PERAHU RETAK: MINIATUR DESAKU

Perahu Retak” adalah sebuah naskah drama yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib. Diterbitkan oleh Penerbit Aksara Garda Pustakatama, Jakarta, 1992. Naskah lakon tradisi yang bertebal 75 halaman ini mengungkap adanya transformasi politik. Ada pergeseran pola kepemimpinan pesisir yang berwatak lebih terbuka, egaliter, dan demokratis, menjadi kekuasaan pedalaman yang relatif lebih tertutup. Di dalamnya terdapat lantunan-lantunan syair yang mencerminkan kegundahan atau kegalauan seperti di desaku. Pergeseran kekuasaan berimbas kepada pergeseran nilai-nilai serta tatanan kehidupan bermasyarakat.

PERAHU RETAK: MINIATUR DESAKU
Source : Perahu Retak

Dr. Aries Purwanton M.Pd

 

“Perahu Retak” adalah sebuah naskah drama yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib. Diterbitkan oleh Penerbit Aksara Garda Pustakatama, Jakarta, 1992. Naskah lakon tradisi yang bertebal 75 halaman ini mengungkap adanya transformasi politik. Ada pergeseran pola kepemimpinan pesisir yang berwatak lebih terbuka, egaliter, dan demokratis, menjadi kekuasaan pedalaman yang relatif lebih tertutup. Di dalamnya terdapat lantunan-lantunan syair yang mencerminkan kegundahan atau kegalauan seperti di desaku. Pergeseran kekuasaan berimbas kepada pergeseran nilai-nilai serta tatanan kehidupan bermasyarakat.

Desaku dipimpin oleh kepala desa yang dipilih secara aklamasi, pilihan langsung penduduk desa. Selain itu didampingi oleh para perangkat desa. Pada waktu disumpah, mereka berikrar, berjanji untuk memegang teguh aturan dan menegakkan kebenaran. Melawan kejahatan dan angkara murka, berlaku adil dan jujur, mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi dan keluarga. Pada upacara pelantikan, semua terlihat rukun, kompak, ceria, saling jabat tangan dan berpelukan. Sebuah pemandangan yang mencerminkan keutuhan, kebersamaan, dan sinergi yang luar biasa.

Seiring bergulirnya waktu, belum seumur jagung, telah terjadi “adu siasat”. Sikap penjilat sudah mulai menjulurkan lidahnya. Sikap “Sengkuni” sudah memainkan perannya, menggunting dalam lipatan, duri dalam daging, jadi musuh dalam selimut. ABS (asal bapak senang) sudah mewarnai kinerja perangkat desaku. Lalu, dimana sumpah jabatan yang baru saja terucap, ibarat gaung belum meredup, bagaikan janur temanten belum layu, semua sudah berubah. Kemesraan semu telah me-“make up” mereka dalam sekejap, kemudian kembali ke warna aslinya.

Begitulah yang terjadi pada masa Kesultanan Demak dan Pajang, yang kemudian bergeser ke Kerajaan Mataram. Semua itu terangkum dalam Lakon “Perahu Retak” dengan segala dinamika sosial-politik-keagamaan-serta pemerintahan. Syair-syair dilantunkan oleh para santri dan penduduk sebagai ungkapan rasa kegalauan dan pontang-pantingnya pemerintahan.

Dalam pendahuluan naskahnya, Emha menuliskan:

“Sesudah keberlangsungan kesultanan Demak dan Kesultanan Pajang, berdirinya Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati dan Ki Juru Martani sebagai penasehatnya, sesunggunya merupakan transformsi politik. Dari pola egaliter dan demokratis menuju kukuasaan pedalaman yang lebih tertutup. …

 

Kepemimpinan Demak dan Pajang dilatarbelakangi oleh legitimasi spiritual Islam melalui Wali Songo. Disebut “legitimasi spiritual” sebab titik berat ke-Islaman di sini adalah spiritualitas, bukan teologi, sehingga Kesultanan Demak tidak bisa sebagai  contoh  dari suatu pemerintahan teokratis Islam. Kerajaan Mataram tidak meneruskan “tradisi wali” dan menggantikannya dengan legitimasi mistik Jawa, terutama melalui figur Nyai Roro Kidul. Tokoh yang dipercayai sebagai Ratu laut Selatan yang berhhubungan karib dengan Raja Mataram. Pergeseran legitimasi ini mensifati pula landasan, watak, dan orientasi kepemerintahan politik Mataram. Pada batas-batas tertentu, pemerintahan Mataram hakekatnya adalah refeodalisasi struktur politik dan kebudayaan, sentralisme, dan otoritas Raja. Sikap ketertutupan dan tahayul …”

Pada alenia terakhir, Emha menegaskan bahwa Lakon yang ditulisnya adalah secercah ilustrasi tentang upaya pencarian kemungkinan kerja sama dan demokratisasi antara Jawa dengan Islam. Meskipun pada waktu itu terminologis “demokrasi” belum dikenal, tetapi bukan berarti ruh demokrasi tidak ada. Domokrasi sebagai aspirasi, naluri, ide atau gagasan manusia dan masyarakat pada jaman itu sudah terasa.

Tulisan ini hanyalah cuplikan kecil dari sebuah naskah lakon tradisi, karena hanya mengungkap beberapa syair yang dilantunkan di sela-sela perjalanan kehidupan. Ada cerminan suara hati para santri dan penduduk yang sangat gundah, sebagaimana gundahnya penduduk desaku. Berikut lantunan syair para santri:

Papan tanpa tulisan

Teratai tanpa telaga

Lampu menyala tanpa sumbu

Bernyanyi padahal bisu

Matahari bersinar malam hari

Tanggal satu tapi bulan purnama… (Perahu Retak, 1992:5)

 

Kegundahan yang merefleksikan hilangnya eksistensi mereka di tengah kehidupan. //Papan tanpa tulisan// Teratai tanpa telaga // Bernyanyi padahal bisu // Matahari bersinar malam hari//dan seterusnya menggambarkan betapa ‘Logika” ini sudah tidak berarti lagi, tidak berguna, tidak mampu mewadahi keadaan yang sedang terjadi. Banyak fenomena yang tidak masuk akal dan sejumlah pertanyaan rasional yang tidak terjawab. Persis di desaku yang perangkat desanya tidak lagi menghiraukan keluhan rakyatnya, tidak menerima usulan dan saran, tidak peduli masuk akal atau tidak yang penting “mengikuti juklak” yang sudah dibuat sepihak. Mereka tidak lebih seperti anak catur yang meluncur sesuai  apa kata “majikannya”. Boleh jadi mereka adalah robot-robot yang bisa di-remout dari jauh setelah dalam tubuhnya mengeram vaksin kebal makian dan kritikan.

Entah mau diurai dari mana kondisi “bolah ruwet” yang tidak jelas ujung-pangkalnya. Para penegak hukum sudah sadar, bahwa menegakkan hukum di desaku, katanya: “bagaikan menegakkan benang basah”. Betapa sulit dan tidak mungkin. Namun demikian tetap diserukan dan dijadikan slogan “tegakkan keadilan”, “ junjung tinggi martabat hukum”, “taat dan patuhi hukum yag berlaku”, dan sejumlah slogan kosong yang terus berdengung….Bayangkan saja//Tanggal satu, tetapi bulan purnama// Benar-benar potret desaku ada di sini.

Pajak radio masih berlaku, sementara sudah tidak ada penduduk yang memiliki radio. Kartu BPJS menjadi syarat untuk pengurusan surat-menyurat di kantor desa, termasuk kartu Vaksin Booster harus disertakan. Yang lebih ironis beredar rumor yang santer: “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah”. Inilah slogan layanan yang berhembus di bawah tanah, tetapi dirasakan oleh penduduk desaku. Pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang sasarannya adalah rakyat miskin, ternyata tidak tepat sasaran. Dana prakerja adalah bisnis baru yang bisa dikelola oleh “Pemain Terknologi Informatika”. Cukup bermodalkan identitas diri para penduduk yang diajukan untuk mendapat dana prakerja, maka “cairlah” dana selama 3 bulan berturut-turut. Program-program salah sasaran menjadi “tradisi” yang sulit dirombak. Itulah desaku…dalam Perahu Retak, ada cengkeraman kuat dari penguasa yang sangat perkasa.

Sudahkah desaku kehilangan arah mata angin? Tidak lagi menyadari dari mana matahari terbit dan ke arah mana matahari terbenam. Nafas ketuhanan hanyalah tinggal “nyanyian rutin” yang meramaikan surau-surau. Kalau ada pemuda yang berteriak lantang tentang logika, etika, fakta, dan fenomena, maka habislah nafasnya. Berikut cuplikan syair yang dilantunkan para santri dan penduduk sebagai cermin kegalauan.

            Menteri menjadi Menteri

Raja yang melantiknya

Tuhan menjadi Tuhan

Siapa yang mengangkatnya

 

Lantunan Syair tentang //menteri menjadi menteri, Raja yang melantiknya// memberikan gambaran bahwa segala posisi, jabatan, pangkat, ada yang mengendalikan. Pucuk tertinggi Sang Pengendali adalah Tuhan. //Tuhan manjadi Tuhan// Siapa yang mengangkatnya//. Bersandar kepada Tuhan adalah tataran tertinggi untuk mendapat ridha Allah Ta`ala, jiwa raga yang ikhlas dalam setiap ucap kata dan perbuatan. Lantunan syair berikut memberikan pemaknaan yang luas terhadap hakekat sembahyang:

Sembahyang itu mencangkul di sawah

Degan jiwa raga yang ikhlas

Sembahyang itu memelihara kesuburan tanah

Memetik buah dalam jumlah yang pas

 

Tidak menebang pepohonan

Melebihi kewajaran

Turun ke sungai mencari ikan

Hanya sejauh yang diperlukan

 

Tidak merebut hak sesama, tidak mencuri

Karena di hadapan Tuhan tak ada tempat sembunyi

Tidak sombong kepada manusia, tidak menyakiti

Karena luka orang lain meneteskan darahmu sendiri

 

Sembahyang itu mempergaulkan cinta dan keadilan

Kepada sesama manusia, tetumbuhan dan hewan

Sembahyang itu mencuci muka

Sujud kepada Tuhan menyatakan cinta (Perahu Retak, 1992: 19-20)

 

Hakekat sembahyang adalah mentaati semua aturan Tuhan dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya, sehingga terjadi harmonisasi dalam kehidupan. Perimbangan hidup di dunia juga di imbangi dengan persiapan kehidupan akherat. Ada sikap “takut” terhadap resiko yang akan ditanggung ketika melakukan “pelanggaran” terhadap aturan-aturan yang sudah ditetapkan. Di sinilah dibangun jiwa tanggung jawab terhadap semua perbuatan dan sikap yang kita ambil.

Dilanjutkan suara koor para santri yang melantunkan syair-syairnya:

 

Wahai tujuh abad cobaan

Para santri mengembarai gelombang

Timbul tenggelam, muncul dan hilang

Di laut kemenangan dan kekalahan

 

Di tengah keributan, kekacauan, ketegangan, kecamuk emosi kemarahan, para santri terus berdendang melantunkan syair-sairnya:

Kami akan terus menanam, meskipun tak pernah mengetam

Di tangan kami tergenggam Alif dari deretan huruf Hijaiyah

Deretan sejarah yang amat panjang

Lakon ini akan berlangsung ratusan tahun lamanya

Tentang getar nafas para Wali, guru-guru bangsa, yang sirna entah dimana

Tentang sisa para santri yang tercampakkan, namun tetap bersyahadat

Dalam takaran hidup atau mati. (Perahu Retak, 1992: 47)

Di sinilah takaran maksimal para santri dan penduduk pada masa Abad-16, yakni terus berjuang, berusaha, sekuat mungkin tanpa putus asa sampai ajal tiba. Mereka tidak peduli segala macam tantangan, kondisi, iklim politik, percaturan pemerintahan, keangkuhan Raja dan para hula-balangnya. //Kami akan terus menanam, meskipun tak pernah mengetam// //Lakon ini akan berlangsung ratusan tahun lamanya// Tentang sisa para santri yang tercampakkan, namun tetap bersyahadat//. Mereka yakin bahwa perjuangan dan usaha mereka tidak akan pernah sia-sia. Harapan masih tetap ada meskipun harus menembus ruang dan waktu ratusan tahun lamanya. Keteguhan hati dan keyakinan tentang kekuasaan Tuhan menjadi semakin kokoh. Itulah modal dasar yang selalu mewarnai kehidupan di desaku. Mau mengadu kemana lagi, kalau bukan kepada Tuhan?

 

Dr. Aries Purwanto, M.Pd adalah dosen Pascasarjana Institut Agama Islam Al Khoziny Sidoarjo, dan Sekretaris Umum Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI). Disunting oleh Editor PISHI