Presiden Ukraina Beri Rompi Anti Peluru Saat Bertemu Pemimpin Vatikan Paus Fransiskus

Pertamuan Zelensky dengan Paus Fransiskus itu terjadi pada Minggu (15/5/2023). Zelennsky mengatakan suatu kerhomatan besar bertemu Paus Fransiskus.

Presiden Ukraina Beri Rompi Anti Peluru Saat Bertemu Pemimpin Vatikan Paus Fransiskus
Presiden Ukraina Zelensky

NUSADAILY.COM – UKRAINA - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melakukan pertemuan dengan pemimpin Vatikan Paus Fransiskus. Dalam pertemuan itu, Zelensky memberikan rompi antipeluru ke Paus Fransiskus sekaligus meminta mendukung rencana perdamaian di Ukraina yang berperang dengan Rusia.

Pertamuan Zelensky dengan Paus Fransiskus itu terjadi pada Minggu (15/5/2023). Zelennsky mengatakan suatu kerhomatan besar bertemu Paus Fransiskus.

"Ini suatu kehormatan besar," kata Zelensky kepada Fransiskus, meletakkan tangannya di dada dan menundukkan kepalanya saat menyapa Paus berusia 86 tahun itu, yang berdiri dengan tongkat dilansir Reuters, Minggu (14/5/2023).

BACA JUGA : Presiden Ukraina Marah Usai Viral Video Pemenggalan Seorang...

Pada hari Sabtu (13/4) sebelumnya, Zelensky bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Italia Giorgia Meloni, yang menjanjikan dukungan militer dan keuangan penuh untuk Ukraina dan menegaskan kembali dukungan untuk tawaran keanggotaan Uni Eropa.

Bicara 40 Menit dengan Paus Fransiskus

Zelensky mengunjungi Roma untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, berbicara dengan Paus selama 40 menit dan memberinya rompi antipeluru yang telah digunakan oleh seorang tentara Ukraina dan kemudian dilukis dengan gambar Madonna.

Vatikan Siap Bantu Ukraina

Sebuah pernyataan Vatikan mengatakan bahwa dalam pembicaraan pribadi mereka, Zelensky dan Paus Fransiskus membahas gerakan kemanusiaan, yang menurut sumber Vatikan merujuk pada kesediaan Vatikan untuk membantu pemulangan anak-anak Ukraina.

Ukraina memperkirakan hampir 19.500 anak telah dibawa ke Rusia atau Krimea yang diduduki Rusia sejak Februari 2022, yang dikecam sebagai deportasi ilegal.

"Kita harus melakukan segala upaya untuk memulangkan mereka," kata Zelensky dalam sebuah cuitan sesudahnya, mengatakan dia telah mendiskusikannya dengan Paus Fransiskus.

Zelensky juga mengatakan dia meminta Paus Fransiskus untuk bergabung dengan 10 poin rencana perdamaian Kyiv. Hal itu untuk memulihkan integritas teritorial Ukraina, penarikan pasukan Rusia dan penghentian permusuhan, dan pemulihan perbatasan negara Ukraina. Zelensky telah berulang kali mengatakan bahwa rencana tersebut tidak dapat dinegosiasikan.

Pada awal perang, Paus Fransiskus mencoba untuk mengambil pendekatan yang seimbang dengan harapan menjadi mediator tetapi kemudian mulai mengutuk tindakan Rusia, membandingkannya dengan beberapa kejahatan terburuk terhadap Ukraina selama era Soviet.

"Saya meminta (Paus) untuk mengutuk kejahatan Rusia di Ukraina. Karena tidak ada kesetaraan antara korban dan penyerang," kata Zelensky dalam cuitannya.

Sekembalinya dari perjalanan ke Hungaria pada 30 April lalu, Paus Fransiskus membuat komentar yang menarik namun dinilai membingungkan tentang keterlibatan Vatikan dalam misi untuk mencoba mengakhiri perang.

"Ada misi yang sedang dalam perjalanan sekarang tetapi belum dipublikasikan. Ketika sudah dipublikasikan, saya akan mengungkapkannya," katanya kepada wartawan selama penerbangan pulang.

Tetapi pernyataan Vatikan tidak menyebutkan misi semacam itu dan kemudian dalam sebuah wawancara televisi Italia Zelensky tampaknya mengesampingkan mediasi di luar rencana perdamaian Kyiv sendiri.

"Putin hanya membunuh. Kami tidak membutuhkan mediasi dengannya," katanya.

Paus Fransiskus telah memohon perdamaian hampir setiap minggu, dan telah berulang kali menyatakan keinginan untuk bertindak sebagai perantara antara Kyiv dan Moskow dengan mengunjungi kedua ibu kota. Tawarannya sejauh ini gagal menghasilkan terobosan apa pun. (ros)