Inmemoriam “Blanggur”: Penda Arkais Waktu Buka Puasa Zaman Dulu

  • Whatsapp
Blanggur hitam
Ilustrasi
banner 468x60

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Sebutan Anomatope “Blanggur” atau “Mercon Dul”

Bentuknya lucu, seperti bola hitam atau coklat yang bergerak cepat melambung ke angkasa. Lesatan geraknya tidak benar-benar bergaris lurus, melainkan berkelok-kelok kecil (istilah Jawa “ugal-ugil”) ke arah atas.

Sekilas, bulatan sebesar jeruk bali — tapi tidak berwarma hijau, melainkan hitam atau coklat — tampak seperti berekor. Menilik bentuk maupun gerakannya, mengingatkan pada gerak kecebong (berudu) raksasa di dalam air jernih.

Namun, itu bukan binatang air kecebong, dan bukan pula jeruk bali hitam/coklat berekor. Jika bukan keduanya, lalu apa? Itulah apa yang disebut blanggur, mercon du (ndul), bom udara atau denggling.

Ujung ekor yang percikkan nyala api itu sebenarnya adalah sumbu yang bernyala. Adapun benda bulat hitam/coklat yang meroket jauh ke angkasa adalah “mercon” besar.

Baca Juga: Literary Quotient (LQ) atau Kecerdasan Sastrawi

Manakala rembetan api tali sumbu menyentuh bola mercon, sontak muncul kilatan api yang membuat terang sebagian langit yang mulai gelap karena senja.

Bersamaan itu berdentum amat kencang bunyi “bllang”, lantas diikuti segera oleh suara “guuuuur” yang menggema di ankasa rata dan terdengar hingga kejauhan. Bunyi ledakkan dari mercon besar itu, yakni “blang + gur” dijadikan sebutan untuknya, yaitu “blanggur”.

Beberapa puluh detik sebelumnya, ada suara keras “dul” sebagai bunyi ledakan pelontar bola mercon besar itu dari dalam tabung besi menuju ke arah atas.

Baca Juga: Alih Wahana Cerita Wayang

Bunyi “dul” dari mercon besar terse- but menjadi sebutan lain terhadapnya, yaitu “mercon dul (varian sebutannya ‘ndul’)”. Kadang pula mendapat sebutan “bom udara”, sebab mencon besar itu laksana bom yang meledak di angkasa di senja hari menjelang azan Magrib sebagai pertanda berbuka puasa. Ada sebutan lain baginya, yaitu “denggling”.

Sebutan “blanggur” dan “dul” metupskan istilah “onomatope, yaitu kata atau seke- lompok kata yang menirukan bunyiab dari sumber yang digambarkannya. Konsep ini berupa sintesis dari dua istilah Yunani, yaitu “όνομα” dan “ποιέω”, yang artinya adalah pembuatan nama atau menamai sebagaimana bunyinya.

Baca Juga: Pandemi dan Konspirasi dalam Novel Disorder

Kata “blang” dan bersambung dengan “guuur” merupakan bunyi dentuman dari mercon besar ketika diledakkan di angkasa untuk menandai akhir waktu puasa pada setiap hari selama di bulan Ramadhan. Sebutan “onomatope” lain untuknya adalah “dul” atau “mercon dul”.

Suatu sebutan yang mendasarkan pada bunyi “dul” sebagai letusan awal di dalam bumbung besi tebal untuk me- lontarkan mercon bulat besar itu ke angkasa.

Berkaitan dengan itu, dahulu terdapat tradisi “nyumet (nyulet) mercon dul” setiap tahun tiap bulan Ramadhan.

Baca Juga: Pandemi dan Konspirasi dalam Novel Disorder

B. Momentum Waktu Ketika Puasa Bulan Ramadhan

Bagi umat Islam, sasi Ramadhan adalah bulan suci, kurun waktu dimana selama sebulan penuh warga Muslim menjalankan ibadah puasa (saum), yang disebut “Puasa Ramadhan”.

Waktu berpuasa dalan Islam adalah sejak terbitnya fajar pagi hingga terbenam matahari di senja hari. Awal waktu dan akhir waktu berpuasa beri penanda. Kebanyakan menyangka bahwa “awal waktu” berpuasa adalah “imsak”.

Padahal, secara harafiah istilah “imsak” merupakan rukun ke-2 dalam ibadah puasa, yang artinya adalah: menahan dari segala hal yang membatalkan puasa. Di Indonesia, imsak dikenal sebagai waktu yang berada beberapa menit sebelum memasuki azan subuh.

Waktu imsak biasanya ditandai dengan berkumandangnya shalawat tarhim di masjid. Banyak orang menyangka bahwa ketika memasuki imsak maka sahur harus dihentikan.

Terkait dengan itu Sekjen MUI (Majelis Ulama Indonesia) Anwar Abbas mengatakan bahwa waktu puasa dimulai dari “terbitnya fajar kedua, atau waktu subuh” hingga “terbenam matahari”. Yang berarti diawali dari azan Subuh hingga azan Magrib.

Tibanya berbuka puasa merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh pelaku puasa. Bukan hanya karena sejak itu boleh makan, minum atau hal-hal lain yang pada waktu sebelumnya tidak diperkenankan, namun berarti pula bahwa ibadah puasa pada hari itu telah tunai.

Utamanya bagi anak- anak dan remaja, waktu berbuka pussa merupakan momen waktu yang dinanti- nantikan. Konon ketika tak semua orang mem- punyqi jam ataupun alat pengukur waktu yang lainnya, petanda bunyi yang berbentuk bedug, kenthongan, atau blanggur amat berguna sebagai petanda waktu berbuka puasa.

Dalam kurun waktu panjang, semenjak masa Hindia- Belanda hingga akhir 1970-an, pada berbagai daerah di Indonesia perangkat bunyi berupa blanggur dijadikan petanda waktu buka puasa. Bilamanakah blanggur mulai digunakan sebagai petanda waktu? Ada catatan pada laporan Christiaan Snouck Hurgronje tahun 1891-1892, bahwa tradisi membunyikan blanggur telah ada di di Aceh sejak era Kesultanan Deli.

Kini, petanda waktu itu hanya berupa kuman- dang azan Magrib di loud speaker (pengeras suara) di masjid/surau, tayangan TV, ataupun siaran radio. Tidak semua masjid atau surau di waktu sekarang yang ajeg menabuh waditra bedug dan kentongan sebagai bunyi pendahulu bagi kumandang azan.

Oleh karena itulah, kini tidak lagi ada yang dinamai “menunggu bedug maqrib” atau “menanti blanggur”. Yang ada kini adalah menunggu kumandang azan Maqrib.

Dentum keras dari “blanggur (bom udara atau mencon dul)” yang konon setiap jelang azan Maqrib di bulan Ramadhan senantiasa dibunyikan, memasuki tahun 1980-an tradisi ini mulai ditiadakan. Mengapa ditiadakan?, karena bahan peledak (bom udara) tersebut dianggap berbahaya.

Ada imbauan dari kepala daerah dan pe- muka agama bahwa “blanggur berisiko”. Terkadang, blanggur yang menghempas ke udara itu tidak dibarengi dengan ledakan. Akibatnya, ledakan terjadi tatkala sudah jatuh ke tanah, dan bisa menciderai warga yang tengah melihatnya. Selain faktor keselamatan, biaya penyediaan blanggur terbilang tidak murah.

Oleh karena itulah lama kelamaan tak lagi dilakukan penyu- lutan blanggur di setiap bulan Ranadhan dan awal bulan Shawal. Akhirnya, tradisi ini makin menghilang seiring adanya media pengingat tibanya waktu buka puasa yang lebih memadai.

Penanda berbuka puasa beralih melalui media televisi, radio, ataupun petanda bunyi tradisio- nal yang berupa beduk dan kenthongan. Bisa juga blanggur digantikan oleh “suling (sirine).

Di Kabupaten Gresik misalnya, blanggur sem- pat digantikan oleh suling (sirine) yang berada di puncak “menara suling” di Jl. Basuki Rahmad, yang suaranya nyaring sekali. Demikianlah, memasuki dasawarsa 1980-an bunyi yang khas dari blanggur mulai ditinggalkan.

Praktis pada empat dasawarsa terakhir (1980- an sd. sekarang) tradisi blanggur tinggal men- jadi kenangan, alias “inmemoriam blanggur”. Bahkan, bedug, kenthongan, ataupun suling (sirine) sebagai sumber bunyi untuk petanda waktu ibadah telah berlalu, tergantikan oleh media bunyi berupa loud speaker dan media elektronik yang lainnya.

Kalaupun pada suatu masjid/surau masih terdapat waditra bedug dan atau kenthongan, kini tinggallah menjadi benda tinggalan masa lalu (monument), yang telah tak dibunyikan lagi atau hanya sesekali ditabuh.

C. Waktu Berbuka Puasa di Era Blanggur

Konon hingga akhir dekade 1970-an ada tradisi “nyumet (nyulet) mercon dul (menyalakan mercon dul) atau blanggur tiap senja, menjelang masuk waktu Magrib. Bunyinya dijadikan sebagai petanda waktu berbuka puasa.

Biasanya, tempat untuk membunyikan blanggur (mercon dul) adalah alun-alun, pada muka Masjid Jami’ di suatu daerah. Bisa juga pada suatu daerah terdapat dua tempat penyulutan Blanggur.

Di Jakarta misalnya, ada dua masjid padamana blanggur dibunyikan, yaitu Masjid Kwitang dan Masjid Baitul Rahman di Tanah Abang. Telah semenjak Masa Hindia-Belanda, masa Pendudukan Jepang (Dai Nipon).

Hingga Masa Kemerdekaan RI pada kedua masjid itu blanggur dibunyikan pada setiap bulan Ramadhan untuk menandai tibanya waktu berbuka puasa.

Begitu pula di Surakarta (Solo), blanggur pernah dibunyikan baik di Masjid Agung Kasunanan maupun di Masjid Tegalsari.

Semula, pada Keraton Surakata meriam (salvo) yang dibunyikan untuk menandai peristiwa tertentu yang peting. Barulah kemudian fungsi dari meriam, khususnya sebagai petanda waktu berbuka puasa digantikan dengan bom udara (blanggur, mercon dul), yang dinyalakan di Masjid Agung Kasunanan Surakarta.

Tradisi sulut dul yang telah berlangsung sejak Masa Hindia-Belanda itu sempat terhenti saat meletusnya Gerakan 30 September tahun 1965, sedangkan yang di Masjid Tegalsari baru dimulai di tahun 1960- an.

Hampir semua daerah di Jawa dan bebe- tapa tempat konon blanggur dijadikan sebagai petanda khusus buka puasa. Selain itu, blanggur dibunyikan untuk menandai Idul Fitri dan Idul Adha (Qurban). Blanggur pada waktu itu memberi suasana kemegahan terhadap momentum Idul fitri dan Idul Qurban.

Pada awalnya blanggur menjadi barang import yang didatangkan dari Cina. Namun, dalam perkembangannya perantau Tionghoa di sejumlah daerah di Pantura Jawa, misalnya Tuban, Tegal, Cirebon, dsb.

Mampu memproduksinya sendiri blanggur yang dibutuhkan oleh daerah- daerah sebagai petanda berbuka puasa sebanyak 30 hari sebulan penuh di bulan Ramadhan. Pada umumnya disedikan 40 blanggur.

Tiga buah dibu- nyikan pada malam pertama menjelang Ramadhan, 30 buah tiap sore selama sebulan, dan tiga buah di malam terakhir puasa. Adapun sisanya, dinyalakan pada saat selesai salat Ied.

Mercon bulat be- sar ini diletakkan di dalam bumbung besi dengan arah ke atas. Setelah ledakannya yang pertama dengan bunyi “dul”, mercon bulat besar itu meluncur keatas. Ketika sumbu panjangnya yang terbakar menyentuh bola mercin, terjadi ledakan dengan suara berdentum menggelagar, seperti bunyi bom yang meledak di angkasa.

Kala itu, momentum penyulutan blanggur men- jadi semacam “hiburan gratis” warga daerah ketika senja hari di bulan Ramadhan. Banyak orang berdatangan ke alun-alun untuk menyak- sikan menyalaan blanggur (mercon dul). Bagi yang tak bekesempatan datang ke alun-alun, maks cukup melihat dari halaman rumahnya mading-masing.

Yang paling ditunggu-tunggu adalah bunyi “dul” yang disusul dengan terlon& tarnya tinggi-tinggi blanggur hingga terlihatlah nyala apinya hingga kejauhan.

Sejurus kemudian terdengar dentum keras “blang .. . guur …” di angkasa. Lontaran mercon besar yang tinggi di angkasa dan bunyi menggelegar kerasnya itu bisa ditangkap hingga kejauhan.

Namun, kadang terjadi bahwa mercon besar warna hitam dan bersumbu panjang itu tak meledak di angkasa (mejen). Kondisi yang demikian itu menakutkan, karena mercon besar itu kembali turun, dan apabila nahas bisa meletus di permukaan tanah. Para penonton di alun-alun lari tunggang langgang menyelamatkan diri.

D. Inmemoriam Blanggur

Hanya orang-orang yang lahir di tahun 1970-an dan sebelumnya yang sempat mengenyan era Blanggur. Era ini kayaknya mustahil untuk bisa berulang lagi. Blanggur oleh karenanya tinggal merupakan “cerita lama”, lengan bagi yang pernah mengalaminya. Kendati kini tidak lagi ditemui, kenangan akan blanggur tersimpan dalam memorinya.

Tak mudah baginya untuk dapat mengkisahkan mengenai mencon besar yang bagai bom udara itu pada anak cucunya. Bukan saja karena generasi muda yang diceritai itu tak menyaksikan sendiri, namun suasana zamannya telah berbeda. Pada masa lampsu, bunyi blanggur sensasional, dan pengalaman menonton blanggur adalah kegembiraan yang tiada tara.

Pada dasarnya blanggur merupakan “bom”, alias bahan peledak. Meskipun demikian, namun bom ini bukan seperti bomnya teroris yang mematikan atau setidaknya melukai dan merusak bangunan fisis. Bom udara bernama “blanggur” adalah “bom yang berguna”, yang suara keras ledaknnya menjadi petanda waktu buka puasa, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Bom berwujud mercon besar itu konon sekaligus merupakan tontonan gratis yang “ngeri-ngeri sedap” bagi yang menyaksikan penyulutannya secara langsung di alun-alun, di depan masjid Jami’.

Selamat tinggal blanggur, memori akan dentuman blanggur tersimpan hingga kini. Sumonggo, masing- masing yang beruntung menyimpan memori blanggur di daerahnya dapat berbagi kisah. Nuwun.

Sangkaling, 18 April 2021
Griyajar CITRALEKHA