satu yang dapat menyatukan hati.

Kita harus saling mengetahui.

Menepati janji.

Supaya sejati.

 

Damar-damar

Satu damar mungkin dapat menyinari.

Namun tetap tampak gelap,

hitam dari jauh sekali.

Damar-damar kecil,

bawakan kami terang yang menyinari,

untuk menjemput matahari,

untuk upaya yang lebih baik lagi,

untuk usaha yang tanpa henti.

Sepi, sunyi, hening.

Riuh rendah tidak tertangkap lagi.

Mereka berbenah kembali.

Mendekat pada yang sejati.

Mengajari diri.

Menata peri.

Bertahan dalam uji.

Siap dalam yang tak pasti.

 

Berserah

Berteguhlah, berserahlah.

Simpanlah, rasakanlah.

Jadilah, berlakulah,

Untuk kebenaran bersama, tengoklah.

Ragu-ragu? Kembalilah.

Berbaliklah.

Timbanglah, ukurlah, datanglah kembali dengan yang aku beri markah.

Sudahkah?

 

Buas

Sampai kapan?

Tali pelecut sudah getas dan akan putus.

Busur sudah retak dan tampak hangus.

Panah sudah tumpul dan tergerus.

Selongsong peluru tergeletak, habis peluru.

Dengus serius, berpuluh nyawa terberangus.

Pekik tangis membius.

Sampai kapan?

Pedang-pedang basah,

Berlumur darah.

Pisau-pisau tumpul kerangka-kerangka merengkah.

Mereka menangis kehausan,

Mereka kelaparan tak bisa makan.

Ladang kering, rumah dan bangunan rata dengan lautan.

Mau berapa banyak yang engkau miliki?

Mau berapa banyak yang engkau gunakan?

Segeralah! Cukupkanlah! Sudahilah!

 

Jiwa

Ulangi, perbuatan-perbuatan baik.

Tinggalkan pesan-pesan manfaat

dan banyak untuk menyambung nyawa.

Jejak-jejak kebenaran akan memandu.

Bekas-bekas keburukan akan diingat,

dan ditemukan jalan keluarnya.

Jiwa-jiwa yang tenang semoga membawa kebaikan kebahagiaan.

Terus berupaya, terus berusaha.

Semakin baik, indah, menuju kebahagiaan.

Tidak dipaksa, melakukan yang memang kebenaran bersama.

Kebenaran dahulu, kemarin lalu, sekarang, lusa, dan hari esok yang akan datang.

*Muhammad Yusuf Siswijayanto, mahasiswa program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang. Tulisan ini disunting oleh Dr. Indayani, M.Pd.,  Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).