Minggu, Juli 3, 2022

PUISIKU

Oleh: Muhammad Yusuf Siswijayanto

SEMOGA

Aku pun tidak menyangka dapat selambat ini menyadari akan berlalunya waktu
Tak tahu akankah cukup kasih yang dapat aku berikan padamu
Janganlah air itu keluar dari kelopak matamu
Boleh kau ingat namun jangan kau lupa akan kenyataan hidupmu

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Nak, aku masih ada di dekatmu
Melihatmu bekerja dan berusaha untuk menyambung nilai hidup yang sempat aku berikan padamu
Aku mendengarmu
Memanjatkan doa agar Dia memuliakanku

Aku bangga kepadamu
Engkau telah memenangkan dirimu
Menjadi pribadi yang dapat digugu dan ditiru
Nak, berdoalah, berdoalah untuk kemuliaan, kebaikan, dan kebahagiaanmu

Bekerjalah, bersabarlah, menanam nilai-nilai kebaikan pada tiap insan
Hiduplah pada hari ini, nak
Persiapkan hari esok dan lusa yang lebih baik untuk semua
Nak, berdoalah pada pemilik cahaya

Ia yang akan selalu ada untukmu menyusuri lorong-lorong waktu
Memindahkan bayang-bayang, menghangatkan ruang-ruang yang dingin membeku
Ia akan selalu melihat dan mendengarmu
Berdoalah, kabarkan kebahagiaan pada insan yang bersua denganmu
(Telaga kasih, 22 Mei 2022)

Baca Juga: Perempuan dalam Puisi

BERITA KHUSUS

Berkunjung ke Kota Batu, Sandiaga Uno Buka Workshop Minuman Kekinian Pelaku UMKM

NUSADAILY.COM-KOTA BATU – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno berkunjung ke Balai Kota Among Tani, Kota Batu (Rabu, 29/6). Sandiaga membuka acara...

BERITA TERBARU

Polisi Imbau Pemotor Tak Pakai Sandal Jepit Saat Berkendara, Kalau Pengemudi Mobil Gimana?

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Beberapa waktu lalu muncul imbauan dari polisi kepada pengendara sepeda motor agar tidak menggunakan sandal jepit saat berkendara. Alasan dilarang...

Oleh: Muhammad Yusuf Siswijayanto

SEMOGA

Aku pun tidak menyangka dapat selambat ini menyadari akan berlalunya waktu
Tak tahu akankah cukup kasih yang dapat aku berikan padamu
Janganlah air itu keluar dari kelopak matamu
Boleh kau ingat namun jangan kau lupa akan kenyataan hidupmu

Nak, aku masih ada di dekatmu
Melihatmu bekerja dan berusaha untuk menyambung nilai hidup yang sempat aku berikan padamu
Aku mendengarmu
Memanjatkan doa agar Dia memuliakanku

Aku bangga kepadamu
Engkau telah memenangkan dirimu
Menjadi pribadi yang dapat digugu dan ditiru
Nak, berdoalah, berdoalah untuk kemuliaan, kebaikan, dan kebahagiaanmu

Bekerjalah, bersabarlah, menanam nilai-nilai kebaikan pada tiap insan
Hiduplah pada hari ini, nak
Persiapkan hari esok dan lusa yang lebih baik untuk semua
Nak, berdoalah pada pemilik cahaya

Ia yang akan selalu ada untukmu menyusuri lorong-lorong waktu
Memindahkan bayang-bayang, menghangatkan ruang-ruang yang dingin membeku
Ia akan selalu melihat dan mendengarmu
Berdoalah, kabarkan kebahagiaan pada insan yang bersua denganmu
(Telaga kasih, 22 Mei 2022)

Baca Juga: Perempuan dalam Puisi

PEREMPUAN DI UJUNG RUANG

Di antara koridor, persimpangan, dan sekat sekat ruang
Cahaya-cahaya menyelinap dari pintu-pintu yang terbuka
Udara begitu ringan, dingin, dan membisukan

Ia datang begitu pagi saat itu
Membawa buku-buku, kapur, dan serpihan rindu
Selamat pagi ibu, sapa lugu dengan senyum malu

Ibu membalas, “Selamat pagi,” dan tersenyum
Senyum itu menyapu serpih-serpih haru
Ia harus terus berlaku aalau ada memori sedih yang ia bisu

Sebagaimana biasa ia ada di ujung ruang
Di balik meja dan kursi yang biasa
Bila tiada mereka, biasa hanya beberapa yang datang menyapa

Bangku-bangku pun kadang terisi kadang pun tidak
Namun demikian cahaya kecil itu selalu menyinarinya
Ruang maupun satuan terkadang menjadi soal

Tidak sedikit yang merasa kebingungan
Ia tetap berusaha
Kadangkala mata indah itu berkaca

Teringat kepergian yang duka
Perbawa itu tetap dijaga
Selalu teringat janji luhur untuk mereka

Pagi berganti siang
Ia disibukkan dengan pekerjaan
Mencari ketidaksesuaian untuk diselaraskan

Tidak terkadang ia menemukan dian yang lelah menerang.
Reduppun tetap ia jaga
Agar cahaya dapat menjadi terang
(Telaga kasih, 22 Mei 2022)

Baca Juga: Menulis Puisi di Media Sosial, Bermula dari Iseng Bermanfaat untuk Berliterasi

TERINGAT SUNYI

Akankah mereka pulang?
Menukar ilalang dengan hutan
Paling tidak menanam untuk kami yang merasa hilang
Sepi dengan belalang dan liar rerumputan

Kapan mereka reda?
Membuang bahagia dan irama
Dalam sunyi kami tidak mengerti seberapa kuasa harus mereka sesap
Sesap ditinggal dan bara datang menyapa

Tidak puaskah?
Sampai kapan dan bagaimana bisa mereka berduka?
Apa mungkin yang ditahu hanya mereka dapat membuka peluang?
Untuk segelintir yang seminat dengan mereka

Tiada bukan lapar dan dahaga menyerang yang ditinggalkan
Tangis dan sengsara mengingat kekuasaan
Bukankah mereka juga harus bahagia?
Bukan hanya mereka yang datang dan meninggalkan luka

Tinggal sesap
Sisa-sisa cerita yang seharusnya tidak harus diingat
Karena membuka luka
(Telaga kasih, 22 Mei 2022)

Baca Juga: Puisi Mbeling Joko Pinurbo Berjudul Dangdut

SATU

Makna itu tetap satu
Walau sebenarnya tidak begitu tertuju
Masih teringat di tepian pasir, debur ombak, dan karang-karang saat itu
Begitu sulit dalam diri untuk memanggil lagi deret kata untuk memecah sepi itu

Yang terdengar hanya ombak dan dedaunan yang disapa angin berlalu
Akupun hanya bisa membisu
Berpaling melihat bayang bulan di tengah laut, seakan mengadu
Bahwa sebenarnya aku tersipu

Malu akan lugu ucapku
Yang tidak serucap samapi pada gelombang yang padu
Bukankah jalan masih berliku?
Nampak kau tetap kukuh dan tidak dapat diganggu

Bimbang, aku tidak dapat menjawab tanyamu
Mungkin hanya batu-batu yang jadi saksi keraguanku
Kugenggam dengan lepas tanpa kuatku
Pasang berganti surut

Ombak mulai menenang, yakinkah aku?
Tiadakah yang lain yang dapat ada di situ?
Pertanyaan itu masih belum dapat memuaskan ragu
Sebenarnya sudah runtuh semua dinding bertahanku

Perisai dan baju besipun sudah kutanggalkan untuk satu
Pedang itu bebas kau hunuskan padaku
Tidak mengapa karena bimbangku
Mungkin geram engkau dibuat bisu
(Telaga kasih, 22 Mei 2022)

Baca Juga: Fahmi Idris Meninggal Dunia, Fahira Idris: Ayah Sangat Luar Biasa

HARAP

Tarik tambang pada seorang yang pulang dari laut lepas menuju tepian
Pasir-pasir itu terhanyut bersama riak-riak tawa anak nelayan
Bapak pulang, anak bersirak di tepian
Bila tangkapan masih membahagiakan
Bila udara begitu dingin menyerang tiada besar tangkapan

Bapak hanya bisa tersenyum beban
Bagaimana anak-anak bisa makan?
Bapak mendorong perahu kecil ke tepian
Berharap ada kabar yang menghibur atau membahagiakan
Namun sekarang yang ada hanya tangisan

Bapak terkadang tidak sampai hati untuk mengatakan
Pagi benar setelah perahu disandarkan
Ia datang ke pasar untuk jadi jasa angkut bawaan
Tak seberapa yang ia terima
Tak sepadan pula dengan air mata dan keringat yang bercapur di perjalanan

Bapak terkadang siang baru datang
Membawa beberapa bahan pangan dan sedikit untuk jajan
Kami yang tidak tahu hanya bisa berpamitan menuju ruang keilmuan
Semoga mereka mendapat esok yang lebih bahagia
Harap bapak dalam doa
(Telaga kasih, 22 Mei 2022)

Muhammad Yusuf Siswijayanto adalah mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
Tulisan ini disunting oleh Sulistyani, anggota Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI)