Senin, September 27, 2021
BerandaOpinionOmaaaak…

Omaaaak…

- Advertisment -spot_img

Oleh: Dr. Surya Masniari Hutagalung, M.Pd.

Sudah 10 tahun Lamtiar tidak pulang kampung untuk melihat ibunya. Setelah menikah baru satu kali dia bertandang ke rumah orang tuanya, tepat tahun baru 2012. Pertemuan dengan ibunya terakhir adalah ketika tujuh bulanan kehamilannya.

Setelah itu dia hanya berhubungan dengan whatsapp, sekali-kali video call. Entah kenapa seminggu terakhir ini dia sangat merindukan ibunya. Dia menghubungi kakaknya untuk menanyakan kabar ibunya, karena HP ibunya tidak aktif. Sehat. Begitu saja jawaban kakaknya.

Dua hari kemudian dia juga mencoba menghubungi ibunya, namun tidak aktif. Ketika dia menelpon kakaknya, jawaban tetap sama, sehat. Kakaknya memang  satu kampung dengan ibunya.

Namun tinggal bersama mertuanya setelah menikah. Sementara abangnya merantau jauh di Surabaya, juga setelah menikah. Tidak mungkin dia bertanya pada abangnya yang tinggalnya lebih jauh dari dia.

Gelisah hatinya, apalagi ketika kakaknya mengatakan kenapa tidak pulang melihat Omak? Alasan Lamtiar karena PPKM, langsung dipatahkan kakaknya, “Selama ini PPKM?” Kakaknya menumpukkan uneg-uneg di kepala Lamtiar dengan banyaknya pernyataan yang menyudutkan dia. Karena itulah, dia tidak mau lagi menelpon kakaknya. Semua omelan kakaknya benar.

Dia tidak pernah pulang. Ibunya belum pernah ketemu langsung dengan anak Lamtiar, cucunya. Alasannya dulu tidak bisa pulang karena anaknya masih kecil, repot di jalan. Sekarang anaknya sudah 9 tahun.

Tidak ada alasan lain lagi. Dia tidak bekerja. Hanya sebagai ibu rumah tangga. “Kalau kau rindu, pulanglah, lihat Omak.” Itulah kalimat yang selalu  diucapkan kakaknya jika dia menelpon.

Lamtiar membiarkan kerinduannya hilang, hingga beberapa minggu kemudian kakaknya menelpon mengatakan ibu mereka isolasi mandiri karena terpapar virus corona. Menangis lah Lamtiar, membayangkan yang tidak-tidak. Hancur hatinya. Dia ingin pulang, tapi suaminya pasti tidak memberi izin.

Lalu dia menelpon abangnya, ternyata abangnya juga mengatakan, “Pulanglah lihat Omak, paling tidak kau bisa mengirim makanan, letakkan di pintu.” Semakin bingunglah Lamtiar. Dia takut meminta izin ke suaminya, karena suaminya tidak pernah suka dengan ibunya. Dia bahkan pernah kena tampar suaminya karena meminta izin pulang untuk bertahun baru.

Baca Juga: Ayo Mewariskan

Suaminya masih marah, karena sempat Lamtiar tidak diizinkan menikah dengannya. Alasan ibu Lamtiar saat itu karena dia tidak punya pekerjaan tetap. Ibu Lamtiar langsung mengatakannya pada suami Lamtiar ketika itu.

Bukan aku tak mengizinkan si Lamtiar menikah denganmu, tapi usahakan dulu punya pekerjaan tetap. Bagaimana kalian bisa beli makan, beli susu dan pampers anak kalian, kalau tidak punya pekerjaan.

Itulah kalimat ibu Lamtiar yang menumbuhkan kebencian di hati suami Lamtiar. Ibunya pun kaget ketika suami Lamtiar menjawab, dengan kalimat, “Kenapa nantulang menuntut seperti itu, si Lamtiar pun tak adanya pekerjaannya?” Karena jawaban itu, Ibu Lamtiar mulai diam dan pasrah ketika akhirnya Lamtiar kawin lari dengan suaminya itu.

Dalam perjalanan perkawinannya, Lamtiar lebih banyak diam dan patuh pada suaminya. Bukan tidak sayang pada ibunya, tapi dia takut pada suaminya yang cerewet dan ringan tangan. Berdoa dan menghibur diri, hanya itulah yang bisa dilakukan Lamtiar.

Sudah seminggu berlalu, kesehatan ibunya semakin pulih, dan sudah dinyatakan negatif. Segera Lamtiar mencoba menelpon ibunya, dan aktif. Menangislah Lamtiar mendengar suara ibunya yang lembut.

Baca Juga: Makna yang Terlupakan

“Omaaak… maafkan aku Omak, gak bisa aku pulang.” Itulah kalimat Lamtiar di awal. Ibunya hanya mengatakan tidak apa-apa. “Tetaplah kuat dan berdoa, karena itu pilihan hidupmu, inang” Selalu itulah kalimat terakhir ibunya yang membuat Lamtiar selalu menangis setelah selesai bertelepon.

Kali ini sehabis bertelepon, dia benar-benar berdoa dan menangis sekuat-kuatnya. Terngiang-ngiang di telinganya kalimat ibunya yang mengatakan, “Setelah kau dengar kabar Omak kena covid bagaimana perasaanmu?

Tidak ada niatmu membayar adatmu? Supaya tenang aku berangkat, kalaupun dipanggil Tuhan. Masih diberi Tuhan kesempatan Lamtiar, baik-baik bicara dengan suamimu. Harus bisa kau bicara dari hatimu. Karena dia adalah suamimu, tempat curahan hatimu.”

Lamtiar merenung dan mengingat semua kebaikan ibunya. Ketika tahu Lamtiar dilarikan Saut pacarnya, suaminya sekarang, ibunya berusaha menghubungi Lamtiar dan mengatakan akan dikawinkan secara adat dan disetujui ibunya.

Namun Saut pacarnya tidak mau dan mengatakan itu akal-akalan omakmu, supaya kau pulang. Entah kenapalah si Lamtiar lebih percaya pada si Saut. Dia menolak ajakan ibunya. Itulah penyesalannya. Ibunya selalu berusaha dan mencoba menasehati dan mengingatkan.

Baca Juga: Andung

“Lamtiar masih ada kesempatan kau berpikir, renungkan jika kau menikah nanti sama dia dan tetap diperlakukan tidak baik, bagaimana nasibmu. Kalau kau belum rusak, pulanglah. Ingat masa depanmu. Jangan biarkan dirimu menikah untuk selalu menangis.”

Begitulah kisah Lamtiar yang lemah. Entah karena cinta benar-benar cinta, atau karena takut pada suaminya. Kisah yang sangat jarang terjadi, bagi pendapat sebagian orang.

Tapi kenyataanya kisah  demikian sangat banyak terjadi, pada sebagian orang pula.  Banyak anak mengabaikan nasehat ibunya, karena gaya berpikir yang tidak karuan. Karena menganggap ibunya berpikir kolot. Karena menganggap semua orang tidak bisa menebak masa depan.

Percaya atau tidak, seorang ibu lebih mampu meramal dengan hatinya, bagaimana masa depan anaknya. Tidak ada ibu yang menginginkan masa depan anaknya suram. Apakah salah jika seorang ibu menasehati anaknya, agar bijak dalam memilih pasangan?

Baca Juga: Dongeng COVID-19

Apakah salah jika seorang ibu berkeinginan punya menantu yang mapan, paling tidak punya pekerjaan tetap? Apakah salah jika seorang ibu bercita-cita punya menantu yang baik dan menghargai dia? Apakah salah jika seorang ibu menginginkan di masa tuanya, hidup tentram dan damai dengan anak cucunya?

Apakah salah jika di masa tuanya seorang ibu ingin hidup tenang dan bahagia, setelah melahirkan dan membesarkan anaknya?

Anakku, jangan membuat ibumu menangis. Jangan melakukan hal yang tidak disukai ibumu. Izin dan rida ibumu menjadi pintu rezeki buatmu. Jangan abaikan ibumu, karena di hati dan jiwanya hanya ada kehidupanmu.

Bicaralah Lamtiar. Katakan pada suamimu, kau ingin melihat ibumu.  Pulanglah sebelum waktu menghancurkan impian ibumu.

Penulis adalah Dosen Universitas Negeri Medan, dan Ketua II DPP Cebastra.

AnyFlip LightBox Embed Demo

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

berita khusus

The Legion Nutrition dan Amarta Hills Berkolaborasi Gelar Body Competition

NUSADAILY.COM - KOTA BATU - Produsen suplemen olahraga, The Legion Nutrition tak berhenti memberikan dukungannya di bidang olahraga. Kali ini mereka ambil bagian sebagai...