Gus tf Sakai: Sastrawan Sastra Yang Melintas

  • Whatsapp
sastra yang berjalan
Ilustrasi Sastrawan
banner 468x60

Oleh: Muhammad Suharto*

Dunia Sastra Indonesia sejak lama diwarnai dan dipengaruhi oleh para sastrawan asal Sumatera Barat. Wilayah yang juga dikenal sebagai Minangkabau ini memiliki begitu banyak nama populer yang mengisi khazanah Kesusasteraan tanah air sejak masa-masa awal sampai saat ini.

Kita mengenal nama-nama seperti Abdul Muis, Muhammad Yamin, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Idrus, sampai Chairil Anwar dan Taufiq Ismail. Salah satu sebab mengapa tanah Minang begitu banyak memiliki potensi lepujanggan yang besar adalah tak lain karena suasana sastra lisan (orality) berakar kuat dan tumbuh subur dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya melalui berbagai ekspresi, sarana dan sebarannya sebagai sebuah tradisi turun temurun.

Diantara sekian nama besar di atas, sastra Indonesia mencatat satu nama yakni Gusti tf. Berbagai bentuk karya sastra dalam bentuk novel remaja, cerpen, dan puisi telah dihasilkannya. Selain itu, Gus tf juga acap kali menerima berbagai penghargaan atas karyanya.

Gus dilahirkan Payakumbuh, Sumatra Barat pada tanggal 13 Agustus 1965 dalam lingkungan keluarga Islam yang taat. Sejak berumur tiga tahun Gus telah menjadi yatim dan diasuh oleh amak (ibu) nya. Kondisi perekonomian yang pas-pasan membuat  Gus berusaha mendapatkan uang dengan memanfaatkan bakatnya dalam menulis puisi dimedia cetak.

Pada pekembangan selanjutnya Gus lebih serius mengembangkan karya kreatifnya dibidang penulisan sastra. Gus dikenal sebagai seniman petualang. Petualangan yang dimaksud disini lebih kepada petualangan imaji. Gus melakukan perantauan mental dalam berbagai karya yang ditulisnya, khususnya untuk sajak-sajaknya yang bisa dijumpai dalam bentuk tema dan narasinya.

Baca Juga: I Wayan Sastra, Perupa Gandrung Ikonik Banyuwangi Terkulai Idap Penyakit Paru

Gus berkelana jauh melintasi alam imaji yang menghasilkan berbagai renungan dan pertanyaan yang lantas diekspresikan melalui bahasa tulis. Melalui proses perjalanan, perpindahan, dan pergerakan imajiner inilah Gus memberi porsi lebih, sehingga karya nya berhasil melintasi berbagai sekat norma, budaya dan segala perbedaan lainnya. Gus meyakini bahwa sastra memiliki pesonanya sendiri untuk membuat dunia menjadi sebuah tempat yang lebih indah dan harmoni.

Nama aslinya adalah Gustafrizal Busra. Gus tf dan Gus tf Sakai adalah nama pena untuk orang yang sama. Gus tf digunakan untuk karya  puisi, sedangkan dan Gus tf Sakai yang lebih sering dipakai untuk prosa. Jadi, Gus adalah seorang novelis dan penyair sekaligus.

Sebagai novelis Gus telah melahirkan karya sastra berupa novel, seperti Segi Empat Patah Sisi (1990), Segi Tiga Lepas Kaid (1991), dan Ben (1992. Kemudian ada Tambo Sebuah Pertemuan (2000) yang terbit dalam edisi berbahasa Inggris oleh Metafor Publishing, disusul kemudian dengan novel berjudul Tiga Cinta, !bu (2002).

Gus sunggguh seorang ahli dalam menggunakan bahasa dalam karyanya. Kita bisa merasakan keindahan bahasanya yang sejuk lembut bak serunai disatu sisi, namun dahsyat menghentak menakutkan disisi lain. Kadang pula menghiba sekaligus melankolis dan merayu membuat baper penikmat novel-novelnya.

Baca Juga: Kebenaran dalam Sastra dan Pentingnya Riset

Disisi lain, sebagai penyair Gus menghasilkan banyak puisi yang beberapa diantaranya  memenangi sayembara diberbagai ajang. Kumpulan puisi lepas yang telah dibukukan diantaranya adalah Sangkar Daging (1997) yang juga merupakan kumpulan sajak nya antara tahun 1980-1995.

Buku puisinya yang kedua adalah Daging Akar yang terbit dalam bahasa Indonesia dan Inggris  Selain menggunakan bahasa Inggris, sejumlah puisi Gus juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Jerman dan bahasa-bahasa lainnya.

Gus tf menggunakan bahasa yang pendek ringkas dan bersahaja dalam hamper semua karyanya.. Justru disini letak kekuatannya.  Konten puisinya jelas, runut dan tuntas, tak pernah menggantung diatas awan. Penikmat puisinya mengatakan mereka selalu merasakan suatu kehangatan nan lembut, laksana rabaan penuh sayang nan membuai dalam untaian kalimat puitis Gus.

Gus juga membiarkan lepas ide puisinya tanpa memaksakan pesan  otoritatif yang mengikat. Dia memberi ruang kepada penikmatnya untuk menafsirkan segala sesuatunya berdasarkan pendapat dan kehendak mereka sendiri. Gus lebih suka memberikan ‘cermin’ untuk mengenal dirinya sendiri daripada memaksakan penafsiran dogmatis. Kalimatnya senantiasa bergerak dan berproses menemukan kebenaran hakiki.

Baca Juga: Sastra Harus Tetap Milik Masyarakat Umum

Sebagaimana pengarang lain, puisi-puisi Gus juga banyak bercerita tentang kehidupan. Namun, Gus senantiasa berupaya menunjukkan semangat dan optimisme. Ia bersikukuh untuk menerima kenyataan hidup sebagaimana adanya tanpa perlu menengok ke belakang. Que sera-sera. Whatever will be, will be.

Dalam beberapa wawancara Gus selalu mengatakan dia hanya bisa menulis. Tentu yang dimaksud Gus adalah sejak menjatuhkan pilihan hidup sebagai penulis maka dia akan tetap menulis dan senantiasa ingin dikenal dan dikenang sebagai penulis.

Baca Juga: Harmonisasi dalam Sastra Jawa Pesisiran

Lalu apa rahasia suksesnya selama ini? Sejauh yang penulis lihat adalah konsistensi dan kesungguhannya yang membuatnya menjadi pengarang besar. Totalitas dalam berkarya adalah suatu keniscayaan.

Kita semua berharap agar Gus tetap menghasilkan karya-karya hebat yang mampu menjadi inspirasi penulis-penulis setelahnya. Pada saatnya nanti Gus tf atau Gus tf Sakai akan berbahagia melihat mereka menghasilkan karya-karya yang tak kalah hebat darinya, seperti yang diungkapkan dalam sajaknya :

Nanti, ketika aku pergi, akan tiba pendatang lain
dengan kalimat lain. Mungkin mereka jelaskan, segenap
misteri kehidupan; tetapi tidak tentang mereka sendiri. Selalu,
kata mereka, “Ada lampu. Tapi bukan buat disuluh dalam diri.”

Pendatang (1999):

*Dosen, pecinta budaya dan anggota Cendekiawan Bahasa dan Sastra (CEBASTRA).