Jumat, Mei 27, 2022
BerandaOpinionMenakar Estetika Sastra Hijau: Mengapa Menyebut Kunang-kunang?

Menakar Estetika Sastra Hijau: Mengapa Menyebut Kunang-kunang?

Oleh: Dr. Gatot Sarmidi, M.Pd.

Ungkapan lama masih mudah diingat kalau karya sastra itu juga cerminan alam. Dalam arti penciptaan karya sastra, alam sebagai sumber keindahan atau sumber estetis. Alam dan lingkungan menjadi sumber inspirasi pengarang dan penyair untuk menghasilkan karya sastra.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Dari segi keilmuan, lingkungan alam dikaji dalam ekologi. Sastra memiliki tautan dengan alam. Pengarang dalam penciptaan karya bisa sangat mungkin melakukan studi pendahuluan dengan mengamati. Bahkan mengaji hubungan organisme dengan lingkungan untuk menghadirkan karya kreatifnya ke permukaan.

Sehingga sangat mungkin apabila salah satu bidang ilmu yang dapat terkait dengan karya sastra adalah ekologi.

Sejak lama manusia tertaut bahkan mengalami kebergantungan hidup pada alam. Alam mungkin menjadi hal yang istimewa bagi manusia.

Sebagai sumber keindahan, manusia tak jarang terpesona pada alam, misalnya pada pemandangannya, keasriannya, kebutuhannya, kebermanfaatannya, juga kecintaannya.

Dalam berbudaya, manusia senantiasa menjaga keharmonisannya kepada alam. Misalnya, orang Jawa menyadari betul keberadaan jagad gedhe (makrokosmos) dan jagad cilik (mikrokosmos).

Dari kesadaran terhadap alam itu, sebagian pengarang dan penyair menuangkannya dengan media seni berbahasa. Sebagaimana perbincangan tentang sastra hijau dan ekokritik.

Perhatian terhadap bahan alam sebagai sumber estetika sastra memunculkan istilah sastra hijau, ekologi sastra, atau botani sastra. Apa itu dalam konteks kritik sastra, kajian sastra secara akademis.

Baca Jua: Dunia Sastra Berduka! Penyair Iran Meninggal usai Dua Kali Positif Covid-19 di Penjara

Beberapa  catatan saja, pengarang Indonesia menghadirkan lingkungan alam menjadi tema karya mereka. Setidaknya, lingkungan alam dijadikan pokok materi dan persoalan yang diangkat dalam karyanya. Dalam berbagai genre, sastra hijau dibicarakan.

Ekologi sastra ditemukan dalam sastra Indonesia, di antaranya  dalam wujud novel, cerita pendek, kumpulan puisi, juga legenda. Keberpihakan pengarang dalam merepresentasikan kepeduliannya terhadap kelestarian lingkungan sebagai hal menarik diulas dalam ekokritik sastra atau kajian ekologi sastra.

Hal yang akhirnya lazim dikembangkan dan diketahui dalam konteks pengkajian terhadap karya sastra. Yang memang memiliki fokus penggarapan pada alam, lingkungan, dan permasalahannya.

Seperti, banyak pengarang dan penyair memanfaatkan alam dan lingkungan. Serta budaya terlihat dan terepresentasi dalam karya estetis dengan menimba bahan dari mitologi, konsep yang dinarasikan, gagasan dan opini. Serta citra dalam mengaitkan lingkungan alam dan sastra.

Baca Juga: Sastra dan Masyarakat Awam

Sastra hijau mucul sebagai sebuah reaksi terhadap kerusakan lingkungan, pembangunan yang kurang mempedulikan persoalan lingkungan, termasuk di dalamnya becana alam dan penanganannya.

Sastra hijau hadir sebagai tema dengan gagasan utama melestarikan bumi dan isinya, manusia dan lingkunganya, termasuk permasalahan hutan tropis.

Beberapa di antaranya mengangkat persoalan tanah, flora, dan fauna direpresentasikan dalam novel Kunang-kunang Hitam karya Gek Ary Suharsany (2020), novel Lemah Tanjung karya Ratna Indraswari Ibrahim (2003), kumpulan puisi Ikan Terbang Tak Berkawan karya Warih Wiratsana(2003), kumpulan cerpen Negeri Kunang-kunang karya Bambang J. Prasetya (2001), antologi puisi lingkungan hidup, majalah pertanian Trubus, Cerita dari Hutan Bakau (1994) Achmad Suhadak dan kawan-kawan, Laluba karya Nukila Amal (2005), antologi puisi  Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa.

Ekokritik hadir tidak saja memperhatikan alam sebagai tautan estetis teks sastra. Kritik sastra mencoba membedah bagaimana perhatian penulis dalam menautkan refleksi semangat zaman dan kearifan lokalnya. Menjaga keharmonisan alam dan budaya juga lingkungannya sebagai bahan acuan dalam menulis karya sastra.

Baca Juga: Yogyakarta Gelar Kompetisi Bahasa dan Sastra Jawa

Secara multidisipliner untuk mengkaji contoh-contoh karya yang bersinggungan dengan flora-fauna dan pelestariaannya bisa bersanding dengan persoalan sosiologi sastra, di antara memuat topik-topik ekologi sastra dalam perbincangan budaya, gender, sosial, politik, ekonomi dan stilistika sekalipun.

Dengan dasar itu, ekokritik memiliki tujuan akan menggali kemungkinan transformasi karya yang menghasilkan deskripsi ilmiah dan kritis terhadap muatan sastra dengan lingkungan dan upaya pembelaan terhadap alam dan pelestariannya.

Dari pembahasan terhadap ekokritik dan estetika, Dwi S.Wibowo memberikan ulasan akan hadirnya novel Kunang-kunang Hitam yang dihasilkan oleh Geg Ary Suharsani.

Dalam novel yang ditulis oleh perempuan muda ini menghadirkan tokoh perempuan dalam novelnya dalam menjaga lingkungan hidup dalam konteks pertahanan alam tanah Tamplingan di Bali. Wibowo menyoroti novel tersebut dari sisi transformasi wisata Bali.

Baca Juga: Weliansyah Jadi Asisten Pelatih Persela Lamongan Dampingi Jafri Sastra

Pernyataannya diawali dengan melihat perkembangan industri pariwisata di Bali yang  seringkali menimbulkan dampak berupa konflik horisontal yang melibatkan pihak investor dengan masyarakat lokal, misalnya saja pada perkara alih fungsi lahan milik warga setempat menjadi area destinasi wisata. 

Tanah bagi orang Bali kini tak lagi semata tumpah darah, tak lagi cuma tempat untuk menandur benih atau mendirikan gubuk, juga masa depan dan harta karun. Namun tanah jua yang kini menjadi dilema paling ruwet, tak ada persoalan sekusut masalah tanah.

Tak ada bencana paling dahsyat dibanding persoalan tanah. Juga untuk berbagai alasan lainnya, ada orang-orang Bali yang dengan bujukan apapun, tetap enggan menjual tanahnya. Mempertahankan berbagai tanaman tetap tumbuh di sana, meski sekedar cukup untuk makan sehari-hari.

Atau bahkan semata membiarkan sepucuk pohon tua tetap berdiri kokoh dengan keyakinan pada pesan suci warisan leluhur. Kemajuan industri pariwisata dengan gelimang uang memang kerap dibayangkan sebagai gemerlap cahaya yang memukau setiap orang, meskipun ada sisi gelapnya yang kerap tak terlihat. Itulah yang mungkin dimetaforakan oleh Geg Ary Suharsani menjadi tajuk novel perdananya, Kunang-kunang Hitam.

Menyebut kunang-kunang terdapat juga dalam sebuah novel, hanya cerita anak yang menghadirkan tokoh Yanti dalam novel Kunang-kunang Terbang Siang ditulis oleh Bung Smas.

Menyebut kunang-kunang masih ingat cerpen lama yang sangat terkenal ditulis oleh Umar Kayam dalam kumpulan cerpen Kunang-kunang di Manhattan semula terbit 1972 (Pustaka Jaya) dan berikutnya terbit kembali 2003 (Grafity Press) cerita pendek yang bercerita tentang masyarakat yang hidup di kota besar di Manhattan.

Berikutnya telah disebutkan Negeri Kunang-kunang sebuah cerpen dari kumpulan cerpen Bambang J. Prasetya sebuah cerita yang mengenang masa kecil tokoh Sintia, gadis yang suka bermain kupu-kupu dan kunang-kunang. Sintia memilih ingin menjadi kunang-kunang dan dia tidak ingin menjadi kupu-kupu. Kunang-kunang itu bersih dan tinggal di air bening. Tidak seperti kupu-kupu karena kupu-kupu itu jorok, apalagi kupu-kupu malam.

Begitu juga, kunang-kunang dalam novel Lemah Tanjung. Dalam novel ini disebutkan kunang-kunang yang hilang karena tempatnya telah rusak. Lingkungan yang tadinya tempat berkumpulnya sumber air yang bersih dan bening hilang karena tempat yang asri sebagai kawasan hutan kota itu rusak, pohon-pohonnya ditebang dan tanahnya dipadatkan dijadikan perumahan.

Sebughadirah novel yang menghadirkan tokoh ibu dalam mempertahankan lahan hijau di kota Malang bernama Lemah Tanjung. Dalam novel itu diungkapkan adanya kunang-kunang membuat bahagia. Ia bahagia karena bisa melihat kunang-kunang yang berterbangan pada suatu malam.

Beralih Cerita dari Hutan Bakau diambil dari salah satu puisi yang dilombakan oleh Majalah Trubus (1994) diterbitkan oleh Pustaka Sastra. Puisi  Cerita dari Hutan Bakau ditulis oleh Iwan Nurdaya Jafar dari Bandar Lampung karena puisi itu mewakili tema lingkungan hidup.

Tema yang diangkat dalam puisi yang bercerita kesia-siaan upacara pelestarian hutan karena kalah dan dihadang oleh perusakan hutan. Begitu juga sebuah kajian ekokritik terlihat pada kajian yang  difokuskan pada dua judul puisi yang terdapat dalam antologi puisi Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa. Puisi yang dikaji berjudul Hodo dan Dialog Keluarga Petani.

Kedua puisi tersebut menggambarkan adanya usaha yang dilakukan oleh manusia ketika alam atau lingkungan yang menjadi tempat mereka hidup berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan bagi kelangsungan hidup mereka.

Manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang saling bergantung dan memengaruhi. Ketika alam menunjukkan gejala yang tidak seimbang dalam kehidupan ekosistemnya, maka manusia yang hidup berdampingan dengannya. Secara alamiah akan melakukan tindakan-tindakan penyeimbangan.

Di samping sastra hijau menjadi kajian ekokritik dalam perkembangan kesusastraan Indonesia, terdapat juga novel konservasi alam.

Contohnya, novel yang ditulis oleh Jalu Kencana berjudul Kekal. Sebuah novel yang bercertita tentang eksploitasi alam yang dilakukan oleh perusahaan tambang panas bumi di Kawasan Cagar Alam Kamojang. Novel yang bermuatan kritik terhadap kerusakan alam termasuk kerusakan kekayaan hayati baik flora maupun fauna.

Termasuk bagian dari persoalan ekokritik pada novel Rahim Karang yang ditulis oleh Tison Sahabuddin Bungin, sebuah novel tentang konservasi karang, pengebom, dan cinta.

Masih tentang konservasi alam, dapat juga dibaca novel yang ditulis oleh Uten Sutendi, judulnya Baiat Cinta di Tanah Badui,  novel yang inti ceritanya membandingkan kedatangan investor antara sebelum dan sesudah terhadap tanah Baduy.

Sebelum mereka datang tanah Baduy asri, sungai jernih, hutan hijau, tetapi setelah mereka datang pohon-pohon ditebang, bukit ditambang hingga rusak, sungai tercercemar hingga kotor.

Tengok juga novel yang berkaitan dengan masalah lingkungan alam yang ditulis Pandu Hamzah judulnya Sebuah Wilayah yang Tidak Ada di Google Earth.

Juga novel yang dikaji dengan ekofeminisme dari karya Riawani Elyta dan Shabrina WS bercerita tentang peran tokoh peremuan dalam upaya konservasi alam di taman nasional Tesso Nillo yang direpresentasikan dalam novel Rahasia Pelangi.

Tak kalah menarik novel Kolase (Konspirasi Alam Semesta) karya Fiersa Besari. Masih ada beberapa jika ingin dicermati. Sastra hijau rasanya cukup penting didiskusikan terutama dalam konteks pendidikan lingkungan hidup melalui karya sastra.

Penulis adalah dosen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, dan anggota Cebastra

BERITA KHUSUS

BERITA TERBARU

Asyik Main Air Banjir, Bocah di Gresik Digigit Ular

NUSADAILY.COM – GRESIK  -  Ini peringatan bagi para orang tua agar menjaga anaknya saat bermain air. Karena ada kejadian saat sedang asyik bermain air...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily