Internalisasi Nilai-nilai Patrap Triloka Ki Hajar Dewantara

  • Whatsapp
hari pendidikan
Taman Siswa Ki Hadjar Dewantara
banner 468x60

Oleh: Dr. Aris Wuryantoro, M.Hum.

Bulan Mei bagi bangsa Indonesia merupakan bulan yang penuh hikmah. Karena ada dua peristiwa penting di bulan Mei ini, yaitu Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional.

Hari Pendidikan Nasiopnal jatuh pada tanggal 2 Mei sedangkan Hari Kebangkitan Nasional jatuh pada tanggal 20 Mei. Hari Pendidikan Nasional ini sejatinya merupakan penghormatan terhadap tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara.

Beliau dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959 tanggal 28 November 1959 yang ditandatangani oleh Presiden R.I. pertama, Ir. Soekarno.

Ki Hajar Dewantara biasa disingkat dengan KHD terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. KHDlahir di Pakualaman Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889.

Beliau merupakan putra dari Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Soerjaningrat dan Raden Ayu (RA) Sandijah. Sedangkan KPH Soerjaningrat merupakan putera Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Harjo Soerjosasraningrat yang bergelar Sri Paku Alamn III.

Sewaktu kecil KHD menamatkan pendidikan dasar di Eurospeesch Lagere School (ELS) yaitu Sekolah Dasar bagi orang-orang Eropa atau Belanda. Setelah tamat dari ELS, KHD masuk Sekolah Guru Bumiputra (Kwekschool Voor Indlands Nder Wijsers) di Yogyakarta. Beliau juga sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA, School Tot Opleiding Voor Indlansche Arsten) di Jakarta.

Baca Juga: Masihkah Skema Bansos Kemiskinan Jember Dipakai Bungkus Ploting Beasiswa Pendidikan Tinggi?

Pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta KHD mendirikan sebuah sekolah dengan sistem pendidikan nasional. Yang berdasarkan budaya bangsa Indonesia dengan mengutamakan kepentingan masyarakat.

Sekolah yang didirikan oleh KHD dinamakan dengan National Onderwijs Institut Taman Siswa atau lebih dikenal dengan nama Perguruan Taman Siswa. Taman berarti tempat bermain atau tempat yang menyenangkan, dan Siswa berarti murid atau anak didik. Sehingga Taman Siswa dapat diartikan sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa atau muridataupun anak didik.

Perguruan Taman Siswa menerapkan prinsip dasar yang dikenal dengan Patrap Triloka. Adapun isi dari Patrap Triloka adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun prakarsa/semangat), dan Tut Wuri Handayani (dari belakang memberi dukungan). Salah satu isi dari Patrap Triloka, Tut Wuri Handayani, dijadikan semboyan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pada kongres Taman Siswa tahun 1947, KHD mempertegas pemikiran tentang pendidikan dalam lima asas atau Panca Darma. Yakni Asas Kemerdekaan, Asas Kodrat Alam, Asas Kebudayaan, Asas Kebangsaan, dan Asas Kemanusiaan.

Internalisasi Patrap Triloka

Internalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui pembinaan, bimbingan, dan sebagainya (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departement Pendidikan dan Kebudayaan, 1989: 336).

Sedangkan menurut Reber (dalam Mulyana, 2004: 21) internalisasi adalah menyatunya nilai dalam diri seseorang, atau dalam bahasa psikologi merupakan penyesuaian keyakinan, nilai, sikap, praktik dan aturan–aturan baku pada diri seseorang.

Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa internalisasi adalah penyatuan nilai dalam diri seseorang dengan cara penghayatan, pendalaman, dan penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui pembinaan, bimbingan dan sebagainya untuk membentuk nilai dan sikap yang dipraktikkan pada diri seseorang.

Masing-masing unsur dari Patrap Triloka memiliki posisi dan peran yang berbeda. Menurut hemat penulis, Patrap Triloka ini tidak hanya ditujukan untuk para pendidik saja namun untuk seluruh anak bangsa.

Bila dirunut dengan Panca Darma yang digagas oleh KHD untuk mewujudkan pendidikan di Indonesia memiliki lima asas. Yaitu kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Pendidikan di Indonesia harus memiliki asas kemerdekaan dalam arti bebas dari tekanan atau ancaman dari manapun. Seluruh bangsa Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak untuk menentukan masa depannya.

Baca Juga: Link and Match antara Pendidikan Tinggi dengan Mitra melalui Program KSKI – MBKM

Pendidkan hendaklah berorientasi pada kodrat alam yakni berkembang secara alamiah atau tanpa adanya paksaan (karbitan). Khususnya untuk anak bangsa Indonesia sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME yang harus memiliki rasa cinta, kasih dan sayang baik terhadap sesama manusia, alam dan lingkungannya. Serta tidak lupa untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan YME yang berupa tanah air yang subur makmur ini.

Bangsa Indonesia terkenal dengan beragam kebudayaannya karena terdiri dari berbagai suku bangsa. Maka hendaknya pendidikan di Indonesia harus berakar pada budaya bangsa dan memegang erat ataupun mempertahankan nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagai ciri khas bangsa Indonesia. Pendidikan juga harus menanamkan rasa kebangsaan yang tinggi.

Baca Juga: Marah yang Beretika: Bagaimana Bentuk Bahasanya?

Rasa kebangsaan ini harus ditanamkan pada seluruh anak bangsa Indonesia sejak sedini mungkin dan secara terus menerus guna mencapai kejayaan dan kemakmuran bangsa.

Dan yang tak kalah pentingnya bahwa pendidikan harus sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang sudah tumbuh subur sejak nenek moyang. Seperti sikap saling tolong-menolong, menghormati satu sama lainnya, tepo saliro, dan memiliki jiwa saling asih, asuh dan asah kepada semua elemen bangsa.

Ing ngarsa sung tuladha

Maksud dari ungkapan ini adalah bahwa kita sebagai orang yang di depan (pemimpin atau tokoh masyarakat) yang hidup di tengah masyarakat hendaknya memberi teladan atau dapat menjadi teladan bagi orang lain atau masyarakat di sekitarnya.

Di sini, penulis tidak menggunakan kata contoh, karena kata teladan tidak sama dengan contoh. Kata teladan merujuk contoh yang pasti baik, sementara kata contoh dapat dapat merujuk pada yang jelek.

Misalnya, siswa hendaknya dapat meneladani nilai-nilai rela berkorban yang telah dipersembahkan oleh para pahlawan bangsa. Siswa janganlah sekali-kali mencontoh perbuatan korupsi yang dilakukan oleh para koruptor yang sangat merugikan rakyat.

Saat ini bangsa Indonesia mengalami krisis keteladanan yang akut terbukti dengan banyaknya kasus yang menimpa pemimpin, tokoh masyarakat, publik figur bahkan pemuka agama.

Sebut saja kasus korupsi yang merupakan perbuatan jahat yang sangat kejam karena telah merampok harta rakyat Indonesia demi kepentingan diri seseorang atau kelompok.

Telah banyak pemimpin atau tokoh masyarakat yang terjerat dalam kasus korupsi, baik sebagai kepala daerah (dari gubernur sampai kepala desa), menteri, ketua partai politik, dan kepala bagian.

Mereka melakukan praktik korupsi secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi, dan dilakukan baik perorangan ataupun kelompok (berjamaah/massal).

Contoh kasus yang sangat menyayat hati terkait korupsi massal yang menjerat 41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang yang telah ditetapkan sebagai tersangka.

Baca Juga: Pancasila Memelihara Takdir Saudara-saudara Se-Tanah Air

Contoh lain yang sering ditemui di masyarakat ketika ada undangan rapat ataupun kegiatan formal lainnya. Masyarakat diminta hadir tepat waktu, dan masyarakat pun pada menepati waktu yang telah ditetapkan sesuai undangan.

Namun meskipun sudah banyak (bahkan semua) tamu undangan sudah hadir, acara belum juga dimulai, bahkan sering molor puluhan menit atau jam. Sehingga muncul istilah jam karet, karena waktunya tidak sesuai dengan waktu yang sudah ditetapkan.

Jam karet ini terjadi karena hanya menunggu pejabat yang akan mengisi acara rapat atau acara yang ada di undangan tersebut. Maka ada ungkapan, “harap maklum namanya pejabat jadi ya terlambat”.

Apakah semua pejabat harus datangnya terlambat? Apakah pejabat tidak dapat datang lebih awal (tepat waktu) sebagai panutan atau teladan warganya? Apakah bila pejabat datang tepat waktu atau lebih awal akan mengurangi nilai prestisenya sebagai pejabat?

Ing Madya Mangun Karsa

Artinya kita sebagai seseorang yang yang berada di antara orang-orang atau di tengah-tengah masyarakat hendaknya selalu dapat menciptakan prakarsa dan ide, dalam bahasa kekinian kita hendaknya dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

Selain itu kita hendaknya juga dapat membangun percaya diri pada orang-orang di sekitar kita. Pada bagian ini, khususnya kalangan pendidik atau guru memainkan peran penting dalam membangun prakarsa, ide dan percaya diri bagi peserta didiknya terutama dalam proses belajar mengajar sesuai dengan porsi atau kodratnya.

Baca Juga: Identitas Ibu, Pemertahanan Bahasa Ibu

Kehadiran seorang pendidik atau guru sebagai falisitator dalam proses belajar mengajar dengan menghadirkan berbagai macam metode, strategi, teknik, model dan media pembelajaran guna mewujudkan pembelajaran yang berkualitas dan bermartabat. Seperti yang dicanangkan oleh mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi , Nadiem Makarim, yaitu program Merdeka Belajar.

Mengutip dari sevima.com, yang dimaksud dengan merdeka belajar adalah memberi kebebasan dan otonomi kepada lembaga pendidikan, dan merdeka dari birokratisasi. Dosen dibebaskan dari birokrasi yang berbelit serta mahasiswa diberikan kebebasan untuk memilih bidang yang mereka sukai. Konsep belajar merdeka bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada mahasiswa untuk belajar di luar kampus.

Konsep tersebut terus dikembangkan oleh Kemendikbud sebagai upaya untuk mendapatkan calon pemimpin masa depan yang berkualitas. Di sini tampak bahwa kebijakan merdeka belajar sebagai legacy mas Menteri, Nadiem Makarim, dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin berat dan kompleks ini.

Sehingga peserta didik khususnya mahasiswa tidak hanya berpikiran textbook oriented yang bersifat hafalan ataupun hanya mampu dalam satu bidang saja, namun siswa hendaknya memiliki kemampuan interdisipliner bahkan multidisipliner.

Maka dari itu, program ini memungkinan adanya kebijakan dalam satu kelas antara satu siswa dengan yang lainnya tidak mengambil mata pelajaran atau mata kuliah yang sama atau seragam, seperti yang diimpikan oleh KHD. Pendidikan hendaknya tidaklah memaksakan untuk sama atau seragam, namum mengutamakan bakat masing-masing anak didik. Dalam tulisannya, KHD menyatakan bahwa anak-anak tumbuh berdasarkan bakat alaminya dan kekuatan kodratinya yang unik sehingga tidak akan mungkin dalam pendidikan “mengubah padi menjadi jagung” atau pun sebaliknya

Tut Wuri Handayani

Artinya dari belakang kita hendaknya mendukung atau mendorong kepada orang yang ada di sekitar kita untuk lebih maju dan percaya diri. Bagi seorang pendidik, khususnya, harus dapat memberi dukungan, dorongan dan arahan kepada anak didik atau siswa untuk dapat mengembangkan minat dan bakat serta kemampuannya semaksimal mungkin.

Subkhan menyatakan bahwa konsep pendidikan dan aktivitas yang dikemukakan oleh Ki Hadjar dengan istilah Jawa momong , among, danngemong menunjukkan orientasi gagasan dan praktis pendidikan yang berorientasi keluarga.

Hal ini menyiratkan bahwa dalam dunia pendidikan hendaknya seperti dalam keluarga, sehingga siswa merasa aman dan nyaman dalam kegiatan belajar mengajar sehari-harinya bahkan akan ada kerinduan bila tidak berada di tempat itu.

Guru dalam memberi pelajaranan kepada siswanya hendaknya sebagaimana layaknya seorang bapak atau ibu dengan anaknya sendiri.

Guru harus memiliki nilai-nilai momong , among, danngemong dalam menghadapi siswa. Seperti sabar, ikhlas, demokratis, toleran, disiplin dan dapat menyesuaikan diri. Guru hendaknya memberi memberi kebebasan yang luas kepada anak didiknya selama tidak ada bahaya yang mengancam. Oleh karena itu guru sering disebut dengan pamong, yaitu orang yang momong.

Menurut hemat penulis, sebutan anak didik yang disematkan pada siswa akan jauh lebih baik dari pada peserta didik. Karena ada unsur ikatan antara anak dan orang tua.

Dengan konsep momong, among, dan ngemong inilah dunia kanak-kanak dari anak didik kita. Seperti bermain, berkreasi, tumbuh kembang, mengeksplorasi, tertawa, dan bermimpi akan terpenuhi. Sehingga kelak akan tumbuh menjadi generasi emas yang cerdas dan berkualitas. Semoga.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Pendidikan berkelas menciptakan generasi berkualitas.

*Penulis adalah dosen Program Pascasarjana Universitas PGRI Madiun dan anggota Cebastra.