Sabtu, Mei 28, 2022
BerandaOpinionSerpih - serpih Perjalanan ke New York (4)

Serpih – serpih Perjalanan ke New York (4)

Oleh: F.X. Dono Sunardi

Tulisan ini merupakan seri keempat yang berisi perjalanan darat penulis dari Worcester di Massachusetts, tempat dia belajar antara 2009-2011, ke New York City dan kota-kota kecil di sepanjang Jersey Shore. Karena perjalanan ini secara aktual sudah terjadi lebih dari satu dasawarsa silam, pasti ada banyak detail yang tidak lagi tepat atau relevan dan perlu dicek ulang.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Namun, seperti sebagian besar tulisan perjalanan, yang tidak kalah penting dari informasi faktual yang coba disampaikan, kisah penulis dan interaksi sosial dan budaya dengan orang-orang yang dijumpainya dapat lebih merupakan elemen menarik. Akan ada 9 seri tulisan ini, dan kesemuanya pernah penulis posting di laman Facebook penuliis. Selamat menikmati.

New York: Jumat, 21 Agustus 2009

Kuregangkan tubuh kakuku yang selama hampir delapan jam terbujur di sofa empuk di apartemen Mike. Sisa-sisa rasa sesalku karena kehilangan kamera kemarin masih mengerak di dasar hati. Namun, dengan segera ia kutepiskan sembari membasuh muka dan menyikat gigi di bawah pancuran air hangat.

Ini musim panas, matahari sudah tinggi pada jam segitu dan nanti baru mau benar-benar lingsir setelah jam 8 malam. Entah berapa lama kuhabiskan waktu di bawah pancuran itu, membasuh segala yang kotor yang melekat di badanku dan menikmati cipratan air yang menyegarkan.

Kisah Part 3: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (3)

Saat keluar dari kamar mandi, aku sempat mengambil pisang dari lemari es Mike dan memakannya. Lalu, kubuat bagi diriku sendiri kopi dengan mesin yang baru kuketahui cara mengoperasikannya saat itu. Hidup di negeri asing tidak sesulit yang kubayangkan sebelumnya, asal kita punya teman.

Dalam sisa waktuku sendiri pagi itu, ketika Mike dan Audrey belum muncul dari kamar mereka, kurangkai apa yang akan kubuat hari itu. Kubayangkan jalan-jalan yang mungkin nanti akan kulalui. Kuprediksi apa saja yang mungkin nanti akan kualami, kutanyakan, kukatakan, dan kubuat pada orang-orang yang kujumpai. Begitulah hari biasa kumulai–dengan sebisa mungkin tenang.

Pukul 08:16, Mike dan aku siap pergi. Audrey masih berada di kamar mandi, tapi kami tak ingin membuat Mike telat sampai kantor. “Honey, I am leaving now. Love you,” kata Mike sambil mengetuk pintu kamar mandi.

Sesaat aku tak tahu pasti apa yang mesti kubuat: haruskah aku ikut-ikutan mengetuk kamar mandi, atau mengucapkan “Bye Audrey” keras-keras, atau diam saja.

Kisah Part 2: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (2)

Mike rupanya tahu kegaguanku, maka katanya, “Let’s go, buddy. I will say your good bye later to her.” Itu sebenarnya tak benar-benar membuatku merasa lebih baik. Aku merasa seperti orang yang tak tahu terima kasih.

Kereta bawah tanah D uptown yang kutumpangi menumpahkan penumpangnya di setiap stasiun yang kami lewati, dan seperti ular yang sedang kelaparan, ia pun menyedot lebih banyak penumpang di tiap stasiun tersebut.

Mike dan aku turut berdiri di kereta dan kami tak banyak cakap karena banyak sekali orang di sekitar kami. Dia turun di 14th St. Dan, aku nanti baru turun di 42nd St, lima atau enam perhentian lagi.

Tak ada yang khusus dalam perpisahan kami kali itu. Hanya saling jabat tangan dan senyum mengembang. “Thanks for coming, dude.” Aku yang justru berterima kasih kepadanya karena kebaikan hati Mike.

Kisah Part 1: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (1)

Keluar dari stasiun 42nd St, aku sempat kebingungan. Peta New York yang lumayan besar jika kubentangan ada di tangan, tapi aku tak benar-benar mengetahui di mana keberadaanku saat itu. Aku seperti seorang pembaca peta buta. Maka, kususuri saja jalan yang amat riuh itu, berharap ada suatu tempat di mana aku bisa meminggir dan mengecek keberadaanku.

Di depanku, gedung-gedung tinggi menyalak galak, membuatku seperti seorang anak kecil yang tersudut oleh kerumunan anjing besar di sekitarku. Inilah 5th Avenue, Manhattan.

Kalau aku berjalan satu blok lebih jauh, menyusuri West 42nd St, aku akan sampai di Madison Avenue. Dan, kalau aku punya energi cukup besar untuk mengikuti jalanan itu ke arah downtown, aku akan tiba di Madison Square Garden, sebuah gedung raksasa yang di dalamnya menampung stadion besar, markas klub basket NBA New York Knicks.

Baca Juga: Duh! New York Dihantam Badai Ida 41 Orang Tewas

Keringat mengucur deras di dahi, muka, leher, dada, dan punggungku. Pagi itu, udara New York sudah terasa gerah. Maka, sejenak kusandarkan tubuhku di tangga masuk New York Public Library yang terletak di arah 5th dari Bryant Park.

Kulihat sekelilingku, betapa riuhnya orang berjalan di kota ini. Tak ada yang berjalan lambat seperti aku; mereka semua berjalan tergesa, tungkai mereka seakan tak pernah berdiri sejajar, karena saat yang satu menjejak tanah, yang lain segera terayun ke udara. Kalau bisa dan tidak lalu terbantun ke tanah, mereka mungkin ingin kedua kaki mereka sama-sama terayun ke atas, sehingga langkah mereka jadi lebih cepat.

Apakah yang mungkin terpikir di benak mereka? Aku yakin mereka pun melihat, berpikir, dan merasa sepertiku.

Baca Juga: Uniqlo x Theory 2021 Spring/Summer, Tampilkan Gaya “Athleisure” New York

Madison Ave di Manhattan seperti membelah kota pulau tersebut menjadi dua wilayah: Barat dan Timur atau West dan East. Dan, jalan-jalan diberi nomor, bukan nama lain. Maka, ada yang namanya W 14th St, yang berarti jalan nomor 14 dari arah downtown ke arah uptown dan terletak di sebelah barat Madison Avenue. E 37th St berarti jalan nomor 37 dari arah downtown ke arah uptown yang terletak di sebelah timur Madison Ave.

Aku tidak tahu pasti ada berapa jalan bernomor seperti itu, namun salah satu tujuanku siang itu adalah Konsulat Jenderal Republik Indonesia yang terletak di E 68th. Untuk mencapainya, aku juga mesti tahu bangunan itu nomor berapa. Sebab penomoran bangunan atau rumah dihitung mundur dari Madison Ave ini.

Demikianlah, kota Manhattan sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan, lumayan mudah malah.

Dari W42nd St, aku berjalan lima blok ke arah downtown menuju W37th St. Bukan sebuah perjalanan yang heroik, tapi lagi-lagi udara musim panas New York yang gerah membuat seluruh badanku bermandikan keringat.

Koper kecil yang kuseret ke mana-mana terasa tambah langkah tambah berat. Lima blok itu sebenarnya cuma seperti 300-500 meter. Malu juga diriku saat sampai di kantor perwakilan Fulbright dalam keadaan basah kuyup, hampir seperti habis berenang dengan pakaian lengkap.

Baca Juga: Apple Tutup Semua Toko di New York Akibat Kenaikan Kasus COVID-19

Joel Santana, orang yang hendak kutemui, menyambutku dengan hangat, dan karena aku datang satu jam tiga belas menit lebih awal dari janji kami, dia memberiku kesempatan untuk mengaso sejenak, mengelap keringat, dan menenggak minuman dingin yang ditawarkannya.

Sebenarnya, dia juga ingin memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Maklum dia harus memfasilitasi lebih dari 200 orang Fulbright dari seluruh dunia. Aku sih senang-senang saja diberi kesempatan rileks sejenak seperti itu.

Selesai berurusan dengan Fulbright, tujuanku berikutnya adalah KJRI. Aku keluar dari gedungnya Joel dengan membawa selembar kertas berisi rincian itinerary sederhana hasil pencarian Joel di Googlemap yang mungkin kasihan melihatku yang orang asing dan sendirian menjelajahi kota besar itu.

Leili sebenarnya sudah memberiku itinerary juga, tapi itinerary-nya itu menggunakan subway dan lumayan rumit, dan, yang mengerikan, aku mesti jalan beberapa blok untuk sampai ke stasiun subway, dan setelah sampai pun harus berjalan beberapa blok lagi.

Baca Juga: Pedangdut Indonesia Duet dengan Pedangdut Amerika, Gimana Jadinya

Kayaknya temanku itu memang lebih suka pakai subway daripada bus. “Mas, subway itu sederhana,” katanya malam di rumah Mike. Aku tak punya jawaban untuk itu.

Bus di New York, atau Manhattan, sebenarnya tidak terlalu rumit. Tiap bus punya jurusan sendiri dan tempat pemberhentian sendiri. Kita cuma perlu tahu bus mana yang berhenti di halte mana yang terdekat dengan tujuan kita. Jangan salah mengambil bus, semata-mata karena kita berdiri dekat dengan perhentiannya. Lihat papan petunjuk di jalan, bus ini akan berhenti di mana saja.

Nah, caranya untuk tahu jalur sebuah bus lengkap dengan tiap perhentiannya? Internet, kawan. Gunakan teknologi, karena semuanya ada di situ. Tak tahu aku apa jadinya diriku tanpa teknologi tersebut.

Kita bisa saja memotong langkah panjang seseorang di New York untuk bertanya arah, dan mereka biasanya akan dengan senang hati menunjukkan jalan, atau kalau tidak akan dengan sopan bilang bahwa mereka sedang terburu waktu, tetapi itu tidak selalu berhasil. Dengan internet, hampir semuanya teratasi. Trust me, it works (seperti iklan suatu produk susu penggemuk badan).

Penulis adalah dosen Universitas Ma Chung, dan anggota Cebastra.

BERITA KHUSUS

Logo dan Maskot MTQ XXX Jatim 2023 Segera Rilis, Gus Ipul Apresiasi Karya Para Desainer

NUSADAILY.COM – PASURUAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan bakal segera memperkenalkan logo dan maskot ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an ke XXX Jawa Timur tahun 2023...

BERITA TERBARU

Usung Pembelajaran Bahasa, Sosial dan Budaya dalam MBKM, UM Gelar Seminar Nasional

NUSADAILY.COM – MALANG – Dalam rangka menyukseskan gerakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) khususnya bidang pembelajaran bahasa, sastra dan budaya. Departemen Sastra Jerman Universitas...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily

Oleh: F.X. Dono Sunardi

Tulisan ini merupakan seri keempat yang berisi perjalanan darat penulis dari Worcester di Massachusetts, tempat dia belajar antara 2009-2011, ke New York City dan kota-kota kecil di sepanjang Jersey Shore. Karena perjalanan ini secara aktual sudah terjadi lebih dari satu dasawarsa silam, pasti ada banyak detail yang tidak lagi tepat atau relevan dan perlu dicek ulang.

Namun, seperti sebagian besar tulisan perjalanan, yang tidak kalah penting dari informasi faktual yang coba disampaikan, kisah penulis dan interaksi sosial dan budaya dengan orang-orang yang dijumpainya dapat lebih merupakan elemen menarik. Akan ada 9 seri tulisan ini, dan kesemuanya pernah penulis posting di laman Facebook penuliis. Selamat menikmati.

New York: Jumat, 21 Agustus 2009

Kuregangkan tubuh kakuku yang selama hampir delapan jam terbujur di sofa empuk di apartemen Mike. Sisa-sisa rasa sesalku karena kehilangan kamera kemarin masih mengerak di dasar hati. Namun, dengan segera ia kutepiskan sembari membasuh muka dan menyikat gigi di bawah pancuran air hangat.

Ini musim panas, matahari sudah tinggi pada jam segitu dan nanti baru mau benar-benar lingsir setelah jam 8 malam. Entah berapa lama kuhabiskan waktu di bawah pancuran itu, membasuh segala yang kotor yang melekat di badanku dan menikmati cipratan air yang menyegarkan.

Kisah Part 3: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (3)

Saat keluar dari kamar mandi, aku sempat mengambil pisang dari lemari es Mike dan memakannya. Lalu, kubuat bagi diriku sendiri kopi dengan mesin yang baru kuketahui cara mengoperasikannya saat itu. Hidup di negeri asing tidak sesulit yang kubayangkan sebelumnya, asal kita punya teman.

Dalam sisa waktuku sendiri pagi itu, ketika Mike dan Audrey belum muncul dari kamar mereka, kurangkai apa yang akan kubuat hari itu. Kubayangkan jalan-jalan yang mungkin nanti akan kulalui. Kuprediksi apa saja yang mungkin nanti akan kualami, kutanyakan, kukatakan, dan kubuat pada orang-orang yang kujumpai. Begitulah hari biasa kumulai--dengan sebisa mungkin tenang.

Pukul 08:16, Mike dan aku siap pergi. Audrey masih berada di kamar mandi, tapi kami tak ingin membuat Mike telat sampai kantor. "Honey, I am leaving now. Love you," kata Mike sambil mengetuk pintu kamar mandi.

Sesaat aku tak tahu pasti apa yang mesti kubuat: haruskah aku ikut-ikutan mengetuk kamar mandi, atau mengucapkan "Bye Audrey" keras-keras, atau diam saja.

Kisah Part 2: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (2)

Mike rupanya tahu kegaguanku, maka katanya, "Let's go, buddy. I will say your good bye later to her." Itu sebenarnya tak benar-benar membuatku merasa lebih baik. Aku merasa seperti orang yang tak tahu terima kasih.

Kereta bawah tanah D uptown yang kutumpangi menumpahkan penumpangnya di setiap stasiun yang kami lewati, dan seperti ular yang sedang kelaparan, ia pun menyedot lebih banyak penumpang di tiap stasiun tersebut.

Mike dan aku turut berdiri di kereta dan kami tak banyak cakap karena banyak sekali orang di sekitar kami. Dia turun di 14th St. Dan, aku nanti baru turun di 42nd St, lima atau enam perhentian lagi.

Tak ada yang khusus dalam perpisahan kami kali itu. Hanya saling jabat tangan dan senyum mengembang. “Thanks for coming, dude.” Aku yang justru berterima kasih kepadanya karena kebaikan hati Mike.

Kisah Part 1: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (1)

Keluar dari stasiun 42nd St, aku sempat kebingungan. Peta New York yang lumayan besar jika kubentangan ada di tangan, tapi aku tak benar-benar mengetahui di mana keberadaanku saat itu. Aku seperti seorang pembaca peta buta. Maka, kususuri saja jalan yang amat riuh itu, berharap ada suatu tempat di mana aku bisa meminggir dan mengecek keberadaanku.

Di depanku, gedung-gedung tinggi menyalak galak, membuatku seperti seorang anak kecil yang tersudut oleh kerumunan anjing besar di sekitarku. Inilah 5th Avenue, Manhattan.

Kalau aku berjalan satu blok lebih jauh, menyusuri West 42nd St, aku akan sampai di Madison Avenue. Dan, kalau aku punya energi cukup besar untuk mengikuti jalanan itu ke arah downtown, aku akan tiba di Madison Square Garden, sebuah gedung raksasa yang di dalamnya menampung stadion besar, markas klub basket NBA New York Knicks.

Baca Juga: Duh! New York Dihantam Badai Ida 41 Orang Tewas

Keringat mengucur deras di dahi, muka, leher, dada, dan punggungku. Pagi itu, udara New York sudah terasa gerah. Maka, sejenak kusandarkan tubuhku di tangga masuk New York Public Library yang terletak di arah 5th dari Bryant Park.

Kulihat sekelilingku, betapa riuhnya orang berjalan di kota ini. Tak ada yang berjalan lambat seperti aku; mereka semua berjalan tergesa, tungkai mereka seakan tak pernah berdiri sejajar, karena saat yang satu menjejak tanah, yang lain segera terayun ke udara. Kalau bisa dan tidak lalu terbantun ke tanah, mereka mungkin ingin kedua kaki mereka sama-sama terayun ke atas, sehingga langkah mereka jadi lebih cepat.

Apakah yang mungkin terpikir di benak mereka? Aku yakin mereka pun melihat, berpikir, dan merasa sepertiku.

Baca Juga: Uniqlo x Theory 2021 Spring/Summer, Tampilkan Gaya “Athleisure” New York

Madison Ave di Manhattan seperti membelah kota pulau tersebut menjadi dua wilayah: Barat dan Timur atau West dan East. Dan, jalan-jalan diberi nomor, bukan nama lain. Maka, ada yang namanya W 14th St, yang berarti jalan nomor 14 dari arah downtown ke arah uptown dan terletak di sebelah barat Madison Avenue. E 37th St berarti jalan nomor 37 dari arah downtown ke arah uptown yang terletak di sebelah timur Madison Ave.

Aku tidak tahu pasti ada berapa jalan bernomor seperti itu, namun salah satu tujuanku siang itu adalah Konsulat Jenderal Republik Indonesia yang terletak di E 68th. Untuk mencapainya, aku juga mesti tahu bangunan itu nomor berapa. Sebab penomoran bangunan atau rumah dihitung mundur dari Madison Ave ini.

Demikianlah, kota Manhattan sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan, lumayan mudah malah.

Dari W42nd St, aku berjalan lima blok ke arah downtown menuju W37th St. Bukan sebuah perjalanan yang heroik, tapi lagi-lagi udara musim panas New York yang gerah membuat seluruh badanku bermandikan keringat.

Koper kecil yang kuseret ke mana-mana terasa tambah langkah tambah berat. Lima blok itu sebenarnya cuma seperti 300-500 meter. Malu juga diriku saat sampai di kantor perwakilan Fulbright dalam keadaan basah kuyup, hampir seperti habis berenang dengan pakaian lengkap.

Baca Juga: Apple Tutup Semua Toko di New York Akibat Kenaikan Kasus COVID-19

Joel Santana, orang yang hendak kutemui, menyambutku dengan hangat, dan karena aku datang satu jam tiga belas menit lebih awal dari janji kami, dia memberiku kesempatan untuk mengaso sejenak, mengelap keringat, dan menenggak minuman dingin yang ditawarkannya.

Sebenarnya, dia juga ingin memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Maklum dia harus memfasilitasi lebih dari 200 orang Fulbright dari seluruh dunia. Aku sih senang-senang saja diberi kesempatan rileks sejenak seperti itu.

Selesai berurusan dengan Fulbright, tujuanku berikutnya adalah KJRI. Aku keluar dari gedungnya Joel dengan membawa selembar kertas berisi rincian itinerary sederhana hasil pencarian Joel di Googlemap yang mungkin kasihan melihatku yang orang asing dan sendirian menjelajahi kota besar itu.

Leili sebenarnya sudah memberiku itinerary juga, tapi itinerary-nya itu menggunakan subway dan lumayan rumit, dan, yang mengerikan, aku mesti jalan beberapa blok untuk sampai ke stasiun subway, dan setelah sampai pun harus berjalan beberapa blok lagi.

Baca Juga: Pedangdut Indonesia Duet dengan Pedangdut Amerika, Gimana Jadinya

Kayaknya temanku itu memang lebih suka pakai subway daripada bus. “Mas, subway itu sederhana,” katanya malam di rumah Mike. Aku tak punya jawaban untuk itu.

Bus di New York, atau Manhattan, sebenarnya tidak terlalu rumit. Tiap bus punya jurusan sendiri dan tempat pemberhentian sendiri. Kita cuma perlu tahu bus mana yang berhenti di halte mana yang terdekat dengan tujuan kita. Jangan salah mengambil bus, semata-mata karena kita berdiri dekat dengan perhentiannya. Lihat papan petunjuk di jalan, bus ini akan berhenti di mana saja.

Nah, caranya untuk tahu jalur sebuah bus lengkap dengan tiap perhentiannya? Internet, kawan. Gunakan teknologi, karena semuanya ada di situ. Tak tahu aku apa jadinya diriku tanpa teknologi tersebut.

Kita bisa saja memotong langkah panjang seseorang di New York untuk bertanya arah, dan mereka biasanya akan dengan senang hati menunjukkan jalan, atau kalau tidak akan dengan sopan bilang bahwa mereka sedang terburu waktu, tetapi itu tidak selalu berhasil. Dengan internet, hampir semuanya teratasi. Trust me, it works (seperti iklan suatu produk susu penggemuk badan).

Penulis adalah dosen Universitas Ma Chung, dan anggota Cebastra.