Jumat, Mei 27, 2022
BerandaOpinionNaskah Drama Indonesia

Naskah Drama Indonesia

Oleh: Darmanto, M.Pd.

Naskah drama mempunyai perbedaan prinsip dibandingkan genre sastra lainnya (prosa dan puisi) pada pemakaian petunjuk lakuan dan dialog. Selain itu, penggambaran watak tokoh dapat dianalisis oleh tindakan dan motivasi tokoh ketika berdialog dengan tokoh lain.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Awalnya memang teater Indonesia sudah marak. Berbagai teater tradisi tampil tanpa naskah tetapi jelas mempunyai cerita, plot, karakter, tema, misi yang mau mereka sampaikan, persis seperti layaknya yang ditemukan dalam sebuah naskah drama.

Ketoprak Siswabudaya dari Tulungagung menyusun dalam acara penuangan, semua awak panggung yang terdiri aktor–aktris, penata panggung, penata layar, penata karawitan dan sebagainya duduk bersila melingkar untuk mendengar cerita, plot, karakter, tema, missi yang mau mereka sampaikan dari seorang sutradara.

Naskah drama Indonesia yang pertama, ditulis oleh Rustam Effendi pada 1926. Namanya Bebasari. Tetapi tidak berarti bahwa teater Indonesia waktu itu baru lahir, karena naskah hanya salah satu bagian dari pertunjukan.

Baca Juga: Serunya Momen Indonesian Drama Series Awards 2021, Bersama Aktor dan Aktris Terbaik

Saat itu, naskah adalah tulisan yang berisi ide-ide dari pengarang untuk dikembangkan secara visual oleh sutradara. Jadi dia merupakan embrio, ide, gagasan dan wawasan abstrak yang memerlukan sentuhan kreativitas untuk mawujud dalam tingkah, laku, gerak, bunyi serta situasi. 

Naskah drama ini dikatagorikan sebagai closet drama yang merupakan sebuah komposisi sastra yang ditulis dalam bentuk drama, tetapi dimaksudkan—atau cocok—hanya untuk dibaca di ‘closet’ (yaitu ruang belajar pribadi) daripada untuk pertunjukan panggung.

Dalam perkembangan selanjutnya, naskah dapat merupakan langkah yang sejajar dengan peristiwa penciptaan pertunjukan.

Bahkan kadangkala naskah adalah inventarisasi, dokumentasi, rekonstruksi atau verifikasi dan koreksi dari apa yang sudah terjadi sesudah peristiwa pertunjukan. Sangat tergantung dari proses penciptaannya dan siapa penciptanya.

Baca Juga: Daftar Film Indonesia yang Laris di Bioskop Sepanjang Tahun 2021

Arifin C. Noer dan Putu Wijaya misalnya, sering menulis naskah bersamaan dengan latihan. Ini sering disebut naskah drama sebagai rencana pertunjukan.

Adanya naskah tertulis hanyalah saat ketika teater mulai mengelompok pada sastra. Karya-karya teater tidak lagi hanya merupakan seni pertunjukan, tetapi diawali atau terekam dalam apa yang disebut naskah. Pada awalnya — seperti yang terjadi pada Bebasari — naskah ditulis sebagai rancangan (blue print) sebuah pementasan. 

Waktu itu, naskah adalah tulisan yang berisi ide-ide dari pengarang untuk dikembangkan secara visual oleh sutradara. Jadi dia merupakan embrio, ide, gagasan dan wawasan abstrak yang memerlukan sentuhan kreativitas untuk mawujud dalam tingkah, laku, gerak, bunyi serta situasi. 

Baca Juga: Serunya Moment Indonesian Drama Series Awards 2021 Bersama Aktor dan Aktris Terbaik

Tetapi pada perkembangan berikutnya, posisi naskah berkembang. Naskah dapat merupakan langkah yang sejalan dengan peristiwa penciptaan pertunjukan.

Bahkan kadangkala naskah adalah inventarisasi, dokumentasi, rekonstruksi atau verifikasi dan koreksi dari apa yang sudah terjadi sesudah peristiwa pertunjukan. Sangat tergantung dari proses penciptaannya dan siapa penciptanya. Arifin C. Noer misalnya, sering menulis naskah bersamaan dengan latihan.

Naskah drama sebagai karya sastra, sedikit kalau tidak bisa dikatakan sangat berbeda dengan naskah drama sebagai rencana pertunjukan.

Naskah drama sebagai karya sastra, dapat dibaca oleh pembaca sastra tanpa masalah dengan keindahan sastra yang tak menyusut. Ia lengkap memberikan keterangan, diskripsi yang membuat pembaca mudah mengikuti alurnya sebagai sebuah cerita.

Kalau pun tidak terlalu banyak diskripsi, tetapi karakater sebagai motor-motor yang membangun konflik, terpapar dan berkembang. Banyak yang memamerkan dialog-dialog puitis yang mempesona dengan makna-maknanya yang mendalam. Sehingga menjadi pameran dan pertunjukan makna yang bisa bukan hanya dipentaskan tetapi dibaca ulang oleh pembaca. 

Baca Juga: Komunitas Salihara Persembahkan Drama Audio Bertajuk “Karna”

Membaca naskah drama yang karya sastra sama dengan kenikmatan membaca cerpen, novel atau puisi. Dalam format sastra, penulis lakon berusaha membimbing imajinasi pembaca dengan berbagai keterangan apa yang terjadi dengan selengkap mungkin.

Tidak hanya untuk mengumpan ide-ide sutradara yang akan memvisualkan naskah tersebut, tetapi juga pembaca awam. Naskah drama semacam itu, tidak hanya skrip buat para pemain yang berkepentingan untuk memainkan karakater-karakter dalam naskah.

Tetapi juga umum, penonton yang akan menonton pertunjukan tersebut — mungkin sekali sebagian besar mereka tidak akan pernah sempat menonton naskah itu sebagai pertunjukan. Teks mencoba menonton karya tersebut lewat tulisan dan sebagai sastra. 

Bahkan karena kepentingannya menghadirkan keindahan bahasa/sastra, banyak sekali naskah-naskah drama tersebut mengutamakan bahasa dan mengabaikan salah satu fungsinya sebagai timbunan kemungkinan pengalihan laku ke atas pentas, sehingga ia hanya menjadi semakin kental sebagai karya sastra.

Tetapi sebaliknya, banyak juga naskah drama yang benar-benar merupakan bahan baku seorang sutradara atau awak pentas, sehingga sebagai karya sastra ia susah dibaca. Tidak ada bimbingan atau petunjuk emosional di dalamnya. Yang ada hanya dialog, sedikit masalah-masalah teknis. Naskah lakon mejadi dingin dan penuh misteri. Ia memerlukan pisau bedah dan analisa serta interptretasi.

Baca Juga: Jubir Luhut ke Haris dan Fatia: Nggak Usah Drama dan Cari Perhatian Internasional Lah!

Naskah lakon yang “dingin” seperti di atas itu, tak mungkin atau sulit langsung dinikmati bagi mereka yang tidak terbiasa. Karena naskahnya sendiri tidak mengandung keterangan bahkan menuntut pengembayangan imajinasi pembacanya.

Bahkan banyak sutradara-sutradara yang terpaksa bekerja dengan seorang dramaturg (ahli sejarah teater) untuk dapat menemukan interpretasi yang setidak-tidaknya tidak melempas dari benang merah naskah.

Naskah lakon memang makin lama makin kering, langsung, tak banyak bunga-bunga. Namun bagi mereka yang yang memiliki pengalaman pentas, dengan mudah akan keluar kandungan adegan-adegannya, situasi, suasana, irama, tenaga dan pesonanya sebagai sebuah pertunjukan yang bila diragakan baru terurai dengan melimpah. 

Naskah-naskah drama yang jenis kedua yang kering itu, oleh upaya penulisnya sendiri dicoba untuk diterbitkan. Antara lain brsamaan dengan saat pertunjuannya, sebagai tambahan informasi dan dokumentasi untuk penonton. Naskah-naskah tersebut praktis hanya menjadi konsumsi sutradara dan pemainpemain kalau mereka berminat untuk mementaskan.

Baca Juga: “Hometown Cha-Cha-Cha”, Drama Baru Kim Seon Ho dan Shin Min A

Ditambah dengan dosen dan mahasiswa fakultas sastra yang sudah mulai banyak memilih meneliti naskah drama untuk mendapat gelar sarjana atau bahkan doktornya. Beberapa naskah Arifin C. Noer, (Tengul) dan naskah Putu Wijaya (Gerr, Dor, Dag-Dig-Dug) sudah mulai dijamah oleh penerbit dan bahkan setelah sepuluh tahun sempat mengalami ulang cetak 2 sampai 3 kali. 

Lakon tertulis yang menjadi sastra dan lakon tertulis yang tetap merupakan bahan pementasan, tidak untuk dibandingkan sebagai acuan kualitas, tetapi sebagai hanya bentuk/model.

Di samping kedua model tersebut, masih ada model ketiga, sebagaimana yang dilakukan oleh almarhum Motinggo Boesye, misalnya. Dia menuliskan kembali naskah dramanya seperti Perempuan Itu Bernama Barabah, Malam Pengantin Di Bukit Kera, Nyonya dan Nyonya, sebagai novel. Putu Wijaya menuliskan naskah drama Bila Malam Bertambah Malam, supaya bisa diterbitkan.

Tetapi bagaimana pun juga bentuknya, dunia mengakui naskah drama sebagai bagian dari sastra. Beberapa kali penulis drama memenangkan hadiah nobel untuk kesusatraan, antara lain Samuel Beckett.

Tetapi kedudukan naskah juga sudah mulai bukan lagi merupakan salah satu persayaratan mutlak pementasan. Bengkel Teater WS Rendra lewat penulis Syubah Asa mementaskan puisi Berzanji tanpa lebih dahulu menuliskan sebagai bentuk naskah drama.

Kalau Arifin C Noer menuliskan naskahnya sambil melakukan latihan, Teater Mandiri membuat pementasan yang sama sekali tidak berdasarkan naskah pada tahun 1975 dan 1976 (Lho, Entah, Nol). Seorang aktor Teater Kecil, membawakan apologi pembelaan Plato terhadap Socrates sebagai monolog.

Banyak teater-teater muda yang tidak mendasarkan pementasannya dari sebuah naskah, mereka mengambil puisi, cerpen, bahkan juga artikel atau esei untuk menjadi plot atau “cerita” dalam pementasannya. Walhasil bukan saja naskah drama tidak lagi selalu harus dikelompokkan sebagai karya sastra, tetapi naskah drama sendiri bukan satusatunya sumber sebuah pementasan. 

Penulis adalah aktor, sutradara, dan pengurus DPP Cebastra.

BERITA KHUSUS

BERITA TERBARU

Asyik Main Air Banjir, Bocah di Gresik Digigit Ular

NUSADAILY.COM – GRESIK  -  Ini peringatan bagi para orang tua agar menjaga anaknya saat bermain air. Karena ada kejadian saat sedang asyik bermain air...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily