Sabtu, Mei 28, 2022
BerandaOpinionSerpih - Serpih Perjalanan ke New York (7)

Serpih – Serpih Perjalanan ke New York (7)

Oleh: F.X. Dono Sunardi

Bagian ketujuh ini merupakan lanjutan dari seri sebelumnya, tentang perjalanan darat penulis dari Worcester di Massachusetts. Tempat dia belajar antara 2009-2011, ke New York City dan kota-kota kecil di sepanjang Jersey Shore.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Karena perjalanan ini secara aktual sudah terjadi lebih dari satu dasawarsa silam, pasti ada banyak detail yang tidak lagi tepat atau relevan dan perlu dicek ulang.

Namun, seperti sebagian besar tulisan perjalanan, yang tidak kalah penting dari informasi faktual yang coba disampaikan, kisah penulis dan interaksi sosial dan budaya dengan orang-orang yang dijumpainya dapat lebih merupakan elemen menarik.

Akan ada 9 seri tulisan ini, dan kesemuanya pernah penulis posting di laman Facebook penulis. Selamat menikmati.

New Jersey, Sabtu 22 Agustus 2009

Jim adalah orang yang sangat ramah dan dengan senang hati dia menjadi pemanduku pagi hingga siang itu sambil mendorong kereta bayi Reese. Dia ceritakan kepadaku banyak kisah dari masa kecilnya di wilayah itu.

Saat melihat anak-anak muda yang dengan lincah berlari sepanjang pantai sambil membawa papan selancar, saat melihat pemuda yang dengan diam-diam dan mata nakal melirik ke arah para perempuan yang bersalutkan bikini.

Saat melihat anak muda yang dengan gesit menaiki sepedanya di sepanjang board walk, melihat anak muda dengan dada telanjang, perut rata, dan celana pantai yang menjuntai sampai lutut berjalan santai menyusuri jalan.

Melihat pemuda pirang dengan dagu tak tercukur menenggak bir di bar di sepanjang jalan di pantai tersebut, aku seperti melihat Jim muda yang penuh semangat menatap dunianya.

Baca Juga: Apple Tutup Semua Toko di New York Akibat Kenaikan Kasus COVID-19

Dia masih tampak bersemangat ketika mengomentari beberapa peselancar amatir yang tak kuasa menaiki ombak di saat geloranya yang tepat menghantam. Dia juga tampak terpaku ketika melihat ke horison di kejauhan—dia ceritakan tentang temannya yang diserang hiu di daerah di sekitar situ.

“Ada hiu di sini?” aku bertanya. “Yes, bull shark.” Aku pasti menampakkan mimik tak percaya, sehingga dia mengatakan “Bull shark can go deep to brackish water, man.” Aku hanya manggut-manggut.

Dude, we’ve got to get you a bath suit,” katanya. “No, we don’t have to. I will not need it when I am back to Worcester,” kilahku.

I’ll buy one for you anyway. And don’t forget, this afternoon I will teach you how to swim at home.”

Baca Juga: Kebakaran Maut Apartemen di New York, 19 Orang Tewas

 Aku jadi teringat pada perjalanan tahun lalu kami di seputaran Gunung Krakatau. Waktu itu, di sela-sela jadwal Jim yang padat di Jakarta, kami sempatkan diri untuk menyewa sebuah perahu cepat di Anyer. Kami melaut menembus Selat Sunda, mencapai jajaran pulau dan gunung Anak Krakatau.

Selesai dipesonakan oleh gunturan suara letusan Krakatau dan dipanggang panas membara di punggung bukitnya, kami melakukan snorkling di seputaran Pulau Panjang. Dia mengajakku terjun ke laut. Aku nekad saja waktu itu, dan aku tahu aku tak bisa berenang.

Begitulah, sejak itu Jim selalu punya cita-cita tambahan dalam hidupnya: mengajariku berenang. Dan ternyata dia serius dengan cita-citanya itu, karena katanya, “You live in islands, but you can’t swim. You try to embarrase your country?” Akhirnya, $30 melayang dari kantong Jim untuk membelikan celana renang bagiku.

Setengah mengeluh setengah bercanda, Jim berkata padaku ketika mobil kami meluncur di jalanan, sementara Reese sudah terbangun dan mulai mengumbar senyumnya yang manis.

Baca Juga: Uniqlo x Theory 2021 Spring/Summer, Tampilkan Gaya “Athleisure” New York

“Cewek itu susah banget dimengerti ya?” “Kenapa?” “Aku rasanya serba salah menghadapi mereka. Kelly barusan sms, katanya dia sedih karena tidak diajak piknik keluarga ini. Padahal tadi pagi dia sendiri yang mengeluh soal capek sehingga kuputuskan untuk tak mengajaknya biar dia bisa beristirahat.”

Aku tak menimpali apa pun, hanya anggukan kepalaku seakan mengiyakan tentang sulitnya memahami kaum yang satu ini. Kalau mudah memahaminya, aku tentu sudah beristri sekarang, kataku dalam hati.

Kami tidak langsung pulang ke Point Meadow, tempat rumah Jim dan Kelly berada. Jim memutar mobilnya ke rumah orang tuanya di Ashbury Park.

Di depan rumah orangtuanya itu, kulihat dua bendera dikibarkan dari serambinya: satu bendera Amerika di kiri, dan yang lain bendera Irlandia di kanan. Begitulah, kaum pendatang di negeri ini tidak serta-merta melupakan asal-usul mereka, paling tidak sampai generasi tertentu.

Baca Juga: Penembakan di Times Square New York, 3 Orang Luka Termasuk Balita

Aku sendiri tak yakin Jim akan melakukan hal yang sama di rumahnya sekarang. Khusus untuk pendatang dari Irlandia, bahkan mereka masih merayakan St. Patrick’s Day.

Hari ketika mereka memperingati Santo Pelindung negara nenek-moyang mereka. Pakaian hijau dan segala yang hijau mereka agung-agungkan. Bahkan, sungai pun dibuat hijau. Entah, dengan teh hijau kali.

Di rumah tersebut, aku diperkenalkan pada ibu dan ayah Jim, yang juga bernama Jim. “I am James Peter, his grandfather James Paul, and he is Jim Williams,” kata sang ayah dengan nada bangga.

Baca Juga: Promosikan Dangdut dan Kopi Indonesia, IDCH Buka Cafe di New York

Ayah Jim memiliki sebuah bar dan restoran di sebuah kota yang jauhnya 53 mil dari situ. Dulu, demikian katanya, setiap hari dia mengendarai sendiri mobilnya menempuh jarak tersebut.

Kini, ketika usianya sudah semakin renta, dia tinggal mengontrol keadaan di bar dan restonya dengan kamera CCTV yang dengan koneksi internet disambungkan ke komputer di ruang kerjanya. “I am a gardener now.”

 Lalu, dengan bangga, aku diajaknya tur keliling halaman belakang yang dipenuhi oleh banyak tanaman. Dia memetikkan kacang panjang bagiku dan memintaku memakannya mentah-mentah. “Do you like it? It’s fresh.”

“Sure.” Aku mengangguk, jadi ingat dulu waktu kecil, suka memetik kacang panjang muda yang ditanam orang di sepanjang pematang sawah saat aku kehausan karena merumput bagi sapi bapakku di siang bolong.

“Do you see that tree?” katanya sambil menunjuk sebuah pohon besar, dengan daun bergerigi dan berduri serta buah-buah sebesar ceri berwarna hijau. “It’s dirty cherry. It falls its leaves in the spring and in winter the cerries are going red.”

“Aha,” seruku. “Itu kan pohon natal.” Aku senang dengan penemuan sederhanaku siang itu. James Peter Keady tertawa renyah,sementara James William Keady anaknya berseru, “Crazy.”

Sebelum kami pulang, ibu Jim menyisipkan uang ke tangan Jim. Aku tak tahu uang apa dan berapa banyaknya. Tapi, aku cukup yakin bahwa uang itu diberikan kepada Jim dengan maksud agar dia mengantarku ke toko baju untuk membeli baju. Aku cukup yakin dengan hal itu, sebab tadi sewaktu di rumah Jim bercerita tentang diriku yang datang dari negara dunia ketiga, tentang uang dari beasiswa yang ngepas, tentang diriku yang akan merasakan pengalaman musim dingin pertama dalam hidupku.

Mungkin juga, wajahku tampak memelas di depan ibu Jim sehingga dia terenyuh dan memberikan sumbangan untuk “anak terlantar” sepertiku.

Seperti kubilang sebelumnya, secara personal orang Amerika merasa diri bahwa mereka adalah orang yang murah hati. Dalam banyak hal, itu benar. Dan, kalau aku bilang ini, aku tidak sedang membuat penyamaan antara pemerintah Amerika dan orang Amerika. Itu dua hal yang berbeda.

Mungkin, perasaan ini muncul ketika Amerika membantu banyak negara Eropa dan Asia pascaperang dunia II lewat Marshall Plan. Dan, kalau engkau masih belum percaya betapa baiknya orang Amerika itu, simaklah apa yang dikatakan Kelly kepadaku malam sebelumnya: “Dono, do you like diamonds?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. “Dono, I will give you some of my diamonds so that you can give it to X, your girl. That’s a present for you and for her from me.”

Mana ada di dunia ini, orang yang baru saja kenal akan memberikan permata kepada orang lain, kalau tidak di Amerika. Untungnya, berkat negosiasiku dan Jim untuk melobi Kelly, mencoba meyakinkannya bahwa aku masih harus di sini dua tahun ke depan dan bahwa mengirimkannya ke Indonesia tidak aman, dia memutuskan untuk menyimpankan permatanya itu dulu dan nanti memberikannya saat aku akan pulang ke Indonesia.

Malam itu, aku tertidur sambil berpikir: apakah aku memang seberuntung itu, ataukah wajah dan mimikku begitu menerenyuhkan perasaan orang lain.

Penulis adalah dosen Universitas Ma Chung, dan anggota Cebastra.

BERITA KHUSUS

Logo dan Maskot MTQ XXX Jatim 2023 Segera Rilis, Gus Ipul Apresiasi Karya Para Desainer

NUSADAILY.COM – PASURUAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan bakal segera memperkenalkan logo dan maskot ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an ke XXX Jawa Timur tahun 2023...

BERITA TERBARU

Update! Siswi SMP Ngawi Kabur, Netizen: Infonya Udah Ketemu Keluarga Lur

NUSADAILY.COM – NGAWI – Seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) melarikan diri dari rumah Jumat, 27 Mei 2022, sekitar subuh dan viral di media...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily

Oleh: F.X. Dono Sunardi

Bagian ketujuh ini merupakan lanjutan dari seri sebelumnya, tentang perjalanan darat penulis dari Worcester di Massachusetts. Tempat dia belajar antara 2009-2011, ke New York City dan kota-kota kecil di sepanjang Jersey Shore.

Karena perjalanan ini secara aktual sudah terjadi lebih dari satu dasawarsa silam, pasti ada banyak detail yang tidak lagi tepat atau relevan dan perlu dicek ulang.

Namun, seperti sebagian besar tulisan perjalanan, yang tidak kalah penting dari informasi faktual yang coba disampaikan, kisah penulis dan interaksi sosial dan budaya dengan orang-orang yang dijumpainya dapat lebih merupakan elemen menarik.

Akan ada 9 seri tulisan ini, dan kesemuanya pernah penulis posting di laman Facebook penulis. Selamat menikmati.

New Jersey, Sabtu 22 Agustus 2009

Jim adalah orang yang sangat ramah dan dengan senang hati dia menjadi pemanduku pagi hingga siang itu sambil mendorong kereta bayi Reese. Dia ceritakan kepadaku banyak kisah dari masa kecilnya di wilayah itu.

Saat melihat anak-anak muda yang dengan lincah berlari sepanjang pantai sambil membawa papan selancar, saat melihat pemuda yang dengan diam-diam dan mata nakal melirik ke arah para perempuan yang bersalutkan bikini.

Saat melihat anak muda yang dengan gesit menaiki sepedanya di sepanjang board walk, melihat anak muda dengan dada telanjang, perut rata, dan celana pantai yang menjuntai sampai lutut berjalan santai menyusuri jalan.

Melihat pemuda pirang dengan dagu tak tercukur menenggak bir di bar di sepanjang jalan di pantai tersebut, aku seperti melihat Jim muda yang penuh semangat menatap dunianya.

Baca Juga: Apple Tutup Semua Toko di New York Akibat Kenaikan Kasus COVID-19

Dia masih tampak bersemangat ketika mengomentari beberapa peselancar amatir yang tak kuasa menaiki ombak di saat geloranya yang tepat menghantam. Dia juga tampak terpaku ketika melihat ke horison di kejauhan—dia ceritakan tentang temannya yang diserang hiu di daerah di sekitar situ.

“Ada hiu di sini?” aku bertanya. “Yes, bull shark.” Aku pasti menampakkan mimik tak percaya, sehingga dia mengatakan “Bull shark can go deep to brackish water, man.” Aku hanya manggut-manggut.

Dude, we’ve got to get you a bath suit,” katanya. “No, we don’t have to. I will not need it when I am back to Worcester,” kilahku.

I’ll buy one for you anyway. And don’t forget, this afternoon I will teach you how to swim at home.”

Baca Juga: Kebakaran Maut Apartemen di New York, 19 Orang Tewas

 Aku jadi teringat pada perjalanan tahun lalu kami di seputaran Gunung Krakatau. Waktu itu, di sela-sela jadwal Jim yang padat di Jakarta, kami sempatkan diri untuk menyewa sebuah perahu cepat di Anyer. Kami melaut menembus Selat Sunda, mencapai jajaran pulau dan gunung Anak Krakatau.

Selesai dipesonakan oleh gunturan suara letusan Krakatau dan dipanggang panas membara di punggung bukitnya, kami melakukan snorkling di seputaran Pulau Panjang. Dia mengajakku terjun ke laut. Aku nekad saja waktu itu, dan aku tahu aku tak bisa berenang.

Begitulah, sejak itu Jim selalu punya cita-cita tambahan dalam hidupnya: mengajariku berenang. Dan ternyata dia serius dengan cita-citanya itu, karena katanya, “You live in islands, but you can’t swim. You try to embarrase your country?” Akhirnya, $30 melayang dari kantong Jim untuk membelikan celana renang bagiku.

Setengah mengeluh setengah bercanda, Jim berkata padaku ketika mobil kami meluncur di jalanan, sementara Reese sudah terbangun dan mulai mengumbar senyumnya yang manis.

Baca Juga: Uniqlo x Theory 2021 Spring/Summer, Tampilkan Gaya “Athleisure” New York

“Cewek itu susah banget dimengerti ya?” “Kenapa?” “Aku rasanya serba salah menghadapi mereka. Kelly barusan sms, katanya dia sedih karena tidak diajak piknik keluarga ini. Padahal tadi pagi dia sendiri yang mengeluh soal capek sehingga kuputuskan untuk tak mengajaknya biar dia bisa beristirahat.”

Aku tak menimpali apa pun, hanya anggukan kepalaku seakan mengiyakan tentang sulitnya memahami kaum yang satu ini. Kalau mudah memahaminya, aku tentu sudah beristri sekarang, kataku dalam hati.

Kami tidak langsung pulang ke Point Meadow, tempat rumah Jim dan Kelly berada. Jim memutar mobilnya ke rumah orang tuanya di Ashbury Park.

Di depan rumah orangtuanya itu, kulihat dua bendera dikibarkan dari serambinya: satu bendera Amerika di kiri, dan yang lain bendera Irlandia di kanan. Begitulah, kaum pendatang di negeri ini tidak serta-merta melupakan asal-usul mereka, paling tidak sampai generasi tertentu.

Baca Juga: Penembakan di Times Square New York, 3 Orang Luka Termasuk Balita

Aku sendiri tak yakin Jim akan melakukan hal yang sama di rumahnya sekarang. Khusus untuk pendatang dari Irlandia, bahkan mereka masih merayakan St. Patrick’s Day.

Hari ketika mereka memperingati Santo Pelindung negara nenek-moyang mereka. Pakaian hijau dan segala yang hijau mereka agung-agungkan. Bahkan, sungai pun dibuat hijau. Entah, dengan teh hijau kali.

Di rumah tersebut, aku diperkenalkan pada ibu dan ayah Jim, yang juga bernama Jim. “I am James Peter, his grandfather James Paul, and he is Jim Williams,” kata sang ayah dengan nada bangga.

Baca Juga: Promosikan Dangdut dan Kopi Indonesia, IDCH Buka Cafe di New York

Ayah Jim memiliki sebuah bar dan restoran di sebuah kota yang jauhnya 53 mil dari situ. Dulu, demikian katanya, setiap hari dia mengendarai sendiri mobilnya menempuh jarak tersebut.

Kini, ketika usianya sudah semakin renta, dia tinggal mengontrol keadaan di bar dan restonya dengan kamera CCTV yang dengan koneksi internet disambungkan ke komputer di ruang kerjanya. “I am a gardener now.”

 Lalu, dengan bangga, aku diajaknya tur keliling halaman belakang yang dipenuhi oleh banyak tanaman. Dia memetikkan kacang panjang bagiku dan memintaku memakannya mentah-mentah. “Do you like it? It’s fresh.”

“Sure.” Aku mengangguk, jadi ingat dulu waktu kecil, suka memetik kacang panjang muda yang ditanam orang di sepanjang pematang sawah saat aku kehausan karena merumput bagi sapi bapakku di siang bolong.

“Do you see that tree?” katanya sambil menunjuk sebuah pohon besar, dengan daun bergerigi dan berduri serta buah-buah sebesar ceri berwarna hijau. “It’s dirty cherry. It falls its leaves in the spring and in winter the cerries are going red.”

“Aha,” seruku. “Itu kan pohon natal.” Aku senang dengan penemuan sederhanaku siang itu. James Peter Keady tertawa renyah,sementara James William Keady anaknya berseru, “Crazy.”

Sebelum kami pulang, ibu Jim menyisipkan uang ke tangan Jim. Aku tak tahu uang apa dan berapa banyaknya. Tapi, aku cukup yakin bahwa uang itu diberikan kepada Jim dengan maksud agar dia mengantarku ke toko baju untuk membeli baju. Aku cukup yakin dengan hal itu, sebab tadi sewaktu di rumah Jim bercerita tentang diriku yang datang dari negara dunia ketiga, tentang uang dari beasiswa yang ngepas, tentang diriku yang akan merasakan pengalaman musim dingin pertama dalam hidupku.

Mungkin juga, wajahku tampak memelas di depan ibu Jim sehingga dia terenyuh dan memberikan sumbangan untuk “anak terlantar” sepertiku.

Seperti kubilang sebelumnya, secara personal orang Amerika merasa diri bahwa mereka adalah orang yang murah hati. Dalam banyak hal, itu benar. Dan, kalau aku bilang ini, aku tidak sedang membuat penyamaan antara pemerintah Amerika dan orang Amerika. Itu dua hal yang berbeda.

Mungkin, perasaan ini muncul ketika Amerika membantu banyak negara Eropa dan Asia pascaperang dunia II lewat Marshall Plan. Dan, kalau engkau masih belum percaya betapa baiknya orang Amerika itu, simaklah apa yang dikatakan Kelly kepadaku malam sebelumnya: “Dono, do you like diamonds?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. “Dono, I will give you some of my diamonds so that you can give it to X, your girl. That’s a present for you and for her from me.”

Mana ada di dunia ini, orang yang baru saja kenal akan memberikan permata kepada orang lain, kalau tidak di Amerika. Untungnya, berkat negosiasiku dan Jim untuk melobi Kelly, mencoba meyakinkannya bahwa aku masih harus di sini dua tahun ke depan dan bahwa mengirimkannya ke Indonesia tidak aman, dia memutuskan untuk menyimpankan permatanya itu dulu dan nanti memberikannya saat aku akan pulang ke Indonesia.

Malam itu, aku tertidur sambil berpikir: apakah aku memang seberuntung itu, ataukah wajah dan mimikku begitu menerenyuhkan perasaan orang lain.

Penulis adalah dosen Universitas Ma Chung, dan anggota Cebastra.