Senin, November 29, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaOpinionKritik Taufiq Ismail terhadap Minat Baca di Indonesia

Kritik Taufiq Ismail terhadap Minat Baca di Indonesia

- Advertisment -spot_img

Oleh: Agus Salimullah

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Ketika duduk di stasiun bus, di gerbong kereta api, di ruang tunggu praktik dokter anak, di balai desa, kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku, dan aku bertanya, di negeri mana gerangan aku sekarang. (bait pertama dari sajak “Kupu-kupu di Dalam Buku” karya Taufiq Ismail).

Selanjutnya di bait terakhir ia tulis, “Agaknya inilah yang kita rindukan bersama, di stasiun bus dan ruang tunggu kereta api negeri ini buku dibaca, di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca, di tempat penjualan buku laris dibeli, dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu tidak berselimut debu karena memang dibaca”.

Baca Juga: Sipon

Puisi karya Taufiq Ismail berjudul “Kupu-Kupu di dalam Buku” yang terdiri dari lima bait ini benar-benar menggambarkan kondisi nyata rendahnya tingkat literasi, khususnya literasi baca masyarakat kita saat ini. Taufiq Ismail begitu polos merefleksikan diri kondisi sebuah negeri asing yang masyarakatnya gemar membaca dan berharap kondisi itu juga terjadi di negeri ini.

Terkait kondisi minat baca di tanah air, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Program for International Student Assesment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) tahun 2019, Indonesia saat ini menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.

Baca Juga: Gus Gatot, Gus Dudung, dan Rutinan G 30 S/PKI

Bahkan, UNESCO sendiri menyebut minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 orang yang gemar membaca. Tidak hanya itu, hasil riset bertajuk World Most Literate Nations Ranked yang dilakukan Central Connecticut State University pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara terkait minat baca.

Rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia, ditengarai karena selama berpuluh-puluh tahun bangsa Indonesia hanya berkutat pada sihir hilir, yakni masyarakat yang terus dihakimi sebagai masyarakat yang rendah budaya bacanya. Itu sebabnya, maka perlu sisi hulu, termasuk peran Negara yang dapat menghadirkan buku yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dari Sabang sampai Merauke, termasuk bagi masyarakat yang tinggal di pelosok.

Baca Juga: Agama Cinta Gus Dudung Abdurrachman, Sang Jenderal Keturunan Sunan Gunung Jati

Saat ini, jumlah total bacaan dengan total jumlah penduduk Indonesia memiliki rasio nasional 0,09. Artinya, satu buku ditunggu oleh 90 orang setiap tahun. Padahal, sesuai standar UNESCO, minimal 3 buku baru untuk setiap orang setiap tahun. Tak mengherankan jika  bangsa Indonesia memiliki tingkat terendah dalam indeks kegemaran membaca di dunia.

Salah satu solusi yang bisa ditempuh untuk mengurangi rasio keterbatasan buku secara nasional, maka diperlukan keterlibatan pemangku kepentingan di daerah, dalam hal ini bupati, walikota, dan gubernur. Bagaimana para pimpinan daerah itu ikut bertanggungjawab untuk menuliskan buku-buku yang sesuai dengan konten lokal. Baik terkait asal usul budayanya, asal usul geografisnya, termasuk potensi SDA, potensi wilayah, pariwisata di masing-masing daerah.

Baca Juga: Puisi Mbeling Joko Pinurbo Berjudul Dangdut

Komitmen bersama antar pimpinan wilayah untuk menghadirkan buku-buku dengan konten lokal ini sangat penting. Lagipula, apakah relevan buku yang ditulis di Jakarta harus didistribusikan bagi saudara kita yang ada di Papua yang terkait dengan konten lokal? Tidak ada salahnya pula, jika Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi melakukan digitalisasi produk buku untuk memberikan kemudahan akses membaca kepada masyarakat.

Buku Bacaan Sastra

Tak bisa dipungkiri pula, rendahnya tingkat literasi juga telah merambah di dunia pendidikan. Tak terkecuali minat siswa untuk membaca buku-buku karya sastra. Berdasarkan data kewajiban membaca buku sastra SMA di 13 negara di dunia, ternyata SMA di Indonesia tidak ada yang mewajibkan siswanya untuk membaca buku sastra. Padahal SMA Thailand Selatan mewajibkan siswanya membaca buku 5 judul, SMA Malaysia dan Singapura 6 judul, SMA Rusia Sovyet 12 judul, SMA Kanada 13 judul, SMA di Jepang 15 judul, SMA di Jerman Barat 22 judul dan SMA di Amerika Serikat 32 judul.

Baca Juga: Sekali Lagi Tentang Pro Kontra Peniadaan Salat Idul Adha di Wilayah Asesmen 4 PPKM Darurat

Kewajiban membaca buku tersebut juga diimbangi dengan ketersediaan buku di perpustakaan sekolah. Kemudian siswa dituntut memahami isi cerita sebelum diujikan oleh guru. Buku-buku tersebut wajib dibaca dan dituntaskan dalam waktu 3 tahun.

Kondisi yang terjadi di Negara kita justru sebaliknya. Siswa selama ini hanya dibiasakan membaca kutipan buku ini dan buku itu. Itu pun siswa enggan membaca jika tidak dipaksa. Tak heran, ketika asa soal teks yang sedikit panjang, siswa berkomentar “seperti Koran atau majalah saja”.

Untuk mengatasi persoalan ini, perlu ada cara pandang baru pengajaran sastra di sekolah. Pertama, siswa harus dibimbing untuk memasuki dunia sastra secara asyik, nikmat dan gembira. Kedua, siswa membaca langsung karya sastra berupa puisi, cerpen, novel,drama dan esai. Ketiga, diperlukan kelas mengarang secara menyenangkan dan pemberian reward kepada siswa yang bisa menghasilkan buku karya sastra. Baik antologi puisi, kumpulan cerpen, bahkan sebuah novel.(*)

Penulis adalah guru SMA Negeri 2 Batu, mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Islam Malang, dan anggota Cebastra.

- Advertisement -spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR