Memoriam “Sekolah Kartini” di Kota Malang

  • Whatsapp
sekolah kartini
Sekolah Kartini di Malang. (Foto: Troppen Museum)
banner 468x60

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Kiprah RA Kartini di Ranah Persekolahan

Salah satu lingkungan (baca “kampung”) pada Kelurahan Bareng Kota Malang bernama ” Bareng Kartini”. Unsur nama “Kartini” pada kampung itu memiliki latar historis, yang berkenaan dengan Sejarah Persekolahan di Malang, bahkan Sejarah Pendidikan di Indonesia se Masa Hindia-Belanda, yakni kehadiran sekolah-sekolah dengan nama “Kartini School’.

Inisiator Sekolah Kartini, yakni sekolah khusus untuk perempuan, adalah Conrad van Deventer (1857-1915). Beliau adalah seorang ahli hukum Belanda, yang sekaligus adalah tokoh Politik Etis (1901) yang memperjuangkan bidang (1) edukasi, (2) emigrasi dan (2) irigasi.

Untuk bidang edukasi, Van Deventer membentuk “Yayasan van Deventer” di beberapa tempat, yang membidani lahirnya sekolah-sekolah bagi siswa perempuan berdasarkan keinginan Raden Ajeng (R A) Kartini, dengan nama “Sekolah Kartini”,  yang merupakan sekolah swasta. 

Pada awalnya berdiri Sekolah Kartini di Semarang tahun 1912-1913, delapan tahun setelah wafatnya R.A  Kartini (1904) dalam usia yang relatif muda (25 tahun). Menyusul kemudian dibuka Sekolah Kartini di kota- kota besar lainnya, termasuk juga di Batavia pada tahun 1914 dan kemudian tahun 1928. Salah seorang yang berjasa dalam upaya ini adalah Ny. Abdurachman (istri dari wedana “Mester Cornelis” atau Jatinegara), yang turut menginisiasi berdirinya Sekolah Kartini. Staf pengelola dan para pengajar terdiri dari perempuan Indonesia.

Ada tiga Sekolah Kartini di Batavia, yaitu Sekolah Kartini I di Jl. Kartini (Kartiniweg), Sekolah Kartini II di Pasar Nangka, dan Sekolah Kartini III di Jatinegara. Pada masa Pendudukan Jepang (1942- 1945), gedung sekolah ini dialihfungsikan sebagai markas tentara Dai Nipon. 

Pada tahun 1899 Van Deventer menulis di majalah De Gids (Panduan) suatu artikel dengan judul yang menggugah perasaan “Een Eereschuld (Hutang kehormatan)”. Kata “eereschuld” secara substasial berarti: hutang, yang demi kehormatan maka harus dibayar, walau tidak dapat di tuntut di muka hakim. Tulisannya itu dimaksudkan untuk menjelaskan kepada publik di Belanda mengenai bagaimana Belanda menjadi negara yang makmur dan aman merupakan berkah dari kolonialisasi yang datang dari daerah jajahan di Hindia Belanda.

Namun ironisnya, kala itu Hindia- Belanda justru berada dalam kondisi miskin dan terbelakang. Karenanya sepantasnya apabila sebagian dari kekayaan itu dikembalikan kepada masyarakat Hindia-Belanda, antara lain untuk bidang edukasi. Gagasan Van Deventer yang tertuang dalam Penerbitan surat- surat Kartini dengan judul “Door duisternis tot licht (Habis Gelap Terbitlah Terang” Buku yang terbit tahun 1911 itu meraih sukses besar pada publik di Belanda, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Indonesia, Melayu, Sunda, dan Jawa. Suatu buku yang mengintrodusir cita-cita mulia dari R.A. Kartini, yakni untuk memajukan kaum perempuan menurut konsepsi “emansipasi”, antara lain lewat jalur edukasi. 

Penerbitan surat-surat Kartini itu sebagai usaha untuk mencari dana guna mendirikan sekolah- sekolah perempuan di Jawa. Upaya ini buahkan keberhasilan, sehingga akhir tahun 1911 dibentuk “Komite Sementara”, yang diketuai oleh Baronesse van Hogendorps Jacob. Anggotanya antara lain pasangan JH Abendanon.

Komite menunjuk van Deventer yang kala itu menjadi anggota de Eerste Kamer (Majelis Tinggi) Parlemen Belanda untuk pergi ke Hindia Belanda untuk menyampaikan maksud dan tujuan Komite. Antara lain dengan bertamu kepada Gubernur Jenderal Idenburg dan melakukan perjalanan keliling Jawa untuk bertemu berbagai kalangan bicarakan tujuannya. Beberapa bulan kemudian dikirim hasil perjalanannya ke Komite di Den Haag bahwa kota Semarang tepat untuk mendirikan sekolah siang bagi gadis-gadis Jawa sesuai cita-cita Kartini. Akhir Agustus 1912 terbit persetujuan dari Komite.

Pada tahun yang sama, van Deventer mengajukan permohonan kepada GubJend untuk mendapatkan subsidi dari pemerintah guna sekolah yang akan didirikannya. Pada 26 Februari 1913, Komite Sementara adakan pertemuan dan menghasilkan apa yang disebut “Vereeniging Kartinifonds (Perkumpulan Dana Kartini) “, yang bertugas untuk menerima dan menyalurkan bantuan dari Perkumpulan Dana Kartini dan membuat laporan dari sekolah-sekolah yang menerima dana tersebut. 

Memang, kala itu Sekolah Kartini belum berhasil didirikan di semua daerah di Pulau Jawa. Namun demikian, di sejumlah daerah berdiri sekolah yang secara khusus untuk kaum wanita itu. Selain di Semarang (1912-1913) dan Batavia (1914 dan 1928) sekolah ini kedapatan berdiri di Bogor (1914),  Malang (1915), Madiun(1914), Cirebon (1916) Pekalongan (1916), Yogyakarta, Surabaya, dan daerah lainnya.

Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini. Malang adalah salah satu daerah yang memiliki Sekolah Kartini di sebelah barat pusat kota, yaitu pada Desa Bareng (antara Jl. Kelud dan Jl. Bareng  Kartini). Sekolah Kartini di Kota Malang didirikan tahun 1915, berupa bangunan sekolah yang permanen (gedong) dalam ukuran besar untuk zamannya, lantaran adanya sekolah itu, maka lingkungan sekitar sekolah di Desa Bareng, lantas mendapat sebutan “Bareng Kartini”.

Pada foto dokumenter tahun 1930-an terlihat bahwa siswa-siswi yang belajar di Sekolah Kartini ini adalah para pelajar Wanita. Fenomena serupa terjadi di Sekolah-sekolah Kartini di daerah lain. 

B. Mengapa Ada “Kampung Bareng Kartini” di Kota Malang?

Sekolah Kartini di Malang bukan hanya menangani para siswa di sekolahannya sendiri, namun turut pula berkontribusi untuk para siswa pada sekolah- sekolah lain. Menurut penuturan informan sepuh warga Malang yang pernah mengenyam hidup di era Hindia-Belanda, pada sekitar tahun 1920-1930, pelajar HIS dan ELS se Jawa bagian Timur apabila sakit atau kurang gizi dikirim ke Kartini School di Malang selama 1 bulan.

Adapun programnya adalah penyehatan jasmani dan rohani dengan cara meminum vitamin, suplemen minyak ikan, hingga rekreasi. Mereka diajak naik trem dari Alun- alun Kothak ke Pemandian Wendit, atau naik bus ke Batu. Jika benar demikian, Sekolah Kartini Malang ketika itu mempunyai posisi peran yang terbilang penting. 

Ada bentuk turunan lain dari Sekolah Kartini yang merupakan lembaga pendidikan khusus bagi kaum wanita. Pada Orde Lama dan Orde Baru terdapat sekolah negeri untuk jenjang SLTP dan SLTA, yang siswanya khusus perempuan, yaitu SKP (Sekolah Ketrampilan Putri) untuk jenjang SLTP dan SKKA (Sekolah Kependidikan Ketrampilan Atas) untuk Jenjang SLTA.

Sayang sekali sekolah yang mendapat inspirasi dari gagasan mulia Kartini dan Sartika itu pada akhirnya dihapus untuk digantikan dengan SMP untuk SKP dan SMK untuk SKKA.

Dengan telah tiadanya Sekolah-sekolah Kartini maupun SKP dan SKKA, maka memori generasi masa kini terhadap jasa R.A. Kartini dalam bidang edukasi bagi kaum wanita turut menguap, karena ilustrasi implenratufnya yang khas, yakni sekolah khusus bagi kaum wanita telah tiada lagi. 

C. Layak untuk Di-“CB (Cagar Budaya)”-kan

Sekolah Kartini di Malang berubah nama menjadi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 di Jl. Kelud pada Kampung Bareng Kartini  Bangunan bersejarah yang menghadap ke arah selatan itu kini telah mendapat pengubahan bentuk, meskipun pada sejumlah bagian jejak kekunoannya masih tersisa. Paling tidak, denah dan bentuk atap memanjang masih terkesankan.

Sebagai bangunan heritage dan peran pentingnya dalam Sejarah Pendidikan di Malang Raya cukup alasan untuk ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya. Meskipun kini sebagai nama sekolah nama “Sekolah Kartini” di Bareng telah tidak digunakan lagi, tapi unsur nama “Kartini” tetaplah terabadikan pada nama kampung, yaitu “Bareng Kartini”. Demikian pula, pada areal yang telah di”ruislaag” menjadi Mall MOG konon terdapat gedung yang dinamai “Gedung Kartini”.

Begitulah, meski R. A  Kartini tak pernah berkunjung langsung di Malang, namun ide dasar (cita-cita) “ibu kita” Kartini pernah mengejowantah di Malangraya dalam bentuk “Sekolah Kartini”. Nama ” Kartini” terabadikan sebagai nama kampung, nama jalan, maupun nama gedung. 

Demikianlah tulisan pendek ini dibuat sebagai suatu ekspresi “in memoriam R A  Kartini” di Kota Malang.  Semoga kedepan Pemkot Malang berkenan untuk membuat “monumen R A. Kartini” di eks “Sekolah Kartini” di Bareng Kartini. Nuwun. (***)