Leluhur Mohammad Prananda Prabowo: Bagelen, Bhumi Juang Lintas Masa (12)

  • Whatsapp
banner 468x60

Trah Pejuang Mdang I Bhumi Mataram, Purworejo Tanah Kelahiran Tokoh Besar

C. Bagelen sebagai Bhumi Juang Lintas Masa

Seolah “telah digariskan”, dari masa ke masa Bagelen tampil sebagai “bhumi juang”. Area di mana deretan perjuangan berlangsung di dalamnya. Dalam perjalanan panjang sejarah daerah Purworejo, daerah ini tercatat sebagai daerah yang dipilih serta dijadikan sebagai pusat penerintahan, semenjak masa Hindu- Buddha.

Masa Kolonial, hingga kini. Seperti terpapar di atas, sejak Masa Hindu-Buddha, tepatnya di era pemerintahan Raja Balitung, bhumi Bagelen — yang konon disebut “Mdang i Bhumi Mataram” telah menjadi basis juang untuk meraih kejayaan kerajaan Mataram.

Baca Juga

Spirit kejuangan Bagelen berlanjut ke Masa Perkembangan Islam, dimana Sunan Geseng asal Bagelen melakukan syiar Islam di daerah Kedu Selatan, dan kemudian diperluas hingga ke sejumlah tempat di wilayah Jawa Tengah dan bahkan mencapai Tuban. Hingga kini pun Eks Bagelen (sekarang “Purworejo”) dikenal “sentra pendidikan Islam”.

Para kyai besar tak sedikit yang berasal dari Bagelen. Salah satu di antaranya adalah Kyai Taptajani, mahaguru dari Bupati I Purworejo (RAA. Cokronegoro I), Pangeran Diponegoro, Pangeran Adisuria dan Patih Danurejo. Makam Kyai Taptajani atau Taptonjani (nama aslinya “Taftazani”) berada di bukit bernama “Kayu Lawang” Desa Mudal Kecamatan Purworejo Walau pada mulanya tempat mengajarnya di Pathok Negoro Desa Mlagi, Sleman, namun makamnya berada di Kayu Kawang, Purworejo.Ulama lainnya asal Purworejo adalah Kyai Ghozali, yakni kakek buyut dari Mohammad Prananda Prabowo.

Dalam pembentukan Kasultanan Mataram Bagelen pun turut berkontribusi. Sejumlah ” “kenthol (tokoh andalan)” asal Bagelen oleh Sutawijaya (Bergelar “Panembahan Senapati”) dijadikan sebagai pasukan utama Mataram. Sebenarnya, bukan hanya di era Kasultanan para tokoh asal Bagelen itu berperan dalam operasi militer, namun hingga di masa-masa sesudahnya, sehingga nama Bagelen sangat disegani di daerah-daerah lain. Posisi sentra dan kontribusinya tercatat kesejarahan Jawa, tak terkecuali di Masa Kolonial, semenjak era VOC, Hindia-Belanda hingga agresi militer di era Perang Kemerdekaan.

Tatkala berlangsung “Perang Jawa (Perang Diponegoro)” pada tahun 1825- 1830 bhumi Bagelen menjadi palagan perang. Pangeran Diponegoro memperoleh dukungan luas dari warga Bagelen dan warga daerah sekitarnya. Demikian pula di era “Perang Kemerdekaan (1945- 1948)”, Bagelen (Purworejo) kembali menjadi “ajang juang’. Ada sejumlah pejuang besar, seperti Urip Sumoharjo, Ahmad Yani, Sarwo Edy Wibowo, W.R. Supratman – sang pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, merupakan tokoh- tokoh pejuang asal Bhumi Bagelen.

Termasuk di antara mereka adalah Muhammad Ridwan Tjokrodipo, yakni adik kakek Prananda, yang pada Agresi Militer I (tahun 1947) dan II (tahun 1948) menjadi Komandan Pasukan Laskar BPRI Purworejo serta Komandan MPK Purworejo. Sarwo Edy Wibowo adalah tenan seperjuangan dan M. Ridwan Tjokrodipo.

Wilayah Bruno di Bagelen yang pada Perang Kemerdekaan (1945-1948) menjadi markas persembunyian para pejuang kemerdekaan, selama setahun (1948-1949 pernah dijadikan sebagai Ibukota dari Provinsi Jawa Tengah “Dalam Pelarian”, lantaran saat itu Semarang dikuasai Belanda.

Gubernur Provinsi Jawa Tengah kala itu, yaitu KRT Wongso Nagoro, bertempat tinggal di rumah Dul Wahid,, yakni warga Desa Kembangan, dengan mendapat dukungan dari “Pemerintahan Militer” masa Perang Kemerdekaan II. Di sini ditempatkan satu batalyon TNI — yang membawahi dua peleton dan empat kompi pasukan, dibawah pimpinan R. Sroehardoyo.

Sejarah juang dari masa ke masa di daerah Bagelen (Purworejo) menjadi cukup alasan untuk mempredikati Bagelen (Purworejo) sebagai “bhumi juang lintas masa”.

Post Terkait

banner 468x60