Marah yang Beretika: Bagaimana Bentuk Bahasanya? (Bagian ke-2)

  • Whatsapp
Ilustrasi marah
Ilustrasi marah
banner 468x60

Oleh: Dr. Muh. Fajar, M.Pd.

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Yang mengeksplorasi bentuk bahasa marah yang beretika ditinjau dari sudut kajian bahasa kesopanan. Serta kata ganti orang atau sapaan yang dipakai oleh orang yang marah tersebut.

Sebetulnya, saya ingin menulis bentuk bahasanya marah yang tidak beretika seperti yang sering kita lihat video viralnya di musim lebaran ini. Baik di media mainstraim atau di medsos tentang orang yang marah-marah dengan mengungkapkan kata-kata kasar. Ketika kendaraannya terkena penyekatan dan diminta putar balik oleh petugas jaga.

Baca Juga: Marah yang Beretika: Bagaimana Bentuk Bahasanya?

Tetapi karena saya sudah berjanji di tulisan sebelumnya bahwa saya akan melanjutkan kajian bahasa marah beretika di tulisan selanjutnya. Maka dengan sangat mohon maaf. Saya tidak membahasa marah yang tidak beretika tersebut di kesempatan ini, tetapi semoga akan saya tulis di edisi selanjutnya.

Sedangkan tulisan bagian ini adalah sesuai janji saya pada tulisan saya sebelumnya. Untuk melanjutkan tulisan yang berhubungan dengan marah beretika dilihat dari bentuk bahasanya yang pada kesempatan ini akan dibahas kajian bentuk bahasanya dari sisi leksikalisasi.

Menurut beberapa ahli, leksikalisasi atau pemilihan kata sangat penting bagi seseorang yang ingin mengungkapkan pendapatnya melalui tuturan dalam peristiwa komunkasi.

Sehingga ketika sesorang dalam situasi apapun, harusnya bisa mengontrol pilihan kata apa yang tepat diungkapkan untuk lawan bicaranya.

Dengan menggunakan pilihan kata yang tepat, maka lawan bicara atau orang yang mendengarkan diharapkan dapat menangkap maksud dari tuturan tersebut.

Dengan demikian, seseorang yang sedang marah harusnya bisa mengontrol emosinya. Sehingga bisa mengontrol juga pemilihan kata yang sesuai sebelum diutarakan kepada orang yang dimarahi sehingga hubungan yang baik tetap terjaga.

Pemilihan kata akan menunjukkan bagaimana sebetulnya karakter orang yang sedang marah yang tentunya merepresentasikan pribandinya sendiri atau kelompoknya.

Menurut Van Dijk, leksikalisasi dapat diatur dengan memberikan atribusi tertentu kepada orang-orang baik kelompok dalam maupun luar.

Dengan demikian, leksikalisasi dapat membentuk identitas seseorang dan memolarisasi partidipan yang terlibat dalam peristiwa komunikasi tersebut. Jika orang yang marah memiliki motif untuk memberikan atribusi ‘positif‘ kepada lawan, dia akan memilih lexis ‘positif‘ dan sebaliknya.

Ada tiga konteks menurut Van Djik untuk mengungkap makna leksikalisasi, yaitu konteks pribadi, konteks sosial dan konteks sosiokultural Konteks pribadi bisa berupa suasana hati, pendapat dan perspektif.

Baca Juga: Idul Fitri, Memaafkan Koruptor?

Konteks sosial dapat berupa formalitas, keakraban, keanggotaan kelompok dan hubungan dominasi. Formalitas menunjukkan adanya jarak antar peserta dalam acara komunikasi tersebut. Keakraban menunjukkan kedekatan dan keakraban di antara lawan bicara. Konteks sosial budaya dapat berupa varian bahasa, norma dan nilai.

Leksikalisasi juga bisa membantu kita untuk menemukan bentuk bahasa dalam relasinya dengan marah yang beretika.

Baca Juga: Hilir Mudik hingga Wacana dan Tindak Direktif

Hal ini dikarenakan orang yang marah tidak ingin membawa atribusi baik betupajabatan, kekayaan atau bahkan ilmu tinggi yang dimilikinya ketika dia sedang marah. Sehingga orang yang sedang marah tadi berkeinginan menghargai keberadaan orang yang dimarahinya.

Dengan demikian, orang yang sedang marah tersebut ingin menunjukkan kedekatannya dengan orang yang dimarahi. Keadaan ini menyiratkan perasaan keterlibatan orang yang dimarahinya yang tinggi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa orang yang sedang marah tersebut berkeinginan memposisikan dirinya sejajar dengan orang yang dimarahinya yang juga bisa ditunjukkan oleh jarak yang rendah.

Baca Juga: Pada “Idulfitri” dan “Halalbihalal”, Mereka Sering Tidak Bersatu

Penggunaan leksikalisasi postif adalah kata kunci bentuk bahasa marah yang beretika oleh orang yang sedang marah. Pemilihan kata positif sangat banyak tersedia yang bisa digunakan oleh orang yang sedang marah yang disesuaikan dengan konteks nya apa ketika ada dalam situasi marah.

Pemilihan kata, “bagus, baik, cantik, ganteng” dan masih banyak lagi leksikalisasi positif yang bisa digunakan ketika sedang marah.

Leksikalisai tersebut secara bersamaan disusun dengan kata sifat yang menunjukkan kesopanan positif langsung dapat menunjukkan bahwa orang yang sedang marah tersebutbisa sedikit menggeser identitasnya atau atributif yang dimilikinya sesuai atribusi di atas.

Baca Juga: Hormatilah Orang Lain untuk Menjadi Orang yang Terhormat

Dari beberapa pilihan leksikalissai positif itu mungkin bisa diterapkan dalam ungkapan marah seperti di ujaran ini, “itu rencana bagus, Pak…tetapi belum sesuai dengan situasi sekarang…Mohon Bapak bisa memamahi..terima kasih”.

Dengan demikian orang yang sedang marah tersebut bisa mengkonstruksikan identitas pribadinya dengan orang yang dimarahi walaupun dalam siatusi yang tidak menyenangkan. Apalagi orang yang marah tersebut bisa melakukannya dengan memperhatikan kepentingan orang yang sedang dimarahi.

Ada nilai yang diperoleh ketika orang yang sedang marah menggunakan leksikalisai positif, yaitu saat orang yang marah mempresentasikan wajah yang positif tentang maksud apa yang ingin disampaikan kepada orang yang dimarahi dengan tujuan bisa diterima tetap sebagai sahabat dan tidak menjadi perpecahan.

Yang paling penting ketika kita sedang marah yang beretika adalah kita harus tetep bisa menjaga emosi dan mengontrol pilihan kata positif dan tepat kepada seseorang yang dimarahi.

Ada beberapa cara yang bisa dicoba agar kondisi yang tidak menyenangkan ini tidak memicu pecahnya konflik terbuka, antara lain: kita harus bisa membicarakan ketidaksepahaman dengan tenang, terbuka, dan jujur kepada orang yang dimarahi.

*Penulis adalah dosen bahasa Inggris STKIP PGRI Jombang, dan pengurus DPP Cebastra.