Jumat, Mei 27, 2022
BerandaOpinionSerpih-serpih Perjalanan ke New York (8)

Serpih-serpih Perjalanan ke New York (8)

Oleh: F.X. Dono Sunardi

Tulisan ini adalah tulisan berseri tentang perjalanan darat penulis dari Worcester di Massachusetts, tempat dia belajar antara 2009-2011, ke New York City dan kota-kota kecil di sepanjang Jersey Shore. Karena perjalanan ini secara aktual sudah terjadi lebih dari satu dasawarsa silam, pasti ada banyak detail yang tidak lagi tepat atau relevan dan perlu dicek ulang.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Namun, seperti sebagian besar tulisan perjalanan, yang tidak kalah penting dari informasi faktual yang coba disampaikan, kisah penulis dan interaksi sosial dan budaya dengan orang-orang yang dijumpainya dapat lebih merupakan elemen menarik. Akan ada 9 seri tulisan ini, dan kesemuanya pernah penulis posting di laman Facebook penulis. Selamat menikmati.

New Jersey, Sabtu, 22 Agustus 2009

Siang itu, aku mengalami dua kejadian yang mungkin tak akan pernah kulupakan. Pertama, sepulang dari rumah orangtua Jim, aku segera diajak “nyebur” ke kolam oleh Jim. Dia, seperti setiap kali kalau sedang tumbuh antusiasmenya, sangat tidak sabar. Dia rupanya ingin segera “menurunkan ilmunya” kepada muridnya yang payah ini.

Maka, dengan celana baru yang mungkin belum hilang label harganya, aku nekad terjun ke kolam. “Kau mulai dari bagian sana, yang dalamnya cuma beberapa kaki,” kata Jim separuh mengejek. Sebagai murid yang tahu bahwa dirinya payah, aku patuh saja.

Mulailah aku belajar renang dengan teknik napas mulut. Berkali-kali, aku menelan air kolam, yang meski kuyakin lumayan bersih dibandingkan semua kolam renang yang pernah kusinggahi, entah di Jogja maupun di Samarinda (apalagi yang di Segiri!) karena pagi itu, alih-alih tidur meski capek, Kelly membersihkannya, membuat hidungku terasa panas.

BACA JUGA: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (1)

 “No, you don’t breath with nose, take a deep breath into mouth, go underwater, and then come up to surface to take another deep breath with your mouth. Forget that you have nose, homeboy.”

Aku pun mematuhi instruksi guru renangku yang penuh semangat itu. Latihan berikutnya adalah mencoba masuk ke air yang lebih dalam, dan mempraktikkan teknik napas tersebut.

Begitulah, aku timbul-tenggelam seperti gabus dibandoli batu. Aku harus merelakan tubuhku masuk ke air, untuk kemudian menjejak dasar kolam yang dalamnya kurasa tiga meter dan muncul lagi ke permukaan untuk menghirup udara dari mulut. Perlahan-lahan, rasa takutku hilang.

Jim lalu memberiku tantangan yang lebih besar sebelum dia mengajariku teknik berenang: terjun dari tepi kolam ke bagian yang terdalam, sekitar empat meter.

Beberapa kali aku ragu, tapi teriakan penyemangat Jim, “Ladies and gentlemen, please welcome Dono Sunardi, a world class swimmer representing Indonesia,” dan sorakan Kelly membuatku berani. Reese di kejauhan sana juga ikut melambai dan tersenyum menyemangati.

Maka, terjunlah aku seperti halilintar. Benar kata Jim, teknik yang tepat dan latihan membuat sesuatu yang sebelumnya tampak menakutkan jadi lebih mudah dihadapi.

BACA JUGA: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (2)

Demikianlah, siang itu, dari latihan yang amat sederhana dan sepele, aku masuk ke latihan yang lebih rumit—menggerakkan kaki dan tangan untuk mengayuh di air. Keberhasilan di suatu tapak yang sederhana memberiku kepercayaan diri yang memadai untuk menjejak di langkah selanjutnya yang lebih pelik. Bukankah begitu belajar hidup ini?

Ada kalau satu setengah jam aku digojlok Jim dengan latihannya. Di akhir latihan, aku sudah berani dan santai hilir-mudik dari satu ujung kolam ke ujung yang lain, melewati bagian-bagian kolam yang dalam, yang sebelumnya tak terbayangkan bagiku.

Setelah entah berapa galon air tertenggak olehku, saatnya kini aku merasa “bangga” pada diriku sendiri dan menyelamatinya atas apa yang dicapainya. Walau kecil, aku sampai di suatu titik. “Now, you are ready for snorkling in Krakatau with me,” kata Jim. Aku mencipakkan air ke arahnya, sebagai tanda terima kasih.

Kami habiskan sisa siang itu di air, Jim, Reese, dan aku. Tidak! Ada dua kawan lain yang tampaknya juga ingin ikut menikmati segarnya air itu. Mereka adalah Bella dan Otis, dua anjing bulldog peliharaan Kelly.

BACA JUGA: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (3)

Otis jantan dan sejak kedatanganku yang pertama, tampak sudah ingin bersahabat denganku. Tapi Bella, kurasa kurang suka denganku dan setiap kali aku lewat di dekatnya, dia akan menggonggong.

Otis, anjing bulldog milik Kelly, yang ramah walau berwajah garang. (Foto: Dokpri)

Namun siang itu, keduanya tampak senang berdiri di tepian kolam, dan mulut mereka akan mengangga selebar-lebarnya setiap kali aku mencipratkan air ke arah mereka. Mereka haus? Bisa jadi.

Tapi, saking asyiknya, atau rakusnya, Bella kelewat ke pinggir kolam sehingga dalam sekali hentak dia tercebur ke air. Anjing bulldog bukan anjing yang biasa berenang, maka Bella pun minum banyak air sebelum kami selamatkan. Tak perlu dikatakan bahwa setelahnya dia muntah-muntah.

Malam itu, Kelly, dengan setengah bercanda berkata, “Dono, you tried to kill Bella because you want to eat her, right?”

Kelly, yang tak pernah mengenal Indonesia secara langsung, kadang memang termakan oleh kata-kata Jim yang mengatakan bahwa aku kadang makan “sengsu, saksang, sate jamu, b1” dan segala variannya.

BACA JUGA: Serpih – serpih Perjalanan ke New York (4)

Maka, aku pun dengan bercanda menjawab, “No, Bella is too old to be barbequed.” Wajah Kelly pun makin pucat oleh humorku yang getir ini.

Kejadian kedua terjadi saat kami berbelanja pakaian untukku di Old Navy di Point Pleasant Beach. Seperti kuceritakan sebelumnya, Jim diberi uang oleh ibunya untuk membelikan bagiku segala kebutuhan pakaianku—terutama untuk musim dingin.

Heboh sekali suasana kami ketika itu. Jim dan Kelly saling berebut menyodorkan baju, t-shirt, flanel, turquoise, celana panjang, jaket, celana pendek, sweat pants, baju dalam, celana dalam, kaos kaki. Aku jadi merasa kikuk, seperti anak kecil yang baru saja menerima santunan dari kaum dermawan karena ibunya tiba-tiba meninggal dunia.

Sungguh, aku tinggal berdiri di suatu pojok, dan mereka akan membawakan untukku ini dan itu, dan kalau aku bilang, “That’s too expensive,” mereka akan geleng-geleng dan berkata, “Dude, it’s only 7 bucks and it’s nothing.” Aku jadi korban yang tak berdaya dari kebaikan hati orang lain.

Sampai di titik puncak rasa kurang enak yang kualami itu, tiba-tiba sesuatu yang dramatis terjadi, sesuatu yang mengharu-biru sekaligus “menyelamatkanku”. Aku seperti petinju yang nyaris keok dan diselamatkan bel, tapi kemudian pelatih dan asisten yang harusnya merawat memarku dan menawariku minum tak kutemukan di sudut ringku.

BACA JUGA: Serpih – serpih Perjalanan ke New York (5)

Aku tergopoh-gopoh, dari rasa tak enak karena mendapat kebaikan yang “tak layak” sampai rasa tak enak karena sesuatu yang buruk terjadi tanpa sepengetahuan kami. Kereta dorong Reese menghilang dari pandangan.

Maka, gemparlah seluruh toko. Manajer toko segera menutup pintu keluar dan menguncinya. Kasir menelepon 911. Tak ada pelanggan boleh keluar.

Jim dan aku berlari melewati pintu darurat. Kelly menangis meratap dan segera saja melemparkan tas tangannya. Tak lama Jim berada di luar, matanya nyalang mencari-cari, dan lalu kembali ke dalam toko.

Aku segera berlalu ke lahan parkir, dan berdiri di tepi pintu keluar. Kupelototi setiap mobil yang keluar, siapa tahu di dalamnya ada kereta bayi dengan Reese yang cantik nangkring di atasnya. Tiga mobil lewat, dan karena pelototan mataku, sopirnya memandangiku dengan rasa tak senang. Peduli amat, Reese tak ada, dan setiap orang layak dicurigai, pikirku.

BACA JUGA: Serpih – serpih Perjalanan ke New York (6)

Aku tak sadar berapa lama aku berdiri sana; tapi, sentuhan tangan Jim di pundakku menyadarkanku untuk kembali ke toko. “She’s been found,” katanya.

Rasanya belum benar-benar puas kalau aku belum melihat Reese dengan kepalaku sendiri. Dan, di sanalah dia, gadis kecilku itu, tetap terlelap di kereta dorongnya, dengan Kelly berdiri dengan mata sembab di belakangnya.

Jim dan Reese, dua orang Amerika favoritku. (Foto: Dokpri)

When I took that jacket, I leave her there, but then when we didn’t realize it, somebody must have moved it,” kata Jim mencoba memberi penjelasan kepadaku dan kepada Kelly, meski aku merasa itu lebih merupakan upayanya untuk menjelaskan dirinya pada diri dia sendiri. Orang perlu alasan dan penjelasan bagi dirinya sendiri. Itu hukum.

Aku harusnya merasa lega dengan ditemukannya Reese, tapi dalam hatiku, justru rasa bersalah yang muncul—rasa salah yang sebenarnya tak beralasan dan kadang mencirikan orang yang punya rasa kecil—sebab dalam hati diriku berkata, “Jim dan Kelly hampir kehilangan anak tercinta mereka karena sibuk melayaniku.”

BACA JUGA: Serpih – Serpih Perjalanan ke New York (7)

Palu godam itu menghimpit hati kami sore itu, baik dalam cakap maupun dalam diam kami. Kami tak perlu membicarakannya, bukan karena Kelly tak mau membicarakannya, tapi karena kami tahu bahwa kami masing-masing terhimpit oleh rasa yang sama, dalam kadar yang berbeda-beda. Masing-masing merasa bersalah, masing-masing mencoba membenarkan diri, kadang-kadang secara negatif seperti caraku, kadang-kadang secara eksplanatif seperti Jim, dan kadang-kadang secara pasif seperti Kelly.

 Suasana hati kami yang tadinya cair, sedikit membeku—dan baru benar-benar cair setelah malam itu kami makan bertiga di Belmar, di sebuah kafe di 1477 Main Street. Hanya Reese yang tak berubah. Senyumnya tetap menawan, dan matanya tetap cerah.

*Penulis adalah dosen Universitas Ma Chung, dan anggota Cebastra.

BERITA KHUSUS

BERITA TERBARU

Asyik Main Air Banjir, Bocah di Gresik Digigit Ular

NUSADAILY.COM – GRESIK  -  Ini peringatan bagi para orang tua agar menjaga anaknya saat bermain air. Karena ada kejadian saat sedang asyik bermain air...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily