Rabu, Agustus 10, 2022
BerandaOpinionRefleksi Kontroversi Tarif Mahal Candi Borobudur

Refleksi Kontroversi Tarif Mahal Candi Borobudur

Oleh: Lukman

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

BEBERAPA waktu yang lalu, media massa dihebohkan dengan wacana kenaikan tiket masuk candi Borobudur. Wacana kontroversi pun bertaburan di berbagai media sosial. Di satu pihak terdapat wacana tentang tingginya tarif naik ke bagian kawah candi. Para pengunjung domestik akan dikenakan tarif sebesar Rp750.000,00, sedangkan pengunjung mancanegara akan dikenakan tarif USD 100. Angka ini dinilai sangat fantastis, karena  semula tarif masuk dan naik ke kawah candi hanya Rp50.000 per orang.  Munculnya wacana kenaikan tarif ini pun, ada yang dengan tegas mendukung, namun ada juga yang menolaknya. Tentu masing-masing pihak memiliki argumen kuat untuk  mendukung atau pun menolaknya.

Bila ditelisik dan dibandingkan dengan harga tiket masuk situs warisan dunia yang lain, memang ada beberapa yang lebih murah, namun juga ada yang lebih mahal. Harga tiket masuk Hagia Sophia Turki sebesar 60 Lira atau Rp 150 ribu. Untuk anak-anak di bawah 8 tahun harga tiket masuknya gratis. Tarif masuk situs Colosseum Italia,  harga tiket mulai dari €40 hingga €161 (Rp 619 ribu-2,4 juta). Harga tiket masuk Petra Yordania ditawarkan berkisar antara sekitar Rp 1 juta hingga Rp 1,83 juta.

Sebelum berbicara tentang kontroversi, mari kita telisik secara singkat sejarah dibangunnya mahakarya Candi Borobudur. Candi Borobudur diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra, oleh Raja Samaratungga. Diduga pembangunan ini mulai dilakukan pada abad ke-8 dan memakan waktu sekitar puluhan hingga ratusan tahun. Ini sungguh perjuangan pembangunan yang sangat berat luar biasa. Hal ini berbeda dengan mitos pembuatan Candi Sewu dan Prambanan yang dikaitkan dengan hal mistis, sehingga dapat diselesaikan hanya satu malam.

Candi yang bercorak Budha Mahayana ini, menjadi salah satu candi Budha terbesar di dunia, yang terdiri atas 3 tingkatan. Tiga tingkatan tersebut adalah kamadhatu (kaki candi), rupadhatu (tubuh candi), dan arupadhatu (atas candi). Selain itu, Candi Borobudur juga memiliki relief Budha terlengkap dan terbanyak di dunia. Selain menceritakan kehidupan Budha, Candi Borobudur juga mengisahkan kehidupan masyarakat pada masanya atau Mataram kuno.

Candi Borobudur adalah simbol kekokohan tolenrasi umat beragama bangsa Indonesia pada masa lalu. Wangsa Syailendara yang membangun candi ini merupakan penganut Hindu Siwa, sedangkan candi Borobudur dibangun untuk tempat ibadah penganut Budha. Fakta ini menunjukkan bahwa, sejak dulu bangsa kita adalah bangsa yang moderat. Bangsa yang menghormati dan menjunjung tinggi keberagaman dan sikap toleransi.

Candi Borobudur ditemukan dan direstorasi kembali pada sekitar tahun 1811 oleh Thomas Stamford Raffles warga negara Inggris, yang menjadi gubernur di Jawa,. Awalnya candi ini tertutup oleh abu vulkanik selama ratusan tahun, sehingga banyak bangunan  candi yang rusak. Ketika pertama kali ditemukan, candi ini hanya tampak seperti bukit biasa yang ditumbuhi pohon dan rerumputan.

Pada tahun 1995 candi Borobudur pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia. Sekarang candi Borobudur sudah tercatat resmi sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Pemerintah Indonesia juga sudah meresmikan candi ini sebagai tempat peribatan umat Budha.

Alasan dinaikkannya tarif menaiki puncak kawah candi Borobudur adalah banyaknya oknum pengunjung yang susah memahami dan cenderung melanggar peraturan pengelola candi. Banyak oknum pengunjung yang dengan seenaknya menduduki stupa candi. Adanya mitos menyentuh bagian arca dapat mengabulkan permintaan dan keberuntungan mengakibatkan para pengunjung rela melanggar peraturan pengelola candi. Hal itu menyebabkan banyak struktur batuan bagian candi yang aus akibat sering bergesekkan dengan kaki-kaki pengunjung. Para pemuka agama Budha berharap agar candi Borobudur dikembalikan sesuai dengan  tujuan awal dan fungsinya. Alasan  lainnya bagi orang yang mendukung kenaikan tarif adalah untuk  melestarikan candi Borobudur sebagai warisan cagar budaya adiluhung bangsa Indonesia.

Sementara bagi masyarakat yang menolaknya, menganggap pemerintah tidak mengakomodasi keinginan masyayarakat kecil untuk dapat menikmati keindahan Candi Borobudur. Sebab tarif Rp750,000 bagi masyarakat kecil itu dianggap terlalu mahal. Bagi umat Budha yang akan beribadah di Candi Borobudur juga bertanya-tanya, apakah dikenakan tarif wisatawan atau tidak.

Wacana kontroversi ini, sebaiknya dijadikan sebagai bahan refleksi bagi masyarakat dan pemerintah. Bagi pemerintah sebaiknya tidak terburu-buru membuat wacana yang dapat menimbulkan kegaduhan. Sebelum di-publish ke media masa, sebaiknya dikaji dan disosialisasikan terlebih dahulu melalui berbagai media bersama para ahli cagar budaya, pegiat pariwisata, dan pemuka agama. Termasuk, apakah umat Budha yang akan beribadah akan dikenakan tarif wisatawan atau tidak. Dengan cara itu, masyarakat akan memperoleh pemahaman lebih awal, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan di media.

Adapun bagi para pengunjung, seharusnya memiliki empati untuk menaati dan menghormati Candi Borobudur sebagai tempat ibadah umat Budha. Selain itu, pengunjung sebaiknya juga memiliki kepedulian untuk merawat warisan leluhur bangsa Indonesia sebagai Situs Warisan Dunia yang sudah ditetapkan oleh UNESCO. Candi Borobudur adalah warisan leluhur bangsa Indonesia terindah bagi generasi masa depan yang harus dijaga bersama. Sebab di dalamnya terdapat banyak ilmu pengetahuan, teknologi, dan tata nilai adiluhung yang tersimpan di bangunan maupun reliefnya. (***)

Penulis adalah Guru SMPS Al Munawarah Kaliwedi Kabupaten Cirebon.

Disunting oleh Dr. Umi Salamah, M.Pd Anggota Perkumpulan Ilmuan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).

BERITA KHUSUS

Dok! Seluruh Fraksi di DPRD Ponorogo Setujui Perubahan SOTK Satpol PP dan RSUD

NUSADAILY.COM - PONOROGO - Usulan Raperda Perubahan kedua atas Perda No.6 Tahun 2016 tentang pembentukan dan susunan perangkat daerah untuk OPD Satpol PP yang...

BERITA TERBARU

Catat! Ini Cara Keluar dari Grup WhatsApp Tanpa Ketahuan

NUSADAILY.COM - JAKARTA - WhatsApp akhirnya meluncurkan fitur yang sudah lama dinanti pengguna. Kini pengguna WhatsApp bisa meninggalkan grup tanpa ketahuan anggota grup lainnya. Fitur...