Kamis, Oktober 28, 2021
BerandaOpinionKeprihatinan Three in One (Zaman Kalabendu, Windu Sangara dan Pandemi): Suatu Kebetulan?

Keprihatinan Three in One (Zaman Kalabendu, Windu Sangara dan Pandemi): Suatu Kebetulan?

- Advertisment -spot_img

Oleh: Dr. Aris Wuryantoro, M.Hum

Seperti biasa apabila menjelang pergantian tahun banyak ramalan bersliweran di tengah masyarakat. Namun satu hal yang menarik pada pergantian tahun baru Hijriah dan Jawa kemarin karena adanya ramalan tentang pagebluk Corona, pandemi Covid 19. Menurut ramalan pagebluk akan segera hilang dengan datangnya pergantian windu, yakni dari windu Sengara ke windu Sancaya (Sancahya).

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Berdasarkan perhitungan khurup Asopon (Alip Seloso Pon), tanggal 1 Sura Tahun Alip 1955 bersamaan dengan Tanggal 1 Muharam 1443 H yang jatuh pada hari Seloso Pon (10 Agustus 2021). Menurut Ki Eko Sunarsono, seniman dalang wayang kulit, sebagian masyarakat Jawa meramalkan pagebluk corona akan sirna pada windu Sancaya.

Windu Sengara (tahun 2013 – 2021) merupakan tahun-tahun yang dimaknai dengan penuh bencana dan musibah, termasuk munculnya pagebluk Covid-19. Sementara windu Sancaya yang berarti bercahaya atau bersinar, sehingga windu ini dimaknai dengan memberikan kebaikan pada kehidupan. Termasuk ramalan akan berakhirnya pagebluk Covid-19 pada saat ini.

BACA JUGA: Berguru pada Coronavirus

Kalender Jawa memiliki beberapa macam siklus, seperti siklus harian, siklus pasaran, siklus bulanan, dan siklus tahunan. Siklus harian atau saptawara (padinan) terdiri dari tujuh nama, yaitu Ngahad (Dite), Senen (Soma), Selasa (Anggara), Rebo (Buda), Kemis (Respati), Jemuwah (Sukra), dan Setu (Tumpak). Sedangkan pasaran atau pancawara terdiri dari Kliwon (Kasih), Legi (Manis), Pahing (Jenar), Pon (Palguna), dan Wage (Cemengan). Siklus ini dahulu digunakan oleh para pedagang untuk membuka pasar sesuai hari pasaran yang ada.

Oleh karena itu di Jawa banyak dikenal nama-nama pasar yang menggunakan nama pasaran tersebut, seperti Pasar Kliwon, Pasar Legi, Pasar Pahing, Pasar Pon, dan Pasar Wage. Kalender Jawa juga memiliki dua belas bulan dalam setahun. Umur tiap bulan berselang-seling antara 30 dan 29 hari sehingga dalam satu tahun dalam kalender Jawa memiliki umur 354 3/8 hari. Nama-nama bulan dalam kalender Jawa diserap dari bahasa Arab yang disesuaikan dengan pelafalan bahasa Jawa, yaitu Sura, Sapar, Mulud, Bakdamulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, dan Besar. Siklus delapan tahun disebut dengan windu. Setiap tahun dalam windu memiliki nama masing-masing, yaitu tahun Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Tahun Ehe, Dal, dan Jimakir memiliki umur 355 hari dan dikenal sebagai tahun panjang (Taun Wuntu), sedang sisanya 354 hari dikenal sebagai tahun pendek (Taun Wastu).

Tahun Jawa memiliki empat macam windu yaitu windu Kuntara, Sangara, Sancaya, dan Adi. Setiap windu tersebut memiliki lambang sendiri, Kulawu dan Langkir. Masing-masing lambang berumur 8 tahun, sehingga siklus total dari lambang berumur 16 tahun.

Adalah Prabu Jayabhaya dan Raden Ngabehi Ronggowarsito yang pernah meramalkan akan datangnya suatu zaman di tanah Jawa atau Nuswantara, yaitu zaman Kalabendu. Kata Kalabendu berasal dari kata “Kala” dan “Bendu”. Kala, (bahasa Jawa) bermakna malapetaka atau bencana, sedangkan kata bendu bermakna kutukan atau azab. Jadi, makna dari Kalabendu adalah malapetaka atau bencana yang disebabkan karena mendapat kutukan atau azab.

Sehingga zaman Kalabendu dapat diartikan sebagai zaman yang penuh dengan malapetaka, bencana, dan kesengsaraan karena mendapat bendu atau kutukan atas tindakan manusia itu sendiri.

BACA JUGA: Pagebluk, Isu Global “Pandemi” Yang Melokal

Prabu Jayabhaya adalah putra dari Prabu Gendrayana, Raja Kediri yang memerintah pada tahun 1135 – 1157. Menurut Jayabhaya zaman Kalabendu memiliki perlambang seperti: (1). Masyarakat hidup dalam kesulitan dan penderitaan, semua harga bahan pokok mahal; (2). Banyak keluarga yang tidak harmonis, anak berani pada orang tua dan sebaliknya orang tua tidak memperhatikan anaknya; (3). Pengkhianatan ada di mana-mana bahkan pada kawan sendiri; (4). Para penguasa bila bersuara lantang dan asal bicara (ngawur); (5). Para penguasa bertindak lalim, tidak memperhatikan rakyat kecil; dan (6). Para pemimpin mengangkat pegawai dari lingkungan keluarga dan kalanganannya sendiri.

Di sisi lain, Raden Ngabehi Ronggowarsito (14 Maret 1802 – 24 Desember 1873) merupakan putra dari Mas Pajangswara dan Nimas Ajeng Ronggowarsito. Ronggowarsito menerangkan perihal zaman Kalabendu yang ditandai dengan: (1) para pemimpin bertindak arogan dan bakhil, sewenang-wenang, tidak peduli lingkungan sekitarnya, tidak amanah, dan tidak dapat dipercaya; (2) orang-orang pada cuek terhadap sanak-saudara, banyak orang miskin dan hidup dalam penderitaan; (3) sering terjadi peperangan/keributan, kejahatan dan pemerkosaan merajalela, dan banyak tindak kejahatan di jalan; (4) lingkungan rusak, sering terjadi gerhana matahari dan bulan, bencana datang silih berganti seperti gempa bumi, petir dan hujan badai; (5) terjadi prahara besar, salah musim yang menyebabkan kelaparan, para pejabat bertikai sendiri, banyak penghianat dan musuh dalam selimut, rakyat hidup dalam ketidakpastian; (6) hilangannya wibawa penguasa, rusaknya tatanan hukum karena hilangnya teladan dari penguasa, tata susila dan norma; (7) perilaku penjahat maupun pejabat tidak ada bedanya, hanya menciptakan permasalahan  dan  kesulitan; dan (8) para pemimpin dan pejabatnya melaporkan yang baik-baik saja hanya untuk menutupi seluruh kebobrokannya.

Tahun 2013 – 2021 dalam kalender Jawa masuk pada windu Sangara yang dimaknai dengan penuh bencana dan musibah. Apakah benar demikian? Mari kita simak kejadian bencana yang ada di Indonesia menurut institusi yang berwenang yaitu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Menurut catatan BNPB, bencana alam yang menimpa Indonesia dari Sabang sampai Merauke pada periode 2013 – 05 Agustus 2021 telah terjadi 17.675 kejadian yang sebagian besar merupakan bencana hidrometeorologi dan geologi.

Bencana-bencana ini berupa bencana banjir, tanah longsor, puting beliung, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), gempa bumi, erupsi gunung berapi, gelombang pasang dan abrasi, serta kekeringan. Bencana alam yang terjadi sepanjang tahun 2013 sampai Agustus 2021 mengakibatkan sebanyak 7.638 orang meninggal dunia dan hilang.

Selain itu bencana juga mengakibatkan jutaan orang mengungsi dan menderita, ratusan ribu rumah, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas umum lainnya rusak ringan hingga rusak berat.

Bila dibandingkan dengan periode tahun 2005 – 2013 yang merupakan periode dari windu Kuntara, bencana alam yang melanda Indonesia sebanyak 7.700 kali. Korban jiwa akibat bencana pada dua tahun awal (tahun 2005 – 2006) periode windu Kuntara sebanyak 1158 jiwa. Sedangkan dua tahun pertama (tahun 2013-2014) dalam periode windu Sangara bencana alam menelan korban sebanyak 1.073 jiwa meninggal dunia dan hilang.

Sejak akhir tahun 2019 pagebluk atau pendemi Covid 19 melanda negeri ini khususnya dan sebagian besar belahan dunia pada umumnya. Telah banyak korban berjatuhan karena pandemi ini, baik korban jiwa, infrastruktur dan perekonomian. Untuk korban jiwa, BNPB melaporkan bahwa kasus covid 19 per tanggal 20 Juli 2021 yang positif terjadi penambahan 38.325 kasus sehingga menjadi 2.950.058 kasus, penambahan pasien sembuh sebanyak 29.721 sehingga menjadi 2.323.666, dan pasien yang meninggal dunia bertambah 1.280 sehingga menjadi 76.200. Sedangkan untuk kasus covid 19 per tanggal 20 Agustus 2021 adalah 3.950.304 kasus positif, pasien sembuh sebanyak 3.499.037 orang, dan meninggal dunia sebanyak 123.981 orang. Dalam satu bulan (periode 20 Juli – 20 Agustus 2021) terjadi lonjakan 1.000.246 kasus positif, penambahan pasien sembuh sebesar 1.175.371 orang, dan meninggal dunia sebanyak 47.781 orang. Sedangkan untuk tanggal 2 September 2021 tercatat 4.109.093 kasus positif, pasien sembuh sebesar 3.798.099, dan meninggal ada 134.356 orang.

Pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Covid-19 (Satgas Covid-19) guna mencegah atau mengendalikan penyebaran Covid 19. Segenap komponen masyarakat pun dilibatkannya. Mulai himbauan dengan slogan 3 M (Memakai masker, Mencuci tangan dengan sabun dan Menjaga jarak) sampai menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat dengan skala level 1 sampai level 4. Perkembangan terakhir, menurut Instruksi Mendagri (Inmendagri) Nomor 39 dan 40 Tahun 2021 yang dirilis oleh Liputan6.com dan CNN Indonesia, pada tanggal 6 September 2021 wilayah Jawa-Bali masih ada 11 kota dan kabupaten yang berstatus level 4 PPKM.

BACA JUGA: Inflasi Kesakralan Kata “Sabar” pada PPKM Darurat

Adapun yang berstatus Level 4 yaitu 2 kabupaten di Jawa Timur dan 9 kota dan kabupaten di Bali. Pada tanggal 14 September 2021, kota dan kabupaten se Jawa-Bali yang masuk dalam status Level 4 sebanyak tiga kota/kabupaten selebihnya masuk dalam status Level 3, Level 2 dan Level 1. Ini menunjukkan adanya penurunan kasus yang disebabkan oleh pandemi Covid 19. Hal ini ditandai dengan semakin sedikitnya kota/kabupaten berada di level 4.

Bila kita cermati dari fenomena banyaknya bencana alam yang terjadi, hal ini gayut dengan tanda-tanda dari zaman Kalabendu yang diungkapkan oleh Ronggowarsito yakni lingkungan rusak, sering terjadi gerhana matahari dan bulan, bencana datang silih berganti seperti gempa bumi, petir dan hujan badai. Fenomena ini didukung pula dengan sifat dari windu Sengara yaitu penuh bencana dan musibah. Tahun 2013 – 2021 menurut perhitungan Tahun Jawa masuk dalam periode windu Sengara.

Bencana alam yang terjadi dalam windu Sengara ini lebih banyak bila dibandingkan dengan windu sebelumnya, windu Kuntara. Dalam windu Sengara ini penderitaan bangsa Indonesia diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 sejak akhir tahun 2019 lalu. Namun pada belakangan ini pandemi Covid-19 mengalami tren penurunan yang signifikan. Penulis tidak tahu pasti penyebab dari turunnya tren penyebaran Covid-19 ini.

Apakah karena adanya program vaksinasi yang dicanangkan oleh pemerintah, apakah karena kesadaran masyarakat terhadap prokes meningkat, atau apakah adanya pergantian dari windu Sengara ke windu Sancahya? Apakah ini semua suatu kebetulan? Wallahu a’lam bish-shawabi.

*Penulis adalah dosen Universitas PGRI Madiun, dan pengurus DPP Cebastra.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Nusa Magz Edisi 46

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Istri Selingkuh, Suami Bawa Alat Berat Hancurkan Rumah😱##tiktokberita

♬ kau curangi cintaku - Milan indramayu