Kamis, Juni 30, 2022
BerandaOpinionPoemPuisi Desember Listya

Puisi Desember Listya

Oleh: Listya

Sepuluh Jemari Menari

Ketika  sepuluh  jejari  menari

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Isyaratkan   kisah  kisah  sepuluh  rahasia  sukma

Berperan  menata  pancaran  berbagi  cerita

Menyimpan  rapat  mata  hati  dalam  isyarat  makna

Berbagi  gerai  berpacu  waktu  bersama  asa

Ketika  sepuluh  jemari  menari

Saat  dua  tangan  sepuluh  jari  merapat  tanpa  isyarat

Hati  berkata  tanpa  berucap  jemari  berperan  sungguh  nikmat

Namun  ketika  satu  jari  tiada  rasa  ganjil  dalam  semangat

Merapatkan  indra  yang  terasa  lelah  dan  penat

Tiada  kesempurnaan  yang  bisa  kita  perbuat

Ketika  sepuluh  jemari  menari

Diatas  kay boot menyelusur dunia maya

Mampu  menahlukan  kekuasan dunia tanpa berkata

Menentang  keangkuhan  pengusa  dengan  sentuhan  karya

Hancurkan  politik  dalam  bersilah  lidah  dengan  kriya

Sepuluh  jemari menari

Hatarkan sang maestro melanglang dunia

Hantarkan sang guru tumbuhkan tunas bangsa

Hantarkan hartawan meraup pundi pubdi ke jayaan

hantarkan para satrawan berkarya dalam ilusi

Sepuluh  jemari menari

Takkan  lelah  berperan  dalam  diam

Mata  berliang  dalam  suka dan duka

Tanpa  kata  mengusap menata hati penuh kekuatan

Menghapus  buliraan air mata karna kuasa Mu

Menciptakan  rotasi  hati dan perasan dalam  jiwa

Sepuluh jemari menari

mengisahahkan  peran  yang terdamabar dalam diri

menjaga  semua  penjara  penjara  tubuh yang meronta

Membaca  pikiran  yang kadang tak terkendali oleh langkah

Mentramkan Ahlak  dan budi bahsa yang santu

Menuntun langkah menuju  benteng kesempurnaan

Beriring dengan jemari jemari menyimak kalam Ilahi

Dengan  telunjuk  jemati  mengeja  makna  kebesaran yang hakiki

Karna  jemari  akan  jadi  saksi  perjalan  hidup  insyani

LISTYA dipenghujung tahun berganti  ‘21

Sepasang Bola Mata

Sepasang bola mata

menerawang jauh dalam lamunan

berpendar rasa beribah menatap tak berpaling

menatap pijar pijar kehidupan yang semakinterhimpit

bertebaran aip dan bencana yang tak berujing

jengah menggah di keabadian yang semu

Sepasang bola mata

memandang  dibalik cela cela tabir ilahi yang nanar

menisyaratkan kenangan pilu dari runtuhnya keangkuhan

menatap harap dari reruntuhan bongkahan terjangan

Alam yang murkan dengan angkuh tak pandang insane

sepasang bola mata

Menatap memandang beribu  ribu mata  umat tak berkedip

dahsyatnya kebesaran  ilahi menghantam  sisakan atap atap

penghuni  yang menetap pasrah  menanti  mukjijat

dengan santun berucap  berharap  mana yang bermartabat

menjunjung kemanusian dalam berisyarat  ulurkan kebajikan

Sepasang bola mata

Bongkahan Yang Tersisa

Ada bongkahan rasa yang tertingal

Diantara puing puing yang lebur jadi arang

Berkecamuk rasa gundah nan bersemayam beribah

Berbalut duka berpeluh nestapa

Ada pijaran api yang bergulir beradu dengan hidup

Menerjang pelataran rumput ilalang panjang mendera

Merona nan menghisap hijaunya daun yang merangas

Ada kepeluh yang terkurung dalam hantaman senja yang tak bersahabat

Dalam kidung ratapan menjerit

Kemana badan berlari saat terkurung hembusan pasir berdebu

Ada ratapan yang panjang antara kasih dan nadi

Tali keangkuhan putus nan pupus bersama terjangan kehendak Mu

Dalam hitungan detik yang mendera

Menyapu sisian kehidupan yang tak beralas nan tak berdos

Ada petunjuk Mu yang tak mampu terbaca karena angkara umat

Yang tak lagi iklas berbagi

Namun tetap ingin memberi

Yang pupus bersuara namun lantang berkiprah dalam diam

Ada petaka yang melitas terjang Hambamu yang setia

Kebekuan hati yang terdapak duka

Alpa  Dalam  Bersyukur

Terkadang apakah alpa dalam sukur ciptaan Mu

Ataukah ini teguran maha dahsyat

Ada teguran  kecil miris menghantam

Porak poranda tak berkalang  merjang  menerjang

Harta dan nyawa jadi imbalan  kekuasan tak  memilih

Tak …. . No memilih,memandang ,memisahkan semua keinginan , bila saatnya telah tiba tak mampu berpaling  dalam diam  bertaubat

Ada kekuatan yang bertata

Ketika hamba hamba yang peduli kasih berbagi rasa dan asa

Memikul sedikit beban yang mendera dalam asuhan

Iklas hati bawa laksan

Rela menolong tanpa imbalan

Ada cobaan yang tak bisa kita ukur

Ada harapan yang tumbuh dihati  yang  bersyukur

bersama doa -doa  tulus  menyibak rahasia hidup

Bila kita menitih  jalan setapak  kebenaran  yang sempurna

Rela berbagi demi negeri  bangun .

Ringankan penderitaan anak  bangsa untuk tetap tabah jalani

*Penulis adalah guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Pakisaji, Kabupaten Malang, dan anggota Cebastra.

BERITA KHUSUS

Kabar Gembira! Internet Gratis Masuk RW, Wali Kota Pasuruan: Ada 68 Titik

NUSADAILY.COM – KOTA PASURUAN – Warga Kota Pasuruan kini semakin dimanjakan dengan layanan internet gratis. Tidak hanya sebatas pada ruang publik, seperti taman-taman kota,...

BERITA TERBARU

Transfer Lewandowski ke Barcelona Belum Juga Deal, karena Kendala Ini

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Barcelona belum juga mampu mewujudkan transfer Robert Lewandowski. Barcelona meminta Lewandowski bersabar karena mereka masih terus mengusahakan kepindahannya. Barcelona menjadikan Lewandowski...