Senin, Juni 27, 2022
BerandaOpinionShort StoryKiai Kasan, Matador de Java

Kiai Kasan, Matador de Java

Para santri makin penasaran karena baru kali ini Kiai Kasan meminta ceritanya direkam. Nampaknya dia benar-benar tidak ingin para santri keliru memahami ceritanya. Baik dalam alur, kalimat, petikan dialog dan nama-nama.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

”Cerita ini berat sekali, mungkin usai menceritakan kepada kalian, saya akan langsung mati”.

Para santri terhenyak mata mereka saling tatap, tak ada raut wajah yang tidak tegang. Pancaran aura kesedihan hinggap di wajah-wajah santri. Namun sang kiai tak henti meluncurkan wejangan dan kata pendahuluan sebelum memasuki cerita yang sesungguhnya.

”Santri-santriku, selain pelajaran Alquran, hadis, tafsir, nahwu, sharaf dan fikih, aku minta cerita terakhirku ini jangan pernah kalian lupakan. Aku tidak tahu, apakah cerita ini akan berguna bagi agama nusa dan bangsa dan masa depanmu. Tapi aku minta jangan pernah dilupakan”.

Tapi makin banyak Kiai Kasan menyampaikan pesan-pesan sebelum bercerita, benak para santri makin tidak ingin mendengar cerita itu. Mereka tidak ingin kiai berilmu tinggi yang selama ini menjadi tumpuhan belajar dan menggali ilmu segera wafat setelah menyampaikan cerita. Tentu ini berbeda sekali dengan cerita-cerita yang disampaikan sebelumnya. Para santri selalu tidak sabar untuk mendengarkan ceritanya. Cerita yang selalu menarik mengharu biru yang dengan cepat bisa bisa mengubah tawa menjadi air mata.

Kali ini, para santri lebih menunduk setelah sedikit menatap wajah sang kiai kampung itu. Cerita terakhir dan kematian sungguh bukan hal yang menarik untuk disimak. Bukankan manusia selalu merindukan cerita, karena dunia ini dibentuk bukan oleh atom-atom, tetapi oleh cerita-cerita, katanya. Maka apa jadinya jika cerita kemudian berakhir. Apakah dunia masih mampu untuk terus bertahan. Pun dengan kematian, meski sudah pasti siapa yang mau disegerakan. Dilema para santri kali ini benar-benar memuncak.

”Baiklah aku mulai cerita terakhir ini, tolong jangan ada yang ngantuk”.

BERITA KHUSUS

Ada Penampakan Kuntilanak di Acara Gowes HUT ke-104 Kota Mojokerto

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Masih dalam rentetan HUT ke 104 Kota Mojokerto, kali ini ribuan masyarakat berpartisipasi ramaikan gowes bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah...

BERITA TERBARU

Porprov VII Jatim di Situbondo, Cabor Judo Pertandingan Dua Katagori

NUSADAILY.COM - SITUBONDO - Cabang olahraga (Cabor) judo mempertandingkan dua kategori pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Jatim. Pertandingan tersebut digelar di Gedung...

Cerpen: Akadillah

Kiai Kasan duduk di teras masjid dikelilingi 40 santrinya. Pondok pesantren kecil di sebuah kampung kecil yang banyak ditumbuhi pohon rambutan dan kelapa itu menampung santri dari desa-desa sekitar. Kampung yang rimbun oleh pohon-pohon hijau di lereng Gunung Kelud, Blitar. Kampung itu selalu terkena getah dari gunung yang sering marah dan muntah-muntah. Uban yang menggerogoti rambut Kiai Kasan tak mengurangi semangat kakek 10 cucu yang semuanya laki-laki itu untuk menceritakan pengalaman hidupnya semasa muda. Dan setiap Kiai Kasan duduk di teras masjid beratap limasan tiga tingkat itu untuk bercerita, selalu menarik santri untuk datang mendengar hikayat yang penuh hikmah dan semangat hidup.

Batuk-batuk yang kerap mengiringi alur cerita bukan menjadi penghalang, malah justru mirip sebuah musik yang menjadi instrumen penguat cerita. Jika batuk kerap datang, maka suara Kiai Kasan makin seksi, serak-serak dan putus-putus, mirip suara Karni Ilyas dalam sebuah acara televisi. ”Kali ini mungkin cerita terakhir yang akan aku sampaikan di hadapan kalian uhuk…uhuk…uhuk…. Tolong kalau ada yang masih tidur bangunkan semua suruh ke masjid”.

Kiai Kasan serius memerintahkan para santrinya agar mengecek supaya tidak ada santri yang terlewat mendengarkan cerita terakhirnya itu. Kiai Kasan tidak ingin gara-gara ada santri yang tidak lengkap mendengarkan cerita, di kelak kemudian hari salah dalam menyampaikan ceritanya itu kepada orang lain. Dia tidak ingin dari satu cerita itu lahir cerita dengan banyak mazhab dan aliran yang bisa membikin alurnya menyesatkan.

”Khusus pada cerita ini aku ingin kalian tidak banyak menafsirkan. Sehingga ketika kalian menceritkan kepada orang-orang dan anak cucu, semuanya sama. Karena sanad nya sama sehingga cerita ini shohih, bukan maudlu”.

Para santri tidak seperti biasanya, mereka lebih tegang dan menyimpan banyak tanda tanya dalam batok kepala dan kedipan matanya. Gerangan apa cerita yang katanya terakhir itu. Apakah ini pertanda wasiat atau memang karena sudah tidak ada cerita lagi yang dimiliki sang kiai yang pernah sekolah di Timur Tengah itu.”Dan tolong siapkan rekaman agar tidak ada yang salah kutip”.

Para santri makin penasaran karena baru kali ini Kiai Kasan meminta ceritanya direkam. Nampaknya dia benar-benar tidak ingin para santri keliru memahami ceritanya. Baik dalam alur, kalimat, petikan dialog dan nama-nama.

”Cerita ini berat sekali, mungkin usai menceritakan kepada kalian, saya akan langsung mati”.

Para santri terhenyak mata mereka saling tatap, tak ada raut wajah yang tidak tegang. Pancaran aura kesedihan hinggap di wajah-wajah santri. Namun sang kiai tak henti meluncurkan wejangan dan kata pendahuluan sebelum memasuki cerita yang sesungguhnya.

”Santri-santriku, selain pelajaran Alquran, hadis, tafsir, nahwu, sharaf dan fikih, aku minta cerita terakhirku ini jangan pernah kalian lupakan. Aku tidak tahu, apakah cerita ini akan berguna bagi agama nusa dan bangsa dan masa depanmu. Tapi aku minta jangan pernah dilupakan”.

Tapi makin banyak Kiai Kasan menyampaikan pesan-pesan sebelum bercerita, benak para santri makin tidak ingin mendengar cerita itu. Mereka tidak ingin kiai berilmu tinggi yang selama ini menjadi tumpuhan belajar dan menggali ilmu segera wafat setelah menyampaikan cerita. Tentu ini berbeda sekali dengan cerita-cerita yang disampaikan sebelumnya. Para santri selalu tidak sabar untuk mendengarkan ceritanya. Cerita yang selalu menarik mengharu biru yang dengan cepat bisa bisa mengubah tawa menjadi air mata.

Kali ini, para santri lebih menunduk setelah sedikit menatap wajah sang kiai kampung itu. Cerita terakhir dan kematian sungguh bukan hal yang menarik untuk disimak. Bukankan manusia selalu merindukan cerita, karena dunia ini dibentuk bukan oleh atom-atom, tetapi oleh cerita-cerita, katanya. Maka apa jadinya jika cerita kemudian berakhir. Apakah dunia masih mampu untuk terus bertahan. Pun dengan kematian, meski sudah pasti siapa yang mau disegerakan. Dilema para santri kali ini benar-benar memuncak.

”Baiklah aku mulai cerita terakhir ini, tolong jangan ada yang ngantuk”.

Kiai Kasan mulai mengingat masa mudanya saat kuliah di Al Azhar Kairo Mesir 40 tahun silam. Matanya menerawang dengan kepala sedikit mendongak. Dia mengatakan selama kuliah di Al Azhar sering menyeberang ke benua Eropa di waktu liburan. Biasanya dia memanfaatkan waktu libur untuk berjalan-jalan. ”Aku pernah kehabisan uang saat di Spanyol. Segala upaya aku lakukan untuk mendapatkan uang, tak satupun jalan yang terbuka. Hampir saja nyawaku tertawan di sana, aku kelaparan dan bisa saja mati”.

Para santri yang sedari tadi menunduk satu per satu mulai membengubah duduk bersilanya dan meluruskan pandangan matanya ke wajah Kiai Kasan. Mereka penasaran karena cerita tentang Spanyol memang belum pernah didengarkan.

Kiai Kasan terdiam, kali ini lebih lama dari diam jeda yang biasa dia lakukan saat mendongeng di hadapan para santri. Satu menit dua menit tiga menit bahkan sampai lima menit dia tetap terdiam dan menunduk, matanya terlihat memejam. Para santri bingung sebagian khawatir ada apa-apa dengan kiai nya. Hampir tujuh menit tak ada suara memasuki menit ke delapan dia tiba-tiba tegap kembali. ”Aku nguantuk le, yo opo lek critane sesok ae,” kata sang kiai disambut senyum kecut para santri yang tak satupun menjawab pertanyaan itu.

”Em…emm em…emm huahhmm…,” mulut kiai itu mulai menggeliat geliat tidak jelas.
”Aku golek penggawean no Spanyol ora oleh-oleh,” tuturnya dalam Bahasa Jawa.

Dia terus bercerita tentang kesulitannya mencari pekerjaan untuk sesuap makanan guna bertahan hidup. Namun, mencari pekerjaan di Spanyol bagi orang asing yang hanya berkunjung dengan tujuan wisata bukan hal yang mudah. Ke mana-mana selalu ditolak dan nyaris membuatnya putus asa. Ketika itu dia pasrah tentang nasibnya, tentang nyawanya juga. Hingga suatu ketika dia mengetahui arena adu banteng dengan manusia (matador) kelas meski hanya kelas kampung. Dia melihat banyak orang berkumpul menyaksikan pertunjukan matador yang baru pertama dia lihat.

Melihat kehebohan penonton dan cara matador melawan banteng, Kiai Kasan langsung teringat ucapan kakeknya yang tinggal di kampung dekat hutan. ”Lek awakmu pengen ngalahne banteng, jupuk en cawete wong wedok seng rupane abang. Terus bulet-buletno no tangan gawe mukul ndase banteng, mesti kalah banteng e (kalau kamu ingin mengalahkan banteng ambil celana dalam perumpuan yang berwarna merah. Lalu lilitkan di tangan dan gunakan untuk memukul kepala banteng, pasti kalahnya bantengnya),”.

Kiai Kasan muda manggut-manggut, dia juga serius melihat pertandingan antara banteng dengan manusia itu. Dia melihat betapa ganasnya banteng yang dilepas dan lari kencang memburu seorang matador yang membawa kain merah. Dia juga mengamati cara banteng menyeruduk matador dengan tanduknya yang lancip. Seorang matador terangkat oleh kepala banteng lalu dibanting ke tanah dan terkapar. Tubuhnya menggeliat-geliat kesakitan, namun banteng tidak berhenti di situ, tetapi masih menyeruduk dan menginjak tubuh matador yang sudah tidak punya tenaga. Orang-orang yang duduk di tribun terperangah dan terlihat histeris. Hingga pengatur pertandingan menyetop permainan dengan menggiring banteng masuk kerangkeng. Beberapa petugas membopong tubuh yang tergeletak di arena pembantaian itu. Kakinya melemas ke bawah saat diangkat petugas matanya menutup, konon matador itu tewas. Kiai Kasan muda menarik nafas dalam-dalam.

Namun selintas kemudian tiba-tiba ada pikiran aneh yang menyelinap. ”Bagaimana kalau aku mendaftarkan diri sebagai matador. Aku bisa dapat uang banyak dan bisa pulang ke Indonesia”.

Dia terus menimbang-nimbang antara iya dan tidak. Iya karena dia sangat butuh uang untuk bisa makan dan bisa pulang. Tidak, karena dia belum pernah bertemu dengan banteng apalagi melawan banteng, dia sama sekali tidak punya teknik melawan banteng saat ada di lapangan pembantaian. Selain itu, dalam agama Islam pertandingan semacam itu hukumnya haram. Karena bisa membahayakan diri sendiri. Sementara, hanya kenangan tentang ucapan sang kakek tentang cara mengalahkan banteng dengan celawa warna merah milik seorang wanita yang membuatnya punya sebersit keinginan untuk mendaftarkan diri menjadi matador.

Namun dia menimbang-nimbang lagi, apakah ucapan kakeknya waktu itu serius atau hanya candaan dia tidak tahu.”Jangan-jangan waktu itu kakek hanya mengarang dongeng, bukan kejadian sesungguhnya”. Maka Kiai Kasanpun mengurungkan niatnya, sebab dalam logika jelas tidak masuk. Apa hubungannya antara celana dalam warna merah milik perempuan dengan banteng. Kenapa harus warna merah yang bisa mengalahkan banteng. Bagiamana dengan celana dalam warna krem, ungu, pink, putih atau warna biru muda. Lalu apa G-string juga bisa mengalahkan banteng, atau justru membikin banteng tambah bergairan dan menyerbunya dengan ganas. Pikiran Kiai Kasan waktu itu ke sana ke mari makin tidak jelas.

Karena makin dipikir makin membuatnya bingung. Maka Kiai Kasan menetapkan satu pilihan. Karena menurut dia pilihan apapun bila disertai dengan tekad dan kemauan yang kuat maka akan membuahkan hasil. Dia berubah pikiran dan memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai matador !.
Itu artinya dia siap menyerahkan nyawanya di hadapan banteng. Itu artinya dia siap mati sia-sia, mati konyol kata orang Jawa dan bahkan siap mati masuk neraka. ”Bismillahirrahmanirrahim, Mbah aku daftar dadi matador perang karo banteng (Mbah saya mendaftar jadi matador melawan banteng,” gumam Kiai Kasan dalam hati, sambil mengenang cerita kakeknya tentang banteng dan celana dalam wanita warna merah.

Selain bingung tentang hasil pertarungannya dengan banteng, yang membuat dia tidak kalah bingung adalah cara mendapatkan sempak warna merah milik seorang wanita. Di mana harus mencari, apalagi celana itu tidak boleh celana baru, harus second. Maka hari itu dia memutuskan untuk keliling kampung di Spanyol mengawasi setiap jemuran. Hatinya selalu berdoa dengan merapal mantra celana dalam wanita warna merah. Entah sudah berapa ratus kata dia ucapkan hingga pada akhirnya tiba di sebuah rumah mungil dengan jemuran banyak daleman. Sebuah celana dalam warna merah milik seorang wanita terpampang di hanger. Setelah mengendap endap dia curi celana ini, lalu pergi cepat-cepat.

Kiai kasan membulatkan tekad dengan membaca bismillah dia turun ke area pembantaian. Dengan telapak tangan berbalut celana dalam merah dan kain, dia juga bersiap lari saat banteng dilepas dari kandangnya. Perasaan takut beberapa kali menghinggapi. Dia takut akan langsung ditanduk banteng ganas itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, telanjur turun arena perang maka pantang untuk kembali. Untuk mengusir segala rasa takutnya Kiai Kasan mengucap kalimat-kalimat thoyyibah yang bahkan dia baca urut urutannya persis seperti orang tahlilan. Lailaha illallah…lailahaillallah lailahaillallah… dan begitu seterusnya. Dia baca juga surat annas ayat kursi salawat nabi dan bacaan apa yang dia ingat.

Dan dor…! Begitu bunyi tembakan dibunyikan banteng keluar dari kandang. Banteng itu lari kencang ke arena memburu Kiai Kasan. Lelaki itu langsung lari tapi banteng semakin dekat dan beringas siap menancapkan tanduk lancipnya ke tubuh kiai mungil asal Indonesia itu. Allahu akbar allahu akbar allahu akbar Kiai Kasan tiba- tiba berteriak mengucapkan takbir.