Samudera-kan Hati, Layar-kan Masalah

  • Whatsapp
banner 468x60

CAHAYA FAJAR 55

Oleh: Akhmad Muwafik Saleh*

Setiap kita pasti memiliki persoalan dalam kehidupan. Setiap persoalan tentulah sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing kita. Berat ringannya persoalan yang dihadapi sangat tergantung pada bagaimana masing-masing kita mensikapinya. Dan hal itu semua bermula dalam pikiran kita masing-masing. Pikiran adalah wujud bahwa manusia sebagai makhluk yang berakal.

Akal yang baik adalah apabila akal tersebut dibangun di atas cara pemahaman yang benar tentang kehidupan. Akal adalah sebagai pembeda antara makhluk ciptaan Allah yang bernama manusia dengan binatang. Akal inilah yang kemudian melahirkan budi, nilai-nilai yang mendasari sikap perbuatan menjadi bermakna dan dapat diterima oleh kemanusiaan, inilah yang kita sebut dengan Akal Budi. Kata akal, berasal dari kata bahasa Arab, ‘aql. Saya mencoba mencari makna ‘aql ini pada beberapa kamus bahasa Arab, salah satunya saya temukan pada Kamus Al Mu’jamul Wasith karya Dr. Muhammad Anis, mengartikan bahwa ‘aql sama dengan qalb (hati, qolbu) begitu sebaliknya. Artinya manusia yang berakal adalah manusia yang mampu menggunakan hatinya dalam proses berfikir, memilih dan memilah sesuatu.

"
"

Baca Juga

"
"

Seorang yang cerdas dalam menghadapi masalah adalah seorang yang mampu melihat masalah dengan menggunakan suara hatinya yang fitrah. Sehingga berhasil tidaknya kita dalam menghadapi masalah sangatlah tergantung pada bagaimana kita menata hati dalam mensikapi setiap permasalahan yang dihadapi. Semakin kita menjadikan hati untuk bersedia menerima setiap persoalan dengan penuh kepasrahan dan keleluasaan maka masalah yang dihadapi akan terasa ringan dan mudah, demikian pula sebaiknya.

Dalam sebuah kisah diceritakan, hidup seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan raut mukanya ruwet. Tamu itu memang tampak seperti orang yang tidak berbahagia.

Tanpa membuang waktu orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak itu hanya mendengarkan dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamu itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini dan katakana bagaimana rasanya”, ujar Pak Tua itu.
“Pahit.., pahit sekali rasanya…”, jawab tamu itu sambil meludah kesamping. Pak Tua sedikit tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga didalam hutan didekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ketepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang-gelombang dari adukan-adukan itu yang menciptakan riak-riak air. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah”, perintah Pak Tua. Saat tamu itu selesai meneguk air itu, Pak Tua kembali bertanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam didalam air itu?”, Tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda. Dengan kebapakan Pak Tua menepuk-nepuk punggung anak muda itu. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan itu adalah layaknya segenggam garam, tidak lebih dan tidak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama. Dan memang akan tetap selalu sama.”

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu kembali memberi nasehat, “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, ‘sang orang bijak’, kembali menyimpan ‘segenggam garam’ untuk anak muda lain yang sering datang kepadanya membawa keresahan jiwa.

Demikian apabila hati kita dibuat seluas samudera maka siapapun boleh berenang di dalamnya, siapapun dapat merasakan keindahan dan kenikmatan bertamasya di samudera itu, siapapun juga bisa mengambil kemanfaatan di dalamnya. Jika hati seluas samudera maka persoalan yang dihadapi akan terasa kecil dan mudah untuk diselesaikan. Masalah terasa indah, tidak mudah mendramatisir masalah yang ada namun dilalui dengan penuh keleluasaan, keihklasan dan penerimaan sehingga hati menjadi lebih tenang dan tentram. Namun jika hati kita dibuat sempit, sesempit selokan, maka ia akan dijadikan tempat pembuangan sisa kotoran, lebih lagi jika selokan itu buntu, maka dia akan menjadi masalah bagi munculnya musibah yang lain, banjir dan menyerebak bau kotoran.

Demikianlah hati kita jika dibuat terlalu sempit maka ia tidak akan mampu menampung beban berat persoalan hidup yang dihadapi sehingga menjadikan diri kita lebih menderita atas setiap permasalahan yang ada.

Hati adalah tempat untuk memilih dan memilah. Hati sejatinya adalah tempat bersemayamnya kebijaksanaan diri kita. namun pilihan hati bisa berubah-rubah sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita hidup dan dimana kita hidup. Apabila hati hidup dilingkungan yang jelek maka dia akan cenderung pada kejelekan sebaliknya Hati yang selalu dipoles dengan cahaya tentu akan bercahaya pula. Inilah karakter hati. Dia dinamakan hati karena sifatnya yang berubah-rubah atau bolak balik. Hati dalam bahasa arab adalah qolbu.

Dalam sebuah ungkapan disebutkan sumiyal qalbu li taqollubihi. Istilah qalbu dan taqallub berasal dari akar kata yang sama. Oleh karena itu berhati-hatilah. Luaskan hati seluas samudera, berlayarlah di dalamnya dengan bahagia !

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Post Terkait

banner 468x60