Leluhur Mohammad Prananda Prabowo: Bagelen, Bhumi Juang Lintas Masa (11)

  • Whatsapp
banner 468x60

Jejak Maharaja Dyah Balitung, Nyi Ageng Bagelen hingga Sunan Geseng, Murid Sunan Kalijaga

Dari Tumenggung Tjokrodipo hingga Raja Balitung

Tidak banyak berita yang diperoleh mengenai kurun waktu dalam kurun waktu panjang dari era pemerintahan Tumenggung Tjokrodipo dan Maharaja Balitung. Oleh karena adalah kurun waktu yang amat panjang (abad X s.d XVII Masehi), maka telaah berikut ini dipilah ke dalam dua kelompok waktu : (1) Bagelen   Masa Perkembangan Islam, dan (2) Bagelen Masa Hindu-Buddha.

2.1. Bagelen pada Masa Perkembangan Islam

Adalah Raden Mas Cakrajaya atau Cokrojoyo, salah seorang murid (santri) Sunan Kalijaga, yang kemudian memperoleh anugerah nama nama “Sunan Geseng”. Dalam sumber data oral (legenda, tradisi lisan) Sunan Geseng dinyatakan sebagai berjasa menjadi “pesiar Islam”  di Jawa tanah Selatan, dari timur Kali Lukola sampai dengan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) serta Magelang. Pengaruhnya demikian kuat pada  kawasan Kedu Selatan, termasuk di dalamnya Bagelen. Sebutan “Geseng” Itu diberikan oleh Sunan Kalijaga lantaran Mas Cokrojoyo begitu setia terhadap perintahnya. Siapakah R. M.  Cokrojoyo itu?

Baca Juga

Suatu legenda yang perlu ditelisik akurasinya menyatakan bahwa Cokrojoyo adalah putera Pangeran Semono. Adapun Samono adalah keturunan Prabu Brawijaya. Ada pula yang menghubungkan Samono sebagai keturunan dari Nyi Ageng Bagelen, dengan urutan : Nyi Ageng Bagelen – Bagus Gentong (Gento) – Raden Danarmoyo – Raden Tara Rengganis – Pangeran Semono (Pangeran Muryo) – Kyai Cokrojoyo I (Sunan Geseng). Menurut Babad Jalasutra, Cokrojoyo juga adalah murid dari Sunan Panggung (Raden Watiswara), yakni cucu Brawijaya V. Namun, ada pula pendapat bahwasanya Sunan Panggung dan Cokrojoyo  merupakan orang yang sama.