Minggu, Mei 29, 2022
BerandaOpinionEssayTombak Pusaka Kiai Upas dan Legenda Jawa "Baru Klinting"

Tombak Pusaka Kiai Upas dan Legenda Jawa “Baru Klinting”

Oleh : M. Dwi Cahyono*

A. Legenda Muasal Tombak Kiai Upas

Tombak Kiai Upas dengan legenda Jawa “Baru Klinting”, dikisahkan dalam tradisi lisan secara mistis. Memang, legenda ini memiliki sejumlah versi. Salah satu versinya terkait dengan riwayat muasal tombak pusaka Kiai Upas. Sebagaimana penuturan dari anggota keluarga T.M.T. Pringgojoesoemo, yakni Ki Winarto, juru kunci Tombak Pusaka Kiai Upas. Menurutnya,  pemberi  nama “Kiai Upas’ adalah Ki Wonoboyo sendiri.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Tersebutlah seorang pengelana sakti bernama Wonoboyo. Ia berjalan menuju daerah Mataram untuk membuka hutan (babad) di dekat Rawa Pening, Ambarawa. Areal yang dibukanya itu kelak diberi nama “Desa Mangir”, nama yang diambil dari nama putranya. Adapun latar kelahiran putranya itu dikisahkannya secara mistis bahwa suatu hari Ki Wonoboyo selenggarakan selamatan bersih desa.  Sejumlah wanita turut membantu penyiapan. Di antaranya dalam hal memasak memasak dan mempersiapkan kelengkapan upacara. Salah seorang di antara  mereka masih gadis. Ia ingin membantu iris bumbu dapur, tapi terlupa membawa pisau. Ia berinisiatif pinjam pisau pada Ki Wonoboyo.

Ki Wonoboyo meminjaminya pisau dan berpesan agar pisau itu tak ditaruh di pangkuannya. Sembari menyepakati pesan tersebut, dan lalu perempuan itu berlalu. Pergi menuju ke dapur untuk memasak. Dia mengiris bumbu masak dengan pisau pusaka itu. Demikian seriusnya, sampai-sampai ia lupa akan pesan wigati dari Ki Wonoboyo dan memangku pisau tersebut. Seketika itu pisau pusaka itu lenyap, dan mengakibatkannya hamil. Kejadian itu diceritakannya pada Ki Wonoboyo. Mengingat bahwa pusaka itu adalah miliknya, maka Ki Wonoboyo merasa prihatin.

Pada versi lain dikemukakan bahwa Wonoboyo pun memperistrinya guna menutupi aib perempuan tersebut. Sesudah itu pergilah Wononoyo  bertapa ke puncak Gunung Merapi. Ia tinggalkan wanita hamil itu entah berapa lamanya. Ia hanya menitipkan sebuah “klinthing” padanya sebagai kenangan. Waktunya melahirkan pun tiba. Betapa terkejutnya, bayi terlahir berupa naga. Dan kemudian dinamai “Baru Klinthing” — lantaran naga itu kenakan klinthing pemberian Ki Wonoboyo.

Baru Klinthing dibesarkan ibundanya di wilayah Rawa Pening. Semenjak kecil ia selalu bertanya perihal “siapa ayahnya”. Ibundanya baru akan memberitahukan sosok sang ayah ketika ia telah menginjak usia dewasa awal. Kala itu, Ibunya mengatakan bahwa ayah Batu Klinting adalah Ki Wonoboyo. Sang ibu menyuruhnya ke puncak Merapi untuk menemui ayahnya. Pada puncak Merapi itulah Baru Klinting menjumpai ayahnya yang tengah bertapa. Dan meminta untuk mengakuinya sebagai anak. Wonoboyo sedia mengakui sebagai anak, dengan syarat dapat melingkari pucuk merapi. Tanpa berlama lama, Baru Klinthing berupaya untuk melingkari pucuk merapi. Sayang sekali kurang panjang, hanya kurang sejengkal. Memenuhi kekurangan itu, ia menjulurkan lidahnya.

Demi melihat lidah menjulur itu, Ki Wononoyo menebas dengan senjatanya. Potongan lidah itu pun berubah menjadi mata tombak. Baru Klinthing merasa bahagia karena Ki Wonoboyo mengakuinya sebagai anak. Setelah itu, Baru Klinthing menghilang, musnah, menjadi sebatang kayu. Kayu ini dijadikan sebagai lendean bagi pusaka tombak tersebut.

BERITA KHUSUS

Logo dan Maskot MTQ XXX Jatim 2023 Segera Rilis, Gus Ipul Apresiasi Karya Para Desainer

NUSADAILY.COM – PASURUAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan bakal segera memperkenalkan logo dan maskot ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an ke XXX Jawa Timur tahun 2023...

BERITA TERBARU

Waspada! Virus Hendra Berpotensi Jadi Pandemi, Ini Gejala dan Penularannya

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Virus Hendra disebut berpotensi menjadi pandemi di masa mendatang. Ahli epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia menilai potensinya sama...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily

Oleh : M. Dwi Cahyono*

A. Legenda Muasal Tombak Kiai Upas

Tombak Kiai Upas dengan legenda Jawa "Baru Klinting", dikisahkan dalam tradisi lisan secara mistis. Memang, legenda ini memiliki sejumlah versi. Salah satu versinya terkait dengan riwayat muasal tombak pusaka Kiai Upas. Sebagaimana penuturan dari anggota keluarga T.M.T. Pringgojoesoemo, yakni Ki Winarto, juru kunci Tombak Pusaka Kiai Upas. Menurutnya,  pemberi  nama "Kiai Upas' adalah Ki Wonoboyo sendiri.

Tersebutlah seorang pengelana sakti bernama Wonoboyo. Ia berjalan menuju daerah Mataram untuk membuka hutan (babad) di dekat Rawa Pening, Ambarawa. Areal yang dibukanya itu kelak diberi nama "Desa Mangir", nama yang diambil dari nama putranya. Adapun latar kelahiran putranya itu dikisahkannya secara mistis bahwa suatu hari Ki Wonoboyo selenggarakan selamatan bersih desa.  Sejumlah wanita turut membantu penyiapan. Di antaranya dalam hal memasak memasak dan mempersiapkan kelengkapan upacara. Salah seorang di antara  mereka masih gadis. Ia ingin membantu iris bumbu dapur, tapi terlupa membawa pisau. Ia berinisiatif pinjam pisau pada Ki Wonoboyo.

Ki Wonoboyo meminjaminya pisau dan berpesan agar pisau itu tak ditaruh di pangkuannya. Sembari menyepakati pesan tersebut, dan lalu perempuan itu berlalu. Pergi menuju ke dapur untuk memasak. Dia mengiris bumbu masak dengan pisau pusaka itu. Demikian seriusnya, sampai-sampai ia lupa akan pesan wigati dari Ki Wonoboyo dan memangku pisau tersebut. Seketika itu pisau pusaka itu lenyap, dan mengakibatkannya hamil. Kejadian itu diceritakannya pada Ki Wonoboyo. Mengingat bahwa pusaka itu adalah miliknya, maka Ki Wonoboyo merasa prihatin.

Pada versi lain dikemukakan bahwa Wonoboyo pun memperistrinya guna menutupi aib perempuan tersebut. Sesudah itu pergilah Wononoyo  bertapa ke puncak Gunung Merapi. Ia tinggalkan wanita hamil itu entah berapa lamanya. Ia hanya menitipkan sebuah “klinthing” padanya sebagai kenangan. Waktunya melahirkan pun tiba. Betapa terkejutnya, bayi terlahir berupa naga. Dan kemudian dinamai "Baru Klinthing" -- lantaran naga itu kenakan klinthing pemberian Ki Wonoboyo.

Baru Klinthing dibesarkan ibundanya di wilayah Rawa Pening. Semenjak kecil ia selalu bertanya perihal "siapa ayahnya". Ibundanya baru akan memberitahukan sosok sang ayah ketika ia telah menginjak usia dewasa awal. Kala itu, Ibunya mengatakan bahwa ayah Batu Klinting adalah Ki Wonoboyo. Sang ibu menyuruhnya ke puncak Merapi untuk menemui ayahnya. Pada puncak Merapi itulah Baru Klinting menjumpai ayahnya yang tengah bertapa. Dan meminta untuk mengakuinya sebagai anak. Wonoboyo sedia mengakui sebagai anak, dengan syarat dapat melingkari pucuk merapi. Tanpa berlama lama, Baru Klinthing berupaya untuk melingkari pucuk merapi. Sayang sekali kurang panjang, hanya kurang sejengkal. Memenuhi kekurangan itu, ia menjulurkan lidahnya.

Demi melihat lidah menjulur itu, Ki Wononoyo menebas dengan senjatanya. Potongan lidah itu pun berubah menjadi mata tombak. Baru Klinthing merasa bahagia karena Ki Wonoboyo mengakuinya sebagai anak. Setelah itu, Baru Klinthing menghilang, musnah, menjadi sebatang kayu. Kayu ini dijadikan sebagai lendean bagi pusaka tombak tersebut.

B. Varian Kisah Baru Klinting

Paparan di atas (2.1.1) memberikan gambaran bahwa muasal Tombak Pusaka Kiai Upas yang terkisah selama ini merupakan tradisi lisan (oral tradition) setengah legenda setengah mitos. Bentuk fisiknya yang berupa (a) mata tombak dari bahan logam dilegendakan terbentuk dari lidah naga Baru Klinthing. Adapun (b) tongkat atau landeannya yang berbahan kayu tersebut dilegendakan sebagai berasal dari tubuh seekor ular besar (naga) bernama "Baru Klinting". Demikianlah, berbeda dengan wujud fisis-materialnya yang berupa artefak berupa tombak dengan bahan logam dan kayu. Dalam legenda komponen- komponen Tombak Kiai Upas dilegendakan sebagai berasal dari lidah dan tubuh dari naga Baru Klinting. Tombak itu seakan naga Baru Klinting sendiri.

Legenda Baru Klinting berkenaan dengan muasal telaga ataupun sumber air besar. Terdapat sejumlah varian tentang sosok Baru Klinting dalam legenda Jawa seperti : (a) naga besar- panjang, (b)anak kecil penuh luka dan berbau amis, atau (c) paduan antara keduanya. Sosok- nya yang terkait dengan kisah Tombak Pusaka Kiai Upas adalah sebagai naga. Latar hadirnya kisah Baru Klinting di Tulungagung (unsur sebutan "tulung = sumber air yang besar) -- nama arkaisnya adalah "Ngrowo (Rawa, sebagaimana disebut di dalam kakawin Nagarakretagama) karena legenda tersebut sesuai dengan paleo- ekologi Tulungagung konon banyak memiliki sumber air besar (rawa, telaga, sendang, dsb).

Kisah naga Baru Klinting dalam kaitan dengan terbentuknya telaga, misalnya tergambar pada usul telaga Ngebel di Ponorogo. Baru Klinting adalah jelmaan Patih Kerajaan Bantaran Angin. Kala itu Sang patih sedang bermeditasi dengan wujud ular, dan secara tak sengaja ada seorang warga yang membawa ular itu ke desa. Sampai di desa, ular besar itu hendak dijadikan bahan  makanan. Namun sebelum dipotong, secara ajaib menjelma menjadi anak kecil. Lantas ia mendatangi masyarakat dan memutuskannya membuat sayembara dengan menancapkan lidi di tanah -- versi lainnya, yang ditancapkan adalah centong nasi (entong). Tidak ada yang berhasil mencabutnya. Bocah ajaib itulah yang berhasil mencabut, dan dari lubang bekas tancapnya keluar air yang kemudian membentuk telaga. Warga  sekitar memberi nama "Telaga Ngebel".

Legenda serupa terkait dengan muasal Rawa Pening. Baru Klinting adalah bayi naga, anak dari Endang Sawitri di Desa Ngadem. Bau tubuhnya amis seperi bau ular dan penuh luka. Tatkala besar bayi naga itu bertanya kepada ibunya apakah dia memiliki ayah. Ibunya pun menjawab bahwa ayahnya bertapa di Gunung Telomoyo. Baru Klinting  diminta temui sambil membawa tombak yang juga bernama "Baru Klinting" milik ayahnya sebagai bukti bahwa ia sungguh anaknya. Sesampai di lereng Gunung Telomoyo, Baru Klinting bertemu ayahandanya.

Sang ayah memintanya untuk bertapa di Bukit Tugur, supaya tubuhnya berubah menjadi manusia. Namun, ketika Baru Klinting bertapa di Bukit Tugur, warga Desa Pathok mencacah tubuhnya. Lantaran mereka belum temukan hewan yang dicari sebagai santapan pesta panen. Saat tubuhnya disiapkan sebagai santapan, arwah Baru Klinting menjelma menjadi seorang anak buruk rupa serta bau amis. Kisah selanjutnya sama dengan varian lainnya, yaitu swayambhara mencabut lidi sakti -- di dalam lakon Wayang Topeng Malang diberinya judul "Mbatek Sodo Lanang".

Di antara  beragam versi legenda tentang naga Baru Klinting itu terdapat di Tulungagung, yang bethubungan dengan Tombak Kiai Upas. Pada versi ini tidak disebut siapa ayah dari wanita yang hamil di luar nikah dan kemudian melahirkan seekor ular besar itu. Pada versi lainnya dikisahkannya sebagai putri dari Ki Demang Taliwangsa (varian : Ki Damang Taliwangsa, Ki Dalang Taliwangsa, atau Kaliwangsa), pejabat demang di Mangiran. Varian lain lagi mengkisahkannya sebagai Endang Sawitri dari Desa Ngasem. Di antara sejumlah varian legenda tersebut, ada yang sama sekali tak menyebut tokoh Wanabaya. Adapun cerita Baru Klinting di Tulungagung justru menempatkan Wanabaya sebagai tokoh cerita yang penting pada bagian awal.

C. Kiai Upas, Pusaka Daerah Ngrowo

1. Riwayat Keberadaan Tombak Kiai Upas di Bhumi Ngrowo

Ki Wonoboyo menjadi pemilik Tombak Pusaka Kiai Upas hingga akhir hayatnya. Sepeninggalnya, Sepeninggalnya, pusaka itu diwariskan kepada anaknya, yaitu Ki Ajar Mangir. Tokoh ini memiliki kesaktian, sehingga berani berontak terhadap Kasultaman Mataram. Demi melihat kesaktian Ki Ajar Mangir beserta pusakanya, maka Sultan Mataram (Panembahan Senapati) berunding dengan pejabat istana untuk tumpas Ki Ajar Mangir tanpa harus berperang. Adapun caranya adalah lewat  perkawinan politik. Putri Sultan bernama "Pembayun" dimintanya untuk memainkan peran. Yakni menyamar sebagai orang biasa dan diselinapkan ke tempat Ajar Mangir berada. Ki Mangir terpikat kecantikan Pambayun dan mengawininya.

Pada akhirnya Pambayun mengungkapkan asal-usulnya. Terkejutlah Ki Mangir, lantaran Pambayun adalah putri lawannya. Sang Putri mengaku rindu pada ayahnya. Ia membujuk agar Ajar Mangir bersedia menghadap raja. Ajar Mangir membawa Pusaka Kiai Upas, namun pusaka itu tak boleh dibawa masuk ke dalam keraton. Sesuai adat, menantu mustilah sungkem kepada mertuanya. Ketika kepala Mangir  ditundukkan di hadapan raja. Serta merta dibenturkan ke kursi/singgasana hingga tewas. Jasad Mangir dikuburkan dalam bagian terpisah. Satu bagian dalam benteng, sebagian lain di luar benteng. Hal ini menunjukkan bahwa Ajar Mangir adalah musuh, dan sekaligus sebagai menantu Kasultanan Mataram.

Sepeninggal Ajar Mangir, Kasultanan Mataram dilanda Pagebluk. Rakyat dilanda bencana kematian. Setiap hari ada orang meninggal, yang disebabkan oleh pusaka Kiai Upas. Oleh karena itulah, maka Pusaka Kiai Upas lalu diserahkan kepada R.M.T. Pringgo Diningrat (1824- 1830), yang kala itu menjabat sebagai "Adipati" di Ngrowo  Seterusnya, Tombak Kiai Upas dijadikan pusaka keluarga besar (trah) Pringgodingrat yang disimpan dan dipelihara silih berganti oleh sejumlah penguasa (adipati atau bupati) di daerah Ngrowo/Tulungagung. Sepeninggal Pringgodingrat, pusaka itu dipelihara oleh Adipati Ngrowo V bernama R.M.T. Djajaningrat (tahun 18311855). Kemudian dipelihara oleh Adipati Ngrowo VI, yaitu R.M.A. Somodiningrat (tahun 1856- 1864). Penguasa Kadipaten Ngowo yang lebih kemudian pemelihara Tombak Pusaka Kiai Upas adalah R.M.T. Gondokoesomo, yaitu adipati Ngowo VIII, tahun 1865-1879. Selanjutnya diwariskan pada adik- nya, yaitu R.M.T. Pringgokoesoemo (Adipati Ngrowo X, tahun 1882-1895).

Semenjak Pringgokusumo pesiun pada tahun 1895, Tombak Pusaka Kiai Upas disimpan di rumah pensiunannya pada "Dalem Kandengan" di desa (kini Kelurahan) Kepatihan. Selanjutnya, selelah R.M.T.  Pringgokoesoemo wafat tahun 1899, pemeliharaannya diteruskan oleh Raden Aju, yaitu jandanya. Namun mulai  tahun 1907 pemeliharaannya berada di tangan menantu dari Pringgokoesoemo yang bernama R.P.A. Sosrodiningrat (Bupati Tulungagung XIII, tahun 1907-1943).

Pada masa Pendudukan Jepang (tahun 1942- 1945) pemeliharaan dilanjut oleh saudaranya, yaitu R.A. Hadikoesoemo -- yang bukan Bupati Tulungagung. Setelah R.A Hadikoesoemo wafat, pemeliharaannya pusaka diambil alih R.M. Notokoesoemo, yang ketika itu menjabat sebagai Komisaris Polisi di Surabaya. Selanjutnya, temurun pada puteranya yang bernama R.M. Moenoto Notokoesoemo. Yang terakhir memeliharanya adalah R.M. Indronoto, seorang  ahli waris keluarga Pringgojoesoemo terakhir yang menempati Dalem Kanjengan -- sebelum pada akhirnya bangunan ini dijual dan dibongkar.

2. Tombak Kiai Upas pada Kesejarahan Tulungagung

Jika benar bahwa Tombak Kiai Upas itu dibawa ke Ngrowo pada sepeninggal Ki Ageng Mangir, berarti konteks waktunya pada akhir abad XVI atau awal abad XVII  Masehi. Ki Ageng Mangir yang berselisih dengan sultan Mataram I yang bernama Danang Sutawijaya (bernama gelar: Panembahan  Senopati, yang memerintah tahun 1587- 1601) adalah penguasa daerah di Mangir IV,  yaitu Ki Ageng Mangir IV -- menurut "Kitab Babad Tanah Jawi" bernama asli Bagus Wanabaya. Menurut isi naskah ini, Ki Ageng Mangir bertrah Brawijaya V (Bhre Kretabhumi, pendapat lain menunjuk pada raja Majapahit periode akhir, yaitu  Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. Senapati juga bertrah Brawijaya V.

Babad Tanah Jawi memberi silsilah Ki Ageng Mangir adalah sbb. : (1) Lembu Peteng (Lembu Amisani), disebut  Ki Ageng Mangir I (Raden Megatsari), (2) Ki Ageng Mangir II, (3( Ki Ageng Mangir III, lalu (4) Bagus Wanabaya, dikenal dengan "Ki Ageng Mangir IV". Mangir berada di DAS Progo, tepatnya adalah Desa Sendangdari Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul. Ada suatu pendapat menyatakan bahwa Ki Mangir adalah desa perdikan (sima atau swatantra) Majapahit era pemerintahan Brawijaya V di wilayah kekuasaan Bhre Pajang. Oleh karena  Mangir memiliki riwayat sebagai "daerah perdikan (Sima)", maka Ki Ageng Mangir IV enggan tunduk pada Sultan Mataram (Senapati) -- yang berkuasa di daerah yang konon masuk dalam kekuasaan Bhre Mataram.

Sewaktu mengawali kuasa di daerah Mangir, Bagus Wanabaya masih lajang, sehingga dikisahkan beristri Pembayun (putri Senapati) ketika Beliau telah menjadi penguasa daerah. Ki Ageng Mangir IV dengan demikian adalah anak mantu (putra menantu Senapati), yang padahal sebelumnya adalah lawan politiknya. Ki Ageng Mangir IV dikisahkan sebagai memiliki tombak sakti yang bernama "Kiai Baru Klinting". Tombak inilah yang menurut legenda di Tulungagung dinamai "Tombak Pusaka Kiai Upas".

Dalam legenda Tulungagung dikisahkan bahwa Tombak Kiai Upas (Baru Klinting) dibawa ke  Ngrowo (nama arkais dari "Tulungagung") oleh  R.M.T. Pringgodiningrat, yang kala itu menjabat sebagai Adipati di Ngrowo tahun 1824-1830. Ketika itu, pusat Kadipaten Ngrowo baru saja direlokasikan dari Kalangbret di seberang barat ke seberang timur DAS  Ngrowo, yakni pada areal pusat Kabupaten Tulungagung sekarang. Tergambar bahwa terdapat jarak waktu yang demikian jauh (lebih dari dua abad) antara masa pemerintahan Adipati Pringgodiningrat dengan kemangkatan Ki Ageng Mangir IV itu. Alih-alih, konteks peristiwa di seputar masa pemerintahan Adipati R.M.T. Pringgodiningrat adalah era perlawanan Pangeran Diponegoro (1825-1830).

Jarak Ngrowo dan Ki Ageng Mangir

Mencermati detail waktu sebagaimana tertelaah di atas, tidak tepat bila waktu padamana Tombak Kiai Upas dibawa ke daerah Ngrowo oleh Pringgodiningrat itu dinyatakan dengan kalimat "sepeninggal Ki Ageng Mangir". Jarak kedua peristiwa itu amat jauh, lebih dari dua abad. Selain itu, tidak jelas juga bagaimana riwayatnya Tombak Baru Klinting (Kiai Upas) tersebut bisa sampai kepada Adipati Ngowo Pringgodiningrat. Apakah memiliki hubungan ganeologis antara Ki Ageng Mangir IV dengan R.M.T Pringgodiningrat? Sayang sekali, sejauh ini belum diperoleh informasi perihal itu secara jelas dan akurat. Informasi lain yang didapat adalah bahwa R.M.T  Pringgodiningrat adalah putra Pangeran Notokoesoemo di Pekalongan. Beliau merupakan menantu Sultan Jogyakarta ke II (Hamengku Buwono II, yang bertahta tahun 1792-1828).

Kekurangjelasan juga berkenan dengan bagaimana hubungan antara Pringgodiningrat (Adipati Ngowo IV, memerintah tahun 1824 - 1830) dengan Pringgokusuman (Adipati Ngowo X,  memerintah tahun 1882- 1895). Keduanya berjarak enam periode pemerintahan, atau sekitar 5 dasawarsa. (1840-1882). Apakah keduanya memiliki hubungan kekerabatan (ganeologi)? Hal  ini belum didapati informasi pastiannya. Namun, terbuka kemungkinan ke arah itu, mengingat adalah : (a) keduanya sama-sama memiliki unsur sebutan "pringgo", (2) makam keduanya berada di Pemakaman Keluarga Sentono Dalem di eks desa perdikan Majan Kecamatan Kedungwaru Tulungagung. Terdapat  silsilah menyatakan bahwa R.M.T  Pringgokoesoemo adalah putra dari R.M.A. Soemodiningrat, yakni Adipati di Ngrowo VI (tahun 1856-1864) dan sekaligus adalah adik dari R.M.T.  Gondokoesomo (Adipati Ngrowo VIII, tahun 1865-1879).

Tergambar bahwa Tombak Kiai Upas diberitakan oleh legenda tersebut baru hadir di Ngowo pada era pemerintahan Adipati Ngrowo IV, yaitu di era pemerintahan R.M.T. Pringgodiningrat, yakni adipati  Ngowo terawal ketika pusat kadipaten direlokasi dari Kalangbret ke areal yang kini menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Tulungagung. Apakah sebelumnya Tombak Pusaka Kiai Upas itu berada pada pusat kadipaten terdahulu di Kalangbret era Adipati Ngrowo I-III, yang berturut-turut adalah (1) (Kyai Ngabehi Mangundirono, (2) Tondowidjojo, dan (3) R.M. Mangun Negoro. Perihal itu juga tidak diperoleh informasibpastiannya. Namun, bisa jadi tombak itu adalah tombak keluarga besar Pringgodingrat.

Kisah R.M.T. Pringgodiningat

Paparan di atas (butir 2.2.1) memberi gambaran bahwa pembawa Tombak Pusaka Kiai Upas ke Ngrowo adalah R.M.T. Pringgodiningat (Adipati Ngrowo IV). Terhitung dengan dirinya, ada 6 orang penguasa (adipati/bupati) di  Ngrowo (nantinya dinamai Tulungagung) yang menjadi pemelihara tombak pusaka ini, yaitu (1) R.M.T. Pringgodiningat (Adipati Ngowo IV,  berkuasa 1824-1830), (2) R.M.T. Djajaningrat (Adipati Ngrowo V,  berkuasa 1831- 1855), (3)  R.M.A. Somodiningrat (Adipati Ngowo ke VI, berkuasa 1856-186), (4) R.M.T. Gondokoesomo (Adipati Ngrowo VIII,  berkuasa 1865-1879), (5) R.M.T. Pringgokoesoemo (Adipati Ngrowo X, berkuasa 1882-1895), dan yang terakhir adalah (6) R.P.A. Sosrodiningrat (Bupati Tulungagung XIII, berkuasa 1907-1943). Selain itu ada lima orang yang bukan penguasa di Ngrowo/Tulungagung yang juga merupakan pemeliharanya, yaitu : (1) R. Aju (Janda dari R.M.T. Pringgokusumo), (2) R.A. Hadikoesoemo (saudara dari R.P.A. Sosrodiningrat, sekitar 1943-1945), (3) R.M. Notokoesoemo, Komisaris Polisi di Surabaya), (4) R.M. Moenoto Notokoesoemo rnenantu dari Notokoesoemo), dan (5) R.M. R.M. Indronoto.

Tergambar bahwa tidak semua penguasa di Ngrowo/Tulungagung merupakan pemelihara Tombak Pusaka Kiai Upas. Atau dengan kata lain, hanya penguasa-penguasa tertentu (IV, V, VI, VIII, X, dan XIII). Di antara mereka diketahui ada hubungan kekerabatan. Misalnya, R.M.T. Pringgokoespemo adalah putra R.M.A. R.M.A. Somodiningrat, dan sekaligus adik dari R.M.T. Gondokoesomo. Adapun, R.P.A. Sosrodiningrat adalah menantu R.M.T. Pringgokoespemo. Kurang jelas untuk diketahui hubungan R.M.T. Pringgodiningrat dengan R.M.T. Djajaningrat, dan antara R.M.T. Djajaningrat dengan R.M.A. So- modiningrat. Meski kurang jelas, namun yang perlu dicermati adalah tempat makam dari RMT Pringgodiningrat maupun R.M.A.

Djajaningrat sama-sama berada di Pemakaman Sentono Dalem Majan, sehingga boleh jadi ada hubungan kerabat. Demikian pula, berdasarkan lokasi makam yang sama-sama berada di Majan, bisa jadi R.M.T. Pringgokoesoemo juga berkerabat dengan Pringgodiningat.

Paparan pada dua alinea terakhir menjadi petunjuk bahwa Tombak Pusaka Kiai Upas adalah tombak keluarga. Kalaupun terdapat beberapa penguasa (adipati/bupati) di daerah Ngrowo/Tulungagung yang silih berganti memeliharanya, mereka itu masih berkerabat. Ketika ada kerabatnya yang menjadi adipati/bupati, maka tombak pusaka itu ditempatkan kepadanya, sebagai senjata pusaka pegangan ketika  memangku kekuasaan. Apabila tak ada anggota kerabat yang menjadi adipati/ bupati di daerah Ngrowo/Tulungagung, pusaka ini disimpan dan dipelihara di tempat kediaman keluarga besar (trah). Oleh karena itu, dapat dipahami apabila tempat penyimpanan yang terakhir Tombak Kiai Upas adalah di Dalem Kanjengan yang merupakan rumah pensiunan dari mendiang  R.M.T. Pringgokoesoemo, dan selanjutnya pemeliharaan dilakukan oleh anggota keluarga luas Pringgokoesoemo.

D. Pusaka Kiai Upas sebagai "Heritage Cultural" Daerah Tulungagung

Paling tidak, antara tahun 1824-1830 pusaka Tombak Kiai Upas ini telah berada di Daerah Ngrowo (Tulungagung). Telah hampir dua abad menjadi pusakanya daerah Tulungagung. Jika benar penuturan legendanya, yaitu tombak kepunyaan Ki Wonoboyo yang diwariskan ke Ki Ageng Mangir (akhir abad XVI), tentu beralasan untuk dikategorikannya sebagai "Benda Cagar Budaya (BCB)". Oleh karena itulah seyogianya Tombak Pusaka Kiai Upas ditetapkan sebagai "Cagar Budaya (CB)", yang menurut "Hibah" tahun 2016 itu, metupakan suatu BCB milik Pemkab Tulungagung. 

Sebagai BCB, maka sesuai ketentuan dalam UU No. 11 th  2010 tentang "Cagar Budaya", Tombak Pusaka Kanjeng Kuai Upas itu wajib dilestarikan dan dimanfaatkan. Pasal 2 menyatakan bahwa "perlindungan benda cagar budaya dan situs bertujuan melestarikan dan memanfaatkan untuk memajukan kebudayaan".  Upaya pelestariannya mencakup tujuan untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya. Cagar budaya perlu dilestarikan serta dikelola secara tepat melalui : (a) perlindungan, (b) pengembangan, maupun (c) pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasio- nal untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Urgensi pelestarian mempertimbangkan bahwa CB mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Pelestarian terhadapnya dilakukan lewat proses penetapan.

Terkait dengan itu, Tombak Pusaka Kiai Upas perlu ditetapkan sebagai "BCB". Mengingat Tulungagung telah memiliki TACB (Tim Ahli Cagar Budaya), maka proses penetapannya dilakukan oleh TACB, dengan pentahapan : (1) melakukan kajian akademik terhadap Tombak Kiai Upas, (2) menentukan peringkatnya sebagai BCB daerah, dan (3) mengajukan usulan penetapan Tombak Pusaka Kiai Upas  kepada Bupati Tulungagung. Bedasarkan usulan itu,  selanjutnya Bupati Tulungagung mengeluatkan Surat Keputusan (SK) penetapannya sebagai "BCB". Bupati Tulungagung mengeluarkan SK penetapan status Cagar Budaya paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah terima rekomendasi dari TACB yang menyatakan Tombak Pusaka Kiai Upas sebagai "BCB Daerah".

Dengan satusnya yang jelas dan pasti itu, maka pelestarian dan pemanfaatan Tombak Kiai Upas menjadi dilindungi oleh Undang-Undang CB dan Perda CB.  Dalam melestarikan Tombak Kiai Upas sebagai "BCB", negara -- yang dalam konteks ini adalah Pemkab Tulungagung -- bertanggung jawab dalam hal (a) pengaturan, (b) pelindungan, (c) pengembangan, dan (d) pemanfaatan cagar budaya. Selaras dengan ikhtiar itu, Pemkab Tulungagung perlu untuk meningkatkan peran serta warga masyarakat di Tulungagung untuk turut melindungi, mengem- bangkan, dan memanfaatkan Tombak Pusaka Kiai Upas yang ditetapkan sebagai "BCB" itu.

Bentuk pelestarian Tombak Pusaka Kiai Upas sebagai "CB Daerah" meliputi : (a) konservasi (perlindungan), (b) perawatan (preservasi), dan (c) pemanfaatan (fungsionalusasi). Perlindungan terhadapnya mencakup penetapannya sebagai "BCB", penyimpanan di tempat yang aman dan terjaga dari perusakan, pencurian, ataupun pemusnahan. Adapun perawatannya mencakup perawatan mingguan dan penjamasannya secara periodik setiap bulan Suro. Sedangkan pemanfaatannya antara lain adalah dengan menjadikannya sebagai "ikon daerah" dalam hal benda pusaka, memanfaatkan "Prosesi Jamasan Tombak  Pusaka Kanjeng Kiai Upas" sebagai atraksi wisata, dan menjadinya sebagai simbol tentang ikhtiar untuk senantiasa melindung Tulungagung dari mara bahaya lewat beragam ikhtiar demi keselamatan dan kesejahteraan seluruh warga daerah.

Sangkaling, 29 Desember 2020

Griyajar CITRALEKHA

*Arkeolog Universitas Negeri Malang, Redaktur ahli nusadaily.com dan imperiumdaily.com