Kebenaran dalam Sastra dan Pentingnya Riset

  • Whatsapp
Riset Sastra
Ilustrasi Riset
banner 468x60

Oleh: Dono Sunardi*

Semester lalu, saya membimbing seorang mahasiswa yang memilih untuk menulis cerita pendek untuk tugas akhir kuliahnya. Di kampus tempat saya mengajar, mengingat perkembangan zaman dan kebutuhan mahasiswa yang beragam. mMahasiswa memang diberi pilihan dan fasilitas untuk dapat lulus dengan mengerjakan tugas akhir non-skripsi.

Pilihan yang disediakan adalah menghasilkan karya tulis kreatif (cerita pendek, novella, novel, atau kumpulan puisi), menerjemahkan (biasanya buku) atau menghasilkan metode atau alat bantu pengajaran bahasa Inggris.

Mahasiswa yang saya bimbing tersebut menulis cerpen yang judulnya dalam bahasa Indonesia berarti ‘Paru-Paru’. Dengan sedikit bercanda, saat menguji tugas akhirnya, saya bertanya kepadanya, “Apakah saya akan membaca sebuah artikel kesehatan?” Dia serta-merta menjawab, “Tentu saja, tidak!”

Baca Juga: Dari Pagar Sampai ke Kamar

Tentu saja, karya sastra berbeda dari artikel ilmiah, atau dari artikel ilmiah populer sekalipun. Walaupun di dalam menulis karya kreatifnya, mahasiswa bimbingan saya tersebut membuat riset yang dipandang cukup mengenai penyakit asma yang dikisahkan menyerang paru-paru si tokoh utama cerpennya, jelas bahwa dia tidak akan melaporkan hasil risetnya tersebut secara ‘mentah’.

Dia tidak membahas hal-hal teknis terkait penyakit asma, seperti apa penyebabnya. Bakteri atau kuman apa yang menyebabkannya, apa yang dirasakan oleh penderitanya ketika terserang asma, apa obatnya, dan semacamnya.

Baca Juga: Pendidikan Kaum Latah

Barangkali, beberapa aspek teknis akan disebut dan dijelaskan secara ringkas. Tetapi pasti tidak akan dengan cara yang sama seperti kalau kita membaca artikel kesehatan di halodoc.com atau sehatq.com.

Sastra: Antara Kebohongan dan Kebenaran

Albert Camus, yang adalah seorang filsuf, penulis, dan jurnalis Prancis kelahiran Aljazair. Serta pemenang hadiah Nobel Sastra 1957, pernah menyatakan: “Fiction is a lie through which we tell the truth”. Ketika menyatakan pendapat tersebut, Camus (1913-1960) pasti sadar mengenai perdebatan tentang kebenaran dan kebohongan dalam sastra.

Baca Juga: Link and Match antara Pendidikan Tinggi dengan Mitra melalui Program KSKI – MBKM

Ada tiga kata kunci dalam pernyataan di atas. Ketiganya adalah ‘fiction’, ‘lie’, dan ‘truth’ (fiksi, kebohongan, dan kebenaran). Di sini, saya akan mempersamakan sastra dengan fiksi. Karena, meskipun saya sepenuhnya sadar ada yang namanya sastra non-fiksi (seperti tulisan perjalanan, memoir, biografi, dan semacamnya). Dalam sastra mana pun elemen fiksi pasti ditemukan.

Manakala kita mengisahkan atau menarasikan sesuatu, seberapa pun kita berusaha untuk tetap akurat dan stay true pada kenyataan, ada kecenderungan yang entah lemah atau kuat untuk menambahkan atau mengurangi kenyataan tersebut. Inilah yang dinamakan representasi. Dalam hal inilah, hasil narasi sastrawi dapat dipastikan mengandung elemen fiktif.

Baca Juga: Internalisasi Nilai-nilai Patrap Triloka Ki Hajar Dewantara

Kebohongan, sementara itu, menurut KBBI, berarti ‘(1) ketidaksesuaian dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya, dan (2) bukan yang sebenarnya, atau palsu’.

Dalam hal ini, kebohongan adalah kebalikan dari kebenaran, yang oleh KBBI didefinisikan sebagai, ‘(1) keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sebenarnya, dan (2) sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada’.

Pertanyaannya adalah, tidakkah paradoksal bahwa fiksi menggunakan kebohongan sebagai medium untuk menyampaikan kebenaran? Tidakkah ini sebuah contradictio in terminis?

Tentu saja, kita tidak dapat memahami pernyataan Albert Camus di atas secara letterlijk atau linear. Pernyataan tersebut tidak bermaksud sama seperti ketika orang menyatakan bahwa 1 ditambah 1 sama dengan 2. Maka jika ada yang mengatakan bahwa 1 ditambah 1 sama dengan 4. Orang tersebut pasti salah dan tidak ada kebenaran dalam pendapatnya.

Pernyataan Camus tersebut lebih mirip dengan ketika saya mengatakan bahwa manusia pertama adalah Adam. Meskipun penelitian arkeologis dan sejarah sampai sekarang tidak dapat mengonfirmasi validitas klaim ini.

Justru menemukan data tentang asal-usul manusia di Afrika yang lantas menyebar ke segenap penjuru dunia, hal itu tidak serta-merta berarti bahwa yang saya katakan salah.

Mungkin memang pernyataan saya tersebut, yang didasarkan pada kitab suci yang saya yakini, keliru atau minimal tidak terbukti secara ilmiah. Namun, sebagai upaya untuk menjelaskan dan meneguhkan betapa Tuhan memiliki peran sentral dalam sejarah umat manusia, cerita tersebut memperoleh kebenarannya.

Jadi benar dan benar bisa berbeda. Kebenaran dalam sastra berbeda dari kebenaran dalam ilmu-ilmu lain. Benar dalam sastra tidak terutama bersifat linear dan logis; benar dalam sastra juga memperhatikan pula konteks, motif, dan tujuan. Dalam narasi tentang Adam sebagai manusia mula-mula, konteksnya adalah belum ditemukannya teori-teori evolusi, misalnya.

Setelah teori evolusi menisbikan narasi tentang Adam. Kita tetap bisa menerima narasi itu sebagai ‘kebenaran’. Karena kita melihatnya sebagai usaha untuk memberi dasar bagi keyakinan religius kita. Yang tanpanya konsep Tuhan sebagai pencipta seperti mengawang-awang dan sulit dipahami oleh kebanyakan orang. (Sampai pada titik ini, kita sebenarnya bisa menarik inferensi tentang kitab suci sebagai sebuah karya bernilai ‘sastrawi’.)

Menulis Fiksi Tetap Perlu Riset

Karena kebenaran dalam sastra berbeda dari kebenaran dalam ilmu-ilmu lain, apakah itu berarti para penulis sastra tidak perlu melakukan riset dan sekadar mengandalkan imajinasinya?

Jawaban sederhana untuk pertanyaan ini adalah ‘riset mutlak dilakukan, juga bagi penulis sastra atau fiksi’. Pramoedya A. Toer dikenal sebagai pengkliping sekaligus peneliti sejarah selain sebagai penulis novel ternama. Karya-karya fiksinya yang besar tidak berangkat dari kekosongan atau hasil imajinasi belaka.

Dia melakukan riset sejarah yang mendalam, independen, dan kadang ‘menakutkan’, karena yang ditemukan dan kemudian dituliskannya dalam novelnya berbeda dari versi resmi pemerintah.

Tokoh Minke dalam tetralogi Buru, sebagai misal, diinspirasi oleh hasil risetnya yang mendalam atas bapak perintis pers modern, Tirto Adhi Suryo, yang dalam sejarah resmi tampak ditempatkan di lingkup abu-abu.

Bahkan, mahasiswa saya yang menulis cerpen untuk tugas akhirnya juga mendasarkan karyanya tersebut dengan risetnya atas penyakit asma dan paru-paru. Tanpa riset tersebut, dia, yang mengaku bukan penderita asma sendiri, tidak akan tahu bagaimana menuliskan ceritanya.

Sastra, karenanya, tidak hanya berisi ‘kebohongan’, tetapi sastra meramu berbagai unsur, termasuk di dalamnya hasil riset, imajinasi, dan bumbu-bumbu dramatisasi ke dalam narasi yang bisa menggugah pembaca agar terinspirasi memikirkan atau melakukan sesuatu.

Di sanalah, dalam kemampuan menumbuhkan inspirasi inilah, kebenaran dalam sastra menemukan justifikasi. Dalam sastra, adagiumnya barangkali adalah: tidak apa-apa tidak terlalu akurat, asalkan pembaca tergugah.

*Dosen di Prodi Sastra Inggris Universitas Ma Chung (www.machung.ac.id), penerjemah, mahasiswa doktoral Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Unesa, anggota Cebastra.