Senin, September 26, 2022
BerandaOpinionSudahkah Kita Merdeka dalam Mengajar dan Belajar Bahasa?

Sudahkah Kita Merdeka dalam Mengajar dan Belajar Bahasa?

Oleh: Rizka Safriyani

Dalam paradigma kritis tentang pendidikan, kita sering membaca sebuah kisah sekolah di hutan. Dikisahkan seorang pendidik mengajar enam hewan di hutan yaitu monyet, pinguin, gajah, ikan, anjing laut dan anjing di lokasi yang sama. Setiap hewan memiliki karakteristik fisik dan kecerdasan masing-masing namun dikisahkan sang pendidik meminta seluruh hewan melakukan ujian yang sama yaitu memanjat pohon. Bisa ditebak bahwa tidak semua hewan akan mampu menyelesaikan ujian tersebut karena tidak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing hewan. 

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Cerita ini seringkali dijadikan kritikan untuk pelaksanaan Pendidikan di dunia maupun di Indonesia bahwa Pendidikan yang ideal harusnya mengakomodir perbedaan. Hal ini nampaknya menjadi salah satu ironi Pendidikan yang sudah mulai coba dikikis oleh pemerintah Indonesia melalui kebijakan Merdeka Belajar.

Kebijakan Merdeka Belajar adalah kebijakan yang dilaksanakan untuk mentransformasi pendidikan untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul Indonesia yang memiliki Profil Pelajar Pancasila. Kebijakan ini tidak hanya berlaku di level Pendidikan dasar, Pendidikan menengah namun juga Pendidikan tinggi. Salah satu tonggak kemerdekaan yang diperoleh guru dalam kebijakan merdeka belajar adalah guru secara bebas dapat memilih, membuat, menggunakan, dan mengembangkan format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Guru hanya wajib menyediakan tiga komponen inti RPP yang terdiri dari tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan asesmen. Kebijakan ini dilakukan dengan efisien dan efektif sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk mempersiapkan dan mengevaluasi proses pembelajaran itu sendiri dan tidak terjebak dengan rutinitas administrasi.

Sebagai implikasi, guru memiliki kemerdekaan menentukan kegiatan pembelajarannya sendiri tanpa harus terpaku sintaks kegiatan yang selama ini diamanatkan. Guru bisa memilih berbagai strategi pembelajaran aktif  yang sesuai dengan karakteristik siswanya.

Di sisi lain, guru juga memiliki kemerdekaan tinggi untuk memilih jenis evaluasi yang paling sesuai dengan karakteristik keilmuan yang dipelajari. Pada pembelajaran Bahasa Inggris misalnya, Ujian Nasional di Pendidikan menengah selama ini hanya menilai kemampuan Bahasa ditinjau dari aspek menyimak, membaca, tata Bahasa dan kosakata sebagai penentu penting kelulusan karena ujian kemampuan menulis dan berbicara hanya diterapkan dengan standar ujian sekolah. Dengan dihapuskannya ujian nasional, guru dapat menentukan alat evaluasi terbaik untuk mengukur kemampuan berbahasa dan direkognisi secara nasional. 

Kebijakan Merdeka Belajar juga mengusung kebijakan tentang hadirnya guru penggerak yang diharapkan mampu memberikan praktik pembelajaran yang berpihak pada murid dengan materi pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial dan emosional, dan pelatihan. 

Dengan adanya guru yang memiliki kapasitas menyediakan materi pembelajaran berdiferensiasi, maka siswa secara tidak langsung mendapat lampu hijau untuk melakukan pembelajaran otonom di luar kurikulum utama. Pembelajaran diferensiasi mengacu pada kegiatan yang dibuat guru untuk kebutuhan peserta didik. Diferensiasi yang efektif bermakna bahwa setiap siswa dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dengan bimbingan dan dukungan yang tepat. Guru dapat membedakan isi, proses, produk dan lingkungan belajar sesuai dengan karakteristik kesiapan siswa, minat dan profil belajar. 

Di masa Pandemi, Pendidikan di Indonesia mengalami percepatan transformasi budaya belajar dan mengajar yang merambah ke semua lini. Akses teknologi yang cukup mumpuni di perkotaan dan daerah telah memaksa seluruh pendidik di Indonesia untuk mau tidak mau menjadi pengguna teknologi pembelajaran.

Dengan adanya peraturan untuk belajar dari rumah yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. dan Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease, maka aktivitas dan penugasan Belajar dari Rumah dapat bervariasi antar daerah.

BERITA KHUSUS

Unipma Lakukan Pengabdian Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Digitalisasi Pasar Desa Klumutan Saradan Madiun

NUSADAILY.COM – MADIUN - Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan yang saat ini dihadapi oleh sebagian besar masyarakat kita, khususnya masyarakat yang tinggal di pedesaan....

BERITA TERBARU

Duh! Dikirim Sejak 1,5 Tahun Lalu, Paket Barang Bukti Meledak di Asrama Brimob

NUSADAILY.COM - INDRAMAYU - Polres Indramayu memeriksa pengirim yang namanya tertera dalam paket yang meledak di Asrama Polisi Sukoharjo, Jawa Tengah. Pengirim mengaku pernah...