Pandemi Reda, Maskapai Indonesia Ini Lahir Kembali

Mari berkenalan dengan maskapai baru lahir kembali di Indonesia. Mereka langsung tancap gas di rute gemuk.

Feb 16, 2023 - 08:01
Pandemi Reda, Maskapai Indonesia Ini Lahir Kembali
TransNusa di Bali (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Mari berkenalan dengan maskapai baru lahir kembali di Indonesia. Mereka langsung tancap gas di rute gemuk.

Namanya PT TransNusa Aviation Mandiri atau TransNusa saja. Beberapa waktu lalu, kami sempat menjajal penerbangan PP Jakarta-Bali menggunakan armada barunya.

"Hub kita ada dua, di Denpasar dan Jakarta. Waktu awal saat ini semua pesawat Airbus, menginapnya di Bali. Di Jakarta mulai bulan Februari," kata Direktur Utama TransNusa, Bayu Sutanto, dalam perbincangan dengan detikTravel di penerbangan di Bali beberapa waktu lalu.

Jadi, TransNusa adalah salah satu maskapai terjadwal, pemegang AOC nomor 121048. Setelah pandemi, TransNusa, dengan tagar 'Kembali Terbang' dan konsep bisnis yang berbeda, beroperasi kembali. Tepatnya, sejak Oktober 2022 .

Sebelumnya, TransNusa terbang dengan pesawat turboprop, baling-baling ATR, khususnya di Indonesia timur dan tengah, yakni di NTT, NTB, Bali, Sulawesi maupun Kalimantan.



Namun, mulai tahun 2022, setelah sempat hiatus TransNusa terbang kembali. Mereka mengoperasikan jet Airbus 320 baik dari seri NEO atau CEO.

"Kami ada empat pesawat saat ini untuk A320. Dan di tahun ini rencana akan jadi lima pesawat," kata Bayu.

Apakah TransNusa sengaja menunggu pandemi selesai?

Bayu tak menampiknya dan dalam operasi yang baru, perusahaannya itu memilih tipe pesawat sempit bermesin jet dengan alasan pasar membutuhkannya.

"Iya benar. Karena penerbangan regional, khususnya di daerah-daerah luar Jawa itu demandnya lebih lambat dibanding di bandara utama kota besar, misal Jakarta-Surabaya, Medan, hingga Bali," ujar Bayu.

"Sehingga untuk kota-kota besar yang dibutuhkan adalah pesawat jet narrow body A320 sekelasnya," dia menambahkan.

Alasan kedua, kata Bayu, setelah pandemi ada perubahan shifting segment penumpang, penumpang yang traveling dengan biaya sendiri, baik itu untuk bisnis, maupun liburan atau pulang ke kampung halaman itu lebih besar dibanding korporat atau pemerintah.

"Korporat atau pemerintah karena pandemi, sampai sekarang masih beberapa sektor industri masih menjalankan WFH hingga mengurangi perjalanan ke luar kota atau site kalau tidak dipandang perlu," kata dia.

"Tapi untuk segmen UMKM hingga liburan itu meningkat setelah pandemi. Karena selama 2-3 tahun dikekang. Kita menangkap peluang tersebut dengan pengoperasian pesawat jet ini," kata dia lagi.

"Alasan itu yang mengubah kita menjadi jet operator hingga rencana kita terbang internasional," dia menambahkan.(eky)