Minggu, Juli 3, 2022
BerandaOpinionPoemBunga Kertas

Bunga Kertas

Puisi-puisi Listy

Merah kuning ungu merona indah
menyejukkan mata.
Memandang tak berkedip
sepanjang trotoar.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Tampak tumbuh liar
di antara keringan fatamorgana.
Berpencar warna berderet serasi.

Jadikan bukit-bukit menawan melingkar tertata indah berseri
karna Sang Pencipta.

Baca Juga: Pemerintah Izinkan Mudik, Omzet Penjual Bunga Tabur di Magetan Meningkat

Liar semburat tak ternilai.
Namun pesonanya mengalahkan bunga bunga liar yang bersemi.
Bunga berkelas menawan dalam bukit.

Tanpa warna namun bermakna dalam bukit-bukit kenangan manis.
Bunga kertas masih sangup ungkapkan kisah
hati yang bertatah dalam
kasih sayang.

Baca Juga: NASA Temukan Bunga di Mars

Ilalang

Tak begitu tinggi.
Tumbuh liar di antara semak-semak belukar.
Kadang penghalang pandangan,
namun tempat hingap belalang.

Bertandang tak berdendang bergoyang bak selendanang.
Tumbuh berkembang di antara padang yang gersang.
Ilalang bergegas menari menjulang.

Baca Juga: Diam-diam Punya Tempat Wisata Taman Bunga, Dewi Perssik: Ini Titipan Allah

Kadang hembusan angin.
Teriknya matahari.
Tebasan liar merusak.
Ilalang menari bersama
hembusan semilir angin.

Bila senja menjelang,
hasrat menghijau jadi siluet pekat berjajar.
Saat berbenah ilalang tak akan akan pernah hilang .
Hanya waktu penentu takdir perjalanan untuk melalang pada saatnya hari akhir menjelang.

Berlaga dalam diam,
melantukan gemerising.
Gesekan dedaunan
mendendangkan lagu
menuju kemenangan .

Baca Juga: Sepi Pesta, Pengrajin Karangan Bunga Dibanjiri Pesanan Kabar Duka

Saat senja menjelang
siluet ilalang cantik tergambar terang
hamba Tuhan.

Perdu

Tumbuh liar tak bernilai.
Kadang berbunga hanya semalam.
Warna-warni unik menawan.
Kandang hanya pelengkap tanaman hiasan.

Pesona perdu tiada tara.
Anggun bergerombol di tanah belantara.
Menambah indahnya suasana,
namun terkadang membuat suasana tampak kumuh,
bila tak tertata indah.

Baca Juga: Puncak HSN 2021 IPNU IPPNU Dukun Tabur Bunga dan Kajian Kitab Alala

Tunas bangsa bak perdu
Menawan dan liar
Menanti tangan-tangan
perkasa meramu dalam kilahan pesona taman.

Perdu yang tak berati
menjadi ikon diri,
mampu berdiri tidak mati
walau tumbuh tanpa hati.

Perdu akan selalu hadir
dalam sudut-sudut kalbu
menata rindu kehidupan
liar yang tak berati,
jadi harapan yang berseri
bersama peri peri sejati berijasah tinggi.

Sulistyaningsih, M.Pd. adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pakisaji Malang, dan anggota Cebastra.

BERITA KHUSUS

Berkunjung ke Kota Batu, Sandiaga Uno Buka Workshop Minuman Kekinian Pelaku UMKM

NUSADAILY.COM-KOTA BATU – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno berkunjung ke Balai Kota Among Tani, Kota Batu (Rabu, 29/6). Sandiaga membuka acara...

BERITA TERBARU

NasDem Desak Bupati Kep Seribu Beri Penjelasan soal Helipad ‘Siluman’ di Pulau Panjang

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi NasDem, Ahmad Lukman Jupiter, meminta Bupati Kepulauan seribu, memberikan penjelasan terkait temuan Ketua DPRD DKI...

Puisi-puisi Listy

Merah kuning ungu merona indah
menyejukkan mata.
Memandang tak berkedip
sepanjang trotoar.

Tampak tumbuh liar
di antara keringan fatamorgana.
Berpencar warna berderet serasi.

Jadikan bukit-bukit menawan melingkar tertata indah berseri
karna Sang Pencipta.

Baca Juga: Pemerintah Izinkan Mudik, Omzet Penjual Bunga Tabur di Magetan Meningkat

Liar semburat tak ternilai.
Namun pesonanya mengalahkan bunga bunga liar yang bersemi.
Bunga berkelas menawan dalam bukit.

Tanpa warna namun bermakna dalam bukit-bukit kenangan manis.
Bunga kertas masih sangup ungkapkan kisah
hati yang bertatah dalam
kasih sayang.

Baca Juga: NASA Temukan Bunga di Mars

Ilalang

Tak begitu tinggi.
Tumbuh liar di antara semak-semak belukar.
Kadang penghalang pandangan,
namun tempat hingap belalang.

Bertandang tak berdendang bergoyang bak selendanang.
Tumbuh berkembang di antara padang yang gersang.
Ilalang bergegas menari menjulang.

Baca Juga: Diam-diam Punya Tempat Wisata Taman Bunga, Dewi Perssik: Ini Titipan Allah

Kadang hembusan angin.
Teriknya matahari.
Tebasan liar merusak.
Ilalang menari bersama
hembusan semilir angin.

Bila senja menjelang,
hasrat menghijau jadi siluet pekat berjajar.
Saat berbenah ilalang tak akan akan pernah hilang .
Hanya waktu penentu takdir perjalanan untuk melalang pada saatnya hari akhir menjelang.

Berlaga dalam diam,
melantukan gemerising.
Gesekan dedaunan
mendendangkan lagu
menuju kemenangan .

Baca Juga: Sepi Pesta, Pengrajin Karangan Bunga Dibanjiri Pesanan Kabar Duka

Saat senja menjelang
siluet ilalang cantik tergambar terang
hamba Tuhan.

Perdu

Tumbuh liar tak bernilai.
Kadang berbunga hanya semalam.
Warna-warni unik menawan.
Kandang hanya pelengkap tanaman hiasan.

Pesona perdu tiada tara.
Anggun bergerombol di tanah belantara.
Menambah indahnya suasana,
namun terkadang membuat suasana tampak kumuh,
bila tak tertata indah.

Baca Juga: Puncak HSN 2021 IPNU IPPNU Dukun Tabur Bunga dan Kajian Kitab Alala

Tunas bangsa bak perdu
Menawan dan liar
Menanti tangan-tangan
perkasa meramu dalam kilahan pesona taman.

Perdu yang tak berati
menjadi ikon diri,
mampu berdiri tidak mati
walau tumbuh tanpa hati.

Perdu akan selalu hadir
dalam sudut-sudut kalbu
menata rindu kehidupan
liar yang tak berati,
jadi harapan yang berseri
bersama peri peri sejati berijasah tinggi.

Sulistyaningsih, M.Pd. adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pakisaji Malang, dan anggota Cebastra.