Kamis, Desember 9, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaOpinionLebaran Tanpamu, Dik

Lebaran Tanpamu, Dik

Dr. Teguh Sulistyo, M.Pd*

“Lebaran Tanpa Mudik”, demikian bunyi sebuah headline berita tanggal 21 April 2021 yang mengguncang calon mudiker Indonesia. Presiden Jokowi secara resmi melarang masyarakat untuk mudik lebaran karena masih dalam suasana pandemik Covid. Pro dan kontra aturan ini menghangat di kalangan masyarakat, bahkan menjadi viral di media massa, khususnya online media. Tentu saja seluruh masyarakat + 62 mencurahkan perhatiannya pada keputusan ini. Mereka memiliki berbagai macam perasaan: sedih, galau, kecewa, marah, atau biasa saja. Tergantung sudut pandang dan kepentingan masing-masing.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Mudik, menurut Ramadhani, berasal dari Jawa dan akhirnya menyebar ke seluruh nusantara, bahkan Malaysia yang merupakan negeri jiran yang serumpun dengan Indonesia. Momen ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri setelah melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadhan.

Selain itu, mudik juga terjadi ketika umat Kristiani merayakan Natal dan tahun baru. Kedua hari besar keagamaan tersebut disertai libur panjang dan cuti bersama yang dimanfaatkan untuk mudik.

BACA JUGA: Aku Kangen Bu Guru…

Mudik merupakan agenda rutin tahunan yang selalu dinantikan masyarakat Indonesia. Mudik, menurut Mulder, sering  dimaknai sebagai proses migrasi internal (lokal) yang berlangsung secara temporer. Oleh sebab itu, baik mudiker maupun masyarakat yang tinggal di kampung yang siap menunggu kedatangan sanak keluarga yang mudik sangat merindukan momen ‘sakral’ ini. Mulder, dalam hal ini, hanya menilai apa yang dia lihat dan baca. Hanya dari tataran harfiah yaitu fenomena pergerakan penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya.

Kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan mudik atau pulang kampung. Hal ini berpengaruh pada gerakan masyarakat yang masif yang berimbas pada perputaran roda ekonomi yang teramat cepat. Banyak masyarakat yang ‘panen’ rejeki dari mudik. Mudiker juga sudah menabung dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk kegiatan ini.

Bahkan beberapa perusahaan selain memberikan THR juga menyediakan sarana angkutan darat gratis untuk karyawan maupun relasi kerja mereka. Tentu ini merupakan tradisi yang langgeng sampai saat ini. Menunjukkan betapa istimewanya mudik dalam kultur Negeri Merah Putih.

Pada hakekatnya, mudik merupakan momen untuk melepas rindu dengan keluarga di kampung halaman. Secara naluriah, manusia selalu merindukan kampung halamannya. Selain melepas rindu, mudik merupakan sarana menjalin tali silaturahmi yang sempat terganggu karena jarak yang memisahkan mereka.

Hal ini yang mendorong mudiker selalu mempersiapkan diri dengan cermat sebelum mudik, termasuk oleh-oleh maupun uang saku (galak gampil) untuk saudara di kampung. Galak gampil bermakna menggalakkan (galak) atau menyerukan untuk bisa memudahkan (gampil) dalam silaturahmi dalam rangka saling bermaaf-maafan.

BACA JUGA: Ki Dung Senja

Filosofi bangsa Indonesia yang sangat mengedepankan Extended Family atau keluarga besar daripada nuclear family atau keluarga inti, menjadi ruh mudik. Esensi bertemu dan bersilaturahmi dan saling memaafkan dengan keluarga besar  maupun tetangga beserta teman-teman lama adalah momen yang sangat agung dan menyenangkan.

Namun pemandangan saat ini sangat jauh berbeda. Larangan mudik yang disertai pembatasan mobilitas masyarakat maupun alat transportasi dapat dijumpai dengan masif di perbatasan kota. Bahkan jalan tikuspun tidak terhindar dari penjagaan petugas yang diserahi mandat oleh negara, seperti kepolisian. Tentu saja mudiker terpaksa putar haluan dan kembali ke tempat asal tanpa dapat sampai ke kampung halaman mereka masing-masing.

Sebelum menetapkan larangan mudik ini, pemerintah pasti sudah berhitung untung ruginya atau manfaat mudharatnya. Apalagi saudara kita, India, sedang terjerat tsunami Corona. Jangan sampai kita mengalaminya karena adanya pergerakan masyarakat dalam jumlah besar dari satu kota ke kota lain, bahkan lintas propinsi dan pulau. Di mana ujung-ujungnya terjadi ‘ekspor dan impor’ virus Corona akibat kerumunan massa.

Mungkin kita harus terbiasa dengan new normal life yang sebenarnya terlihat sangat ‘abnormal’ bagi kita. Perlu waktu bagi kita untuk menyadari dan memahami kebijakan ini. Silaturahmi dan sungkem dengan orang tua maupun yang dituakan dapat diganti dengan video call atau telepon. Keinginan untuk membelikan baju pada orang tua maupun saudara diganti dengan paket. Begitu juga galak gampil harus dicarikan alternatif lain, misal transfer via bank.

Kenyataan ini pasti pahit. Namun kita wajib berihtiar untuk kebaikan bersama. Kepahitan dan kepiluan ini juga dirasakan oleh sesorang yang penulis kenal dengan baik. Dia tidak dapat akses untuk pulang ke Jawa setelah sekian tahun mengais rejeki di tanah rantau Borneo. Tabungan yang dirasa cukup untuk melamar pujaan hati  dipendam untuk sementara waktu.

Kegalauan itu menginspirasinya untuk membuat status di media sosial Facebook dengan judul “Lebaran Tanpamu, Dik”. Namun dalam status tersebut dengan hati legowo dia juga menulis “mungkin semua ini ada hikmahnya. Orang sabar disayang Tuhan”. Ah, sebuah ungkapan yang keluar dari hati yang paling dalam. Terdengar pilu namun terasa sangat bijak. Tanpa dia sangka, status Facebook tersebut mendapat banyak like dan komentar beraneka ragam.

Nampaknya reaksi Facebookers merupakan pengobat rasa galau di hatinya karena gagal bertemu dengan si ‘adik idaman’ di kampung halaman. Apalagi cuitan tersebut direspon si pujaan hati dengan kata-kata yang romantis, “Aku selalu menunggumu datang, bang”.

BACA JUGA: Isu-isu Sensitif di Mata Netizen

Dia coba memahami hakekat hidup yang tidak selalu sesuai harapan. Dan dari peristiwa ini dia belajar bagaimana menjadi orang sabar dan bijak. Mungkin juga puasa Ramadhan menjadikan dia sebagai insan yang sabra dan bertaqwa.

Semoga Corona segera berlalu, dan postingan “Lebaran tanpamu, dik” tidak terulang lagi di tahun mendatang. Selamat hari Raya Idul Fitri 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin.

*Penulis adalah dosen Bahasa Inggris Universitas PGRI Kanjuruhan dan anggota Cendikiawan Bahasa dan Sastra (CEBASTRA)

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Peningkatan aktivitas gunung Semeru ##tiktokberita

♬ suara asli - Nusa Daily