Literary Quotient (LQ) atau Kecerdasan Sastrawi

  • Whatsapp
kecerdasan sastra
banner 468x60

Oleh: Dono Sunardi*

Sekitar delapan tahun yang lalu, saya menjadi anggota sebuah tim peneliti yang mendapatkan dana hibah Dikti untuk mengembangkan pembelajaran sastra lokal. Tujuan penelitian itu adalah untuk membangun karakter positif siswa sekolah dasar. Pekerjaan kami adalah mengembangkan sebuah rancangan pembelajaran pengembangan karakter positif yang didasarkan pada karya sastra lokal.

Muaranya berupa model pembelajaran karakter yang meliputi kurikulum, materi, dan pendekatan pembelajaran. Keikutsertaan saya dalam penelitian ini terutama karena latar belakang akademik saya sebagai sarjana dan peneliti sastra. Sementara itu, ketua penelitinya adalah seorang pakar di bidang kurikulum dan pendidikan.

Asumsi di balik penelitian ini adalah bahwa sastra, termasuk sastra lokal, dianggap mengandung ajaran moral, religius, edukatif, dan mungkin juga etis, yang bisa diterapkan dalam pengajaran karakter yang baik pada siswa.

Beberapa penelitian, baik di dalam negeri (Sauri dan Rahmat, 2007; Sauri dan Nurdin, 2008; Mulyani, 2010; dan Sulistyarini, 2011) maupun luar negeri, termasuk dari Australia (Lennard, 2007), Nigeria (Oyinloye, 2008), dan Korea Selatan (Lee, 2011), dikutip untuk mendukung klaim tersebut.

Baca Juga: UPAWASA, Tradisi Berpuasa dalam Berbagai Agama dan Keyakinan

Inti dari berbagai penelitian yang dikutip tersebut adalah bahwa sastra menyediakan bahan (mentah) yang dapat dikembangkan. Kemudian diterapkan untuk tujuan pembentukan karakter baik pada siswa.

Tentu saja, asumsi ini tidak sepenuhnya benar, yang juga berarti bahwa ini tidak sepenuhnya salah. Asumsi ini benar, karena sastra memang, seperti digagas oleh Horatius, berhakikat dulce et utile (manis dan berguna). Atau, seperti dijelaskan oleh Bressler (1999), sastra memiliki fungsi menghibur dan mendidik.

Bagi mereka yang menyukainya, sastra menawarkan hiburan, rasa manis, kenikmatan, dan keindahan. Sastra juga menyediakan nilai-nilai positif serta membantu pembacanya mengenal lebih baik dirinya sendiri, orang lain, lingkungan, dan beragam problematika kehidupan (Sarumpaet, 2010).

Namun, asumsi penelitian tersebut juga tidak sepenuhnya dapat dijustifikasi. Nilai-nilai positif dalam sastra yang baik tidak serta-merta tersedia, tidak serta-merta bisa dipetik, dan tidak dapat langsung diterapkan. Tidak seperti ilmu-ilmu eksakta dan ilmu statistik, sastra tidak menyediakan rumusan atau kaidah yang baku.

Baca Juga: Pandemi dan Konspirasi dalam Novel Disorder

Di dalam sastra, ada ruang-ruang yang membuka diri bagi interpretasi dan apresiasi yang tidak tunggal. Selain itu, sastra yang baik, menyitir pendapat Pramoedya A. Toer, tidak boleh jatuh menjadi kotbah.

Sastra, dengan demikian, tidak mesti punya pretensi menanamkan nilai-nilai karakter baik seperti anekdot-anekdot ‘mentah’ yang dapat dengan mudah dijumpai di buku-buku pelajaran PPKn atau agama.

Baca Juga: Kontra Narasi di Era Digital

Kecerdasan Sastrawi

Sebenarnya, adakah yang dinamakan kecerdasan sastrawi? Selama ini kita mengenal kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan sosial (SQ), kecerdasan rohaniah, kecerdasan spasial, kecerdasan numerik (NQ), kecerdasan finansial (FQ) dan jenis-jenis kecerdasan lain. Lalu, apa perlunya anak mesti memiliki kecerdasan tambahan, yakni kecerdasan sastrawi atau literary quotient (LQ)?

[Penafian: istilah kecerdasan sastrawi tidak ditemukan di tempat lain dan belum didefinisikan dengan solid. Ini adalah istilah yang saya perkenalkan dan masih perlu banyak dipertajam, terutama terkait cakupan, prosedur, metode, kriteria, dan penilaiannya.]

Baca Juga: Alih Wahana Cerita Wayang

Apakah yang saya maksudkan dengan kecerdasan sastrawi? Kecerdasan sastrawi merujuk pada pengukuran atas kemampuan seseorang dalam melihat dan memaknai realitas, dengan bantuan perspektif dan tata nilai yang dipelajari dan diinternalisasi dari pembacaan dan perenungan atas karya sastra yang baik.

Jika diperhatikan dengan saksama, ada empat frasa kunci dalam definisi ini, yaitu ‘pengukuran’, ‘melihat dan memaknai realitas’, ‘perspektif dan tata nilai yang dipelajari dan diinternalisasi’, serta ‘pembacaan dan perenungan atas karya sastra yang baik’.

Akan saya jelaskan secara ringkas makna dari frasa-frasa kunci tersebut. Seperti halnya jenis-jenis kecerdasan lain, kecerdasan sastrawi pun membutuhkan pengukuran secara objektif dan memenuhi kaidah keilmiahan.

Untuk itu diperlukan beberapa kriteria pengukuran, yang saya bayangkan dalam bentuk rubrik sederhana dengan … ah, tentu saja, saya bercanda di sini.

Mana ada proses dan hasil internalisasi perspektif dan tata nilai yang kemudian mengakar dalam habitus seseorang diukur secara objektif? Mana bisa sesuatu yang sudah menjadi karakter atau, minimal, kebiasaan diformulasikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang sekadar menuntut jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’.

Karakter seseorang tidak bisa dinilai hanya berdasarkan omongan, jawaban, pernyataan, atau bahkan tindakan seseorang di depan orang banyak. “Kalau engkau ingin tahu karakter orang yang sebenarnya,” demikian saya ingat Profesor Sadtono, guru besar UMM dan Universitas Ma Chung yang sekarang sudah pensiun, pernah mengatakan, “cobalah untuk melihat apa yang dilakukannya saat tidak ada seorang pun mengamatinya.”

Pernyataan Profesor Sadtono ini saja sudah sangat sulit dijalankan: bagaimana melihat apa yang dilakukan seseorang saat tidak ada yang melihatnya?

Apa kita harus memasang CCTV atau kamera pengawas di mana pun? Jika begitu, ini tidak bisa dianggap sebagai pengamatan yang alamiah. Apalagi, jika orang yang kita amati akhirnya tahu bahwa dia diamati oleh kamera pengawas. Dia pasti akan kehilangan kealamiahannya dalam bertutur kata, bertindak, bereaksi dan seterusnya.

Menilai kecerdasan sastrawi dari seseorang juga tidak dapat dilakukan dengan menghitung berapa banyak judul buku ‘sastra’ yang sudah dibacanya. Saya sengaja menulis ‘sastra’ dalam tanda kutip di kalimat sebelumnya. Karena tidak sedikit orang yang menganggap bahwa buku fiksi yang isinya penuh petatah-petitih moral atau ungkapan sontoloyo, termehek-mehek yang dibumbui kata-kata sok bijak adalah sastra.

Menurut saya, buku-buku semacam ini lebih tepat masuk buku psikologi populer atau motivasional, berjajar satu rak dengan buku karya Tung Desem Waringin atau Robert Kiyosaki. Juga, tidak ada relasi kausalitas yang tegas bahwa banyak buku sastra yang dibaca berarti kecerdasan sastrawi seseorang tinggi. Buktinya, ada sastrawan atau malah pujangga, yang, beberapa tahun lalu, menghebohkan dunia karena diduga memperkosa seorang perempuan. Kurang sastrawi apa coba si penyair itu? Tetapi, kecerdasan sastrawinya, maaf, agak jongkok.

Lantas, apa yang membuat ‘skor’ kecerdasan sastrawi seseorang tinggi? Kalau sastra dipahami sebagai cerita kehidupan manusia yang menawarkan cara memandang dunia yang dinamis, non-judgmental, tidak tergesa-gesa, multilapis dan multidimensi, demikianlah yang diharapkan dari seorang dengan kecerdasan sastrawi yang tinggi.

Kecerdasan sastrawi, dengan kata lain, memanifestasi dalam sikap, kebiasaan, dan bahkan karakter yang dinamis, terbuka, tidak mudah dan cepat menghakimi orang lain (dan diri sendiri), bisa melihat dimensi-dimensi di luar kedirian dan ‘kebenaran’ yang baku.

Saya yakin, banyak orang yang tidak setuju dengan saya (meskipun hanya dibatin), tetapi juga akan tidak kalah banyak yang sepakat dengan saya. Tetapi, inilah dunia itu dan duniasastra adalah representasi dari dunia itu.

*Penulis adalah dosen di Prodi Sastra Inggris Universitas Ma Chung (www.machung.ac.id), penerjemah. Mahasiswa doktoral Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Unesa, anggota Perkumpulan Cendekiawan Bahasa dan Sastra (CEBASTRA)