Pasangan Pengantin Paling Tua di Ngawi Ikut Nikah Massal, Imbas Biaya Adat Jawa Segunung

Bukan sekadar ingin pernikahannya tercatat, keduanya punya alasan lain ikut nikah massal. Keduanya mengaku tak punya banyak biaya jika menikah dengan prosesi adat Jawa secara lengkap.

Pasangan Pengantin Paling Tua di Ngawi Ikut Nikah Massal, Imbas Biaya Adat Jawa Segunung
Pasangan Pengantin Paling Tua di Ngawi

NUSADAILY.COM – NGAWI -  Pasangan pengantin baru paling tua dalam gelaran Mas Bupati Mantu adalah Lanidi (82) dan Parti (67), warga Dusun Ngrini RT 12 RW 03 Desa Gondang Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Bukan sekadar ingin pernikahannya tercatat, keduanya punya alasan lain ikut nikah massal. Keduanya mengaku tak punya banyak biaya jika menikah dengan prosesi adat Jawa secara lengkap.

BACA JUGA : Dihajar Aerox, Motor Bajaj Hangus Terbakar di Depan SPBU...

Awalnya, pasangan ini ingin menikah cukup dengan ijab qobul di Kantor Urusan Agama (KUA). Namun, surat keterangan duda milik Lanidi hilang entah ke mana.

Lanidi pun sampai lupa punya surat keterangan duda lantaran sudah sangat lama. Dia sendiri tak mengira bakal dapat pasangan hidup.

Karenanya, mereka pun meminta tolong pada pemdes hingga akhirnya keduanya jadi salah satu peserta nikah massal yang dokumen pernikahan dan kependudukannya dijamin tuntas saat itu juga.

“Karena surat duda Mbah Lan sudah hilang, akhirnya kami ikut nikah massal supaya selain pernikahan bisa resmi dicatat negara dan sah secara agama, juga supaya dokumen kependudukan kami mudah diurus, itu saja,” kata Parti.

BACA JUGA : 4 Bulan Tak Digaji, Buruh Pabrik Sepatu di Ngawi Geruduk...

Dia membenarkan jika tak ada waktu apalagi biaya jika harus melengkapi pernikahannya dengan resepsi dengan adat Jawa yang lengkap dengan segala proses dan sarana prasarananya. Hingga akhirnya, dia didaftarkan untuk jadi peserta nikah massal yang dilaksanakan di halaman Pendapa Wedya Graha Ngawi pada Minggu (27/11/2022).

Kepala Desa Gandong, Kuswanto, membenarkan mayoritas warganya banyak yang ingin mengadakan resepsi nikah adat Jawa. Namun karena banyak yang kurang mampu, akhirnya cukup degan ijab qobul saja.

“Sebenarnya banyak warga yang ingin pernikahannya itu dilaksanakan dengan adat Jawa. Karena menurut budaya kan seperti tolak bala, agar pernikahannya selamat dan langgeng. Smeentara biayanya mahal, baru rias mantennya saja sudah Rp12 juta, belum terop, dekor, dan lain sebagainya,” kata Kuswanto, Rabu (30/11/2022)

Akhirnya, saat gelaran Mas Bupati Mantu pertama kali pada minggu lalu, ada empat pasang warganya yang ikut gelaran itu. Termasuk Lanidi dan Parti, ada dua pasangan lansia lain berikut satu pasangan yang masih muda-mudi. Ke depan, dia ingin mendaftarkan lagi jika pemkab menggelar acara serupa.

“Selain memudahkan pengurusan dokumen kependudukan, resepsi adat Jawa kan juga dibantu pemkab meski tempatnya kemarin di pendopo. Masyarakat pasti terbantu, kaki akan ikutkan lagi warga yang ingin menikah dengan resepsi adat Jawa tapi kurang mampu. Itu sangat membantu,” katanya.(ris)