Jumat, Mei 27, 2022
BerandaOpinionSerpih-serpih Perjalanan ke New York (3)

Serpih-serpih Perjalanan ke New York (3)

Oleh: F.X. Dono Sunardi

Tulisan ini adalah tulisan berseri tentang perjalanan darat penulis dari Worcester di Massachusetts, tempat dia belajar antara 2009-2011, ke New York City dan kota-kota kecil di sepanjang Jersey Shore.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Karena perjalanan ini secara aktual sudah terjadi lebih dari satu dasawarsa silam, pasti ada banyak detail yang tidak lagi tepat atau relevan dan perlu dicek ulang.

Namun, seperti sebagian besar tulisan perjalanan, yang tidak kalah penting dari informasi faktual yang coba disampaikan, kisah penulis dan interaksi sosial dan budaya dengan orang-orang yang dijumpainya dapat lebih merupakan elemen menarik.

Akan ada 9 seri tulisan ini, dan kesemuanya pernah penulis posting di laman Facebook penuliis. Selamat menikmati.

Baca Juga: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (1)

New York: Kamis, 20 Agustus 2009

Setelah melewati tiga perhentian, aku turun dari kereta bawah tanah di Broadway-Lafayette St. Suara operator otomatis di kereta terdengar sangat lugas: “This is Broadway-Lafayette, the destination of this train is Jamaica St. Stand clear from the door, please.” Mungkinkah ini kereta otomatis yang tak lagi dimasinisi oleh manusia tapi oleh sistem mesin tertentu?

Kalau begitu, beda sekali dengan T Subway di Boston yang bahkan kita bisa menyapa dan sedikit bercakap-cakap dengan masinisnya saat masuk atau keluar dari gerbong.

Kita bisa berkata, “Good morning, how are you doing?” saat masuk dan mendapat jawaban yang kadang hangat kadang hambar tergantung pada situasi hati si masinis–manusiawi sekali, dan “Have a good day” atau semacamnya saat kita keluar, kalau kita keluarnya lewat pintu depan.

Baca Juga: Uniqlo x Theory 2021 Spring/Summer, Tampilkan Gaya “Athleisure” New York

Aku jadi teringat pula pada kereta listrik otomatis di bandara Changi Singapura yang menghubungkan terminal satu ke terminal lain. Kereta itu benar-benar otomatis, bergerak ke sana ke mari selalu pada hitungan dan detik yang sudah pasti. Bahkan pintu terbuka dan tertutup dengan hitungan yang tetap.

Ini mungkin memudahkan kita, tapi kalau ada orang yang mau melakukan suatu “kejahatan”, dia bisa menghapalkan rutinitas tersebut untuk membantu melaksanakan niat kejinya.

Bukankah itu teori kejahatan yang paling dasar? Mengikuti calon korban, menghapalkan kebiasaannya, dan menghabisinya saat dia berada pada momen yang paling tak menguntungkan?

Baca Juga: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (2)

Anyway, ini bukan cerita misteri seperti kisah terkenal karangan nenek Agatha Christie. Ini hanyalah refleksi kecil agar apa yang sudah kualami tak menguap begitu saja–dan untuk itu, ingatan kolektif kita akan membantunya.

Broadway-Lafayette merupakan sebuah jalan di Manhattan, New York yang sangat padat. Di atasnya berlalu-lalang orang dengan beragam lagak gaya dan penampilan.

Kalau mau lihat yang seksi dengan pakaian glamor lengkap dengan anjing pudelnya yang manis, kalau mau lihat yang metropolis dengan dandanan perlente dan wajah tercukur rapi.

Kalau mau lihat yang macho dengan dandanan metal dan rantai bergantungan, kalau mau lihat yang sporty dengan sepatu kets terbaru, kalau mau lihat yang bermata sipit dengan kamera ditenteng ke mana-mana.

Juga kalau mau lihat yang kumal dan berjalan terhuyung, atau yang berjualan hotdog di pinggir jalan sama persis dengan pedagang kaki lima di Jakarta, silakan susuri jalan ini.

Baca Juga: Promosikan Dangdut dan Kopi Indonesia, IDCH Buka Cafe di New York

Di sinilah, aku berjanji untuk bertemu dengan teman lamaku yang terakhir kali kujumpai 7 tahun yang lalu di Jakarta.

Lima belas menit berlalu dan aku seperti terpanggang di bawah lembabnya udara New York. Dan, pada menit keenam belas, dari seberang jalan muncullah Leili. Dia menyeringai dan aku pun melambai.

Sungguh aku tak percaya sudah banyaknya waktu berlalu sejak terakhir kali aku melihatnya di bandara Cengkareng siang itu. Kami tak banyak bicara setelah kami berpisah; sesekali memang kami saling bertukar kabar lewat imel.

Baca Juga: Penembakan di Times Square New York, 3 Orang Luka Termasuk Balita

Tapi, indahnya pertemanan yang terjalin tak putus oleh rentangan waktu yang panjang membentang. Jarak waktu tak mampu mengalahkan uluran tangan kami yang saling bersalam dan berpeluk.

“Mas Dono, aku pangling … lihat dirimu!” Leili seperti sedang mencari kata-kata untuk menyampaikan maksudnya, namun ia tak berhasil menemukannya.

Aku hanya menyeringai lebar. Dan, dari belakang Leili, berdiri seorang pemuda kulit hitam, yang lalu diperkenalkan sebagai James.

Baca Juga: Apple Tutup Semua Toko di New York Akibat Kenaikan Kasus COVID-19

Wah, betapa banyaknya nama orang di Amerika ini dengan nama seperti itu: James dengan variannya Jim, atau John, atau Mike.

“Mas, aku mengajak James untuk menunjukkan kepadanya bahwa di Indonesia juga ada orang berkulit hitam seperti Mas Dono. James ini selalu berpikir bahwa orang Indonesia berkulit terang.”

Kebetulan kulit Leili memang tidak segelap diriku. “Hei, aku bukan hitam, tapi coklat,” belaku, “coklat tua sekali.” Dan derai tawa pun mengiringi langkah pertama kami di jalanan di sepanjang New York University.

We are brothers,” celetuk James dengan logat Harlemnya yang kental, walau dia berasal dari sebuah kota kecil di Texas. Aku menepuk pundaknya dan dia menepuk balas pundakku.

“Dan, tentang James,” lanjut Leili, “dia memang orang kulit hitam, tapi matanya sipit seperti orang Cina.” Maka, kami kembali berderai dalam tawa, menertawakan hal-hal yang mungkin bagi orang lain terasa sensitif, namun bagi kami seperti lelucon getir tentang diri kami sendiri.

“Makan siang di mana nih?” tanya Leili. “Lho kok malah nanya aku?” “Mau masakan Indonesia?” begitulah dialog kami yang semuanya adalah pertanyaan.

Baca Juga: Duh! New York Dihantam Badai Ida 41 Orang Tewas

Maka, untuk menjawabnya kami mampir di kawasan West Village, di jalan yang entah apa aku lupa namanya dan masuk ke sebuah restoran Asia. Di daftar menunya, ada satu masakan Indonesia: soto, yang diterjemahkan sebagai Indonesian Chicken Soup. Hmmm …

Sore itu, kami berjanji untuk bertemu kawan lain yang juga sudah 7 tahun tak pernah kujumpai selain lewat imel dan, baru-baru ini, fesbuk. Kami bertemu dengannya tak jauh dari Union Square.

Beberapa saat setelah aku menyadari bahwa aku telah kehilangan handycamku. Kurasa aku meninggalkannya di kursi taksi yang kami tumpangi di Harlem.

Baca Juga: Kebakaran Maut Apartemen di New York, 19 Orang Tewas

Jadi, kesempatan untuk menemukannya kembali sangat tipis, mengingat kami juga tak mengingat-ingat nomor mobil atau taksinya.

 Satu hal membuatku sangat menyesal mengenai hilangnya kamera tersebut. Aku telah berjanji sama X  untuk akan sangat berhati-hati, dan ternyata aku tak sehati-hati seperti yang kukatakan padanya.

Ada semburat rasa bersalah. Dan ke dalamnya, ditambahkan rasa sesal karena di kamera tersebut terekam saat-saat perpisahan kami di bandara di Jogja; rekaman saat air matanya meleleh pelan di pipinya, rekaman saat aku mencoba menghiburkan dirinya, rekaman saat lambaian tangan kami mengiringi langkah berbeda arah kami.

Hiruk-pikuk orang dengan tarian kapoera yang ditingkahi tetabuhan di Union Square itu seperti memukul-mukul nuraniku; kenapa aku harus kehilangan barang yang penuh kenangan itu?

Baca Juga: “West Side Story”, Kisah Klasik Masa Muda 1957 di New York

Dan belum terendap betul kata-kata James dan Leili yang mencoba menghiburku, kawan lama Amerikaku sudah melambaikan tangannya dari kejauhan. Kami berangkulan, lalu saling meninju lengan. “What’s up, buddy? You make it. You come here to see me.”

Mike berseru riang, menampakkan giginya yang putih. Mike bernama lengkap Michael Pierantozzi, seorang New Yorker sejati berdarah Italia. Rambutnya dibelah tengah, dengan sisiran yang cukup rapi seperti bodyguard bos mafia. Dia bekerja di sebuah agensi iklan tak jauh dari tempat kami berdiri.

Is it been 7 f***ing years, Dude,” katanya. “Yup! Time flies so fast, bro.” Dan ternyata Mike tak sendirian, sebab di sampingnya terulur tangan ke arahku. “Mike,” katanya, dan tangannya mantap menjabat tanganku. “Mike Dollan.” Lanjutnya, saat dilihatnya wajahku sedikit terpilin.

Baca Juga: Kafe Dangdut Diaspora Indonesia Resmi Dibuka untuk Umum di New York

So, we have Mike & Mike,” celetuk James dari belakang. “That’s funny, right man?” katanya, kali ini terarah kepadaku. Mike Pierantozzi dan Mike Dollan adalah kawan SMA, dan mereka satu sekolah dengan temanku yang lain, James Keady di New Jersey yang nanti juga akan kukunjungi.

Maka, rasa kebas karena kehilangan itu pun coba kutepiskan dengan hadirnya dua sahabat lamaku dan dua kawan baruku tersebut. “So, what we gonna eat?” Mike temanku bertanya. Dan, kami serempak diam. “Yuk makan pizza di Joe Pizza,” usul Leili beberapa saat kemudian.

Joe Pizza ada sangat banyak di New York, seperti McDonald dan Dunkin’ Donuts dan Starbuck yang bertebaran di seluruh penjuru kota, tapi yang dimaksudkan Leili adalah yang terletak di West Village, dekat tempat kami makan siang sebelumnya. Menurut cerita, di situlah tokoh Peter Parker yang digigit laba-laba dan lalu berubah jadi spiderman bekerja sebagai waiter.

Do you want something, buddy?” tanya Mike kepadaku, setelah dia mendapat cerita dari Leili tentang musibah yang menimpaku. “Yes, coffee, please.” Maka, kami pun mampir di sebuah toko untuk membeli frappucino.

Malam itu, aku menginap di apartemen Mike yang terletak persis di atas restoran Asia tempat kami makan siang. Could you believe it?

Kami berbicara ke sana ke mari, tentang Indonesia, tentang keluarga kami, tentang istri baru Mike yang sangat cantik bernama Aubrey, tentang Jim dan kegilaannya, tentang bisbol dan American football yang tak menarik bagiku (what’s so fun with those games?) tapi digilai oleh Mike dan James.

Tentang bir bintang yang biasa kami tenggak di Jalan Jaksa, tentang Tangerang, tentang Leili yang sekarang jadi lumayan langsing, Apartemen Mike yang ternyata relatif murah, tentang kameraku yang hilang.

Baca Juga: Mengintip Perjalanan Erigo, dari Indonesia ke Times Square New York

Rencana keesokan harinya karena aku mau ke kantor Fulbright dan ke KJRI, tentang kuliahku, tentang Krakatau (Mike meminjamiku buku mengenai gunung itu–masak orang Indonesia pinjam buku tentang hal di Indonesia dari orang Amerika?).

Kaos yang dulu kuberi kepada Mike dan Mike beri kepadaku, tentang makanan Amerika yang selalu banyak, meski kita memesan menu “small”.

Tentang pizza yang sangat enak, tentang James yang meski hitam tapi sipit, tentang aku yang kata Mike tambah “look at you, man, you look great“.

Mike yang tampak puas dengan kehidupan barunya, tentang foto-foto pernikahan Mike dan Audrey, tentang sofa yang nanti malam akan kutiduri.

Tentang banyak hal lain yang sepele namun mengikat kami dalam jalinan nasib yang sama malam itu.

Ditemani Stella Artois dan lima potong pizza, kami berfoto dan saling berkisah soal hidup kami.

Malam itu, tak ada Amerika tak ada Indonesia, yang ada adalah manusia. Mike sekali lagi memberiku kaos. Kali ini bertuliskan New York Rangers.

You know I don’t like football, right?” kataku. Dia hanya tersenyum. Dan sebagai balasan, aku memberinya kaos kampusku: Clark University. “I am superman.” Hmmm … Malam itu, hampir jam sebelas aku pun lalu tertidur pulas di sofa empuk di apartemen seorang teman Amerika yang sudah lebih dari 7 tahun tak kujumpai namun dengan senang hati menampung “gelandangan” sementara seperti aku. Dan, rasa sedih dan sesal karena hilangnya kamera itu pun sedikit terobati.

Penulis adalah dosen Universitas Ma Chung, dan anggota Cebastra.

BERITA KHUSUS

BERITA TERBARU

Setelah Pawai Mobil Formula E Batal Dilakukan, Ini Langkah Panitia

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Mobil Formula E tidak boleh digunakan untuk konvoi. Oleh karena itu, rencana pembalap Formula E pawai di sekitar Monumen Nasional...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily