Hormatilah Orang Lain untuk Menjadi Orang yang Terhormat

  • Whatsapp
Ilustrasi.
banner 468x60

Oleh: Dr. Sulistyani, M.Pd.

Dalam berinteraksi dengan banyak orang seringkali terjadi kesalah pahaman. Dalam bermusyawarah sering terjadi perbedaan pendapat. Dalam bersosialisasi sering tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak berkomentar negative. Bahkan mungkin orang sering memaksakan orang lain melakukan apa yang kita mau. Semua ini membuat orang tidak merasa nyaman dan membuat hubungan sosial menjadi tidak baik.

Hubungan sosial antar sesama sering menjadi tidak baik salah satunya adalah urusan saling hormat menghormati atau harga menghargai. Masalah ini terdengar sepele dan sudah kerapkali dibahas dimana-mana.

Baca Juga

Namun begitu tetap dirasa perlu disampaikan lagi dan lagi karena ini menyangkut kualitas dan kebutuhan sepanjang hayat setiap pribadi sebagai makhluk yang tidak bisa hidup sendiri.

Hal ini juga karena ada hal penting yang sering terlupakan yakni bahwa masing-masing orang memilki hak yang sama yaitu hak untuk menghormati dan dihormati. Disamping itu orang sering kurang kritis merespons tindakan orang lain terkait konteks yang mempengaruhinya atau bisa jadi pengetahuan dan kemampuan untuk menghormati orang lain yang masih kurang.

Ada beberapa alasan mengapa seseorang tidak dihormati antara lain adalah mungkin karena sering berbicara hal yang tidak penting dan sulit mengontrol emosi. Berbicara banyak apalagi mengomentari orang lain yang tidak seharusnya selain sekedar tidak penting dan membosankan juga bahkan justru melukai hati orang lain atau setidaknya dapat disebut reseh (mengganggu). Sedangkan sulit mengontrol emosi biasanya terlihat dari cara bicara, ekspresi wajah, dan gesture tubuh pembicara.

BACA JUGA: Satu Kata: “KUIS”

Ketika berbicara dalam kondisi emosi dengan orang yang tidak tepat justru membuat lawan bicara marah, jengkel, terganggu, kecewa, tersinggung, atau tidak nyaman. Bentuk tindakan tersebut misalnya dengan dalih bertanya yang sebenarnya dapat dijawab sendiri. Pertanyaan tersebut bertujuan untuk mengetes, mengkonfirmasi, menyindir dan sebagainya.

Rasa menghormati dan dihormati adalah nilai moral yang melekat pada manusia sebagai makhluk sosial. Penting bagi kita untuk memiliki rasa ini dan harus sudah tertanam mendalam untuk membuktikan bahwa kita makhluk social yang baik. Bagaimana caranya? Kuncinya adalah dengan memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain.

Jika hal ini benar-benar disadari, niscaya kehati-hatian dalam berinteraksi dengan orang lain akan terbawa. Misalnya dengan mempertimbangkan jika melakukan sesuatu terhadap orang lain di umpamakan dulu jika orang lain melakukan hal yang sama pada diri kita. Contoh lainnya misalnya dengan mempertimbangkan untung ruginya serta efek setelahnya. Penting juga untuk mengetahui alasan mengapa orang lain tidak berbuat seperti yang kita harapkan.

Dengan memaklumi alasan yang rasional, egoisme dan emosi terhadap orang lain akan terkendali. Cara lain yang tidak kalah penting antara lain adalah: sadari bahwa orang lain memiliki perasaan dan hak yang sama seperti kita, sadari bahwa orang lain juga butuh privasi, hargai pendapat orang lain, ketahui bahwa orang lain bernilai seperti kita, hargai diri sendiri, jadilah pendengar yang baik, jangan terlalu mencampuri urusan orang lain bersikaplah santun dan bijaksana.

BACA JUGA: “Sampeyan vs. Panjenengan”: Bagaimana Digunakan Secara Tepat?

Rasa tidak dihormati ada yang diungkapkan dan ada pula yang tidak terhadap kita. Untuk menanggapi ungkapan rasa tersebut masing-masing orang tentunya memiliki cara yang bervariasi. Ada yang suka menyelesaikan apa yang dirasa perlu dibereskan dengan memberi penjelasan duduk permasalahannya, ada yang mengalah dengan menuruti apa maksud orang tersebut, meminta maaf, dan ada yang justru mengabaikan dengan menjawab sekedarnya dan cuek.

Mana cara yang baik? Menurut saya tergantung kepentingannya. Jika dirasa penting untuk dijelaskan tentunya harus dijelaskan. Jika dengan penjelasan malah memperuncing ketidaknyamanan mungkin diam akan lebih baik menjadi pilihan banyak orang. Oleh karena itu sering kita dengar istilah diam itu emas.

Apakah kita sudah menghormati orang lain? Sebelum mengklaim untuk dihormati, sebaiknya bertanya pada diri sendiri dulu apakah kita sudah menghormati orang lain? Kita sering tidak sadar atau lupa bahwa orang lain juga mengharapkan dirinya dihormati. Tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata tetapi untuk menhormati orang lain dapat kita tunjukkan dengan perilaku positif dan sesuai dengan konteksnya.

Jika mengungkapkannya dengan kata-kata, ungkapan sederhana saja sering menunjukkan rasa hormat atau menghargai, misalnya ucapan terimakasih, ungkapan maaf, atau minta tolong. Syaratnya adalah tulus, bukan pura-pura atau acting karena kepura-puraan tidak akan menyelesaikan kegundahan.

Sebagai pengingat bagi kita semua, jangan memaksa orang lain menghormati kita tetapi berilah contoh dengan perilaku nyata dalam menghormati orang lain. Wajib disadari bahwa siapapun itu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Tak satupun orang hanya memiliki kelebihan dan demikian juga tak satupun orang hanya memiliki kekurangan. Ketika seseorang bersalah atau tidak menghormati kita, seketika itu kita pasti tersinggung dan kecewa. Kendalikan emosi! Itu sering cermin atas apa yang telah kita lakukan. Sebelum bertindak, cari alasannya dan coba ingat-ingatlah kebaikan-kebaikannya kepada kita.

Jadi, untuk dapat berinteraksi secara harmonis dengan sesama diperlukan tindakan yang seimbang artinya tidak hanya melihat apa kekurangan yang dilakukan pihak lain tetapi juga melihat apa yang sudah kita lakukan. Esensi kata saling berperan penting. Saling menghormati adalah pelajaran sehari-hari melalui pengalaman nyata yang ternyata tidak mudah untuk melakukannya dengan setulus-tulusnya. Oleh karena itu harus selalu berusaha meluluhkan egoisme diri sendiri dengan selalu mengingat hormati orang lain untuk menjadi terhormat. Semoga bermanfaat.

*Penulis adalah dosen Universitas Nusantara PGRI Kediri dan pengurus DPP Cebastra.