Pahlawan Karantina COVID-19 Tulungagung, Rela Tak Pulang Demi Kenyamanan Pasien

  • Whatsapp
Pahlawan karantina COVID-19 Tulungagung
Indra Bayu Kurniawan, salah satu Pahlawan karantina COVID-19 Tulungagung.
banner 468x60

TULUNGAGUNG- Pahlawan Karantina COVID-19 Tulungagung, dukung capaian angka kesembuhan pasien Covid-19 di Kabupaten Tulungagung. Angkanya terbilang cukup tinggi, di atas angka 90 persen.

Baca Juga

BACA JUGA: Kisah Pasien Karantina Tulungagung, Bikin Petugas Lari Tunggang Langgang

BACA JUGA: Penggunaan Rusunawa IAIN Tulungagung Sebagai Tempat Karantina COVID-19, Tak Pengaruhi Minat Camaba

Kesembuhan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari proses tracing yang tepat. Kemudian proses karantina yang sesuai dengan aturan serta kedisiplinan pasien menjalani instruksi dari petugas. Termasuk faktor pelayanan kesehatan dari petugas kesehatan.

Selain perawatan dari petugas kesehatan yang rutin memantau. Memberikan obat kepada pasien COVID-19 di lokasi karantina maupun di ruang rawat inap. Faktor lain yang tak bisa dipungkiri adalah kondisi psikologis pasien. Selama menjalani karantina di lokasi karantina Rusun Mahasiswa IAIN Tulungagung.

Salah satu orang yang memiliki peran dalam memastikan kondisi psikologis pasien di lokasi karantina tidak memburuk adalah petugas kebersihan lokasi karantina.

Sejak pertama kali Rusun Mahasiswa ini dijadikan lokasi karantina, hingga saat ini. Hanya ada satu petugas kebersihan yang tetap bertahan, yakni Indra Bayu Kurniawan.

Kemarin Nusadaily.com berkesempatan mewawancarai Bayu, sapaan akrab bapak satu anak ini. Usai melakukan tugasnya membersihkan ruangan ruangan dan sampah-sampah di lokasi karantina.

Bayu awalnya adalah salah satu Office Boy di Institut Agama Islam Indonesia (IAIN). Kemudian dirinya menerima tawaran management untuk menjadi petugas kebersihan lokasi karantina. Setelah Gugus Tugas resmi menjadikan rusun mahasiswa di IAIN sebagai lokasi karantina.

“Ada 4 OB kemudian ditawari, siapa yang mau di lokasi karantina, ya sudah saya mau ndak papa. Untuk bisa membantu sesama di masa pandemi seperti ini,” ujarnya.

Sejak saat itu semua yang dilakukannya sudah tidak sama lagi seperti petugas kebersihan lainnya. Baju Hazmat lengkap dengan sepatu boot hingga kacamata pengaman. Perlengkapan itu selalu digunakannya selama berjam-jam saat menjalankan tugasnya.

“Ini pakai ini (baju Hazmat)panas sekali mas, tapi karena sudah biasa ya akhirnya ndak terasa panasnya,”ungkap Bayu.

Bayu mulai terlibat sejak pertama kali pasien baru datang, hingga mereka pulang karena dinyatakan sembuh. Yang dilakukan kali pertama saat pasien datang adalah membersihkan semua ruangan. Tentu yang akan dipakai hingga ke kamar mandi dengan semprotan disinfektan.

Layani Pasien dengan Kesabaran

Kemudian mengganti sprei, bantal, guling dan beberapa perabot lainnya dengan barang yang baru, sesuai dengan prosedur yang ada. Kegiatan tersebut biasanya dilakukannya pada sore hingga malam hari. Setelah Gugus Tugas mengumumkan nama-nama pasien yang akan dikarantina di lokasi karantina.

“Ada yang ribet, spreinya mau diganti dengan barang pribadi mereka, ya saya lakukan, walaupun dari sini sudah difasilitasi yang baru. Itu ndak ada masalah bagi saya. Kalau ditanya selesainya kerja ya setelah semua pasien baru terlayani kadang sampai pernah jam 1 malam,” ungkapnya.

Pada pagi hingga siang harinya, dirinya melakukan kegiatan rutin. Seperti membersihkan sampah di lokasi karantina serta beberapa pekerjaan lainnya.

Bayu berkisah, pada awal berdirinya lokasi karantina ini, dirinya bahkan melakukan banyak pekerjaan lain. Bahkan yang tidak ada kaitannya dengan kebersihan. Seperti memperbaiki jaringan listrik, kemudian memperbaiki saluran air yang mampet dan lain-lain.

Hal itu dilakukanya, karena tidak sembarangan orang diperbolehkan masuk ke dalam lokasi karantina. Dan jika tidak segera ditangani, ditakutkan kondisi psikologis pasien yang menjalani karantina akan terganggu. Sehingga berimbas pada kesembuhannya.

“Pasien itu kalau mau cepat sembuh itu salah satu kuncinya adalah gembira. Makanya ya apa saja keluhannya langsung saya tangani sebisanya. Awal-awal memang sempat memperbaiki wastafel macet segala, listrik putus juga,” jelas Pahlawan Karantina COVID-19 Tulungagung.

Bayu tak memungkiri sempat muncul kekhawatiran di lingkungan keluarganya dengan pilihan yang dijalaninya. Bahkan pada awal pandemi dirinya memilih untuk tidak pulang ke rumah sampai dua bulan. Walaupun swab rutin setiap minggu yang dijalaninya menunjukkan dirinya negatif COVID-19.

“Dulu awal awalnya istri dan anak saya ungsikan ke rumah lain. Terus rumah saya kosongkan. Selama di rumah ya baju ini saya rendam bayclin terus saya juga mandi pakai cairan khusus,” terangnya.

Kepada Nusadaily.com, dirinya berkisah bahwa ada hal yang membuatnya bahagia setelah menjadi petugas kebersihan di lokasi karantina. Adalah saat menyaksikan satu per satu pasien COVID-19 dinyatakan sembuh. Dan boleh pulang ke rumahnya masing-masing.

“Ada yang masih baik hubungannya dengan saya masih suka Japri. Walaupun sebenarnya penyintas ini memiliki group WA,namun saya tidak masuk di dalamnya,” pungkasnya.(fim/cak)

Post Terkait

banner 468x60