Jumat, Mei 27, 2022
BerandaOpinionPanjhek Madura, Nasibmu Kini

Panjhek Madura, Nasibmu Kini

Oleh: Agus Salimullah

Seni tradisional Madura, panjhek atau dengan sebutan lain ludruk atau ketoprak Madura sempat berjaya mulai tahun 1960-an hingga tahun 1980-an. Sebagai salah satu seni olah peran, jenis sastra lisan ini dulu selalu tampil di acara-acara pernikahan, selamatan desa, atau di even-even penting lainnya. Bahkan, tidak jarang kelompok-kelompok seni ini diminta tampil di luar Madura, terutama di tanah jawa, lebih khusus lagi di daerah tapal kuda.   

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Kesenian panjhek ini biasa dipentaskan di area terbuka, seperti di lapangan desa atau area tegalan yang cukup luas. Waktu pementasan pada malam hari. Menggunakan panggung yang dirancang khusus dengan ukuran sekitar 12 x 10 meter, dilengkapi dengan ‘kowadhih’ atau background panggung yang sangat artistik dengan tata pencahayaan yang menarik. Di bagian depan juga dilengkapi kain penutup panggung, di mana layar penutup ini nantinya akan dinaikkan manakala pementasan sudah dimulai.

Di belakang panggung, sudah disiapkan ruang ganti pakaian pemain, penata busana, dan bagian make up. Sementara, di depan panggung yang besar itu sudah bersiap kelompok penabuh gamelan bersama sang sinden atau yang mendapat tugas bagian ngejhung yakni nyanyian khas Madura.

BACA JUGA: Memahami Estetika Manusia Jawa

Selain melakonkan adegan-adegan kehidupan sehari-hari (persoalan keluarga, suami-istri, perkawinan, dsb.), ludruk Madura juga melakonkan episode kerajaan, perang kemerdekan serta cerita pahlawan dalam legenda-legenda Madura dan Jawa. Kisah pertunjukannya juga diiringi dengan menyanyi dan menari diiringi alunan musik tradisional.

Yang menarik, para pemeran panjhek  ini semuanya laki-laki. Namun, saat pementasan nanti ada yang berperan sebagai perempuan. Hal ini tak lepas saat gangsar (pencetus ludruk pertama kali tahun 1890, seniman asal Pandaan, Pasuruan) melihat seorang lelaki yang menangis. Lelaki ini berpakaian perempuan. Gangsar menganggap hal ini lucu dan menarik. Akhirnya ia bertanya apa alasan lelaki itu memakai pakaian perempuan. Menurut lelaki itu, baju perempuan yang ia kenakan dapat mengelabui anaknya dan membuat anaknya merasa dia digendong oleh ibunya.

Hal unik lainnya yakni dilengkapinya pementasan ludruk ini dengan kèjhung, yakni salah satu tradisi lisan Madura yang memiliki struktur bunyi dan musikalisasi yang khas, mengandung falsafal hidup, sehingga berpotensi sebagai media guna melestarikan nilai-nilai luhur di tengah masyarakat. Kejhung ini bisa dilakukan oleh laki-laki maupun wanita secara bergantian.

Kendati budaya asing saat ini banyak menginfiltrasi, ludruk Madura masih banyak peminatnya. Hal itu terbukti ketika masyarakat mengadakan pesta pernikahan, kesenian ludruk masih menjadi pilihan awal untuk memeriahkan acara tersebut. Termasuk di acara selamatan desa. Dengan penuh semangat mereka menikmati adegan demi adegan hingga larut malam.

BACA JUGA: Dari Cerita dan Budaya Panji, Andai Jawa Timur Provinsi Panji

Sayangnya, sejak tahun 1990-an kejayaan ludruk Madura mulai memudar. Hanya ada dua kelompok seni ludruk yang menjadi pilihan utama masyarakat Madura saat ini, yakni Rukun Karya (Ruka) dan Rukun Famili (Rufa) yang berbasis di kecamatan Kalianget dan kecamatan Saronggi, kabupaten Sumenep. Padahal, pada dekade 1980-an, seni peran ini sangat membumi di tanah Madura, termasuk di tempat kelahiran penulis di desa Kaduara Timur dan desa Rombasan, kecamatan Pragaan, kabupaten Sumenep.

Di desa Kaduara Timur dan desa Rombasan pada tahun 1980-an masih ada dua kelompok seni ludruk, salah satunya bernama Gelora Massa. Pada masa itu, dua kelompok seni ini sering tampil di acara pernikahan dengan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi untuk menontonnya hingga larut malam. Maklum, kala itu hiburan masyarakat masih terbatas. Biasanya selain ludruk ada juga hiburan layar tancap.

Lambat laun, memasuki tahun 1990-an, satu demi satu kelompok seni ini rontok. Buntutnya, seni orkes (sebut saja grup dangdut) mulai menggantikannya di acara-acara pernikahan. Generasi yang lahir di era 1990-an pun akhirnya tidak lagi mengenal keseniannya sendiri. Ditambah dengan hadirnya handphone di era 2000-an yang semakin menjauhkan seni ini karena sudah tergantikan dengan hiburan-hiburan yang semakin beraneka ragam.

Lantas, apa yang menjadi penyebab pudarnya seni peran ini di Madura? Menurut Sukardji, sesepuh desa Kaduara Timur, Pragaan, Sumenep yang juga mantan pemain panjhek, hal yang mendasar yakni tidak adanya pengkaderan atau regenerasi pemain, saat peralihan dari tahun 1980-an ke 1990-an. Lemahnya pengkaderan ini disebabkan banyak faktor.

Pertama, para pemain senior banyak yang merantau ke tanah Jawa karena mereka bekerja sebagai palenan atau berdagang dengan cara kredit di Jawa.

Kedua, tidak adanya perhatian dari instansi terkait di tingkat kabupaten untuk mendukung pelestarian budaya ini di Madura. Ketiga, rendahnya kesadaran dari masyarakat sendiri untuk melestarikan kesenian ini.

Memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya jika para pemain senior sulit mentransfer ilmu olah perannya kepada generasi berikutnya. Pasalnya, tidak sedikit para golongan muda yang turut bekerja di tanah Jawa ataupun yang melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi yang ada di Jawa. Lebih-lebih pada dekade 2000-an, kesadaran orang tua menyekolahkan putra putrinya ke jenjang perkuliahan sangat besar.   

Selain beberapa faktor di atas, ada hal mendasar yang menurut penulis menjadi penyebab enggannya masyarakat terjun aktif di kesenian ini. Lebih-lebih dengan kondisi geografis Madura yang gersang dan tandus, mau tidak mau memang memaksa para lelaki di Madura mencari pekerjaan di luar pulau (baca: merantau).

Jika mereka terjun di kesenian ini, apalagi tidak ada jaminan finansial yang bisa menjamin kelangsungan hidup mereka, tentu ini akan menjadi batu sandungan bagi mereka sebagai kepala rumah tangga. Lebih-lebih keterlibatan pemerintah daerah untuk menampilkan seni ini di tingkat kota sangat minim bahkan bisa dikatakan tidak ada selama ini.  

Namun, terlepas dari kondisi tersebut, peluang untuk menghidupkan kembali seni tradisional ini dengan segala corak perubahannya nanti masih sangat besar. Saat ini di desa Rombasan, Pragaan, Sumenep, masih ada sosok penerus yang bisa dirangsang kembali untuk membangkitkan lagi kesenian ini. Peralatan panggung maupun gamelan pun juga masih ada.

Hanya saja yang menjadi catatan, tentu perlu adanya kepedulian semua pihak, baik swasta maupun dari dinas terkait di kabupaten Sumenep maupun kerjasama antar pemerintah kabupaten (Pemkab) di wilayah Madura untuk turun tangan, memberikan dorongan, menjadwalkan pementasan secara berkala di ajang-ajang yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah, baik Pemkab Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

*Penulis adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMAN 2 Batu yang berasal dari kabupaten Sumenep. Saat ini tengah menempuh studi di S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Islam Malang.

BERITA KHUSUS

BERITA TERBARU

Setelah Pawai Mobil Formula E Batal Dilakukan, Ini Langkah Panitia

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Mobil Formula E tidak boleh digunakan untuk konvoi. Oleh karena itu, rencana pembalap Formula E pawai di sekitar Monumen Nasional...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily