Senin, Januari 24, 2022

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaOpinionTransformasi Bherung ke Cafe: Pergeseran Budaya Kongkow Generasi X ke Z

Transformasi Bherung ke Cafe: Pergeseran Budaya Kongkow Generasi X ke Z

Oleh: Abd. Basid Muslim, M.Pd.

Membaca sebuah artikel NusaDaily.com berjudul “Marung, Diplomasi Ngopi ala Masyarakat Madura” tulisan Agus Salimullah edisi 9 November 2021. Penulis sedikit tergelitik sebagai sesama orang Mataram (Madura Tanah Garam) tentang sebuah budaya yang kental dengan masyarakat pedesaan. Namun berbalut rasa kekeluargaan yang kuat, kokoh, dan terpercaya dalam hal kesetiaan.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Berbagai fenomena yang diungkapkan dalam artikel tersebut betul-betul memotret budaya masyarakat Madura dengan segala keluh kesahnya saat “marung”.

Namun seiring perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi, ternyata budaya marung (meminjam istilah Agus Salimullah) saat ini sudah mulai bergeser. Bahkan cenderung berubah meski esensi membangun komunikasi antarsesama pemarung tetap berlangsung dengan kepentingannya masing-masing.

Berdasarkan pengamatan dan catatan penulis, beberapa fenomena pergeseran istilah yang seolah mendikotomi istilah tradisional dan modern itu dapat ditemukan pada bentuk kata atau sebutan tempatnya.

Baca Juga: Polrestabes Surabaya Gelar Ngopi Bareng Forkopimda Kota Surabaya

Dulu kata bherung (Ind. Warung) sangat familiar di telinga orang Madura. Terutama mereka yang tergolong ke dalam generasi X – sebuah istilah bagi generasi yang lahir pada awal 1960-an hingga awal 1980-an.

Bherung adalah tempat yang nyaman untuk kongkow ditemani secangkir kopi  sembari berbincang sepuasnya. Saat itu, biasanya yang datang ke bherung adalah orang-orang yang sudah tergolong tua. Dan tidak dijumpai anak muda atau remaja apalagi anak-anak usia sekolah.

Bherung kala itu menjadi posko yang sudah bisa diprediksi waktu kedatangan para penggemar kopi dan menu-menu ala kadarnya khas pedesaan.

Biasanya shift pertama pagi-pagi buta sampai sekitar pukul 08.00 mereka menikmati secangkir kopi dan ring-ghuring (biasanya pisang goreng atau getthas, yakni gorengan berbahan dasar tepung beras).

Setelah kopi habis, merekapun bubar untuk melaksanakan aktivitas masing-masing, misalnya ke sawah, ke pasar (biasanya belantik sapi, sopir angkutan umum dan sejenisnya).

Sementara shift kedua setelah magrib sampai bakda isya’. Tapi ini biasanya tidak sebanyak waktu pagi karena rata-rata malam hari masyarakat Madura cenderung ikut koloman (semacam pengajian rutin yang tempatnya pindah-pindah sesuai giliran tuan rumah).

Baca Juga: Ning Ita dan Sandiaga Uno Bakal Ngopi Bareng Hari Jumat, Ada Apa?

Dari sisi penataan tempat, bherung sangatlah leluasa pengaturannya. Tempat duduk biasanya terdiri dari balai-balai bambu atau lencak bahkan kursi kayu memanjang. Diatur mengelilingi meja panjang berhadap-hadapan sehingga obrolan bisa sangat akrab dengan gurauan dan candaan ala orang desa.

Tempat serupa dengan bentuk rumah pada umumnya hanya terbuka pada bagian depan sebagai pintu masuk dan ventilasi dengan penerangan seadanya pada malam hari. 

Namun saat ini istilah bherung seolah-olah tidak lagi populer. Seiring perkembangan zaman dan semakin dewasanya generasi mellineal. Yakni orang-orang yang lahir pada 1981 hingga 1996.

Jika sebelumnya generasi muda jarang kita temui kongkow sembari ngopi-ngopi. Tapi sekarang justru merekalah yang lebih banyak mendominasi dan menghabiskan waktunya di cafe sebutan untuk bherung modern.  

Baca Juga: Ngopi Sambil Rekreasi di Bians Café Dau Kabupaten Malang

Dengan label cafe maka ada fenomena sosial yang berubah dan mengalami pergeseran. Baik dari sisi pelanggan atau pembeli sampai pada kesan penataan tempat duduk dengan segala propertinya.

Tempat tidak selalu berupa bangunan semacam rumah. Tapi bisa alam terbuka dengan paduan gazebo-gazebo dan lesehan atau kursi yang diatur. Serta pernak-pernik cahaya dan tata lampu serta sudut-sudut yang dibuat menarik untuk berswafoto atau foto selfi.

Pengaturan tempat diposisikan sedemikian rupa bersekat-sekat dan tidak lagi memperhatikan keguyupan seluruh pengunjung. Melainkan sesuai kelompok yang datang termasuk topik yang dibincangkan.

Baca Juga: Promosikan Dangdut dan Kopi Indonesia, IDCH Buka Cafe di New York

Agar pengunjung betah berlama-lama, “bherung modern” dilengkapai jaringan wifi dan alunan musik baik live atau sekedar musik dari perangkat audio. Sementara kehadiran para generasi milenial ini untuk kongkow umumnya jelang sore hingga tengah malam.

Saat ini di tempat penulis, mulai jarang ditemukan para tetua marung dan kongkow  lama saat pagi hari. Kalaupun ada, biasanya hanya di beberapa tempat, itupun warung yang lokasinya berada di pelosok.

Salah satu faktor adalah semakin menjamurnya tempat untuk kongkow-kongkow dengan menu beragam dan layanan wifi gratis.

Kita tahu bahwa generasi millenial secara umum ditandai oleh kemahirannya dalam memanfaatkan kecanngihan teknolgi seiring perkembangan zaman dan laju informasi.

Sebagai bahan renungan, bergesernya istilah bherung tradisional dengan bherung modern (baca: cafe) ternyata secara tatanan sosial kemasyarakatan dan budaya memberikan pengaruh terhadap sendiri-sendi kehidupan terutama dalam keluarga.

Orang tua kita dulu datang dan marung  untuk mencari spirit mengawali hari. Oleh karenanya aktivitas marung para tetua kita di Madura dulu, lebih sering dan banyak dilakukan saat pagi hari.

Baca Juga: “Ngopi” Bareng, Ning Ita Akan Terapkan Rumus 3G Cak Sandiaga Uno Untuk Bangkit Menuju Kota Wisata

Sementara generasi mileneal kebiasaan ngafe lebih pada pada melemaskan otot dan otak atau  mengusir kejenuhan setelah seharian beraktivitas sehingga mereka cenderung memanfaatkan waktu sore sampai larut malam.

Fenomena lain adalah generasi mulai dari generasi mileneal, generasi Z (usia-usia remaja setingkat SMA) dan generasi alpha (anak-anak usia SMP)  pun sudah keranjingan untuk kongkow lama di cafe sambil berselancar ke dunia maya karena ada fasilitas wifi gratis.

Oleh karenanya, keluarga adalah kontrol utama dalam menjaga generasi agar tidak kebablasan saat mereka mencari ketenangan ataupun ketika mereka mengalami kejenuhan dan sejenisnya.

Disadari atau tidak, dunia maya ibarat hutan belantara yang di satu sisi berfungsi sebagai paru-paru dunia, tapi di sisi lain bisa menjadi perangkap dan menyesatkan jika “nyasar” dan tidak bisa segera menemukan jalan keluar.

Sebagai penutup, penulis cuplik lirik soundtrack sinema Keluarga Cemara yang dibawakan Bunga Citra Lestari (BCL):

“harta yang paling berharga adalah keluarga…
istana yang paling indah adalah keluarga…
puisi yang paling bermakna adalah keluarga
mutiara tiada tara adalah keluarga ….”

Penulis adalah Kepala SMP Negeri 1 Pakong, dan anggota Cebastra.

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com Nadzira Shafa sempat hamil anak Ameer Azzikra #tiktoktaiment ♬ Filtered Light - Nik Ammar / Mike Reed