Senin, Juni 27, 2022
BerandaOpinionShort StoryGlencik dan Eglem Part 7

Glencik dan Eglem Part 7

Oleh Evelyn D.P.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Glencik, Eglem, dan bibinya jatuh di sebuah tempat asing. Reruntuhan bangunan tempat asing itu membuat mereka cukup terluka.

Roket bor, alat transportasi mereka untuk menggali bumi juga ikut terjatuh. Glencik yang paling pertama membuka matanya.

Yang ia lihat pertama adalah sepasang sepatu delta. Ia lebih mendangak dan rupanya itu adalah seorang tentara.

Di belakang tentara itu ada puluhan tentara lainnya. Glencik menyadari satu hal, tentara-tentara itu tampak sama persis satu sama lain.

Para tentara itu berlalu begitu saja, mereka berjalan beriringan tanpa menghiraukan Glencik, Eglem, dan bibinya yang tersungkur di lantai.

Beberapa saat kemudian, seorang wanita dengan baju lusuh membantu mengangkat Glencik berdiri.

Lalu, wanita itu juga membantu Eglem dan bibinya. Wanita itu mengajak mereka bertiga ke ruangan sederhana di bangunan itu.

Baca Juga:

BERITA KHUSUS

Ada Penampakan Kuntilanak di Acara Gowes HUT ke-104 Kota Mojokerto

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Masih dalam rentetan HUT ke 104 Kota Mojokerto, kali ini ribuan masyarakat berpartisipasi ramaikan gowes bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah...

BERITA TERBARU

Jokowi Hadiri KTT G7, Bakal Bicara Gawatnya Krisis Pangan & Energi

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah tiba di Jerman pada Minggu (26/6) sekitar pukul 18.40 waktu setempat. Rencananya, Jokowi akan mengikuti...

Oleh Evelyn D.P.

Glencik, Eglem, dan bibinya jatuh di sebuah tempat asing. Reruntuhan bangunan tempat asing itu membuat mereka cukup terluka.

Roket bor, alat transportasi mereka untuk menggali bumi juga ikut terjatuh. Glencik yang paling pertama membuka matanya.

Yang ia lihat pertama adalah sepasang sepatu delta. Ia lebih mendangak dan rupanya itu adalah seorang tentara.

Di belakang tentara itu ada puluhan tentara lainnya. Glencik menyadari satu hal, tentara-tentara itu tampak sama persis satu sama lain.

Para tentara itu berlalu begitu saja, mereka berjalan beriringan tanpa menghiraukan Glencik, Eglem, dan bibinya yang tersungkur di lantai.

Beberapa saat kemudian, seorang wanita dengan baju lusuh membantu mengangkat Glencik berdiri.

Lalu, wanita itu juga membantu Eglem dan bibinya. Wanita itu mengajak mereka bertiga ke ruangan sederhana di bangunan itu.

Baca Juga:

“Nyonya, kalau boleh tahu, kita sedang di mana?” Bibi Lilyn bertanya. Sambil membuat tiga cangkir the hangat, wanita itu menjawab, “Ini kerajaan Peri Peringan.”

Wanita itu bilang, kalau ia adalah seorang pembantu di kerajaan itu. Pembantu itu merasa iba kepada mereka bertiga. Jadi, ia menolongnya.

“Kami ingin bertemu Peri Peringan!” tiba-tiba Glencik berbicara lancang. “Hei! Sttt!” Lilyn berbisik.

“Maaf, tapi Peri Peringan tidak semudah itu untuk ditemui. Aku saja belum pernah bertemu dengannya. Ia sangat tertutup,” kata pembantu itu.

Bibi Lilyn bertanya bagaimana caranya untuk bertemu Peri Peringan. Pembantu itu tak tahu pasti, jadi ia menyuruh mereka untuk bertemu satu tentara yang berbeda dari lainnya.

Glencik bisa mengerti hal itu, karena tadi ia sadar, tentara-tentara di kerajaan itu memiliki tubuh dan wajah yang sama satu sama lainnya.

Baca Juga:

Sementara pembantu itu sedang mengerjakan tugasnya di lain ruangan, Bibi Lilyn berbicara dengan Glencik, “Kupikir tentara-tentara itu adalah Borek. Dulu, aku pernah membaca Hlombung Book.

 Salah satu yang tertulis di sana adalah tentang makhluk yang Peri Peringan suruh untuk menjaga kerajaannya.

Hlombung Book juga meramal, kalau iblis akan mencuri para Borek untuk melawan seorang anak yang mencari ibunya. Sepertinya yang Hlombung Book maksud, tidak lain adalah kau Glencik.”

Glencik hanya bisa terdiam mendengar perkataan bibinya. Mereka bertiga akan mencari tentara yang berbeda dari yang lainnya.

Glencik sangat khawatir dengan adiknya, “Eglem, kau di sini saja ya! Ibu yang membersihkan istana ini akan menjagamu.

Kau tidak akan bingung mencari makanan untuk dimakan. Aku akan segera kembali. Tenang saja.”

Baca Juga:

Dengan berat hati, Eglem mengangguk. Glencik juga takut nyawa adiknya akan dipertaruhkan, jika Eglem ikut mencari cara untuk bertemu Peri Peringan.

Glencik dan Lilyn pun beranjak ke lorong istana. Ada beberapa baris tentara di sana. Mereka semua tampak menakutkan. Bibi mencari cara untuk menemukan tentara yang berbeda.

“Cling!” bintang-bintang kecil dari saku Glencik yang merupakan hasil dari tangisan Eglem terjatuh ke lantai. Bibi Lilyn berbicara keras.

“Itu dia! Bintang-bintang itu berkilau, bukan. Borek takut dengan kilauan. Itu karena…” “Sttt!” Glencik memotong pembicaraan bibinya, karena para Borek langsung menoleh ke arah mereka berdua.

Glencik seraya mengambil bintang-bintang yang terjatuh di lantai, lalu berlari bersama bibinya. Lorong itu cukup membingungkan. Mereka berlari ke arah yang tidak mereka ketahui.

“Angkat bintangmu! Buat bintang-bintang itu berkilauan!” seru Lilyn. Kilauan bintang-bintang tangisan Eglem membuat para Borek satu per satu hangus menjadi abu. Namun, semuanya hangus tidak ada yang tersisa. “Apa gunanya kilauan bintangnya?

Baca Juga: Glencik dan Eglem Part 3

"Semua Boreknya mati. Jadi, kita tidak tahu mana yang berbeda,” anak perempuan itu marah.

“Borek itu selalu sama dengan yang lainnya. Itu artinya, yang berbeda bukanlah Borek. Yang dimaksud pembantu tadi mungkin adalah tentara, tetapi tentara manusia. Bukan tentara Borek. Kita pancarkan kilauan bintang itu, agar kita tahu tentara mana yang tidak mati.”

Mereka berdua terus berjalan menelusuri lorong istana yang panjang. Lorong istana tersebut sepertinya tidak terawat.

Glencik tidak jarang tak sengaja menginjak seekor kelabang dengan ukuran besar. Ada ribuan atau mungkin jutaan semut berkeliaran juga di sana. Selain itu, ada cukup banyak serangga-serangga liar yang bersembunyi di bawah kursi-kursi lorong kerajaan.

“Ayo kita kembali saja. Aku takut,” rengek Glencik. Tetapi, Bibi Lilyn bersih keras ingin melanjutkan pencariannya, “Hufft, sudahlah! Itu bukan apa-apa, jangan hiraukan hewan-hewan merayap itu. Kau butuh gendongan? Hmm, aku pikir kau sudah besar. Bawa dirimu sendiri. Jangan takut, oke?!”

“Baiklah,” Glencik membulatkan tekad. Setelah itu, mereka tertarik dengan salah satu ruangan dari ratusan ruangan yang mereka lalui di lorong kerajaan.

Sebuah ruangan itu satu-satunya yang tidak gelap, lampunya menyala terang. Glencik dan bibinya yang merasa penasaran pun, mengintip ruangan itu. Rupanya ada sekumpulan tentara di sana.

Baca Juga: Glencik dan Eglem Part 2

Kali ini, Bibi Lilyn langsung mengambil bintang-bintang kecil dari saku Glencik, lalu segera memancarkan kilauannya.

Seperti tadi, satu per satu Borek hangus menjadi abu, kecuali dua Borek. Wajah mereka sama persis, sama seperti Borek yang lain juga.

Sementara dua borek itu akan menyerang, Glencik dan Lilyn bingung mencari cara membedakan kedua Boreknya.

Setelah itu, Glencik kembali mengangkat bintang kecilnya. Salah satu dari kedua Borek itu tiba-tiba hangus. Ternyata salah satu Borek itu tadi tidak terkena kilauan bintang kecil, jadi ia belum hangus.

“Hai!” Lilyn menyapa tentara itu. Tentara itu tidak membalasnya, ia hanya diam, lalu hendak kabur dari ruangan itu. Lilyn dan Glencik dengan cepat langsung menghalangi pintu.

“Kenapa wajah orang ini sangat tebal?” gumam Lilyn melihat dengan dekat wajah tentara itu yang sepertinya mengenakan topeng.

Baca Juga: Glencik dan Eglem Part 1

“Srek,” Lilyn membuka topeng tentara itu. Wajahnya berbeda dari tentara-tentara tadi. “Hahaha, akhirnya kalian menemukanmu. Bagaimana bisa cepat sekali?!” tentara yang berbeda itu tertawa.

“Bagaimana caranya untuk bertemu dengan Peri Peringan?” tanya Glencik.

“Aku tidak tahu pasti. Tapi, anak laki-laki yang tinggal di bawah loteng mungkin tahu. Kalian tinggal menaiki tangga menuju ke atas, lalu kalian akan menemukan loteng,” kata tentara yang berbeda itu.

 “Sebelumnya, siapa kau sebenarnya?” Lilyn penasaran.

Kira-kira siapakah sebenarnya tentara yang berbeda itu? Tunggu kelanjutannya.

(Bersambung)

Evelyn Dhyana Paramita adalah pelajar kelas 7 SMP swasta di kota Malang. Selain giat menulis fiksi, ia juga sedang menggeluti dunia teater.