Satu Kata: “KUIS”

  • Whatsapp
mahasiswa kata
Ilustrasi.
banner 468x60

Oleh: Dr. Andri Pitoyo, M.Pd.

Tepat pukul 08.40 saya masuk aplikasi Google Meet yang sudah disiapkan mahasiswa saya. Hari itu ada praktik pembelajaran sastra yang dilaksanakan mahasiswa peserta PLP (Pengalaman Lapangan Persekolahan). Dia membelajarkan materi menulis puisi. Apa yang ia lakukan strateginya cukup menarik.

Siswa diberikan kesempatan “melepaskan” handphone atau laptop mereka sejenak untuk melakukan pengamatan lingkungan sekitar selama 10 menit secara bebas. Selanjutnya, mereka dirangsang oleh sebuah kata “angin” oleh mahasiswa tersebut untuk membuat sebuah ungkapan puitis dengan memanfaatkan kata “angin.” Hasilnya?

Baca Juga

Tak satupun ditemukan karya mereka yang penuh kesegaran, keunikan, dan kreativitas serta kebaruan. Ungkapan yang ditulis  siswa adalah rangkaian kata yang sudah akrab, lazim, dan biasa-biasa saja. Kata angin yang diterima dari mahasiswa praktik itu dirangkai dengan “gemuruh angin”, “arah angin”, “semilir angin”, “angin sepoi-sepoi”, “dahsyat angin”, “angin lembut”, “angin nakal”, “batas angin”, “deru angin”, “angin menerjang”, “angin menggoyang”, “angin menerobos”, “kekuatan angin”.

BACA JUGA: Antara Peristiwa, Jarak dan Daya Cekam

Rangkaian tersebut jelas berbeda dengan “angin meludah”, “gigil angin”, “angin menjilat”, “pagutan angin”, “gigir angin”, “angin melubangi”,”angin gelisah”, “kelupas angin”, “kurampas tajam angin”,” dicabik-cabik angin”, “sayap angin”.Rangkaian kata ini cukup membuat kesegaran dan keunikan. Hal ini lebih disebabkan karena ketidakbiasaan, ketidaklaziman, kekhasan, dan keunikan. 

Menulis puisi setidak-tidaknya seperti melukis. Seorang pelukis akan menemukan kegagalan apabila tidak memiliki warna dalam mengekspresikan idenya. Demikian juga seorang penyair yang tidak mampu menemukan “bahasa” dapat diyakini tidak akan bisa berkarya. Jika berhasil berpuisi, kualitasnya tidak maksimal. Benar apa yang diungkapkan A. Teew bahwa semuanya “tergantung pada kata”. Inilah yang sedang dialami oleh sebagian besar siswa dalam proses kreatifnya.

Pertanyaannya; mengapa banyak siswa yang tidak mampu berkekspresi secara unik, khas, kreatif dan segar? Mengapa mereka tidak bisa “keluar” dari logika dan kelaziman sehari-hari atau jika boleh saya sebut sebagai“rutinitas”? Mengapa mereka tak mau dan mampu menemukan satu atau beberapa kemungkinan dari kemungkinan lainnya? Mengapa tak berani keluar dari rutinitas yang panjang? Mengapa tak bisa bereksplorasi sebebas mungkin, termasuk dalam beragam fakta hidup ini?

Inilah tantangan dunia kita saat ini (termasuk tantangan dalam dunia pendidikan). Kita tidak boleh terjebak dengan sikap menutup diri dengan perkembangan zaman (digitalisasi) yang saat ini benar-benar sudah terekspos tak terbendung. Dalam dunia pendidikan, guru/dosen-siswa/mahasiswa dituntut mampu merambah berbagai kemungkinan positif agar melahirkan ide-ide kreatif, unik, inovatif, dan segar.

Tanpa etos kerja seperti itu maka sama halnya siswa yang mendapat tantangan merangkai kata “angin” tadi. Terjadi repetisi atau pengulangan yang membosankan. Oleh karena itu, satu kata: KUIS (Kreatif, Unik, Inovatif, Segar) harus ditumbuhkembangkan!

Prinsip pembelajaran yang total integral itulah substansi dari KUIS. Artinya, tidak berat sebelah hanya fokus pada pengetahuan tanpa menyandingkan sikap dan keterampilan mereka. Mereka (pembelajar) harus dimekarkan bakat-bakatnya secara maksimal, juga mengasah budi pekerti, moral, cita rasa, religiositas. kedermawanan, politik, kasih sayang, bela negara, dan lain-lain. Semua ini demi pembentukan kepribadian yang selengkap mungkin tetapi seimbang, agar menjadi pribadi yang tangguh, tanggap, dan tanggon serta penuh tanggungjawab.

 Zig Zigter, penulis See You at The Top merasakan betapa dahsyatnya KUIS untuk kesuksesannya. Sempat ditolak 30 penerbit, tapi dengan semangat KUIS, Zigter mampu menembus 250.000 kopi bukunya terjual. Luar Biasa!. Demikian juga dengan konsep yang sama, Mihele Obama, J.K. Roaling, Prof. Stephen Hawking, dan Nick Vijicic menjadi pelecut semangat meraih kesuksesan.

Hal ini berarti, anak-anak harus dimotivasi dan dididik untuk realis, mengakui kehidupan yang multidimensional, tidak seragam, dan tidak berjalan dalam kekangan. Mereka diajak menghayati kebhinekaan yang saling melengkapi demi persaudaraan yang sehat. Ini pula, sistem pendidikan yang mengakui banyak jalan alternatif, kreativitas, dan jawaban beragam atas satu soal, serta menghormati ide “khas/unik/lain daripada yang lain/berbeda dari kelaziman” perlu dikembangkan dengan cermat. Dengan kalimat lain, membiasakan perpaduan pola pikir linier dengan cara pikir lateral yang saling melengkapi.

BACA JUGA: Kebenaran dalam Sastra dan Pentingnya Riset

Pembinaan jiwa eksploratif menjadi sangat penting di era revolusi industri 4.0 ini. Prinsip “anak cerdas diukur dari kemampuan menjawab dan menyelesaikan soal yang begitu banyak” harus segera ditinggalkan. Kita beranjak dan memulai dengan keyakinan bahwa sungguh cerdaslah anak-anak apabila mampu melontarkan pertanyaan cerdas yang berangkat dari pribadi masing-masing. Dan, tentunya diungkapkan dengan bahasa yang baik dan santun.

Inilah KUIS! Konsep yang menekankan pada gagasan kreatif dan etos kerja untuk memekarkan semangat bertanya dan mencari, menyelidik dan meneliti. Secara jelas Al Quran (Surat Yunus:16) mengajak umat manusia untuk berpikir dan terus berpikir,  “Katakanlah: Jikalau Allah menghendaki niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu”. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya”. Demikian pula dalam (Q.S Al Anbiya: 10), Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?”

KUIS, memang patut dicermati sebagai akronim penyemangat dan etos kerja bagi semua kalangan, tidak hanya dalam dunia pendidikan. Kita butuh seniman yang berpikir kreatif, unik, dan inovatif serta segar dalam berkarya. Demikian juga kita rindu dengan politisi yang memiliki gagasan-gagasan segar dalam ikut membangun bangsa ini, tidak hanya mengulang-ulang opini dan pernyataan-pernyataan pendahulunya.

BACA JUGA: Demi Waktu

Kita sangat butuh ekonom yang mampu memperbaiki dan meningkatkan kondisi bangsa ini, apalagi saat ini yang sedang merasakan beratnya efek pandemi covid 19. Bukan hanya mengandalkan pinjaman ke negara lain. Kita benar-benar menunggu negarawan yang berpikir kreatif dan cerdas serta segar yang mampu mengajak rakyat ini secara cerdas hidup berbangsa, bernegara Indonesia. Dan tentunya kita akan bangga pada siswa atau mahasiswa yang tidak hanya datang, duduk, diam, lulus.

Tentunya perlu di-backup oleh pendidik yang memiliki etos kerja yang tidak sekadar. Ini semua tentu bukan hal mustahil, jika kita menyadari bahwa hidup dan kerja tidak sekadar apalagi ala kadarnya. Karena ragam kehidupan ini bukan menawarkan kemungkinan tunggal. Selamat Hari Pendidikan Nasional dan Menyambut Hari Kebangkitan Nasional 2021.

*Penulis adalah dosen tetap Universitas Nusantara PGRI Kediri, dan Kepala Departemen Legalitas dan HKI DPP Cebastra.