Pancasilaku, Pancasilamu

Setiap tanggal 1 Juni kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Kita bersyukur karena Tuhan Yang Maha Kuasa memberi kita Pancasila sebagai dasar negara kita. Tugas kitalah untuk mempertahankan kesaktian Pancasila tersebut. Dengan demikian, Indonesia tetap menjadi tanah air dan pusaka abadi nan jaya bagi semua warganegaranya.

Jun 12, 2024 - 07:59
Pancasilaku, Pancasilamu
Dr. Dra. Yuli Christiana Yoedo, M.Pd.

Oleh: Dr. Dra. Yuli Christiana Yoedo, M.Pd.

Setiap tanggal 1 Juni kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Kita bersyukur karena Tuhan Yang Maha Kuasa memberi kita Pancasila sebagai dasar negara kita. Tugas kitalah untuk mempertahankan kesaktian Pancasila tersebut. Dengan demikian, Indonesia tetap menjadi tanah air dan pusaka abadi nan jaya bagi semua warganegaranya.

Sampai detik ini tugas kita belum selesai. Masih ada warganegara Indonesia yang belum memahami peran Pancasila. Mereka tidak benar-benar mengerti arti sila pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima. Berikut ini contoh ketidakpahaman tersebut.

Belum lama ini saya mengunjungi sebuah SD di daerah pinggiran di Surabaya. Sekolah tersebut dinaungi oleh sebuah yayasan Kristen. Yayasan dengan visi kasih ini terpanggil untuk mendidik anak dari keluarga tidak mampu. Sekolah ini didirikan 10 tahun yang lalu. Murid yang diterima bukan hanya yang beragama Kristen tetapi juga yang beragama lainnya.  

Murid tidak perlu membayar uang sekolah. Mereka hanya membayar uang seninan secara sukarela sebesar Rp 3000,- – Rp 5000,- setiap hari Senin. Uang sukarela ini bertujuan untuk mengajarkan orang tua tentang tanggungjawab mereka.

Penyelenggaraan sekolah sangat bergantung kepada donatur. Yayasanlah yang mencari donator. Para guru yang terpanggil untuk mengajar di sini juga menjadi donatur. Mereka menyumbang dari gaji yang mereka terima setiap bulan. Sumbangan ini dilakukan karena mereka mengasihi murid-murid mereka.

Guru yang mengasihi murid-muridnya ini patutlah menjadi contoh yang sangat baik bagi mahasiswa calon guru. Sementara itu, murid-murid di sana dari keluarga tidak mampu secara ekonomi. Kedua hal ini menjadikan sekolah tersebut menjadi tempat yang sempurna untuk pembentukan karakter mahasiswa calon guru. 

Saya mengajak mahasiswa untuk melakukan kegiatan Service-Learning di sekolah ini. Kegiatan ini merupakan bagian dari Mata Kuliah Pembelajaran Bahasa Inggris SD. Kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa dapat melayani dan belajar dari kenyataan. Mereka melayani murid yang tidak mampu dengan mengajar mereka secara gratis. Pada saat yang bersamaan, mereka belajar segala hal tentang pengelolaan pendidikan di sekolah tersebut, termasuk tentang gurunya.  

Kegiatan ini memberi mahasiswa kesempatan untuk mempraktekkan kasih yang mereka pelajari di kampus. Bukan hanya mahasiswa, sebagai dosen, sayapun mempunyai kesempatan yang sama. Kami harus keluar dari zona nyaman kami karena sekolah ini tidak ber-AC dan jauh dari kampus.

Bukan hanya suhu panas dan jarak yang jauh menjadi tantangan kami. Kemampuan Bahasa Inggris murid-murid juga rendah. Ternyata guru Bahasa Inggris mereka sudah lama mengundurkan diri dan belum ada penggantinya.

Ada satu hal yang membuat saya kagum pada mahasiswa saya. Mereka tetap semangat mengajar. Saya lebih kagum lagi dengan sikap seorang mahasiswa saya ketika dia mengalami musibah.

Ketika mahasiswa saya membuka pintu mobil sewaan, ada sebuah sepeda motor yang jatuh. Pengendara dan penumpangnya luka-luka. Kedua ibu ini menuntut pertanggungjawaban mahasiswa saya. Ada saksi mata yang melihat bahwa pintu mobil sebenarnya tidak mengenai sepeda motor tersebut. Namun, mahasiswa saya ingin bertanggungjawab. Dia merasa kasihan dengan kedua ibu tersebut.

 

Sepulang dari kegiatan mengajar, mahasiswa saya menghubungi pengendara sepeda motor tersebut. Respon yang diterima adalah pertanyaan berupa “Agamamu apa?” Tentu saja mahasiswa saya heran karena pertanyaan tersebut tidak ada hubungannya dengan insiden tersebut. Sementara itu, murid saya mau bertanggungjawab meskipun tidak tahu agama ibu tersebut.  

 

Saya berani menyatakan bahwa ibu tersebut tidak memahami Pancasila. Sebaliknya, mahasiswa saya yang umurnya lebih muda dari ibu tersebut justru telah memahami Pancasila. Ibu tersebut meminta ganti rugi yang tinggi setelah mengetahui bahwa mahasiswa saya tidak seagama dengannya. Mahasiswa saya menyanggupi meskipun kondisi keuangannya tidak baik. Dia berkata, “Ini berat bagi saya tapi Tuhan Yesus pasti tolong saya.”

 

Pancasila kita tercinta ini intinya adalah kasih. Sila pertama sampai kelima mengandung ajaran kasih. Jika kasih menjadi dasar dari setiap tindakan warganegara Indonesia. Tidak dapat disangkal Indonesia akan menjadi negara yang damai dan berkelimpahan.

 

Sila pertama mengandung makna bahwa kita mengasihi Tuhan sehingga kita mentaati semua perintahNya. Sila kedua berarti kita mengasihi manusia lainnya sehingga kita tidak berlaku sewenang-wenang. Sila ketiga menekankan pada mengasihi manusia lain yang berbeda dengan kita. Sila keempat mengingatkan kita bahwa mengasihi itu tidak memaksakan kehendak sendiri. Sila kelima menekankan bahwa mengasihi itu berlaku adil  terhadap semua lapisan masyarakat.


Jelas di sini bahwa pendidikan karakter tidak jauh dari Pancasila. Penghayatan terhadap Pancasila dapat membuat anak didik kita mempunyai karakter yang baik. Pancasila mengandung nilai kasih sehingga anak didik kita akan menjadi manusia yang tidak merugikan Tuhan, negara, keluarga dan orang lain.

 

Penulis adalah dosen tetap Prodi PGSD Universitas Kristen Petra sekaligus anggota Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI). Naskah ini disunting oleh Dr. Dewi Kencanawati, M.Pd., dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Nusantara PGRI Kediri sekaligus Ketua 5 Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI)