Prestise Bahasa Indonesia dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an

Bahasa Indonesia telah mengalami perjalanan sejarah yang amat panjang. Semula Indonesia itu tidak ada. Yang ada adalah bahasa Belanda, bahasa Jawa, bahasa Arab, dan bahasa Sunda.

May 24, 2024 - 08:09
Prestise Bahasa Indonesia  dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an
Dr. Muhammad Mudlofar, M.Pd.

 Oleh: Dr. Muhammad Mudlofar, M.Pd.

Bahasa Indonesia telah mengalami perjalanan sejarah yang amat panjang. Semula Indonesia itu tidak ada. Yang ada adalah bahasa Belanda, bahasa Jawa, bahasa Arab, dan bahasa Sunda. Kemunculan bahasa Indonesia ditengarahi beralasan politis, yaitu dibutuhkannya suatu bahasa untuk mempersatukan aneka budaya yang bertebaran di Nusantara.

Munculnya bahasa dengan nama bahasa Indonesia tersebut melalui perdebatan yang amat melelahkan. Suku Jawa menghendaki agar bahasa Jawa saja yang diangkat menjadi bahasa persatuan. Sementara itu, suku yang lainnya, termasuk suku Sunda menghendaki agar bahasa Sunda saja yang dijadikan bahasa persatuan. Tiap suku saling menunjukkan keunggulan bahasanya dan tidak ada yang mau mengalah.

Akhirnya, muncullah gagasan agar bahasa Melayu saja yang diresmikan sebagai bahasa persatuan di Indonesia. Alasannya ialah bahasa Indonesia telah menjadi lingua franca bagi seluruh wilayah Nusantara. Gagasan ini pun diterima. Pada 28 Oktober 1928 diresmikan sebagai salah satu Sumpah Pemuda Indonesia.

Kini bahasa Indonesia telah menempati posisi yang terhormat. Bagaimana tidak! Berbagai aktivitas manusia Indonesia telah dapat diverbalkan dengan bahasa Indonesia. Bahkan, dalam berbagai kesempatan bahasa Indonesia telah menempati posisi yang sejajar dengan bahasa-bahasa penting lain di dunia. Bahasa Indonesia telah menjadi salah satu bahasa di dunia yang digunakan untuk mengemukakan ide-ide dan pikiran-pikiran yang berhubungan dengan kebangkitan budaya di dunia.

Salah satu kegiatan keluhuran budaya yang prestise dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat ekspresinya ialah event Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). MTQ adalah event pergelaran pembacaan kitab suci yang dikemas secara estetis baik mencakup lagu, suara, dan nada pelafalannya. Semula MTQ ini menu acaranya hanya terbatas pada pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dengan mengedepankan modal warna suara yang indah. Namun, belakangan MTQ bertumbuh dan berkembang menu kegiatannya mencakup; pembacaan (qari’), penghafalan (tahfidz), deklamasi (sarhil Qur’an), pemahaman makna (fahmil Qur’an), dan karya ilmiah Al-Qur’an (maqalah Al-Qur’an).

Qari’ adalah jenis lomba yang mengedepankan keindahan suara dalam melantunkan Al-Qur’an. Tahfiz merupakan jenis lomba yang berorientasi pada penghafalan ayat-ayat Al-Qur’an hingga 30 juz. Sarhil Qur’an ialah jenis lomba berbentuk deklamasi yang dikemas dengan model pidato atau khotbah.  Fahmil Qur’an adalah jenis lomba yang bertujuan menyajikan kualitas pemahaman atas kandungan nilai-nilai yang termuat dalam Al-Qur’an. Sementara itu, maqalah Al-Qur’an adalah kegiatan lomba yang bertujuan memeroleh hasil akhir berupa tulisan atau artikel ilmiah dengan landasan ayat-ayat Al-Qur’an.

Kegiatan yang terakhir ini lazimnya disebut Musabaqah maqalah Al- Qur’an  KTIQ atau lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ). Sesuai dengan namanya maka kegiatan utamanya ialah menulis ilmiah. Tujuannya ialah  menghasilkan karya tulis ilmiah berupa makalah atau artikel yang berlandaskan ayat-ayat yang terdapat di dalam kitab suci. Bahan utama tulisan ialah ayat-ayat Al-Qur’an. Bentuknya jurnal ilmiah. Medianya ialah bahasa resmi bahasa Indonesia.

Di dalam sistem penilaian KTIQ ini benar-benar mengacu pada penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan pungtuasi berpedoman pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Tata kalimat, diksi, dan gaya bahasa yang dipakai berkomitmen menggunakan pola sintaksis bahasa Indonesia secara tepat. Bobot penggunaan bahasa Indonesia resmi dalam lomba jenis ini mencapai 30 persen untuk penentuan juara. Selebihnya 40 persen kedalaman materi dan yang 30 persen lagi ialah sistematika. Hal itu berarti 60 persen pemenangan lomba ditentukan oleh kemahiran para peserta pada keterampilan berbahasa Indonesia.

Berdasarkan pengalaman mencermati kegiatan KTIQ ini didapat fakta bahwa para peserta lomba harus berjibaku dengan persoalan kebahasaan. Terkait dengan materi atau ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bahan tulisan utama tampaknya mereka tidak terlalu bermasalah. Sebab, mereka sudah banyak hafal ayat-ayat yang sesuai dengan tema-tema dan persoalan-persoalan aktual yang ada di sekelilingnya. Akan tetapi, mereka merasa harus berpikir dan bekerja keras ialah bagaimana harus mengeksplorasi pemahaman ayat-ayat tersebut dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga dapat dipahami oleh khalayak pembaca.

Belum lagi mereka juga harus dapat mengorganisasi kata-kata menjadi kalimat-kalimat yang padu dan efektif. Selanjutnya, mereka pun harus dapat mengelompokkan kalimat-kalimat itu dalam berbagai pilihan bentuk paragraf yang tepat dan variatif. Mereka juga harus dapat menyajikannya dengan diksi-diksi yang ilmiah dan  kontemporer sehingga terhindar dari penggunaan bahasa yang terkesan klise.

Satu hal yang amat menggembirakan, terutama bagi pemerhati bahasa Indonesia ialah telah muncul kesadaran kolektif di kalangan para penyelenggara lomba MTQ bahwa bahasa Indonesia adalah media komunikasi yang harus dipahami secara baik dan benar. Kemampuan mereka dalam berbahasa sangat menentukan kualitas mereka dalam memaknai dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Pada gilirannya, kemampuan mereka dalam memahami bahasa Indonesia yang baik dan benar amat menentukan kualitas para peserta untuk menjadi juara lomba di MTQ, khususnya cabang KTIQ.

 

Dr. Muhammad Mudlofar, M.Pd. adalah dosen Universitas Qomaruddin Gresik dan Pengurus Pusat Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).

 

Editor: Dr. Indayani, M.Pd., dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan Pengurus Pusat PISHI.